Ayesha terlihat cantik dengan gaun yang membalut tubuhnya. Long dress berwarna grey yang bertabur Swarovski tampak elegan di tubuh Ayesha dan begitu kontras dengan kulitnya yang putih, memamerkan lekukan tubuh indahnya. Kalung berlian berwarna putih menghiasi lehernya yang jenjang. Rambutnya ditata seperti seorang putri, kepangan berbentuk mahkota yang biasa dikenal dengan Volume Rolling Waves. Penampilannya menunjukan bahwa ia pantas menjadi supermodel.
Gadis cantik bak lukisan Dewi Yunani ini berdiri di depan rumah dengan gawai yang masih setia di tangannya. Ia mengetuk-ngetuk ujung ponsel ke dagu. Ia mulai berpikir dengan cara apa lagi bisa menghubungi Roy. Sedari tadi tunangannya tidak bisa dihubungi. Ayesha semakin merasa bersalah. Karena ia tidak mengangkat panggilan Roy. Bukan disengaja bahkan ia tidak tahu, sedari tadi ponselnya digunakan oleh Althaf. Ia mulai panik saat ia mengarahkan pandangan ke arah jam tangan yang berbentuk gelang dengan paduan berlian berwarna senada dengan gaunnya. Melihat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ayesha semakin dibuat gelisah. Apalagi nomor Roy tidak aktif.
Seorang wanita paruh baya berjalan dengan langkah anggun, mengenakan daster rumahan mendekati Ayesha yang sedang kebingungan. Tepat berada di samping Ayesha, Rani merengkuh pundak putri sulungnya seraya berkata, "Ay, masuk, nak. Diluar sangat dingin."
Ayesha menoleh menatap wajah yang selalu mendamaikan ini. "Roy tidak bisa dihubungi, umi. Aya khawatir," keluhnya. "sebaiknya kususul ke rumahnya. Dan, memastikan Roy baik-baik, saja," tutur Ayesha. Rani mengalihkan tangannya, dari pundak ke pucuk kepala Ayesha dan berkata,
"Tidak baik mendatangi rumah seorang pria."
"Tapi, umi. Aya khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Roy?" balasnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.Rani melihat manik mata anaknya. Ia yakin, jika tidak izinkan anaknya tidak akan bisa tidur. Dengan berat hati ia mengijinkan Ayesha untuk pergi.
"Ya, sudah. Tapi, hati-hati, yah," ujarnya dengan mengelus pucuk kepada putrinya.
"Biar Althaf yang antar aja, teh," sela Althaf yang baru keluar rumah dan berdiri diambang pintu.
"Itu lebih baik," tambah Rani.
Ayesha mengangguk. "Tolong, Ambil kunci mobil di meja rias kamarku," titah Ayesha pada Althaf. Pria tampan itu berjalan kembali masuk kedalam rumahnya. Tidak berapa lama Althaf kembali dengan membawa kunci mobil kakaknya.
"Umi, Aya berangkat yah," pamitnya dengan mencium punggung tangan ibunya Begitupun dengan Althaf.
"Assalamu'alaikum," ucap mereka barengan dengan adiknya.
"Waalaikum salam." Hati-hati, nak," katanya dengan menatap kepergian kedua anaknya. Ayesha dan Althaf memasuki mobil dan melajukan mobil menuju rumah Roy. Di dalam mobil Ayesha terlihat gelisah. Althaf melirik ke arah Ayesha dengan ekor matanya.
"Banyak yang lebih baik. Tapi, kenapa kau masih bertahan pada pria yang bahkan tidak menghargaimu," kata Althaf tanpa mengalihkan pandangannya fokus ke depan melihat jalanan.
"Tidak akan pernah cukup jika terus mencari yang lebih baik," balas Ayesha.
"Sebelum nikah, kau berhak memilih. Bahkan ia tidak pernah mengantarmu ke Jakarta," cicit Althaf.
"Dulu saat aku merintis, bukankah Roy yang setia mengantarku casting? Aku tidak ingin menjadi kacang lupa kulitnya."
"Terserah, aku hanya sedikit tidak suka dengan sikap a Roy," keluh Althaf.
"Karena kau menginginkan Francesco menjadi kakak iparmu," tebak Ayesha.
"Aku tidak sepicik itu, teh. Aku hanya ingin kau bahagia dan memiliki suami yang ada saat kau butuhkan," katanya tulus. Ayesha tidak menanggapi. Ia masih melihat ke depan dengan tatapan yang kosong Tidak ada percakapan diantara kakak beradik ini. Hingga tidak terasa mobil BMW biru telah terparkir di depan rumah dua lantai bercat putih.
Ayesha turun dengan tergesa dan mengangkat gaunnya yang mewah. Ia berlari menuju rumah mewah dua lantai berwarna putih. Langkahnya terhenti dan ia kembali menurunkan gaunnya saat berdiri didepan pintu bercat putih yang terlihat begitu kokoh. Ayesha hendak menekan bel yang berada di pojok atas daun pintu namun diurungkan saat ia melihat ada cahaya lampu dari salah satu mobil yang baru saja memasuki halaman rumah ini. Ayesha membalikan badan, dan menyipitkan mata, guna mengurangi intensitas cahaya yang membuat matanya silau. bisa menebak mobil siapa yang baru saja datang.
Seorang wanita paruh baya yang mengenakan setelan kantor keluar dari mobil Ferrari berwarna hitam. Ia berjalan beriringan dengan suaminya Rama yang saat ini mengenakan jas hitam. Ayesha berjalan mendekati Hana dan Rama. Ia membungkukkan kepala dan mencium punggung tangan calon ibu mertuanya.
"Wah, kau datang, nak. Ada apa?" tanya Hana ramah. "ayo masuk," ajaknya dengan menggandeng tangan Ayesha.
"Athaf ayo masuk," ajak Rama pada Athaf yang baru saja mencium punggung tangannya.
"Tidak, Althaf tunggu disini, saja," tolaknya. "Althaf hanya mengantarkan si teteh," jelasnya.
"Memang ada apa?" tanya Rama.
"Beberapa hari lalu, aa Roy ngajak ke pesta ulang tahun temannya. Tapi, tidak kunjung datang menjemput. Karena lama menunggu kami datang kesini. Takut kalau aa Roy kenapa-kenapa," tutur Althaf.
"Bun, kenapa Roy telat menjemput? Coba masuk dan tanyakan pada anak kita. Aku tunggu disini," titahnya pada Hana.
"Tidak tahu. Sepertinya ketiduran," tebak Hana.
"Tapi, tadi ada panggilan masuk. Cuma teh Aya lagi mandi. Jadi tidak ke angkat," jelas Althaf.
"Maaf yah, Aya, jadi nungguin. Nanti bunda omelin tuh, si Roy," katanya dengan mengelus pucuk kepala Ayesha.
"Tidak apa-apa," balas Ayesha dengan tersenyum.
Hana membunyikan bel rumah. Tidak berapa lama seorang wanita paruh baya mengenakan kebaya jaman dulu membuka pintu dengan membungkukkan kepalanya.
"Roy, Roy!" panggil Hana. Saat memasuki rumahnya.
"Den, Roy, nyonya?" tanya Euis.
"Iya. Mana dia?"
"Sudah pergi ke acara ulang tahun den Doni, temannya," jelas Euis.
"Sudah pergi?" ulangnya. Euis mengangguk dengan sedikit ragu. Ayesha diam di tempat. Ia menghentikan langkahnya.
"Gimana sih! Ayesha sampai nunggu, gitu! Kapan ia berangkat?" tanya Hana.
"Ada sekitar tiga puluh menit lalu, nyonya," jawabnya.
"Nak, maaf, yah. Biar bunda marahi nanti kalau pulang, atau mau bunda antar datang ke pesta?" Hana menawarkan diri.
"Tidak perlu, Bun. Tidak datang pun tidak apa," kata Ayesha penuh pengertian. "Oh, iya. Sekalian ada disini, Aya ingin bertemu Katarina," katanya dengan melihat ke arah Euis.
Euis menunduk dengan memegang ujung bajunya.
"Bi? Menantuku ingin bertemu Katarina, tolong panggilkan," titah Hana.
"Apa Aya saja yang menemui Katarina? Boleh bunda?" tanya Ayesha ramah.
"Tentu saja, boleh," balasnya dengan tersenyum manis. Ayesha hendak berjalan memasuki rumah menuju kamar katarina. Euis tiba-tiba berkata.
"Katarina ikut ke pesta dengan den, Roy," katanya dengan menunduk.
Deg
Entah kenapa Ayesha merasakan kelenyer sakit di dalam hatinya. Ia menghentikan langkah. Dadanya terasa sesak, sakit, kecewa tapi ia tidak bisa marah dan berpikir aneh. Karena Katarina adalah sahabatnya. Dan, Roy adalah orang yang sangat ia percaya.
"Apa?!" Hana membulatkan matanya. "Roy pergi dengan Katarina?" ulangnya dengan nada tegas. Euis membalas dengan anggukan kepala. Tangannya mulai kencang meremas kebayanya.
"Euis, selama ini aku sudah baik. Tapi TOLONG." Hana menekankan kata "tolong" Jangan melewati batas! Katakan pada anakmu, jangan bersikap semaunya. Dan, jika kaca di kamar belakang kurang besar. Aku bersedia membelikan untuknya," katanya dengan nada sinis.
"Maaf, nyonya." Euis menunduk dengan menahan malu. Wajahnya sudah merah. Ia sadar bahwa tidak sepantasnya anak seorang asisten rumah tangga dekat dengan anak majikannya. Tapi, berbicara dengan katarina sangat sulit. Ia bahkan sudah kehabisan kata menasehati putrinya.
"Awalnya, aku simpati. Tapi, anakmu semakin kurang ajar. Lihatlah! Ayesha sampai datang kesini. Tempatkan diri kalian sebagaimana mestinya!" omel Hana. Euis hanya menunduk tanpa bergeming. Ayesha mulai tidak tega pada ibu dari sahabatnya ini.
"Tidak apa, bunda. Salahku juga tadi tidak mengangkat panggilan Roy," katanya. "Ya, sudah. Sebaiknya, Aku pulang dulu," pamitnya. Ayesha meraih tangan Hana, dan mencium punggung tangan wanita yang sedang dipenuhi emosi.
Ayesha berjalan dengan langkah yang lesu. Hana menatap punggung Ayesha dengan tatapan mendung. Ingin rasanya Hana memeluk Ayesha tapi ia harus menyelesaikan ini dengan Euis.
Malu? Ya, Ayesha sangat malu. Ia bahkan dengan percaya dirinya berdandan cantik. Tapi, Roy justru pergi dengan orang lain. Kecewa? Itu sudah pasti. Bahkan, demi menepati janji ia rela meninggalkan acara peresmian cafe miliknya. Tapi, kenyataan ini begitu menyakitkan. Ia ingin marah. Tapi, marah karena apa? Lalu, marah pada siapa? Padahal, ia sudah berusaha ingin memperbaiki hubungan. Dan, meluangkan waktu demi Roy. Mengabaikan rasa lelah. Tapi, semua terasa percuma. Ayesha mulai merasakan matanya yang mulai menghangat. Tapi, ia tidak boleh menangis. Ia tidak ingin ada yang tahu semua ini. Cukup rasa kecewa ini, ia pendam sendiri.
"Apa Roy sudah siap? Aku pulang saja, teh?" tanya althaf saat melihat Ayesha keluar. Ia berpikir Ayesha jadi pergi ke pesta.
"Roy ketiduran. Jadi kita pulang lagi," ajak Ayesha.
"Astaga! Roy! Tunggu, nak. Biar papah bangunkan!" kata Rama hendak berlalu.
"Tidak perlu. Lagipula, ini sudah malam. Ia pasti lelah," kata Ayesha.
"Benar tidak apa-apa, nak?" tanyanya. Ayesha hanya mengangguk dua kali sebagai Jawaban.
"Untung aku tidak langsung pulang, teh," kata Althaf.
"Om, Aya, pulang, yah," pamitnya pada Rama yang sedang berdiri di samping Althaf. Ayesha mencium punggung tangan Rama, mengucapkan salam dan masuk kedalam mobil.
Setelah membalas salam Ayesha dan mengatakan hati-hati. Ia pun berjalan masuk ke rumahnya. Ia kaget, melihat Hana istrinya sedang berkacak pinggang memaki Euis.
"Ada apa ini?" tanya Rama saat berada diambang pintu.
"Papah tahu? Roy pergi dengan katarina ke pesta. Apa-apaan ini?!" teriaknya.
"Loh, bukannya Roy tidur?" kata Rama dengan tenang.
"Tidur?" ulang Hana.
"Iya, tadi Ayesha bilang Roy sedang tidur," jawabnya.
"Oh, Tuhan. Bahkan ia tidak mengatakan hal buruk di depan orang lain."
"Jadi?"
"Roy pergi ke pesta bersama Katarina. Dan, Ayesha di tinggal. Ini sangat memalukan. Bagaimana jika pak Darmawan tahu? Kita seperti orang tua yang tidak bisa mendidik anak. Dan, kau Euis aku tidak ingin hal ini terulang!" sentaknya pada Euis dengan berlalu.
"Aku kecewa pada kalian!" tambah Rama pada Euis dengan berlalu.
Euis berjalan dengan langkah lesu. Sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja, ia tidak pernah dimaki, dimarahi oleh majikannya. Tapi, sekarang. Ia tidak pernah membayangkan Hana dan Rama begitu murka. Ia sadar bahwa mereka tidak sederajat dengan keluarga Atmadja dan Darmawan.
Althaf melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia melihat kakaknya tampak berbeda. Wajahnya mendung dan bahkan Ayesha hanya menatap sisi Jalan dan memunggungi adiknya. Meski Ayesha tidak banyak bicara. Tapi, ia akan sangat cerewet pada orang-orang terdekatnya. Jika begini Althaf tahu pasti ada masalah.
"Apa benar aa Roy tidur? Jika begitu, apa yang membuat teteh terlihat sedih" tanya Althaf penuh perhatian, dengan tangan masih fokus pada setir mobil.
"Teh, aku sering melihat kak Roy menyakitimu dengan cara yang halus," tambah althaf.
"Tahu apa kau!" sinis Ayesha.
"Setiap orang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Buka matamu, teh. Setia? Kau terlalu setia seperti tidak ada pria lain saja," sembur Althaf.
"Jika aku sudah berkomitmen maka aku hanya bisa melihat satu pria. Meski banyak pria yang lebih dari Roy menginginkan cintaku," cicit Ayesha.
"Oke, baik. Itu prinsipmu. Tapi, apa benar kak Roy tidur?" desak Althaf. Ayesha ingin sekali berbagi rasa kesal, kecewa dan marah pada adiknya. Tapi, tidak. Ia tidak akan mengatakan keburukan orang yang masih dicintai. Biarkan ia memendam sendiri.
"Ia. Mungkin sangat kelelahan," bela Ayesha.
"Semoga begitu," balas Althaf tidak yakin dengan ucapan Ayesha.
"Maafkan teteh. Aku masih sangat mencintai Roy. Dan, teteh percaya pada Katarina dan Roy. Mereka tidak mungkin berkhianat. Aku yakin mereka pergi karena berpikir aku tidak pulang," kata Ayesha di dalam hati.
"Teh, kita pulang apa datang ke pesta?" tanya althaf yang membuat Ayesha terlonjak kaget, tersadar dari lamunan.
"Pulang, saja," balasnya tanpa mengalihkan pandangannya. Ia masih setia menatap ke luar jendela mobil.
Bersambung ….
Jangan lupa, Tap Love, terimakasih.