Selama perjalanan, baik Attar maupun Maura keduanya enggan untuk membuka suara. Padahal Maura mulutnya gatal sekali ingin membahas perihal ibu-ibu tadi. "Ehm," Maura memberanikan diri untuk berdehem, menghilangkan kecanggungan keduanya. Mendengar wanita disebelahnya berdehem, sontak Attar melirik. Hanya melirik, lalu memfokuskan lagi ke jalanan yang ada di depannya. "Kok lu ngga ngelak sih tadi ibu-ibu ngomong gitu?" tanya Maura dengan protesnya. Attar melirik lagi kesebelahnya dengan kernyitan di dahinya, "Emang ibu-ibu tadi doain kejelekan buat kita ya? Ngga kan?" "Ya ngga sih tapi kan—" "Yaudah sih Ra, anggep aja angin lalu." Padahal di lubuk hatinya yang terdalam, Attar mengaminkan apa yang ibu-ibu tadi katakan. Hanya saja gengsinya saat ini nomor satu. Maura langsung memalin

