68. Ares

1814 Kata

Jihan sedari tadi melirik Ares yang tengah duduk di tempatnya. Ia menatap cowok itu, dengan matanya yang sudah memerah, karena air matanya yang terus turun tiada henti. Jihan menatap Ares dengan sendu. Apa ia bisa, harus menjauhi Ares dan melupakan semua memori kenangannya dengan cowok itu? Jujur, rasanya sangat sulit. Terlalu banyak kenangan yang sudah dilalui bersama Ares, baik itu sedang tertawa, marahan, atau sedang berduka. Ia tidak bisa menghapus semua memori itu. Apalagi harus membuka hati untuk Antariksa. Sampai kapan pun, hanya Ares satu-satunya lelaki yang menjadi pemilik hatinya, tidak ada satu orang pun, yang bisa menggantikan posisi cowok itu. Jihan tak bisa memaksakan hatinya, agar ia bisa menerima Antariksa. Namun, jika ia tak menurut, Ares pasti akan pergi. Jihan tak mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN