Flower Cafe

1855 Kata
Siang hari saat mentari berada diatas kepala. Ayesha berdiri di depan pita merah, membentang, menghiasi sebuah pintu. Ayesha memegang gunting berwarna merah muda yang dihiasi pita berwarna merah. Gadis cantik berwajah indo ini mengenakan gaun berwarna pastel. Senyuman menghiasi wajahnya ketika tangannya yang lentik memotong pita. Suara tepukan tangan menggema. Hari ini menjadi saksi pembukaan cafe terbaru Ayesha. Banyak dari teman model, dan rekan kerja turut andil menemani peresmian dibukanya cafe terbaru Ayesha. Flower Cafe. Cafe romantis yang menyuguhkan keindahan alam. Nuansa cafe yang teduh Berada di pusat kota di tengah gedung-gedung pencakar langit ibukota. Suasananya, nuansanya, dan detail dekorasinya akan membawa memori kamu ke wilayah Ubud yang damai. Semua sudutnya begitu cantik. Di area indoor, kesan mewah nan elegan begitu nyata adanya. Sementara di area outdoor terasa lebih santai, fresh, dan menyatu dengan alam berkat pepohonan rimbun yang ada di sekelilingnya. Kolam renang yang cantik dengan konsep infinity pool juga memberi tambahan kesegaran dan relaksasi untukmu yang ingin melepas penat. Inilah konsep Cafe kedua Ayesha. Ayesha duduk di temani Cindy dan Amanda. Seorang manager di cafenya yang dulu. Dan, kini ia mendapat mandat mengurus cafe terbaru yang lebih besar. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah setelah menyapa para tamu undangan yang datang. Ayesha sedang berbincang hangat dan tersenyum dengan kedua orang terdekatnya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata terus mengawasi dengan tatapan penuh kekaguman. Pria itu menggeser kursi, dan beranjak dari duduk. Ia merapikan jasnya yang berwarna abu. Pria jangkung berkulit putih, berahang tegas, berhidung mancung, dan berambut merah ini berjalan mendekati meja Ayesha. Semua tamu perempuan menatap penuh kagum ke arah pria yang sedang berjalan dengan langkah tegap dan mempesona. Ia berhenti tepat di sisi kanan Ayesha yang sedang memunggunginya. Karena sedang asyik mengobrol Ayesha tidak sadar ada yang mendekat. Cindy dan Amanda saling beradu pandang, berkedip dan meminta ijin ke toilet secara bersamaan. Dengan sedikit heran Ayesha pun mempersilahkan. "Selamat siang, Ayesha," sapa pria yang sedang menjadi sorotan ini. Ayesha menoleh ke arah sumber suara dan betapa kagetnya ia melihat sosok yang tidak ingin ditemui. "Frans," katanya lirih. "Bolehkah aku duduk," pintanya dengan sangat sopan. Dan, hanya dibalas dengan anggukkan. "Aku kagum padamu, Ay. Kau sungguh hebat," pujinya. "Kau lebih hebat, Frans," balasnya. "Ay, kau tahu, kan. Aku menjadi ambasador di parfum terbaru milik putra group. Dan, aku sudah kenal dengan tuan muda Andrea. Jika kau mau, aku akan merekomendasikan kau menjadi ambassador," tuturnya. "Apa itu tidak memaksa?" tanya Ayesha. "Tentu saja, tidak. Kau sangat berbakat. Dan, pantas di kenal dunia," tuturnya. "Lebih baik aku melewati jalur seleksi saja," balasnya. Frans mengangguk setuju. "Ay, bukanya bulan depan kau ada pemotretan di Bali?" tanyanya. "Ya. Darimana kau tahu?" "Aku model prianya. Masa kau tidak tahu, sih?" "Cindy belum bilang," sahutnya. "Sepertinya kita jodoh. Banyak yang melibatkan kita bersama. Dan, mereka berharap kita menjadi pasangan yang kekal," cicitnya. "Eh?" "Bercanda, ay. Aku tahu, ko. Kamu, kan sudah bertunangan," ucapnya. "Heem." Mendengar itu Ayesha jadi ingat janjinya yang akan menghadapi acara ulang tahun sahabat Roy. "Frans," panggil Ayesha. "Ya? Kenapa, Ay. Mau ngajak aku makan siang bareng, yah?" kata Frans penuh percaya diri. "Bukan itu. Aku ada janji. Dan, aku akan kembali ke Bandung sekarang juga. Jadi, maaf, yah. Aku tinggal," sesal Ayesha. Ia beranjak dari duduk dan menyambar tasnya yang berada di atas meja. Frans menghembuskan nafas kasar. Frans terus menatap pergerakan Ayesha yang sedang menyapa tamu. Dan, berbicara pada Cindy dan Amanda. Pria tampan ini terus menatap hingga Ayesha tidak terlihat. "Kau sungguh berbeda, Ay. Aku jadi penasaran setampan apa sih pria itu. Hingga membuatmu tidak pernah melihatku," gumam France. Ayesha melajukan mobilnya dengan tergesa. Ia mulai panik saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Jalanan ibukota menjelang sore sangat padat. Hingga Ayesha harus membunyikan klakson beberapa kali. Macet, satu kata yang tepat. Dan, saat ini menjadi musuh gadis cantik ini. Di tempat yang berbeda. Rani dan Rudi duduk di depan televisi tabung 22 inch. Televisi jaman dulu yang berada di dalam lemari hitam. Dan, jika pintu lemari itu ditutup maka otomatis televisi akan mati dengan sendirinya. Rudi sangat menyayangi Televisi itu. Karena itu adalah satu-satunya barang peninggalan Darmawan sang ayah. Tidak ada yang protes baik Rani, Ayesha ataupun Althaf. Rudi juga tidak mengijinkan anaknya memiliki tv di dalam kamar. Karena itu akan menjadi dinding pemisah keharmonisan keluarga. "Lihatlah, anakmu, Abi. Sungguh hebat, bukan. Cafenya sangat bagus mewah," puji Rani. "Hebat itu kalau membuat sekolah gratis untuk anak tidak mampu," tukas Rudi. "Abi, mah. Anak kita itu sangat terkenal, tau," cicit Rani. "Abi lebih suka Ayesha jadi dosen dengan prestasi yang bagus. Dan, bisa bermanfaat untuk anak-anak terlantar," tambah Rudi. "Kenapa Abi selalu berkata begitu?" "Karena, aku memiliki mimpi untuk memiliki sekolah untuk anak-anak tidak mampu. Dan, membantu anak jalanan. Karena, Abi merasakan sulitnya dulu saat ingin sekolah," katanya dengan wajah yang mendung. Ayesha diam di ambang pintu ruang tengah. Ia mendengarkan semua percakapan kedua orangtuanya. Ia sadar, semua kesuksesan yang ia dapat bahkan tidak ada satupun yang membuat ayahnya bangga. Tapi, ia menggeleng. Ia tetap ingin mewujudkan mimpinya. Tidak peduli jika tidak sesuai keinginan orang tuanya. Ayesha berpikir, itu semua adalah mimpi ayahnya. Dan, bukan kewajiban ia mewujudkan mimpi ayahnya. Karena setiap orang berhak memiliki mimpi yang berbeda. "Teteh, astaga!" Althaf menjerit histeris. Dan, menepuk punggung Ayesha yang berdiri mematung di tembok pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Rudi dan Rani yang sedang menonton televisi pun menoleh ke belakang. "Apaan sih! Ngagetin, aja!" protes Ayesha dengan berjalan mendekat ke arah kedua orangtuanya yang sedang melihat wajah anaknya di televisi. Ayesha mencium punggung tangan kedua orangtuanya. "Teteh kenal kak Fransisco?" tanya Althaf dengan menggoyang tas Ayesha. Ia terus membuntuti kemana langkah Ayesha. "Iya, kenal," sahutnya cuek. "Astaga! Keren banget. Aku boleh minta tanda tangan, nggak? Kalau bisa bawa sini, deh?" cicitnya. "Norak, deh!" cibir Ayesha dengan berlalu. "Abi, umi, Aya mandi dulu," pamitnya pada kedua orangtuanya. "Ay," panggil Rani. "Ya, umi?" tanya Ayesha dengan membalikan setengah badan. "Perasaan kami tidak dengar kamu mengucapkan salam," tegurnya. "Ah, iya. Aya, lupa. Ya, sudah, tunggu," kata Ayesha dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia berjalan dan berdiri di posisinya tadi. "Assalamu'alaikum, Abi dan umi kesayangan, Aya" katanya dengan tersenyum ramah. "Waalaikumsalam," ucap mereka barengan. Rudi dan Rani hanya menggelengkan kepala dengan tingkat konyol anaknya. Ayesha hendak mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Ia sudah membungkukkan setengah badan Tapi, ditahan oleh Althaf. "Teteh, udahan dramanya. Ayo, teh. Video call sama kak Frans," pinta Althaf. "Nggak!" tolaknya dengan berlalu. "Jangan mengikutiku terus. Aku mau mandi," omel Ayesha yang akan masuk ke kamarnya. "Teh, ayolah," bujuknya. "Jangan norak, deh!" "Ih, nggak guna punya kakak model," cibir Althaf. Ayesha membuka pintu kamar dan masuk. Althaf membuntuti dan ikut masuk. Ia duduk di ranjang Ayesha. "Teteh, sebentar aja. Kalau tidak mau. Aku tidur di ranjang, teteh. Terus aku piralin Ayesha Maharani tidurnya ileran," katanya dengan menatap sebal Ayesha. "Bodo amat! Sana, sana! Pergi!" usir Ayesha. Ia mendorong tubuh Althaf dengan kasar. "Aku bilangin kak Roy. Ada loh, netizen yang bilang kakak pacaran sama kak Frans. Ya, kalian serasi, ko," cicit Althaf. "Maksudnya?" "Nih, lihat!" Althaf memberikan ponselnya. Disana ada video ayesha sedang duduk berdua dengan Frans. Dan, disana mengatakan bahwa Ayesha dtsn Frans sudah bertunangan. "Astaga! Ini hoax! Ayesha menutup mulutnya. Ia tidak menyangka akan ada kabar seperti ini. "Tapi, sepertinya kak Frans suka sama teteh!" "Jangan ngasal!" balas Ayesha dengan mengusap wajah Althaf kasar. "Nanti aku bantu spam di kolom komentar. Jelasin ke semua netizen. Tapi, aku pengen VC kak France," desaknya. "Baiklah," Ayesha menghembuskan nafas kasar. Pria tampan yang baru saja membersihkan diri. Ia sedang mengusap rambutnya yang basah dan hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang. Ia menyambar gawai dan kagetnya saat melihat Ayesha mengajaknya Video Call. Dengan cepat ia mengenakan kaos rumahan, ia berjalan menuju kaca besar, membersihkan rambut dan saat ia kembali melihat gawai ponselnya telah mati. "Nggak diangkat. Udah, yah. Aku mau mandi. Ada acara," cicitnya. Baru satu langkah, ponsel Ayesha berdering. "Teteh!" panggil Althaf heboh. "Naon?" "Kak France. Ayo angkat!" "Angkat ajah!" titahnya hendak berlalu menuju kamar mandi. "Harus ada basa-basi dulu atuh!" Tanpa banyak bicara Althaf memberikan ponsel Ayesha yang sudah terpampang wajah tampan France. "Sudah sampai di Bandung?" tanya France. Ayesha hanya membalas dengan anggukan. "Ada apa, Aya? Apa kau kangen padaku?" katanya dengan terkekeh. Ayesha menggeleng pelan. "Bukan itu. Adikku, ternyata ia fans beratmu. Aku sudah bilang kau sibuk, tapi ia bersikukuh," keluh Ayesha. "maaf yah, jadi mengganggu," sesalnya. "Tidak, tidak! Aku justru kaget banget dapat panggilan dari kamu," katanyanya. Terlihat wajahnya berbinar. "Aku mau mandi. Ini adikku dah nungguin kamu. Pengen ngobrol," jelas Ayesha. "Pasti cantik kaya kamu," godanya. Tidak ada jawaban dari Ayesha. Ia memberikan gawai pada Althaf yang sudah mengusap kedua telapak tangan dengan tidak sabar. "Teh deg-degan," katanya. Ayesha tidak menjawab ia berlalu menuju kamar mandi. "Hay," sapa France. "Wah, beneran keren," pujinya. Dan, itu membuat Franc terkekeh. "Wah kupikir cantik ternyata ganteng," goda France. "Aku ganteng. Cuma, aku suka dengan fashion kak France," katanya memulai percakapan. Althaf berbincang cukup lama, saat ini mereka sudah tidak melakukan Video Call. Tapi, melanjutkan panggilan. Dan, itu berjalan cukup lama hingga Ayesha keluar kamar mandi pun mereka belum juga selesai melakukan panggilan. Ayesha menatap sebal ke arah althaf yang terus memakai ponselnya untuk berbicara dengan France. Ia duduk di meja rias. Dan, mulai memoles wajahnya yang cantik. Althaf melihat kakaknya mulai kesal dan dengan enggan ia menghentikan panggilan. Saat akan menutup panggilan, France meminta pada Althaf untuk berbicara dengan Ayesha. Di tempat yang berbeda seorang pria melempar ponselnya. Karena sedari tadi ia tidak bisa menghubungi Ayesha. Ponsel Ayesha sibuk dan tidak bisa di hubungi. Katarina yang berada di belakang Roy pun mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Ia berjalan dan memberikan video pada Roy dari ponsel miliknya. Roy semakin marah saat melihat Ayesha duduk berdua dengan France saat peresmian cafe dan ia semakin murka melihat komentar netizen. "Ayesha pasti lupa janjinya. Lihatlah, begitu mesra pada Francesco. Dan, kau tahu? Banyak yang menyangka bahwa Ayesha bertunangan dengannya. Aku pikir, ia berkata begitu. Mana mungkin Aya mengakui kamu sebagai tunangannya," cicit Katarina. Roy diam, ia mengepalkan kedua tangannya dan meninju udara. "Aku tahu kau kecewa. Tapi, bahkan ponselnya sibuk, kan? Apalagi kalau bukan melakukan panggilan dengan pria tampan dan tinggi setelah acara peresmian cafe berakhir. Aku sudah bilang, Ayesha hanya memanfaatkanmu saja," cerocos Katarina terus memprovokasi. Wajah Roy semakin merah penuh amarah. "Ganti bajumu. Kau ikut aku ke pesta ulang tahun Doni!" tukas Roy dengan berlalu. "Cepat! Aku tunggu di mobil!" tegasnya. Katarina mematikan ponsel Roy. Dan, bergegas masuk ke kamarnya. Ia meninggalkan ponsel Roy di meja rias miliknya. Dengan tersenyum menyeringai Katarina mulai merias wajahnya. "Adikmu sangat ramah. Sepertinya ia kebalikan darimu," kata France di seberang sana. "Iya. Ia berisik," balas Ayehsa ketus. "Kamu mau pergi, yah?" tanya France. Ia tahu dari Althaf. Ayesha menatap kesal ke arah adiknya. Adiknya hanya bersiul dan membuang wajah. "Iya." "Ya, sudah. Hati-hati yah, Ay. Aku suka adikmu. Dan, mungkin keluargamu," katanya. Tanpa mendapatkan jawaban dari Ayesha. Assalamu'alaikum." Tanpa mendengar jawaban France Ayesha menutup ponselnya. "Teteh. Aku lebih suka France. Meski tampan ia baik. Dibandingkan as Roy. Bahkan ia tidak pernah mengobrol denganku," cicit Althaf. "Tahu apa, kau! Sana pergi!" usir Ayesha. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN