14. Mall

1595 Kata
Ares mengerutkan keningnya. Kedua sorot matanya melirik ke arah Jihan yang baru saja kembali dari kantin. Ia melihat wajah Jihan yang tampak menggeram kesal. Apa yang sebenernya sudah terjadi? Ares beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Jihan, lalu duduk di hadapannya. "Kenapa hello kitty?" tanya Ares seraya menopang dagu dengan kedua tangannya. Jihan menatap wajah Ares. Tidak tau kah, jika dirinya sedang kesal? Kenapa dia membuatnya semakin kesal?! "Berisik lo, Res!" Jihan memukul kepala Ares pelan, lalu menjatuhkan wajahnya di atas meja. Ares menghela napas, ia kemudian berkata, "Kenapa lo?" "Sana pergi! Gak usah ganggu gue!" usir Jihan tanpa menoleh pada Ares. Saat ini ia sedang tidak mau diganggu oleh siapapun. Ares menatap Jihan sejenak. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Ares pun beranjak berdiri lalu kembali ke tempat duduknya. Ares membuka layar ponselnya. Ia kemudian mengirimkan pesan pada Jihan. Anda Ada masalah? Setelah mengirimkan itu, Ares kemudian memandangi Jihan. Ia melihat gadis itu yang masih dalam posisi sama, tidak berubah sedikit pun. ••••π•••• Disepanjang perjalanan, Ares tampak bingung dengan Jihan yang daritadi hanya diam dan membisu. Wajahnya tampak murung dan tak bersemangat, seperti biasanya. Ares melirik ke kaca spion. "Kenapa si lo?" tanya Ares sangat penasaran, karena Jihan yang tak kunjung berbicara. Jihan tidak menjawab. Gadis itu hanya diam saja dengan wajah yang fokus memandangi padatnya jalanan ibu kota Jakarta. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Ares kemudian memarkirkan motornya. Dia tidak berhenti di rumah Jihan, melainkan ke sebuah mall. Jihan turun dari atas motor. Ia mengedarkan pandangannya, lalu menatap wajah Ares. "Kok ke sini?" tanyanya dengan kening mengerut, bingung. Ares melepaskan pengait helmnya, lalu menaruh helmnya di spion motor. "Biar otak lo fresh," jawab Ares sambil turun dari motornya. Ares berdiri di hadapan Jihan, ia melihat gadis itu yang masih tampak bingung. "Kalo lo lagi ada masalah, gimana mau ngajarin gue?" Jihan menatap Ares sejenak. Ia kemudian tersenyum kaku. "Sorry." "Ya udah ayo kita masuk." Jihan ingin melenggang pergi dari sana, namun tangan Ares yang menariknya membuat langkahnya terhenti. Ares mencekal tangan Jihan. Ia melangkah dan berdiri sangat dekat di hadapan Jihan. Kedua netranya beradu dengan netra gadis itu. "A--apa?" tanya Jihan gugup, karena Ares memandangi wajahnya seperti itu. Ares melangkah lebih dekat dengan Jihan. Kedua tangannya kemudian melepaskan helm Jihan. "Lo mau masuk ke dalam mal, pake helm?" Sontak Jihan langsung mengerjapkan matanya. Astaga, ia sampai lupa untuk melepaskan helmnya. Ares menaruh helm bekas Jihan di motornya. Lalu, ia berjalan duluan meninggalkan Jihan. "Ayo masuk." Jihan pun langsung mengejar Ares yang sudah meninggalkannya duluan. Mereka berdua kemudian naik eskalator menuju timezone. Sebelum memulai permainan, Ares terlebih dahulu membeli kartu dan mengisi saldonya penuh, agar Jihan bisa puas bermain. "Nih, lo main," ucap Ares menyodorkan kartu timezone-nya kepada Jihan. Jihan melirik kartu di tangan Ares. Ia kemudian menatap Ares. "Masa gue sendiri?" "Terus?" "Ayo sama lo!" Jihan langsung menarik tangan Ares dan mulai mengajaknya untuk bermain permainan. Ares pun hanya diam saja. Ia mengikuti saja apa yang Jihan mau. Siapa tau dengan begini, Jihan bisa ceria dan melupakan masalahnya, walaupun ia tidak tau, apa yang sudah terjadi pada gadis itu. Ares tersenyum kecil, melihat Jihan yang sedang dance dengan semangat. Dengan begini, mungkin kesedihan dia akan berkurang. "RES AYO DONG, LO JUGA MAIN!!" teriak Jihan yang tengah sibuk menggerakkan badannya, tanpa menoleh pada Ares. "ENGGAK! LO AJA!" balas Ares yang sedang berdiri melihat Jihan. Kedua tangannya masuk ke dalam saku, membuatnya terlihat cool. Setelah puas ber-dance, Jihan kemudian beralih untuk bermain basket. Ia memasukkan bola basketnya dengan semangat. "Ayo kita tanding Res! Paling banyak poin, boleh ngajuin satu permintaan!" ujar Jihan yang tengah memasukkan bola basket ke dalam ring. "Oke," sahut Ares. Ia pun kemudian meraih bola basketnya. Dan mereka berdua pun bertanding memperebutkan poin. Jihan sedikit kewalahan karena skor-nya yang tertinggal cukup jauh. Ia menoleh ke samping, melihat Ares yang sangat semangat bermain. Bahu Jihan merosot. Ia sudah kalah oleh Ares. Cowok itu ternyata jago juga bermain basket. Jihan menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. "Apa permintaan lo?" tanyanya dengan malas. "Hmmmm...." Ares mengelus dagunya dan tampak berfikir. "Untuk sekarang nggak ada sih, tapi lo tetep punya hutang sama gue," ucap Ares menatap Jihan lekat-lekat. "Iya bawel!" Jihan kemudian melenggang pergi dari sana. Karena sudah kelelahan bermain, mereka pun kemudian memilih mengisi perutnya yang sudah kelaparan. Ares menatap Jihan, melihat gadis itu yang sangat lahap menyantap makanannya. "Pelan-pelan, Jihan." Jihan mendongakkan kepalanya, menatap Ares. Mulutnya sudah penuh dengan makanan. "Laper gue!" Ares geleng-geleng kepala. Bahkan gadis itu tidak ada malunya, makan rakus seperti itu. Hari ini Ares lebih baik libur dulu untuk belajar dengan Jihan, ia bisa belajar sendiri nanti malam. Yang penting, Jihan bisa kembali ceria. ••••π•••• "Gue harus bales perbuatan Jihan!" Falen mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak terima Jihan menyebut dirinya b******k! "Lo tau cara ngebalesnya?" tanya Karina yang tengah duduk dan memperhatikan Falen yang sedari tadi mundar-mandir seperti setrikaan. Falen menghentikan langkahnya. Ia berjalan menghampiri Karina. "Ya lo, bantu mikir dong!" "Gue tau!" Safa menjentikkan jarinya. Dia bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Falen. Safa membisikkan sesuatu di telinga Falen. Memberitahu sebuah rencana untuk membalas Jihan. Falen menyeringai. Ia tersenyum puas. "Tunggu pembalasan gue, Jihan," gumamnya. ••••π•••• Berulang kali kau menyakiti Berulang kali kau khianati Sakit ini coba pahami Kupunya hati bukan tuk disakiti Kuakui sungguh beratnya Meninggalkanmu yang dulu pernah ada Namun harus aku lakukan Karena ku tahu ini terbaik Ku harus pergi meninggalkanmu Yang telah hancurkan aku Sakitnya, sakitnya, ohh Sakitnya.... Lagu berjudul 'Aku bukan dia' yang dibawakan oleh Judika itu berputar dengan nyaring di seluruh penjuru mall. Seketika lagu itu sangat mewakili perasaan Jihan saat ini. Perlahan kenangan di masa lalunya kembali hadir, menghantui pikirannya. Ares yang baru saja kembali setelah membeli ice cream, langsung mengerutkan keningnya, bingung, saat melihat Jihan yang duduk di sana dengan air matanya yang perlahan turun. Dengan cepat, Ares duduk di samping Jihan. Ares meletakkan dua ice cream yang sudah ia beli di sampingnya. "Han, lo kenapa?" tanya Ares sedikit panik, namun gadis itu hanya diam saja. Jihan menangis, dengan air matanya yang terus turun tanpa henti, membuat Ares semakin panik di buatnya. Apa ia sudah menyakiti gadis itu? Ares sangat bingung, kenapa dia tiba-tiba menangis? Ares mendekatkan duduknya. Ia meraih kepala Jihan dan menaruh di bahunya. Membiarkan Jihan menumpahkan seluruh rasa sedihnya. Ia tidak tau apa yang membuat Jihan menangis. Namun, ia yakin jika ini ada hubungannya dengan Ronald. Ares mengelus rambut Jihan. Gadis itu masih terus menangis, walaupun suaranya amat sangat kecil. Jihan mengigit bibir bawahnya sangat kuat, menahan agar tangisannya berhenti, namun itu sangat sulit. Hubungan tiga tahun bukanlah hubungan yang sebentar. Banyak rintangan yang dilakukannya berdua. Namun Jihan sadar dan mengerti. Ronald bukanlah yang terbaik. Tuhan memisahkannya, karena Tuhan ingin memberikan yang terbaik untuknya. "Udah nangisnya?" tanya Ares, saat Jihan sudah berhenti menangis. Jihan menjauhkan kepalanya dari bahu Ares. Wajahnya sudah sembab dan merah padam. "Kenapa sih? Lo lagi ada masalah?" tanya Ares merasa heran. Sejak kembali dari kantin tadi, Jihan jadi tiba-tiba berubah seperti ini. Jihan menggelengkan kepalanya. Ia kemudian mengambil ice cream berbentuk kerucut yang dibelikan Ares, lalu membukanya. Jihan tidak menjawab. Ia tidak ingin Ares ikut campur dalam masalahnya. Jihan cuma tak mau, membuat Ares repot, hidup cowok itu saja sudah rumit. Jihan hanya fokus menikmati ice creamnya. Ares menatap Jihan yang tengah nikmat memakan ice creame. Ia pun kemudian menikmati ice creamnya. Ares tak mau memaksa Jihan untuk cerita, yang ada gadis itu malah akan kembali menangis. Atensi Ares langsung tercekat, saat Jihan memakan ice creamnya belepotan ke mana-mana. Ia melihat pipi gadis itu yang sudah kotor terkena cokelat. Ares mendekatkan duduknya. Ia menghapus ice cream yang berada di sudut bibir Jihan dengan tangannya. Seketika Jihan terkejut bukan main dengan yang dilakukan Ares. Kedua matanya mengerjap dan jantungnya yang berdetak tidak karuan. "Gak usah baper!" ujar Ares, kemudian menjauhkan wajahnya dari Jihan. Sontak Jihan langsung terkejut, dengan kedua matanya yang membola. Ia menatap wajah Ares sangat kesal. "Apaan sih lo! Ngeselin banget sih jadi cowok!" ujar Jihan, seraya menempelkan ice-creame miliknya ke wajah Ares, membuat wajah cowok itu sudah kotor. Ares langsung memejamkan matanya saat Jihan melemparkan ice cream ke wajahnya. Jihan memelotot. Ia sangat refleks melemparkan ice cream miliknya ke wajah Ares. Dengan cepat Jihan langsung membersihkan wajah Ares. "Ma--maaf gu--gue refleks." Ares diam saja dan tanpa di duga, dia kemudian menempelkan ice cream miliknya di wajah Jihan. "ARES!!!" teriak Jihan dengan wajahnya yang sudah kotor dengan ice cream. Ares tertawa melihat wajah Jihan yang tampak lucu. Kini wajah mereka berdua sama-sama belepotan dengan ice cream. ••••π•••• Zara memandangi wajah Iqbal yang sedang tidur di sampingnya. Ia menatapnya dengan tidak tega. "Kamu capek banget ya, Bal?" Zara mengelus kepala Iqbal. Ia melihat wajah suaminya yang tampak kelelahan. "Kamu itu sebenernya baik, Bal. Tapi kenapa, kamu nggak bisa melakukan itu sama Ares?" gumam Zara dengan senyuman tipisnya. "Kenapa kamu nggak bisa memberikan perbuatan baik kamu sama Ares? Apa karena kamu cemburu?" Zara menghela napas, lalu melanjutkan ucapannya. "Ares anak kita, Bal. Harusnya kamu jangan kayak gini. Apa kamu cemburu dengan orang yang jelas-jelas udah beda alam?" "Tanpa dokter Ares, aku nggak mungkin bisa hidup sampai sekarang, Bal." Zara kemudian menjauhkan wajahnya dari Iqbal. Kepalanya mendongak ke atas, melihat langit-langit. "Do'ain aku ya, dokter Ares, biar Iqbal bisa sayang sama Ares." Zara kemudian memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN