Dua minggu sudah raya tinggal di apartment milik arga.
Arga datang setiap dia pulang dari kantor dan pulang setelah makan malam bersama raya.
Hari hari raya hanya di sibuk kan dengan nonton tv atau sekedar jalan jalan di taman apartment.
Luka luka di tubuh raya akibat kecelakaan juga sudah membaik.
Senin besok adalah hari pengambilan ijazah kelulusan raya.
Dan harus nya juga hari pelunasan tunggakan raya di sekolah.
Tapi bagaimana raya bisa melunasi biyaya sekolah nya, dia saja tidak bekerja.
Selama tinggal di apartment arga, raya memang tidak kekurangan makanan sperti dulu.
Tapi raya sama sekali tak punya pemasukan penghasilan.
Kalau pun hari ini raya turun ke pasar mencari pekerjaan pun tidak mungkin ia dapat uang banyak.
Raya hanya duduk termenung di balcon apartment.
Memikirkan nasib nya besok.
" non. Bibi pulang cepat ya non. Anak bibi lagi kurang sehat di rumah." ijin bi sari pada raya.
" oh. Iya bi, pulang aja ga apa apa."
" tapi non raya janji ya non jangan keluar dari apartment. Nanti tuan arga marah sama saya non."
" iya bi tenang aja."
Setelah berpamitan akhir nya bi sari pulang.
Raya yang sedang pusing memikir kan dari mana mendapat kan uang pun akhir nya memutus kan untuk pergi ke pasar.
Hari sudah siang. Mustahil untuk raya bisa mendapat kan uang untuk melunasi biyaya sekolah nya besok.
Tapi raya juga tidak bisa diam saja.
Raya pergi ke Pasar yang paling dekat dengan apartment.
Karna pasar yang biasa dia datangi jauh dari apartment.
Raya berjalan ke sana ke mari. Bertanya kepada setiap truk yang tengah muat atau menurun kan barang dagangan.
Namun raya yang tergolong orang baru di situ tidak mendapat kan pekerjaan yang d harap kan.
Hari sudah mulai gelap.
Raya berjalan lunglai di trotoar dengan tangan kosong dan tampang yang lusuh.
Saat berada di lampu merah dan hendak menyebrang, tiba tiba ada mobil yang membunyi kan klakson nya.
Raya yang berjalan loyo pun kaget.
Raya menoleh pada mobil itu.
Raya terkejut melihat siapa yang duduk di balik kemudi.
" om arga." raya melongo.
Raya takut. Tatapan arga di balik kemudi pun terlihat menyeram kan bagi raya.
" masuk ke mobil." perintah arga.
Saat itu lampu lalu lintas masih merah.
Arga turun dan menarik tangan raya untuk masuk ke dalam mobil.
Selama di perjalanan mereka diam.
Sibuk dengan pikiran nya masing masing.
Arga yang tengah di pusing kan dengan beberapa masalah di kantor membuat nya tak bisa berfikir normal sekarang.
Sedang kan raya pun sama. Masalah sekolah nya yang belum menemukan jalan keluar.
Braaakkkk
Arga membuka dan menutup pintu apartment yang raya tinggali dengan kasar.
Arga bahkan melempar tas keja dan jas nya ke sembarang arah.
Raya yang melihat itu pun langsung sigap mengambil tas dan jas arga di lantai.
Namun tiba tiba arga menarik tangan raya hingga raya menubruk d**a bidang arga.
" dari mana kamu?" tanya arga dengan menekan pinggang raya.
Raya merasa sulit bernafas. Tubuh mereka saling menempel.
Raya mendongak menatap wajah tampan arga.
" saya habis cari pekerjaan om." jawab raya lirih.
" apa maksud mu mencari pekerjaan? Apa kau dari pasar lagi? Apa makanan di rumah ini masih kurang?"
Raya menggeleng kuat.
Dan dengan gerakan cepat tiba tiba arga sudah menempel kan bibir nya pada bibir raya.
Raya yang kaget pun mecoba mendorong tubuh arga.
Namun arga memeluk pinggang raya dan menekan tengkuk raya kuat.
Raya berontak. Namun arga malah semakin dalam menikmati bibir raya.
Perlahan raya merasa lemas karna tak mendapat kan hasil saat ia terus berontak.
Raya diam. Pasrah.
Arga yang merasa kan raya tak lagi melawan justru semakin menuntut.
Arga melumat bibir raya dengan lembut.
Mencecap bibir gadis belia yang seumuran dengan anak nya.
Arga semakin dalam mencium bibir raya.
Kini lidah arga bahkan sudah masuk ke dalam mulut raya.
Menghisap lidah raya. Mengorek dan meneliti setiap rongga dalam mulut raya.
Tanpa arga tau. Arga telah mencuri ciuman pertama raya.
Raya yang kini masih kaku karna belum pernah berciuman malah terlihat menikmati ciuman yang arga berikan.
" eeeemmmhhh" lenguh raya saat tiba tiba arga meremas salah satu b****g raya.
Raya mendorong pelan d**a arga. Berniat menyudahi ciuman itu.
Raya menunduk malu.
" kenapa om melakukan ini pada ku?" tanya raya dengan wajah masih tertunduk.
Arga sadar sekarang.
- apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa aku melakukan ini pada raya? - batin arga.
" maaf. Aku terbawa emosi. Lupakan yang sudah ku lakukan dan maaf kan aku. " ucap arga.
" bagai mana aku bisa melupakan nya. Itu ciuman pertama ku om. Bagaimana kalo suatu hari nanti suami aku tanya kenapa bibir aku udah gak Perawan lagi om?"
Arga terkejut karna dia menjadi yang pertama mencium raya.
Tapi arga juga ingin tertawa mendengar perkataan konyol raya.
Bagai mana mungkin ada bibir perawan atau tidak perawan.
" baik lah aku akan jawab pada suami kamu kelak. Sekarang jelas kan pada ku, kenapa kau keluar?" tanya arga dengan nada lembut. Dan tangan arga terulur merapikan rambut raya.
" aku harus dapat uang buat ambil ijazah aku besok om. Masih ada tunggak kan yang harus di bayar di sekolah. " jelas raya menunduk malu.
" kenapa kau tak bilang saja pada ku.? Aku akan memberi kan uang untuk membayar tunggak kan itu."
" aku gak enak sama om. Aku udah tinggal di sini lama. Kayak nya besok aku mau balik ke kos san aku aja ya om? "
" nggak. Aku gak ngijinin kamu tinggal di sana lagi "
" emang kenapa om?. "