11. Hello Kitty

1709 Kata
"Gak usah khawatir, Ares nggak apa-apa," ucap Iqbal yang baru saja selesai memeriksa Ares. Zara tidak menatap wajah Iqbal. Ia masih sangat kesal dengan suaminya itu. Berani sekali dia menyakiti anaknya sendiri. Kedua mata Ares bergerak secara perlahan, hingga akhirnya terbuka dengan sempurna. Ia melihat ayah dan ibunya yang tengah berdiri di hadapannya. Pandangannya masih sedikit memburam, hingga ia tak jelas menatap kedua orangtuanya. "Ares, akhirnya kamu sadar juga," ucap Zara sangat senang, dan langsung mengambil duduk di hadapan Ares. Ares hanya tersenyum tipis. Ia meringis, memegangi sudut bibirnya yang terasa perih. Kedua netra Iqbal terfokus ke wajah Ares. Melihat wajah anaknya yang lebam-lebam seperti itu. Iqbal melangkah mendekati Ares, lalu tangannya membolak-balikkan wajah Ares. "Kenapa luka-luka kayak, gini?" "Shhh..." Ares kesakitan, karena Iqbal yang terlalu kasar menyentuh wajahnya yang terluka. "Kenapa kayak gini?!" bentak Iqbal. Ia baru sadar jika wajah Ares memar. Itu bukan luka baru, karena sudah kering. "Udah Iqbal! Belum cukup, kamu marahin Ares terus?!" Zara menepis tangan Iqbal dari wajah Ares. Zara beranjak berdiri dan berdiri di hadapan Iqbal. "Kalo kamu cuma mau marahin Ares, sana kamu pergi!!" Iqbal terdiam sejenak. Ia menatap wajah Zara dengan raut wajah yang sulit diartikan. Semakin ke sini, Zara semakin berani melawannya. Iqbal menghela napas, lalu melengos pergi dari sana. Brak! Iqbal membanting pintu dengan sangat keras, membuat Zara serta Ares terperanjat kaget. Zara menatap kepergian Iqbal. Ia kemudian kembali menatap wajah Ares. "Kamu nggak apa-apa, kan Res?" Ares menggelengkan kepalanya. "Ares nggak apa-apa, Ma." Ares kemudian mendudukan tubuhnya, lalu menyenderkannya di sandaran kasur. "Mama jangan ngelawan Papa, terus." "Mama gak bisa diem aja, liat Papa kamu memperlakukan kamu kayak gitu, Res!" "Papa gak salah Ma." Ares menggelengkan kepalanya. "Ares pingsan bukan karena Papa, tapi kepala Ares emang sedikit pusing." Zara terdiam. Ia meneguk ludahnya kasar. Walaupun seperti itu, tetap saja Iqbal salah. Mana ada seorang ayah yang tega memukul anaknya sendiri? "Ya udah, kamu istirahat ya?" ucap Zara, seraya mengusap kepala Ares dengan lembut, dan cowok itu pun hanya membalasnya dengan anggukan. Zara beranjak berdiri, lalu pergi dari sana meninggalkan Ares sendirian. Ares memegangi sudut bibirnya yang terluka. "Ini semangat buat gue," lirih Ares seraya tersenyum getir. Ting! Ares langsung meraih ponselnya, saat sebuah notifikasi masuk. Ia melihat layar ponselnya dan nama Jihan yang ternyata mengiriminya pesan. Jihan Udah sampe? Anda Udah Jihan Bokap lo marah gak, lo pulang larut malam? Ares terdiam untuk beberapa saat. Ia tidak mau membagi masalahnya dengan Jihan. Cukup dirinya yang tau, apa yang sudah terjadi. Anda Enggak. Bokap gue malah senang banget, gue kan pulang malam karena belajar. Jihan Bagus deh kalo gitu. Gue kira, lo dipukul sama Bokap lo Anda Bokap gue gak sejahat itu Jihan Jihan Masa sih? Gak percaya gue. Anda Terserah lo Jihan Ya udah gue mau tidur dulu Anda Hm Ares memandangi pesan terakhirnya, hanya ceklis dua berwarna biru. Sudah sepuluh menit kemudian, namun nomor Jihan masih online. Bukannya dia bilang akan tidur? Anda Gak tidur? Jihan Belum ngantuk Anda Tadi kan udah pamit? Jihan Gimana mau tidur? Lo aja nge chat gue mulu Anda Ya udah, sana tidur. Biar besok bisa ajarin gue lagi Jihan Oke, jangan lupa traktirannya. Anda Hm ••••π•••• "Anta, kalo makan jangan sambil main HP." Zara melirik Antariksa yang sedang sibuk dengan ponselnya. Antariksa melirik ibunya. "Apaan sih, Ma! Gak usah ikut campur!" Zara menghela napas berat. Kenapa Antariksa dan Ares sangat berbanding terbalik? Antariksa memang pintar dalam pendidikannya. Namun minus dalam tatakrama. Ares memang tidak pintar dalam pendidikannya, namun dia sopan dan tidak pernah membangkangnya. "Kapan kamu berantem?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Iqbal. Ares yang sedang menyantap makanannya langsung mendongakkan kepala, menatap ayahnya. "Kemarin lusa, Pa." "Rusakin fasilitas apa, kamu di sekolah?" "Papa tenang aja, Ares gak ngerusakin apa-apa." Antariksa memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap wajah Ares yang banyak bekas luka. "Sok jagoan lo ribut-ribut, di pukul Papa aja pingsan!" "Anta." Zara menatap Antariksa dengan tajam. Ares hanya diam saja. Ia menatap adiknya sangat kesal. "Lo gak tau apa-apa, jangan ikut campur." "Apa?! Emang kenyataanya kan? Lo itu udah bodoh! Lembek! Gak guna tau gak, hidup lo!" ujar Antariksa. "Anta! Mama gak suka kamu ngomong seperti itu sama kakak kamu!!" bentak Zara menatap Antariksa. Anak keduanya itu benar-benar sudah keterlaluan. "Anta gak salah, itu emang kenyataan," ucap Iqbal malah membela Antariksa. Zara melirik Iqbal. Ia menatap suaminya sangat kecewa. Bahkan perbuatan Anta yang sudah melebihi batas, menurutnya benar. Di mana hati dan otak Iqbal?! "Ares, pamit ke sekolah." Ares beranjak berdiri dari duduknya. Cowok itu menyalimi tangan Zara dan Iqbal bergantian. ••••π•••• "Bibir lo kenapa?" Jihan memegang sudut bibir Ares yang terluka. Kemarin, saat bersamanya luka ini belum ada. Ares menepis tangan Jihan dari wajahnya. "Kegigit." "Lo jangan bercanda Ares. Masa kegigit kayak gini? Lo kira, gue anak kecil yang bisa lo bohongin?" "Bokap lo, mukul lo lagi?!" lanjut Jihan dengan kedua bola matanya yang terbuka sempurna. "Bukan." Ares tetap mengelaknya. "Enggak. Gue yakin, kalo ini ulah bokap lo, iya kan?!" Jihan bangkit berdiri. Ia menatap Ares sangat tajam. Kenapa Ares tidak ingin mengaku? "Gue bilang, ini bukan sama bokap gue! Semalem gue ribut sama adik gue!" tegas Ares dengan nada tinggi. Jihan terdiam sejenak. Ia meneguk ludahnya susah payah, karena tersentak dengan bentakan Ares. Bagaimana pun sikap ayahnya, Ares tidak mau Jihan mengetahui jika ayahnya sering berbuat kasar. Haruskah memberitahu perbuatan buruk ayahnya di depan orang lain, enggak kan? Ares melirik Jihan, ia menatap gadis itu. "Maafin gue. Gue gak bermaksud buat ngebentak lo," ucap Ares merasa sedikit bersalah, karena membuat Jihan sampai terdiam seperti itu. Jihan hanya diam saja, lalu kembali duduk. Mereka berdua menjadi diam dan membisu hanya ada keheningan di antara mereka. Ares mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas ranselnya. Ia menyodorkan buku paket lumayan tebal di hadapan Jihan. "Apa?" tanya Jihan akhirnya membuka suara. "Dari pada diem gak jelas. Mending lo ajarin gue." Jihan menyodorkan kembali buku itu kepada Ares. "Gue lagi gak mood." Jihan bangkit berdiri, lalu pergi dari hadapan Ares. Gadis itu melenggang keluar dari kelas. Jihan sedikit kesal dengan Ares. Niatnya baik, hanya ingin bertanya, namun Ares malah menjawabnya kasar seperti itu. Ares menatap kepergian Jihan. Apa Jihan marah? pikirnya. Ares pun kemudian memasukkan bukunya ke kolong meja, lalu langkahnya tergerak mengejar Jihan. ••••π•••• Ares menemukan Jihan yang tengah menyendiri di taman belakang sekolah. Cowok itu, berjalan mendekati Jihan dan duduk di sampingnya. "Lo marah sama gue?" tanya Ares, menatap Jihan, melihat wajah gadis itu yang tampak ketus dan dingin. Jihan hanya diam saja, tidak membalas ucapan Ares. Kepalanya pun, tak menoleh pada Ares. "Jangan marah dong, hello kitty. Gue gak bermaksud buat ngebentak lo." Jihan langsung menoleh menatap Ares. "Hello kitty? Maksud lo, apa?!" tanya Jihan dengan sedikit dengan nada tinggi. Sudah tau, ia sedang kesal, kenapa Ares malah membuatnya semakin kesal sih?! Ares menatap Jihan. Ia tersenyum kecil, lalu kedua bola matanya mengarah ke d**a Jihan. "Hello kitty." Jihan sontak melotot. Ia langsung menyilangkan tangannya di depan d**a. "Lo----?" "Waktu lo kejebur, itu lo hello kitty kan?" ujar Ares dengan matanya yang terus meledek Jihan. Jihan mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Ia langsung memukul kepala Ares. "Ih dasar m***m!! Cowok m***m!! Kenapa lo liat punya gue?!!" Jihan terus memukuli Ares. Ia menjadi sangat malu, karena Ares yang sudah mengintipnya. "Gue punya mata Jihan." "Tapi, lo gak usah liat juga!!!" Ares hanya diam, seraya tertawa. Tidak apa-apa ia dipukuli, yang penting bisa melupakan masalah yang sudah terjadi, dan Jihan tidak lagi mencuekinya. Entah kenapa, hatinya sedikit tak terima, saat Jihan sedang marah seperti itu. Ronald menghentikan langkahnya, saat netranya menangkap Jihan dan Ares. Ia melihat mereka berdua yang sedang asik bercanda. Ronald berdecih. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang sangat menyeramkan. "Gue bakal balas lo. Tunggu waktunya." Ronald meninju angin yang tak nampak, lalu pergi dari sana. ••••π•••• Ares sedikit kesal, karena Jihan yang memesan makanan sangat banyak. Benar-benar gadis tidak tau diri. Ia kira Jihan hanya akan memesan satu porsi makanan. Tapi ini apa? "Lo sebenernya mau ngebantuin gue, apa nguras gue?" tanya Ares, menatap Jihan dengan kesal. Memang sih, ia sudah janji akan mentraktir Jihan setiap hari. Tapi, tidak rakus seperti ini juga kan? Bisa-bisa uangnya habis, hanya untuk membelikan makanan Jihan. Jihan tertawa pelan. "Hari ini doang deh, Res. Siapa suruh lo buat gue kesel. Gue kalo lagi kesel makannya, banyak!" Ares hanya memutar bola matanya malas. Ia pun kemudian menyantap makanannya, dengan matanya yang sesekali melirik Jihan. Gak papa deh, duit gue habis, yang penting lo gak marah lagi, sama gue, batinnya dengan senyuman manis yang terbit di kedua sudut bibirnya. ••••π•••• Ares melirik kaca spion. Ia melihat Jihan yang sedang berlari ke arahnya. Setelah lama menunggu, akhirnya gadis itu sampai juga. Jihan memang menyuruh Ares untuk menunggunya jauh dari sekolah, lalu setelah itu ia akan menuju rumahnya bersamaan. Jihan cuma tidak mau ada yang melihatnya. Apalagi Ronald. Walaupun cowok itu sudah menjadi mantannya, namun tetap saja dia pasti akan marah jika melihatnya pulang bareng dengan Ares. Jihan tidak mau Ares menjadi imbasnya. Ia cuma mau mengajari Ares dan tidak lebih. Jihan menjongkokkan tubuhnya di hadapan Ares, ia menormalkan napasnya yang terengah. "Capek?" tanya Ares, menatap Jihan yang tengah ngos-ngosan. Jihan langsung mengangkat kepalanya, menatap Ares. "Ya iyalah! Lo pikir dari sekolah ke sini gak jauh?!" kesal Jihan tak habis pikir. "Sini," Ares menyodorkan kedua tangannya di hadapan Jihan. Jihan mengerutkan keningnya. Ia kemudian menegakan tubuhnya di hadapan Ares. "Apa?" tanyanya tak mengerti. "Tas lo. Biar lo duduknya nyaman." Jihan langsung terdiam beberapa saat. Ia tidak percaya, jika Ares akan menggendong tasnya. Dengan ragu, Jihan pun kemudian, memberikan tasnya pada Ares. Ares menerima tas Jihan, lalu menggendongnya di depan badan. Ia cuma ingin membuat Jihan duduk nyaman, agar rasa capek ya sedikit berkurang. "Ayo naik," ucapnya menatap Jihan, yang masih berdiri di hadapannya. Jihan mengangguk. Ia kemudian naik ke atas motor Ares.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN