12. Semangat Ares

1488 Kata
Tubuh Jihan langsung tertarik ke depan dan tanpa di sengaja memeluk Ares saat cowok itu tiba-tiba mengerem mendadak. "Aduh!" Jihan memegangi helmnya yang beradu dengan helm Ares. Kepalanya jadi sedikit pusing, akibat benturannya yang lumayan keras. "Lo bisa bawa motor yang bener gak sih?!" kesalnya pada Ares. "Sorry, tadi ada kucing lewat, kalo gue nggak rem mendadak, nanti bisa ketabrak," ucap Ares menjelaskan. Kemudian bola matanya melirik ke bawah, melihat tangan Jihan yang masih melingkar di pinggangnya. Tanpa disadari, senyuman kecil terbit di bibir Ares. Selang beberapa detik kemudian, Ares langsung tersadar. "Sampe kapan, lo peluk gue?" Sontak Jihan langsung melirik tangannya. Ia tidak sengaja memeluk Ares seperti ini, dengan cepat Jihan langsung menjauhkan tangannya dari pinggang Ares. "Udah cepetan!" Jihan memukul helm belakang Ares, menyuruh cowok itu untuk kembali mengendari motornya. Ares pun, kemudian menyalakan mesin motornya, dan kembali melajukannya dengan kecepatan sedang. Setelah lumayan lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Ares menghentikan motornya di halaman rumah Jihan. Rumah sederhana dengan halaman cukup luas di depannya, serta jejeran pot bunga yang membuat susana menjadi segar dan indah. Jihan memanglah bukan anak orang kaya, hanya terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya hanyalah seorang karyawan biasa dan ayahnya yang bekerja di luar kota. Akan pulang jika setahun sekali. Jihan turun dari atas motor Ares. Ia membuka helmnya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakkan. "Tas gue," ucap Jihan sambil menyodorkan helm bekasnya kepada Ares. Ares meraih helm dari Jihan lalu menaruh di motornya. Ia kemudian melepaskan tas Jihan yang terpasang di depan tubuhnya dan memberikannya pada gadis itu. Jihan menerima tasnya, kemudian menggendongnya. "Ayo masuk," ucap Jihan. Ares mengangguk, ia melepaskan helmnya, lalu turun dari atas motornya. Ares dan Jihan langsung di sambut hangat, oleh Elin. Ibu Jihan memang bekerja sip malam, makanya jika jam segini, dia masih ada rumah. "Assalamualaikum." Jihan menyalimi tangan Elin, lalu Ares pun melakukan hal yang sama seperti Jihan. "Waalaikumsalam," jawab Elin. Ia kemudian menatap Ares. "Ares mau belajar lagi?" tanyanya sangat ramah. Ares tersenyum manis. Ia menganggukkan kepalanya pelan. "Iya Tante." "Ya udah, ayo masuk," ucap Elin mempersilahkan Ares dan Jihan untuk masuk. Mereka berdua pun kemudian berjalan menuju ruang tamu dan duduk di atas tikar bulu berwarna hitam yang tergelar di sana. Ares membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya "Semangat banget sih, Res. Gak mau makan dulu?" tanya Jihan yang tengah membuka sepatunya. Ia melihat cowok itu yang langsung mengeluarkan buku pelajarannya. Jihan benar-benar salut dengan Ares. "Kalo mau pinter, ya harus semangat." "Iya deh iya." Jihan kemudian meraih buku catatan milik Ares, ia menuliskan beberapa soal matematika yang kemarin di pelajarinya. "Sekarang lo kerjain," titah Jihan menyodorkan buku yang sudah ia beri 10 soal matematika untuk Ares. "Oke." Ares meraih buku itu, kemudian mulai mengerjakannya. Jihan menatap Ares. Ia melihat cowok itu yang tengah sibuk berkutat dengan rumus. Dia benar-benar sangat serius mengerjakannya. "Gue mau ganti baju dulu," ucap Jihan beranjak berdiri, lalu pergi menuju kamarnya, meninggalkan Ares yang tengah fokus menghitung. Jihan mengganti pakaian sekolahnya hanya dengan kaus polos pendek, serta celana sepaha. Gadis itu menyibak rambutnya dan menguncirnya asal. Walaupun dengan penampilan sederhana seperti itu, Jihan masih terlihat cantik. Apalagi kulit putihnya yang sangat mulus. Atensi Jihan langsung tercekat, saat melihat sebuah jaket berwarna cokelat tergantung di balik pintunya. Jihan meraih jaket itu, lalu menatapnya. "Gue pura-pura bilang, jaketnya hilang aja. Lagian, cuma jaket doang kok pelit!" Jihan sudah sangat cocok dengan jaket itu. Ia tidak akan mengembalikannya pada Ares. Jihan pun kemudian melipat jaketnya, lalu menaruhnya ke dalam lemari. Setelah itu, Jihan bergegas keluar dari kamarnya dan kembali menghampiri Ares. Jihan langsung mengambil duduk di samping Ares. Ia melirik Ares yang masih fokus berhitung. "Udah belum?" tanyanya. "Bentar, satu lagi," jawab Ares. Kedua bola matanya tidak melirik Jihan, hanya fokus ke arah buku tulisnya. Jihan menghembuskan napas. Ia pun, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dengan jahilnya, Jihan memotret Ares secara diam-diam. Jihan tersenyum kecil, melihat wajah Ares yang menurutnya lucu. Ares sudah selesai mengerjakan sepuluh soal yang Jihan berikan. Ia kemudian melirik ke arah Jihan. Kedua matanya menyipit, saat melihat HP Jihan yang mengarah padanya. "Lo ngambil foto gue?!" tanya Ares dengan tajam. Jihan tertawa. "Muka lo lucu kalo lagi belajar. Gak papa lah, buat kenang-kenangan." Jihan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ares hanya memutar bola matanya malas dan menghembuskan napas berat. Tak pedulilah jika Jihan akan mengambil fotonya. "Udah selesai." Ares menyodorkan buku tulisnya kepada Jihan. Jihan meraih buku tulis dari Ares. Ia mulai mengoreksinya dengan detail. Seketika raut wajahnya berubah saat melihat semua jawaban yang sudah Ares isi. "Gimana?" tanya Ares dengan wajah yang penuh harap. Jihan mengangkat kepalanya perlahan, menatap Ares. Ia meneguk ludahnya susah payah, kemudian berkata, "Dua." "Salah dua?" Jihan menggelengkan kepalanya. Ia memberikan buku Ares yang sudah ia koreksi. Di situ tertera, bahwa Ares hanya menjawab benar dua soal. Perlahan bahu Ares merosot. Padahal ia sudah berfikir dengan keras, untuk mengerjakan soalnya. Namun, semuanya masih salah. Jihan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Ares. "Gak usah patah semangat. Lo kan baru belajar, gue yakin lo bakalan bisa." Jihan menepuk bahu Ares, memberi semangat pada cowok itu. Ares hanya diam saja. Ia memandangi buku tulisnya. Gue emang bodoh. ••••π•••• Atensi Zara tercekat, saat melihat kamar Antariksa yang sudah seperti kapal pecah. Semua barang-barangnya berserakan di mana-mana. Zara menghela napas berat, ia kemudian menuruni anak tangga. Zara menemukan keberadaan Antariksa, yang tengah tertidur di sofa ruang tamu. Ia melihat kaki Antariksa yang naik ke atas sofa, tanpa melepas sepatu yang dipakainya. Zara menghembuskan napas berat. Ia kemudian berjalan menghampiri anak keduanya itu. "Anta bangun, Anta." Zara menepuk-nepuk pipi Antariksa, membangunkan cowok itu. "Apaan sih Ma! Orang lagi, ngantuk juga!" Antariksa meraih bantal dan menutupi wajahnya. Zara berdecak. Ia kemudian menarik tangan Antariksa, membuat cowok itu menegakkan tubuhnya. "Mama apa-apaan sih?! Anta ngantuk Ma!" ujar Antariksa dengan nada tinggi. Wajahnya terlihat sangat murka. "Kamar kamu berantakkan, sana beresin," titah Zara menunjuk arah kamar Antariksa. Antariksa membuang napas gusar. Ia mengusap kepalanya. "Tinggal Mama beresin apa susahnya sih?!" Antariksa ingin kembali tidur, namun lagi dan lagi Zara langsung menarik tangannya. "Itu kamar kamu, Anta. Jadi itu jadi tanggung jawab kamu." Antariksa beranjak berdiri. Ia menatap ibunya sangat kesal. "Lagian kenapa rumah ini gak pake pembantu? Jadi gak akan ribet kayak gini!" Antariksa menabrak ibunya, lalu meraih tas ranselnya yang berada di lantai. Cowok itu langsung bergegas menuju kamarnya. Zara menatap kepergian Antariksa. Ia mencoba sabar dengan kelakuan Antariksa yang semakin hari semakin tidak ada sopan-sopannya. Alasan Zara tidak ingin memakai pembantu, karena nanti pasti tidak ada aktivitas untuknya. Selagi, semuanya bisa di lakukan sendiri, kenapa harus memakai tenaga orang lain? ••••π•••• "Orangtua kamu kerja apa, Ares?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Elin. Ares yang tengah berkutat dengan buku, langsung mendongakkan kepalanya menatap Elin. "Mama sama Papa dokter, tapi berhubung Papa ngelarang Mama, jadi Mama cuma ngurus rumah, Tante," jawab Ares seraya tersenyum kecil. Elin yang tengah menonton TV, kemudian mematikannya. Ia melangkah menghampiri Ares. "Loh kok ngelarang, kenapa?" tanyanya heran, dengan satu alisnya yang terangkat. "Waktu Mama mengandung adik Ares, Papa gak ngebolehin Mama untuk kerja, karena takut kenapa-napa dengan janinnya. Makanya, Mama jadi berhenti dari profesinya sebagai dokter." Elin hanya manggut-manggut mengerti. Ia kemudian berkata, "Pasti hidup kamu seneng banget ya, Papa kamu aja sayang banget sama anaknya." Ares menjadi terdiam dengan ucapan Elin. Raut wajahnya seketika berubah. Papa cuma sayang, Anta Tante, batinnya. Jihan yang sedari tadi bermain ponsel jadi langsung menghentikannya. Ia menatap wajah Ares, melihat cowok itu yang sepertinya menyimpan penuh luka. "Ma, jangan tanya-tanya mulu," ujar Jihan melirik ibunya. Ia jadi tidak enak dengan Ares. "Kenapa? Mama kan, cuma pengen tau aja," balas Elin. Ia kembali menatap Ares. "Papa kamu pasti bangga banget punya anak kayak kamu, Res. Jarang loh, ada cowok yang sampe semangat belajar kayak kamu." Ares meneguk ludahnya susah payah. Boro-boro bangga, ngelirik aja enggak, batinnya. Ares hanya tersenyum menanggapi ucapan Elin. Senyuman luka yang sangat menyayat hati. Jihan semakin tidak enak, dengan Ared. Ia beranjak berdiri, lalu menarik tangan ibunya dan menyeretnya agar menjauh dari sana. Jihan menarik tangan ibunya menuju dapur. Ia tidak mau Ares semakin terluka karena mengingat perilaku ayahnya. "Kamu apaan sih, Jihan?" Elin menatap anaknya sedikit kesal. "Mama jangan pernah ngebahas ayahnya Ares, di depan Ares!" ujar Jihan sedikit emosi. Ia cuma tak mau, menyakiti perasaan Ares. "Memangnya kenapa?" "Ayahnya Ares tuh gak pernah sayang sama Ares! Bahkan, Ares pernah di pukul sama ayahnya sendiri!" ucap Jihan memberitahu semuanya. Elin memelotot. Ia tidak percaya jika hidup Ares begitu pahit. Ia kira hidup mempunyai harta yang berlimpah itu selalu menyenangkan, namun kenyataannya tidak. "Kamu serius Jihan?" tanya Elin masih tak percaya dengan ini semua. Jihan mengangguk. "Iya Ma. Jadi, Jihan mohon, jangan pernah ngebahas ayahnya Ares di depan Ares. Kasihan Ares, Ma." "Mama jadi merasa gak enak, Jihan." "Udah nggak apa-apa. Yang penting, sekarang Mama jangan pernah ngebahas ayahnya Ares lagi," ucap Jihan dan Elin hanya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN