Perempuan berkacamata gelap itu menyandarkan tubuh di ruang tunggu, menunggu detik-detik panggilan untuk masuk ke pesawat. Pikiran, hati dan tubuhnya dalam kelelahan yang amat sangat. Arisa membelai rambutnya, penerbangan riskan dilakukan oleh wanita hamil, tapi Arisa berhasil mendapatkan surat izin terbang dari dokter kenalannya. "Mischa, kamu yakin mau pergi?" Arisa bertanya lagi dengan lembut. Diusapnya punggung tangan Mischa dengan lembut. "Tidak mudah membesarkan anak seorang diri sayang, mama sudah merasakan itu." Mischa merasa tak mampu lagi menangis, air matanya seakan telah kering. Matanya bengkak. Terdiam, tak sanggup menjawab pertanyaan mamanya. Mereka akan pergi ke kota di Sumatera, tempat saudara jauh Arisa. Ingin Mischa pergi sejauh-jauhnya meninggalkan luka yang dalam di s

