Di balik malam yang sunyi dan gelap, terselip keramaian yang memukau. Di sebuah rumah mewah, seorang pria yang mengenakan setelan jas exclusive berwarna biru muda, membalut tubuhnya yang tegap, wajahnya yang tampan, hidung mancung, berahang tegas dan memiliki bulu halus di sekitar pipi dan dagunya, membuat para wanita terpesona. Ia berdiri dengan gagah di tepi kolam renang dengan gelas anggur menghiasi tangannya. Doni berjalan menyapa tamu-tamu dengan ramah. Tamu yang sudah bersedia datang menghadiri pesta ulang tahun yang ke dua puluh dua.
Langkahnya terhenti saat ia melihat sosok yang sangat dikenal. Doni mengangkat sebelah alis mengamati wanita yang datang bersamanya. Dari kejauhan ia bisa menebak bahwa itu bukan Ayesha. Doni berjalan mendekati sahabatnya yang baru datang. Ia melirik Katarina dengan ekor mata. Gadis berkulit sawo matang itu tersenyum, Doni hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Aku pikir kau datang bersama, Aya," katanya saat sudah berada di hadapan Roy.
"Ayesha, sibuk," jawabnya singkat.
"Kau Doni, kan? Wah, lama tidak bertemu," kata Katarina dengan mengulurkan tangan. Doni dengan enggan menyambut tangan Katarina yang terasa kasar. Dan, segera melepasnya.
"Lama tidak bertemu. Kau semakin tampan. Oh, dulu kau sering disebut bule," cicitnya dengan sok ramah. Doni hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan.
Seorang gadis cantik, berkulit putih, dan memiliki postur tubuh yang tinggi berlari dengan mengangkat gaun berwarna senada dengan jas yang dikenakan Doni. Ia berhenti tepat di hadapan Roy.
"Don, kau bilang Ayesha akan datang. Kau bilang sahabatmu ini tunangannya? Sekarang mana Ayesha?" cerocosnya. Dengan menggerakkan kepalanya melihat kanan dan kiri.
"Maaf, Ayesha, tidak bisa datang," sela Roy.
"Yaaah," katanya dengan wajah penuh kekecewaan. " kau bilang Ayesha akan datang. Tahu begitu aku mengadakan pesta ulang tahun di Belanda saja," semburnya. Kali ini ucapanya ditunjukan pada Doni.
"Kenapa rugi sekali semalam saja bersama kakakmu ini, Din!"
"Aku pikir kau benar tunangan Ayesha. Masa sudah bertunangan pergi bersama wanita lain," katanya dengan nada sinis.
"Memang Roy benar tunggangan Ayesha," sahut Doni.
"Buktinya bukan Ayesha yang datang!"
"Masuk sana! Jangan ikut campur urusan orang!" omel Doni pada kembarannya. Ia mendorong punggung Dini.
"Lagipula siapa yang mau tetap disini, heh, pembohong!" cibir Dini dengan membalikan badan dan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, yah. Kelamaan di Belanda. Begitu, deh," kata Doni memberi penjelasan.
"Tidak apa-apa," balas Roy.
"Memang Ayesha tidak bisa datang?" tanya Doni dengan merengkuh pundak Roy dan mengajaknya berjalan. Katarina membuntuti di belakang kedua pria tampan ini.
"Sibuk dengan model ternama," cetus Roy.
"Mulai lagi," cibir Doni.
Katarina mulai sebal. Ia bahkan tidak diajak bicara sedari tadi. Akhirnya, ia meminta izin untuk pergi mengambil minum. Roy dan Doni mengangguk tidak peduli. Doni merangkul pundak Roy dan mengajak sahabatnya duduk di kursi kayu, di gazebo.
"Kenapa lagi?" tanya Doni.
"Kau kenal model yang bernama Francesco?" tanya Roy. Doni mengangguk mengiyakan.
"Kenapa dengannya?"
"Saat peresmian mereka selalu bersama. Semua orang bilang France adalah tunangannya Ayesha. Yah, aku tahu. Mereka serasi. Tapi, tidakkah mereka mengerti perasaanku! teriak Roy.
"Memangnya mereka tahu kau tunangannya?" selidik Doni. Roy menggeleng.
"Bukannya kau bilang Ayesha mengajakmu mengikuti acara peresmian," tukas Doni.
"Ya, tapi …."
"Jika kau bersedia datang. Francesco tidak akan mendekati Ayesha dan tidak akan ada berita ini," tutur Doni.
"Mending begitu. Gimana kalau ternyata aku diabaikan," cicitnya.
"Pikiranmu ini buruk terus!"
"Siapa sih aku, Don?!" keluhnya. Doni hanya menghembuskan nafas lelah.
"Aku beberapa kali menghubungi Ayesha. Tapi, ponselnya sibuk. Hingga aku lempar saja ponselku. Aku kesal!" gerutunya.
"Sekarang ponselnya mana?"
"Disimpan Katarina."
"Salahmu, tuh! Bagaimana kalau tadi ia sedang di perjalanan jadi tidak bisa mengangkat ponsel. Atau mungkin saja ia sedang mengangkat panggilan penting. Ayesha itu orang sibuk."
"Sesibuk apapun harusnya ia menjadikan aku prioritas. Aku ini calon imamnya," tegas Roy.
"Jangan mengambil pemikiran sepihak. Kau bahkan belum bertanya kejelasannya."
"Entahlah. Aku sudah lelah!" keluhnya.
"Kau lelah dengan semua pemikiran burukmu!"
"Sebenarnya kau ini temannya siapa sih? Aku atau Ayesha? Kenapa selalu membelanya?"
"Aku pria yang menggunakan otak bukan emosi!"
"Aku realistis, Don. Wanita secantik Ayesha mana mungkin bisa setia. Yah, mending Ayesha menjadi wanita biasa saja jadi tidak capek karena cemburu!"
"Yang cantik dan sempurna belum tentu tidak setia. Yang biasa saja bukan berarti ia setia. Bagaimanapun semua tergantung individunya. Masalahnya bukan dari Ayesha. Tapi, dari kau yang selalu menuduh Ayesha dan berpikir buruk padanya. Padahal, mungkin saja semua dugaanmu salah!" Sedari tadi pandangan Doni tertuju pada Katarina yang asyik menikmati pesta dan berkenalan dengan banyak pria. Doni hanya meringis dan semakin tidak suka dengan perempuan yang mengaku sahabat Ayesha.
"Roy, sebaiknya kau berbicara empat mata dengan Ayesha. Kalian akan menikah. Cobalah untuk saling terbuka. Jika tidak suka Ayesha dengan Francesco yah, katakan sejujurnya. Ya, sudah. Aku harus menemani kembaranku. Nikmati pestanya. Ingat semua yang kukatakan. Aku yakin, Ayesha wanita terbaik dari yang baik," katanya dengan menepuk pundak Roy dua kali sebelum berlalu meninggalkan pria yang sedang bimbang ini.
"Justru karena Ayesha terlalu sempurna," gumamnya.
Hana berjalan mondar mandir di depan teras rumahnya. Ditemani Euis yang menunduk takut. Hana terlihat gelisah saat melihat arloji di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan Roy belum kembali.
"Kenapa lama sekali, sih!" katanya dengan bersedekap dan berjalan mondar mandir. "awas saja kalau pulang!" ancamnya.
"Euis. Aku harap kejadian ini tidak terulang!" tegasnya pada wanita yang duduk dengan menunduk. Sedari tadi Euis dengan setia mendengarkan Omelan Hana.
Hana berkacak pinggang saat melihat mobil Ferrari berwarna hitam terparkir indah di garasi rumahnya. Dua orang anak muda turun dari mobil mewah itu. Roy berjalan beriringan dengan Katarina. Disambut oleh wajah murka ibunya.
"Bunda sudah pulang?" tanya Roy dengan mencium punggung tangan wanita yang dikuasai emosi. Katarina hendak meraih tangan Hana tapi diurungkan.
"Euis, tolong kau bawa anakmu ke dalam!" titah Hana.
"Baik, nyonya," kata Euis dengan mengangguk dan membungkukkan kepalanya dan menarik tangan Katarina.
"Bagus, yah! Kau sudah bertunangan dan, kau pergi ke pesta dengan wanita lain? Oh, siapa yang mengajariku menjadi bastard?!" omel Hana di depan teras rumahnya.
"Ayesha juga sibuk dengan model tampan itu!" balasnya acuh dengan wajah yang mendung.
"Model? Model apa? Tadi sore Ayesha datang ke sini. Ia sudah mengenakan gaun pesta dan begitu cantik. Ia bilang akan pergi bersamamu! Hey, anak muda. Kau bahkan tidak menghadiri peresmian cafe terbaru Ayesha. Demi Janjinya padamu ia bahkan meninggalkan acara penting! Hello? Siapa yang egois!" Hana berkata dengan mengibaskan tangannya di wajah putranya.
"Ayesha datang ke rumah? Serius, Bun? Jadi Aya, tidak bersama France?" cecar Roy dengan menggoyang tangan Hana yang masih berkacak pinggang.
"Ya. Bahkan ia beberapa kali menghubungi ponselmu. Tapi, kau tidak ada? Kau tahu ia sangat kecewa saat tahu kau pergi bersama Katarina!" sembur Hana. "Sekarang mana ponselmu? Bunda juga tidak bisa menghubungi nomormu!" Roy tidak menjawab ia berlari masuk kedalam rumah dan berteriak memanggil Katarina. Ia berlari menuju kamar belakang. Sampai di depan pintu, Roy menggedor pintu kamar mi
lik gadis yang tadi menemaninya.
Saat Katarina membuka pintu. Roy melihat Euis sedang menangis di pojok tempat tidur. Tapi, ia tidak peduli.
"Mana ponselku?" tanya Roy.
"Ponsel apa? Aku tidak tahu?!" kilahnya.
"Bukannya tadi kau …."
"Ini den." Euis berjalan memberikan ponsel Roy. Ia segera mengaktifkan ponselnya yang tadi sempat mati karena dibanting. Beruntung tidak rusak. Roy kembali berjalan menjauh dari kamar Katerina dengan menundukkan kepala melihat gawainya.
"Bunda tidak suka kau terlalu dekat dengan Katarina. Ingat kau sudah bertunangan! Pokoknya bunda .aku Ayesha, titik!" tegasnya.
"Ya, Roy juga mau Ayesha. Tapi, Ayesha banyak yang mau!" sahutnya.
"Yang pentingkan Ayesha maunya cuma sama kamu!" tegas Hana.
"Gimana? Bener nggak Ayesha menghubungi?" desak Hana. Roy mengangguk.
"Nyesel, kan?!"
"Aya, marah, nggak, yah?"
"Kalau bunda jadi Aya udah bunda batalin pernikahan!" godanya.
"Serius, Bun? Wah, terus gimana nasibku?"
"Ya, makanya jangan bodoh! Berlian ko ditukar perak!"
"Doni juga bilang, gitu!"
"Au, ah, gelap!" balas Hana dengan berlalu. "jangan lupa besok harus baikan sama Aya. Kalau tidak nggak ada uang saku!" ancamnya.
"Apaan sih. Emang anak kecil!"
***
Ayesha berjalan dengan wajah mendung. Sejak kejadian semalam ia sudah tidak lagi memiliki gairah untuk tersenyum. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang keluarganya tahu Ayesha tidak jadi ke pesta karena Roy ketiduran padahal ia pergi dengan katarina dan meninggalkanya. Ayesha menghentikan langkahnya, ia membulatkan mata saat melihat siapa yang datang. Pria tampan yang lagi naik daun itu tersenyum ramah saat melihat Ayesha yang baru saja pulang dari kampus.
"Sedang apa kau di rumahku?" tanya Ayesha dengan mengacungkan jarinya di udara.
"Jangan kepedean, deh, teh. Kak France datang untuk bertemu denganku. Jadi, nggak usah senang gitu, deh," goda Althaf yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi minuman dingin berwarna orange.
"Oh, gitu. Hati-hati dia maho, France!" kata Ayesha dengan membuka sepatu kets dan menyimpan di rak.
"Apaan sih! Sembarangan kalo ngomong!" protes Althaf tidak terima.
"Kalau nggak maho udah punya pacar!"
"Aku jomblo berkualitas!"
"Nggak laku, yah, nggak lalu. Mana ada jomblo berkualitas!" cibir Ayesha.
"Sudah sana masuk! Bau, tahu!" usir Althaf.
"Adik durhaka! Minumanku mana? Capek, nih!" kata Ayesha dengan mengipas-ngipas tangannya di depan wajahnya.
"Minum punyaku aja, Ay," tawar France dengan menyodorkan gelas berwarna orange.
"Nggak, France," tolak Ayesha. Ia berjalan mendekati Althaf mengambil gelas yang berada di depan Althaf dan menghabiskan minuman adiknya.
"Eum … seger," katanya dengan memejamkan mata dan kembali menaruh gelas yang sudah kosong di depan Althaf. "anak baik," godanya dengan mengelus pucuk kepala adiknya dan berlalu masuk kedalam.
"Dasar Tutut!" umpat Althaf.
"Keong!" teriak Ayesha dari ruang tengah.
Francesco terkekeh pelan melihat sikap Ayesha yang berbeda dari yang ia kenal.
"Baru tahu, yah? Si tutut itu menyebalkan! Nih, yah. Malasnya na uju bilah. Bangun aja harus di siram pake air. Ish, pantas nggak kawin-kawin. Mana ada pria yang mau sama cewek model begitu," hardik Althaf.
"Aku mau," kata France dengan terkekeh.
"Eh?" Althaf menoleh ke arah France.
"Tapi, Ayesha nggak mau. Aku kurang ganteng kali, yah?" keluhnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukan kurang ganteng. Otak sama mata si teteh minus. Nggak bisa bedain mana laki ganteng mana bukan!" cicit Althaf.
"Serius loh. Aku kaget lihat sikap kakakmu kalau di rumah. Beda dengan di studio. Ayesha jutek banget. Bicara aja seperlunya," tutur France.
"Gitu emang kalo belum kenal. Kalo udah kenal. ih, amit-amit. Nyebelin!"
"Haha, kalian tuh lucu."
"Lutung culun? Wah, parah. Udah jadi Tutut reinkarnasi jadi lutung pula. Kasihan nasib teteh," cicitnya.
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”. (QS al-Hujurat: 12)," ujar Ayesha yang berkata sambil berjalan dan melewati ruang tamu. Ia menyambut Abinya yang baru pulang.
France membango mendengar dalil yang terucap dari wanita pujaannya. Ia seketika bungkam. Tapi berbeda dengan Althaf.
"Jangan aneh. Si teteh suka berdalil tapi tidak tahu penerapan!" kata Althaf dengan menatap kesal ke arah Ayesha yang sedang melewati Althaf dan France.
"Tapi, memang aku belum pernah mendengar Ayesha membicarakan orang lain," balas France.
"Itu memang tidak boleh, kak. Nanti dimarahi Abi kalau ketahuan," jelas Althaf.
"Abi sudah pulang," sambut Ayesha yang segera mencium punggung tangan ayahnya dan membawakan tas tangan yang terbuat dari kulit.
"Kak, sebentar, yah. Mau sambut Abi dulu," pamit Althaf dengan beranjak. France melihat ada yang lain dari keluarga ini. Keharmonisan, kehangatan dan tata krama yang dijunjung tinggi.
"Umi belum pulang pengajian?" tanyanya pada Althaf yang baru saja datang.
"Belum, Abi."
Memasuki rumah dan betapa terkejutnya ia melihat sosok pria yang muda dan tampan, menyambut dan mencium punggung tangannya. Pria yang sering digosipkan dengan putrinya. Rudi menoleh ke arah Ayesha. Dan, gadis cantik ini mengerti arah pandang abinya.
"France datang bukan untuk Aya, Abi. Dan, sedari tadi Aya di dalam kamar," jelasnya. Rudi mengarahkan pandang pada putranya.
"Aku sangat mengagumi dan kak France datang untuk bertemu dengan Althaf," tambah Althaf. Rudi mengangguk mengerti.
"Maaf yah, nak. Ayesha sudah di khitbah. Jadi kami berkewajiban melindunginya dari fitnah," jelas Rudi.
"Maafkan kedatanganku jika mengganggu," balas Francesco dengan menunduk.
"Niatmu bukan untuk putriku. Jadi silahkan nikmati waktumu," ucapnya dengan menepuk pundak France dua kali. "kau anak yang baik," tambahnya dengan tersenyum ramah. Althaf dan Ayesha saling pandang. Tapi kemudian Ayesha kembali berjalan beriringan dengan ayahnya dengan memegangi tas milik ayahnya.
"Abi menyukai kak France," kata Althaf setelah mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Suka?"
"Heem."
France diam. Bagaimana Althaf berkata bahwa ayah mereka menyukainya . Sangat jelas sikapnya sangat dingin.
"Jarang sekali Abi menyambut tamuku atau tamu yah Aya seramah pada kakak. Bahkan, jika ia berkata kakak orang baik. Berarti itu benar. Beliau tidak suka berbasa-basi," jelas Althaf.
"Oh, begitu. Kalau boleh tahu Abi berprofesi sebagai apa? Maaf jika lancang," sesal Francesco.
"Abi seorang dosen. Dan, kamu wajib mengikuti jalannya."
"Lalu Ayesha? aya, kan, mod….
"Hanya sementara! Setelah lulus S2 kakak harus tetap mengikuti jejak Abi."
Francesco semakin dibuat kagum dengan keluarga ini. Seandainya ia bisa bertemu dan memiliki kesempatan memiliki Ayesha pasti akan bahagia. Bahkan Aya dan keluarganya menjunjung tinggi etiket dan kehormatan. "Sungguh beruntung pria yang akan memiliki Ayesha," gumamnya di dalam hati.
Bersambung ..