"Ngapain lo malah, ketawa?!" Jihan menatap Ares sangat kesal, karena cowok itu yang terus mentertawakannya.
"Makanya jangan narsis jadi orang," sindir Ares sambil memasukkan buku tulisnya ke dalam tas.
"Terserah gue lah!"
Ares geleng-geleng kepala, lalu kembali mengeluarkan buku kedua untuk dipelajarinya.
"Sekarang, ajarin gue materi Sejarah," ucap Ares memberikan buku catatannya kepada Jihan.
Jihan terdiam sejenak, ia menatap buku itu lalu melirik Ares. "Harus sekarang?"
Ares mengangguk. "Iya."
"Lo jangan maksain, Res. Satu-satu aja dulu, yang ada nanti lo malah pusing," ujar Jihan mengingatkan.
"Gue nggak apa-apa, udah cepetan." Ares menyodorkan bukunya kepada Jihan.
••••π••••
Zara menjadi semakin cemas dan gelisah. Matahari sudah tenggelam dan awan sudah berubah menjadi hitam, tapi Ares belum juga pulang.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.
Zara langsung mematikan ponselnya. Kenapa nomor Ares tak kunjung aktif?
Zara kemudian menelpon Iqbal, ia ingin meminta suaminya untuk mencari Ares. Zara tidak akan tenang, sebelum mengetahui kabar Ares.
"Halo Ra? Ada apa? Bentar aku lagi sibuk, jangan telepon aku dulu," ucap Iqbal sangat terburu-buru.
"Bal pokoknya kamu harus pulang!" titah Zara dengan tegas.
"Kamu apaan sih, Ra? Aku lagi ada pasien, masa tiba-tiba pulang? Lagian belum jam pulang!"
"Aku minta sekarang kamu pulang Iqbal!!
"Ta---"
Tut
Zara langsung mematikan ponselnya. Ia tidak tau lagi harus apa. Ingin menyuruh Antariksa pun, cowok itu tidak mau. Jika terus memaksa Antariksa, yang ada cowok itu akan sangat murka.
Dan jika pergi naik taksi, Zara tidak tau harus pergi ke mana. Karena ia tidak mempunyai tujuan.
Beberapa menit kemudian. Zara langsung beranjak berdiri, saat melihat Iqbal yang sudah datang.
Zara berlari menghampiri Iqbal, lalu mencium punggung tangannya.
"Ada apa sih, Ra? Kamu kan tau, kalo aku masih sibuk. Untung aja, ada dokter pengganti," ucap Iqbal sedikit emosi, karena Zara yang memakasanya untuk pulang.
"Ares belum pulang Iqbal. Kamu harus nyari Ares!" ujar Zara dengan wajahnya yang sangat panik dan cemas.
Iqbal terdiam beberapa detik. Ia mengusap wajahnya gusar. "Kamu nyuruh aku pulang, cuma buat nyariin Ares?"
"Iya Iqbal! Aku takut, Ares kenapa-napa!"
Iqbal memegang kedua bahu Zara. "Ra, Ares tuh udah gede. Ngapain sih, kamu khawatirin dia? Palingan juga tuh anak, lagi ugal-ugalan di jalan!"
Zara melepaskan tangan Iqbal dari bahunya dengan kasar. "Aku khawatir Iqbal, karena Ares lagi sakit! Pokoknya kamu harus cari dia!"
"Aku capek, Ra."
"Jangan temuin aku, sebelum kamu pulang bareng Ares!" ancam Zara, lalu pergi meninggalkan Iqbal begitu saja.
"RA!!! ARA!!! AKU HARUS, CARI KE MANA?!" teriak Iqbal, namun Zara mengacuhkannya.
Iqbal mengacak-acak rambutnya. s**l! Ke mana anak bandalnya itu, tidak tau kah, kalo dirinya sangat lelah?
Dengan terpaksa Iqbal pun langsung mencari Ares. Iqbal masuk ke dalam mobil sport putih, lalu melajukannya menuju sekolah Ares.
••••π••••
Ares meringis, memegangi kepalanya yang terasa pusing. Namun ia harus fokus untuk belajar.
Jihan menghentikan ucapannya yang tengah menjelaskan. Ia menoleh ke arah Ares, karena tidak ada sahutan sama sekali dari cowok itu.
Jihan terkejut bukan main, melihat Ares yang sepertinya sedang kesakitan. "Res, lo pusing? Udah, sampe sini aja dulu belajarnya."
Ares menggelengkan kepalanya. "Tanggung Jihan, dikit lagi."
"Lo jangan maksain Ares! Lo lagi kurang sehat, lagian sekarang udah malem! Lo gak mau pulang?!"
Ares mengangkat tangan kirinya. Kedua matanya langsung memelotot saat melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Bahkan, Ares sampe lupa untuk pulang. Dengan cepat Ares langsung membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
"Lo bisa pelan-pelan gak sih? Gak usah, grasak-grusuk kayak gitu!" kesal Jihan melihat Ares yang sangat terburu-buru.
"Lo kenapa gak kasih tau gue, kalo sekarang udah malem?!" ujar Ares yang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya.
"Jadi daritadi, lo nggak nyadar?"
"Enggak lah! Kalo gue nyadar, gue gak akan pulang sampe larut malem!"
Ares kemudian mencabut ponselnya yang sedang di charger. Ia kemudian menyalakan ponselnya.
Ares melihat banyak telepon dari ayah dan ibunya. Ares menepuk dahinya. Mampus gue!
"Han, gue pamit pulang dulu. Makasih buat waktu lo hari ini. Dan sampein salam, buat Tante Elin," ucap Ares bangkit berdiri.
Jihan mengangguk. "Oke. Tapi lo gak papa? Lo naik taksi aja deh, Res. Biar motor lo, titip di rumah gue."
"Gue gak apa-apa. Ya udah gue pamit. Bye!" Ares langsung pergi dari hadapan Jihan.
••••π••••
"Ares mana Iqbal?" tanya Zara menghampiri Iqbal yang sudah kembali tanpa Ares.
Iqbal menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau, Ra. Udah aku cari ke sekolah dan tempat-tempat terdekat di sekolah, tapi Ares gak ada."
Zara mengusap wajahnya. Ia sangat cemas dengan Ares. Ares, ke mana kamu? ucap Zara dalam hati.
Iqbal langsung bergerak cepat, saat tubuh Zara akan jatuh. "Ra, kamu nggak apa-apa?"
"Aku takut Ares, kenapa-napa Iqbal," ucap Zara dengan air matanya yang sudah turun membasahi pipi.
Iqbal melingkarkan tangannya di paha bawah dan leher Zara, lalu menggendongnya ala bridal style.
"Kamu gak usah khawatir, Ares gak akan kenapa-napa," ucap Iqbal lalu membaringkan tubuh Zara di sofa.
Iqbal menggeram kesal. Awas saja jika Ares sudah pulang, ia akan memberikannya pelajaran.
Beberapa menit sudah berlalu. Zara dan Iqbal yang sedang duduk di sofa, langsung beranjak berdiri saat melihat Ares yang baru saja pulang.
Zara langsung berlari menghampiri Ares dan memeluk putranya itu. "Ares sayang, kamu dari mana? Mama khawatir sama kamu."
Ares membalas pelukan ibunya. "Maafin Ares, Ma. Ares gak bermaksud buat bikin Mama khawatir."
"Yang ditungguin balik juga akhirnya. Dari mana lo? Lo gak tau, kalo Mama sampe khawatir nyariin lo?" celetuk Antariksa yang muncul dari arah dapur.
Iqbal menjauhkan tubuh Zara dari Ares. Ia berdiri di hadapan Ares dengan raut wajah yang sangat marah.
"Dari mana?" tanya Iqbal dengan nada rendah namun menyeramkan.
Ares meneguk ludahnya susah payah. Ia menatap wajah ayahnya. "Ares habis belajar, Pa."
"Bohong tuh Pa! Palingan juga habis ke diskotik!" ujar Antariksa membuat suasana semakin panas.
Iqbal melirik Antariksa, lalu menatap anaknya. "Bener kamu habis dari sana?"
Ares menggelengkan kepalanya. "Enggak Pa, Ares habis belajar."
"Kenapa belajar sampe selarut ini, Ares?! Mama kamu gak mau makan dan cemas sendiri, cuma mikirin kamu!" omel Iqbal sangat murka.
"Maaf Pa."
Zara mengelus punggung Iqbal dan menenangkan suaminya. "Udah Iqbal. Kasihan Ares, dia pasti capek."
Iqbal menoleh menatap Zara. "Kamu pikir aku gak capek, Ra? Aku pulang kerja langsung keliling cariin Ares!"
Iqbal kemudian menatap Ares. "Dan kamu, gak tau waktu untuk pulang!" Iqbal menunjuk wajah Ares.
"Ares minta maaf, Pa. Ares pusing, Ares pengen istirahat," ucap Ares dan ingin pergi dari sana, namun Iqbal langsung menarik tangannya.
"Papa belum selesai ngomong!" bentak Iqbal. Emosinya semakin menggebu-gebu.
Ares memejamkan matanya berkali-kali, menahan rasa sakit yang sangat amat menyerang kepalanya.
"Sini kamu!" Iqbal langsung membalikkan tubuh Ares dengan kasar.
Lalu tanpa diduga Iqbal langsung melayangkan bogeman di wajah Ares, membuat kedua mata Zara memelotot.
Bugh!
Tubuh Ares langsung tersungkur ke lantai, akibat pukulan ayahnya.
"ARES!!!" jerit Zara, lalu berlari menghampiri Ares yang sudah terjatuh di sana.
Ares memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Kepalanya semakin pusing dan pandangannya yang memburam.
Kedua mata Ares langsung terpejam. Ares sudah pingsan dan tidak kuat lagi.
"Ares!!! Bangun Ares!!!" Zara sudah menangis histeris seraya membangunkan Ares yang sudah pingsan.
"IQBAL KAMU KETERLALUAN!!!" teriak Zara menatap Iqbal dengan wajah yang sudah banjir dengan air mata.
Iqbal terdiam di tempat. Padahal ia memukulnya tidak terlalu kencang. Namun, kenapa Ares sampai pingsan?
Iqbal berjalan mendekati mereka, lalu menjongkokkan tubuhnya. "Ra, maaf."
"PERGI KAMU!!!" Zara mendorong tubuh Iqbal dengan kasar. Iqbal benar-benar sudah keterlaluan.
"Ares sayang, bangun. Mama mohon bangun," ucap Zara menepuk-nepuk pipi Ares, ia mengelap sisi mulut Ares yang berdarah dengan punggung tangannya.