Mischa melarang mamanya menghubungi siapapun. Dia tergolek lemah di atas tempat tidur. Sekalinya bangun Mischa menjerit-jerit saat melihat cermin. Histeris melihat wajahnya sendiri. "Pergi! Pergi!" Mischa berteriak kalap. "Perempuan kotor dan hina!" Mischa menyeracau. Teriris hati Arisa mendengarnya. Dia terpaksa menutupi seluruh cermin di kamar dan kamar mandi dengan kertas plano. Sekali lagi Mischa terbangun dia turun dari tempat tidur memeluk kaki Arisa. "Maafkan Mischa ma, ampun ma, ampuni Mischa, Mischa terlalu bodoh," ucapnya terbata dalam isak tangis. Arisa mengangkat Mischa, kemudian membujuknya berbaring lagi. "Sudah sayang, jangan menangis lagi. Kasihan bayi Mischa." "Bayi? Mischa gugurkan saja kandungan ini." Arisa tersentak mendengarnya. "Ya Tuhan Mischa, mengucap, Nak.

