Arisa memasuki kamar putrinya, dilihatnya Mischa berbaring memunggungi pintu kamar. Tubuhnya gemetar, dia menangis. Entah sudah berapa kali Arisa melihat Mischa menangis. Dia duduk di samping Mischa, membelai rambutnya. "Sudah sayang, lunakkanlah hati Mischa," bujuk Arisa. "Tidak baik begitu lama menyimpan amarah." "Tapi hati aku masih sakit, Ma, aku nggak bisa lagi mempercayai lelaki itu. Dia pembohong." "Mungkin papa Alka memang pernah berbuat salah, masa seseorang tidak boleh menyesal? Lihatkan bagaimana papa Alka begitu tulus menyayangi Mischa dan Alka?" "Bisa saja itu salah satu topengnya, dia pandai bersandiwara, Ma. Aku sudah lelah dipermainkan." Mischa masih menenggelamkan wajahnya di bantal. "Paling tidak beri Alvito kesempatan untuk menunjukkannya, tidak boleh melarang seor

