Jihan kembali duduk di samping Ares, ia tersenyum kikuk kepada Ares. Jujur Jihan sangat tidak enak dengan ibunya yang sudah membahas keluarga Ares.
"Gue mau pulang," ucap Ares merapikan buku-bukunya ke dalam tas.
Jihan langsung membulatkan kedua bola matanya. "Hah? Kok mau pulang? Kenapa? Lo marah?" tanya Jihan bertubi-tubi.
Jihan menghentikan tangan Ares yang sedang memasukkan bukunya ke dalam tas. "Lo marah sama gue, Res?" tanya Jihan, menatap cowok itu dengan raut wajahnya yang merasa sangat bersalah.
Ares menatap Jihan. Ia tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya. "Gue gak marah Jihan." Ares melepaskan tangan Jihan.
"Gue cuma gak mau, nanti bokap sama nyokap gue nyariin gue," ucap Ares memberitahu yang sebenarnya.
Jihan hanya diam saja. Ia menghembuskan napas lega, karena Ares tak marah padanya. Jihan kemudian berkata, "Beneran lo nggak marah?" tanyanya memastikan.
Ares bangkit berdiri dari duduknya dan memakai tas ranselnya. "Gue nggak marah. Ya udah, gue pamit pulang dulu. Salam buat Tante Elin."
Setelah itu, Ares pun berjalan menuju pintu keluar. Jujur Ares memang tidak marah pada Jihan, ia memang ingin pulang sore. Ares tidak mau ibunya khawatir lagi.
Jihan bangkit berdiri. Ia menatap kepergian Ares yang semakin menjauh. Dia marah sama gue, nggak sih? batinnya masih ragu-ragu.
••••π••••
"Loh Ares, mau ke mana? Makanan kamu kan, masih banyak!" teriak Zara saat Ares beranjak dari meja makan.
"ARES UDAH KENYANG MA!!" balas Ares berteriak sambil berjalan menaikki anak tangga.
Ares ingin cepat-cepat belajar. Ia harus membenarkan soal salah yang tadi ia kerjakan dan kembali mengerjakannya sampai benar.
Zara hanya menghembuskan napas, lalu kembali menyantap makanannya.
Zara melirik Antariksa. Seperti biasa, ia melihat anak keduanya itu yang tengah sibuk dengan ponsel.
"Anta, kamu kebiasaan banget sih, bisa gak main ponselnya selesai makan?" tanya Zara sedikit dengan nada penekanan, agar Antariksa mengerti dan tak melakukan hal yang sama lagi.
Antariksa mendongak, menatap ibunya. "Mama bisa gak sih, gak usah ngatur-ngatur Anta! Kalo Mama mau makan, ya tinggal makan aja! Gak usah ribet!"
Brak!
Antariksa dan Zara terperanjat kaget, saat Iqbal menggebrak meja dengan sangat keras.
Iqbal menghentikan menyantap makananya. Ia membanting sendok dan garpu yang di pegangnya.
"Kamu bisa sopan sedikit, Anta?" ujar Iqbal melirik Antariksa dengan matanya yang sangat tajam.
Antariksa menatap Iqbal sangat kecewa. Baru kali ini, ayahnya membentaknya seperti ini.
Antariksa bangkit berdiri. Cowok itu langsung pergi dari sana, tidak mempedulikan teriakan ayahnya yang terus memanggilnya.
Zara tersenyum kecil menatap Iqbal. Sesekali Antariksa memang perlu di bentak agar bisa menghargai orangtuanya.
••••π••••
Ares sedang mengerjakan soal yang tadi salah. Ia juga melihat cara mengerjakannya melalui internet.
Ares fokus mendengarkan vidio yang tengah di putar di laptopnya. Ia pun memahami apa yang sedang dijelaskan di dalam vidio itu.
Setelah merasa mengerti, Ares kemudian mulai membenarkan soal-soal yang salah.
Ares menguap. Kedua matanya sudah lelah dan sangat mengantuk. "Gue gak boleh tidur," gumam Ares.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun Ares masih berkutat dengan bukunya.
"Akhirnya selesai juga." Ares menutup buku tulisnya. Ia kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar, menjadikan selonjoran tangannya sebagai bantalan.
Zara menghentikan langkahnya, yang tengah berjalan menuju dapur. Ia melihat sedikit cahaya dari kamar Ares.
"Ares belum tidur?" gumam Zara. Ia kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar Ares.
Zara tertohok melihat Ares yang sedang ketiduran di meja belajarnya. Ia melihat buku, alat tulis, serta laptopnya yang masih menyala.
Zara tersenyum. Ia sangat bangga dengan Ares yang sangat semangat belajar. "Mama bangga sama kamu, Res."
Zara mematikan laptop Ares, lalu menutupnya. Ia pun membereskan buku-buku Ares yang masih berserakan.
"Mama yakin, kamu bisa seperti Anta." Zara mengusap kepala Ares.
Zara tidak tega untuk membangunkan Ares, sepertinya dia sangat kelelahan. Zara mengambil selimut Ares dan melingkarkan di tubuh Ares.
Setelah itu, Zara pun mematikan lampu kamar Ares dan bergegas keluar dari sana. Ia tidak ingin sampai Ares terbangun, terlihat dari tidurnya yang nyenyak, kalau Ares sangat kelelahan.
••••π••••
"HAN!! JIHAN!!!"
Jihan langsung menghentikan langkahnya, saat suara seseorang berteriak di belakangnya.
Jihan membalikkan badan, ia mendapati Ares yang tengah berlari tergesa-gesa ke arahnya.
"Lo nilai sekarang," ucap Ares menyodorkan buku tulisnya. Napasnya ngos-ngosan dan tidak beraturan.
Jihan mengernyit. Ia mengambil buku tulis dari tangan Ares dan membukanya. Kedua matanya membola, melihat Ares yang kembali mengerjakan soal yang salah kemarin.
Jihan mendongakkan kepalanya, menatap Ares. "Lo kerjain ulang?" tanyanya tak percaya.
Ares mengangguk. "Iya."
"Ya ampun, Ares. Segitunya lo belajar, jangan nyiksa diri lo kayak gini, lo bisa sakit Ares," ucap Jihan mengingatkan.
"Gue nggak apa-apa. Pantang menyerah sebelum pinter!"
Jihan tersenyum merekah. Ia sangat salut dengan semangat Ares yang tinggi.
"Ya udah yuk ke kelas," ucap Jihan kemudian berjalan duluan meninggalkan Ares.
Sesampainya di kelas, Jihan kemudian duduk di bangkunya. Baru saja ia ingin duduk tenang, namun Ares malah memaksanya untuk mengoreksi soal.
"Cepet Han!" Ares mengambil duduk di sebelah Jihan.
"Bentar dulu dong, Res. Baru juga gue duduk."
"Udah cepetan!" Ares membuka buku tulisnya dan menyodorkannya di hadapan Jihan.
Jihan menghembuskan napas berat, ia pun kemudian mulai mengoreksi soal Ares. Jihan mengerjapkan matanya, ia tidak percaya jika Ares mampu menjawab semua soalnya dengan benar.
Jihan tertawa pelan dalam hatinya. Gue kerjain ah, batinnya.
Jihan merubah ekspresinya. Ia menatap Ares dengan tatapan pura-pura sedih.
Ares sedikit was-was karena Jihan menatapnya seperti itu. Apa soalnya salah lagi?
"Ke--kenapa? Salah lagi ya?" tanya Ares dengan tatapan kecewa.
Jihan tertawa ngakak melihat ekspresi Ares yang tegang seperti itu. "Selamat! Betul semua!" ucap Jihan memperlihatkan buku Ares yang sudah dinilainya.
Ares terdiam beberapa detik. Ia sedikit kesal karena Jihan mengerjainya. Ares merampas bukunya dari Jihan. "s****n! Gue kira salah semua!"
Jihan hanya menyeringai tak berdosa. Ia kemudian berkata, "Udah sana duduk di tempat lo!"
Ares kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju bangkunya, lalu duduk di sana.
Sedangkan Jihan, bangkit berdiri, ia ingin membeli sesuatu di kantin.
••••π••••
"Semoga Kak Ares suka," ucap seorang gadis, berkacamata dan rambutnya yang di kepang dua, serta pakaian sekolahnya yang terlihat sangat rapi.
Gadis itu terperanjat kaget, saat seseorang menariknya dari belakang. Wajahnya sedikit ketakutan, karena ternyata Falen dan kedua temannya yang menarik tangannya.
Falen merebut kotak makan dari tangan gadis bernama Anggi itu. Ia membukanya dan melihat isinya.
"Ja--jangan Kak, i--itu buat Kak Ares," ucap Anggi ingin merebut kotak makannya yang berada di tangan Falen, namun Falen terus menjauhkannya.
Falen terkejut melihat isi dari dalam kotak makan itu. Ia kemudian melemparnya ke arah Anggi. "Lo mau ngasih nasi kecap ini ke Ares?!"
Anggi terkejut bukan main, saat Falen melemparkan isi makanan yang sudah ia buat capek-capek. Kini, tubuhnya sudah kotor terkena nasi goreng yang Falen lemparkan. "Bu--bukan nasi kecap Kak, i--itu nasi goreng," ucapnya dengan kepala yang menunduk ke bawah.
Falen tertawa. Ia kemudian menarik rambut Anggi, hingga kepalanya mendongak ke atas. "Itu nasi kecap bodoh! Kalo nasi goreng itu komplit!"
"Akhh sakit Kak."
"Lo mau cari perhatian depan Ares?! Sadar t***l! Lo itu siapa dan Ares itu siapa?!"
"A--aku cuma ma--mau berterima kasih, Kak."
Falen langsung melepaskan tangannya yang tengah menjambak rambut Anggi, saat seseorang menarik tubuhnya dari belakang.
Falen membalikkan badannya, mendapati Jihan yang ternyata pelakunya.
Falen menghela napas jengah. "Jadi ternyata lo?"
"Gak usah ngebully dia!" tegas Jihan, kemudian menarik tangan Anggi dan melindungi di belakang tubuhnya.
"Gak usah ikut campur lo!" ujar Falen mendorong tubuh Jihan sedikit kasar, dengan sorot matanya yang memanas.
"Lo itu kakak kelas! Harusnya menyontohkan perbuatan baik,! Bukannya ngebully adik kelas kayak gini!"
"Lo gak usah ikut campur Jihan!"
"Gue berhak ikut campur, karena gue gak terima ada murid SMA Lentera yang di bully sama lo!"
Falen semakin menggeram marah, karena Jihan terus ikut campur dalam masalahnya. Selang beberapa detik kemudian, ia tertawa, "Pantes aja Ronald lebih milih gue dari pada lo," ucapnya terus tertawa puas. Ia memajukan satu langkah lebih dekat dengan Jihan. "lo itu b**o Jihan!" lanjutnya menepuk kasar bahu Jihan.
"Oh jelas, Ronald milih lo! Karena lo berdua sama-sama b******k!" Jihan mengucapkan itu dengan senyuman meledeknya.
Jihan kemudian menarik tangan Anggi dan menjauhkannya dari sana. Ia tidak punya waktu, untuk menghadapi mereka, yang ada hanya mrmbuang-buang tenaga saja!
Falen mengepalkan kedua tangannya. s****n! Ia tidak terima Jihan mengatakannya seperti itu.
••••π••••
"Makasih ya, Kak," ucap Anggi.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya. "Sama-sama. Kalo mereka ngebully lo lagi, lo laporin aja sama kepala sekolah."
Anggi mengangguk kaku. "Iya Kak."
"Ya udah, gue ke kelas dulu." Jihan kemudian pergi dari sana, menuju kelasnya.
Jihan bergegas menuju kelasnya kembali. Gara-gara Falen s****n, ia jadi tak jadi ke kantin. Padahal tadi, Jihan ingin membeli cemilan. Tapi ia sangat malas, jika harus kembali ke sana.
Jihan langsung menghentikan langkahnya, saat seseorang menghadangnya. Ia menatap Ronald yang tengah berdiri tegak di hadapannya.
"Jihan, gue mau ngomong sama lo," ucap Ronald.
"Apa? Cepetan, gue gak punya waktu buat lo," ucap Jihan sangat dingin. Ia sudah muak melihat wajah Ronald.
Ronald meraih kedua tangan Jihan dan menggenggamnya. "Han, gue mau balikan sama lo."
Jihan melotot tidak percaya. Ia langsung melepaskan tangannya yang digenggam Ronald. "Setelah lo berbuat m***m sama Falen, terus lo mau balikan sama gue?" tanya Jihan tidak percaya.
"Gue nggak sebodoh itu." Jihan langsung menabrak tubuh Ronald dengan kasar.
Ronald mematung di tempat. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya sudah mengepal. "Gue nggak terima lo sama Ares Jihan! Liat aja, apa yang gue bakal lakuin!"