Ayesha berdiri di depan teras rumah masih dengan kebaya putih yang membalut tubuh indahnya, memeluk tubuh yang mulai terasa dingin dengan kedua tangan. Roy berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping Ayesha dengan memasukan kedua tangan di saku.
"Langitnya masih sama seperti dulu," kata Roy. Ayesha mendongak menatap langit gelap yang bertabur bintang. Ia memejamkan mata merasakan semilir angin menerpa wajahnya.
"Dulu kita sering menikmati malam bersama dan menatap bintang," tambah Roy. Ayesha mengangguk tanpa membuka matanya.
"Kau lebih bersinar melebihi bintang dilangit. Dan, aku masih menjadi malam yang gelap," ujarnya. Ayesha membuka mata dan menoleh ke arah pria yang mengenakan kemeja putih yang berdiri di sampingnya.
"Adanya bintang karena ada malam. Ia bisa bersinar hanya dimalam yang gelap," kata Ayesha. Pandangan mereka beradu. Ayesha melihat ada keraguan di manik mata coklat pria yang selama ini mengisi hatinya.
"Tetap saja mereka akan sangat menyukai bintang dan membenci gelapnya malam," jawab Roy dengan tatapan mendung.
"Bintang hanya membutuhkan malam. Dan, ia tidak peduli pandangan orang," balas Ayesha.
Roy diam. Ia tidak pernah menyangka Ayesha bisa berkata sebijak dan serendah hati itu. Harusnya ia bahagia dengan jawaban Ayesha. Tapi, ia tetap merasa takut dan tidak percaya bahwa gadis sesempurna Ayesha mau dengannya. Padahal, banyak yang lebih darinya.
"Aku tidak menyangka Abi dan umi mengijinkan kita merayakan ulang tahun di vila," kata Ayesha mencoba mengalihkan topik. Pandangannya beralih menatap lurus kedepan, melihat pintu gerbang berwarna hitam yang terbuka sedikit.
"Karena katarina akan ikut. Jadi, dapat izin," jawab Roy. Lelaki ini menatap wajah Ayesha dari samping.
"Ia memang selalu bisa diandalkan," tambah Ayesha. Roy hanya mengangguk. Ia mengalihkan pandangannya kembali menatap langit.
"Apa kau tidak suka Katarina ikut?" tanya Ayesha.
"Entahlah, aku kadang tidak menyukainya."
"Ia memang kadang tidak tahu tempat dalam berbicara. Tapi, ia sangat baik. Dan, kami berteman cukup lama. Aku sangat menyayanginya," kata Ayesha tulus. Roy menoleh ke arah Ayesha.
"Seandainya kau tahu siapa dia, ay. Aku tidak ingin berpisah karena kebaikanmu," gumam Roy.
"Eh, ko melamun?" tanya Ayesha saat melihat Roy yang sedang menatapnya dengan pandangan yang kosong.
"Tidak, tidak. Aku hanya berpikir kau begitu cantik malam ini," pujinya.
"Jadi kemarin, nggak?"
Roy terkekeh. "Kemarin B, ajah," jawabnya.
"Apaan sih!" Ayesha memukul tangan Roy.
"Kau sudah tidak marah? Maaf, jika kejadian di kampus membuat kamu malu. Apa aku selalu membuatmu malu?" katanya dengan membalikan tubuhnya menatap lekat Ayesha. Ayesha ikut membalikan tubuh hingga mereka saling berhadapan.
"Lupakan kejadian di kampus. Roy, berhenti menunjukan bahwa kau tidak pantas mendapatkanku," kata Ayesha. "jika kau terus begitu, sama saja kau tidak percaya pada cintaku," ujar Ayesha. "Aku ingin kau yang dulu. Penuh percaya diri, dan kau berani menunjukkan pada dunia bahwa hanya kau yang pantas mendapatkan aku," kata Ayesha dengan tersenyum manis. Roy merasa selalu berbunga saat bersama Ayesha. Dan, menyesali perbuatannya di belakang wanita paling sempurna. Tapi, ia tidak bisa menghilangkan rasa mindernya.
"Oh iya Dua hari lagi ada acara ulang tahun sahabatku, Doni. Apa kau bisa datang?" tanyanya.
"Aku ada pembukaan cafe baru, sih. Apa kau mau ikut meresmikan denganku. Biar kukenalkan kau ke teman-temanku," ajak Ayesha. "Nah, nanti kita bisa kembali ke Bandung bersama-sama dan menghadiri acara temanmu," tuturnya.
Roy diam. Ia mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Pasti mereka tampan dan tinggi. Dan, aku tidak ingin menjadi bahan tertawaan. Pasti Ayesha malu memiliki pacar yang tidak begitu tinggi. Apalagi, ia pasti mengenakan hil sepuluh senti atau bahkan lebih. Dan, aku kembali dipandang sebelah mata," gumam Roy di dalam hati.
"Ikut, yah. Kau tidak pernah mau ikut jika aku ada acara. Padahal, mereka ingin kenal denganmu,' kata Ayesha.
"Iya, ingin menghinaku," balas Roy yang hanya terucap dalam hati.
"Maaf, ay. Aku harus membantu Doni," sesalnya.
"Oh, begitu. Baiklah, nanti tunggu aku saja, yah. Aku pasti pulang," janjinya. "Besok pagi aku akan kembali ke Jakarta. Apa kau tidak berniat mengantarku?"
"Aku antar sampai terminal bagaimana?" tawar Roy.
"Jika begitu, tidak usah. Aku ke Jakarta bawa mobil sendiri saja," tukas Ayesha sedikit kecewa. Tapi, ia mencoba mengerti.
Sebenarnya ingin rasanya Roy mengantar Ayesha ke Jakarta. Ia juga berharap bisa berbaur dengan dunia Ayesha. Tapi, apa yang bisa dibanggakan ketika neraka tahu bahwa Roy hanya seorang Mahasiswa. Sedang Ayesha karirnya begitu bersinar di usianya yang masih sangat muda. Ia sudah lelah, jika mendengar semua orang mengatakan ia tidak pantas untuk Ayesha. Kadang ia juga berpikir apakah Ayesha benar-benar mencintainya apa benar yang dikatakan Katarina. Bahwa ia mau menikah agar bisa kuliah di Jakarta dan mengejar mimpi-mimpinya.
"Kenapa melamun? Kau sakit?" tanya Ayesha dengan mengulurkan tangan memegang kening Roy. Pria berkulit kuning Langsat ini menggeleng pelan.
"Aku pulang, saja." Katanya dengan menurunkan tangan Ayesha dari keningnya. "besok hati-hati, yah," katanya dengan tersenyum dan melambaikan tangan sebelum mendorong kuda besi miliknya. Dan menyalakan mesinnya setelah jauh dari rumah Ayesha. Gadis berkebaya ini menatap kepergian Roy hingga tidak terlihat.
"Apa dia tidak bersedia mengantar ke Jakarta?" tanya Athaf yang tiba-tiba berada di samping Ayesha. Ayesha terperanjat kaget dan menepuk pundak adiknya.
"Ngagetin, ajah!" omelnya.
"Kenapa yah, aa Roy, tidak suka dikenalkan dengan teman teteh?" tanya Althaf mulai curiga.
"Teteh juga bingung," sahut Ayesha dengan mengangkat bahunya.
"Biasanya yang seperti itu punya selingkuhan," tuduh Althaf asal.
"Hus! Sembarangan! Mana mungkin begitu. Teteh kenal Roy sejak SMA. Dulu aja saat terkenal nggak pernah macam-macam," cicitnya.
"Mungkin saja, kan."
"Sudah ah. Mungkin ia sibuk. Ayo masuk," ajak Ayesha dengan merangkul pundak adiknya yang sudah sejajar. Althaf tidak masuk ke kamarnya. Melainkan ikut masuk ke kamar Ayesha. Ia duduk di tepi ranjang sang kakak. Menatap Ayesha yang sedang duduk membelakangi menghadap ke cermin meja rias. Althaf menatap punggung kakaknya yang sedang membersihkan make up di wajahnya dengan kapas. Altaf mengakui bahwa sang kakak sangat cantik. Sedang Roy pria berwajah biasa meski tidak jelek tapi memang tidak serasi dengan Ayesha.
"Kenapa kau menatapku?" Tahir Ayesha yang melihat dibalik kaca.
"Aku hanya sedang mikir, aja," sahutnya.
"Kaya punya otak ajah, pake mikir segala!" cibir Ayesha dengan menyimpan kapas yang sudah terlihat berwarna kuning dan hitam ke dalam tempat sampah yang berada di sisi kiri meja rias.
"Teh gimana sih kamu bisa punya cafe, jadi model, kuliah dan jadi asdos?" tanya Althaf yang saat ini duduk di ranjang Ayesha.
"Sebenarnya aku ga urus Cafe. Semua aku percayakan pada manager cafeku. Untuk modeling, itu hanya ada di hari Sabtu Minggu dan Senin saat jadwal kuliahku kosong. Selepas hari itu aku nggak ambil. Dan, jadi asdos …." Ayesha menggantungkan kalimatnya. Ia beranjak dari duduk dan berjalan mendekati Althaf. Ia membungkukkan setengah badan menyetarakan tinggi mereka hingga wajah mereka sejajar.
"Jangan bilang-bilang, yah," katanya dengan menyimpan jari telunjuk di bibirnya yang berwarna merah muda. Althaf mengangguk.
"Abi ingin aku menjadi asdos agar memperdalam ilmu dan tentunya ia ingin aku menjadi dosen saat sudah lulus. Tapi, aku beruntung," katanya.
"Beruntung apa?"
"Kamu tahu? Pak Dimas tidak memberatkan. Kau paham, kan?"
"Jadi cuma status?!"
"Tidak juga. Yah, kadang kalau ia tidak hadir aku gantikan. Tapi, itu bisa dihitung jari," tuturnya.
"Jika begitu pasti pak Dimas suka sama teteh," tuduhnya.
Pletak !
"Sakit tau!" desis Althaf saat Ayesha memukul kepalanya. Ayesha kembali menegakkan tubuhnya.
"Jangan asal ngomong! Sana keluar, aku mau ganti baju!" usir Ayesha.
"Iya, iya. Tapi bener loh. Pasti pak Dimas …."
"Althaf!" teriak Ayesha hendak melempar adiknya dengan bantal.
"Begitu ajah, marah. Dasar darah jangkung!" umpat Althaf dengan berlalu dan menghilang di balik pintu.
"Darah jangkung?" Ayesha mengetuk jarinya di dagu memikirkan ucapan adiknya.
"Ah, astaga!" Ayesha menjentikkan jarinya.
"Darah tinggi! Hipertensi! Astaga, anak itu!"
Althaf berjalan menuju kamarnya. Ia cukup mengenal Dimas. Karena sering berkunjung menemui ayahnya. Jika dilihat dari wajah, tinggi dan kecerdasan jelas Althaf pun lebih memilih Dimas. Karena mereka sering bermain catur bersama. Tidak jarang Dimas selalu menanyakan kakaknya. Maka dari itu, ia bisa menebak bahwa Dosen muda itu menyukai kakaknya.
***
Ayesha kembali melakukan rutinitasnya yang padat di Jakarta. Ia masih setia dengan Bauty Management. Agency yang membawa namanya bersinar dan dikenal banyak orang. Ayesha memberikan kunci mobil BMW biru pada managernya Cindy usai melakukan pemotretan di studio agar gadis berambut sebahu itu mengantarnya pulang.
Ayesha memiliki rumah minimalis di jl. Cianjur, Menteng, Jakarta pusat. Tidak jauh dari cafenya Yang sudah berdiri selama satu tahun. Ayesha duduk di samping kursi kemudi dengan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Ay, " panggil Cindy saat ia sedang memutar kunci mobil dan menginjak pedal gas, ia memutar stir mobil untuk bisa keluar dari jajaran mobil mewah yang terparkir.
"Apa?" sahut Ayesha tanpa menoleh ke arah Cindy. Gadis cantik sebahu itu memberikan struk pada penjaga disana agar portalnya terbuka dan kembali melajukan mobil biru milik Ayesha.
"Francesco nanyain kamu lagi, tuh," katanya dengan pandangan fokus menatap jalanan.
"Biarin ajah," balasnya acuh.
"Ish, jarang tahu ditanyain, tuh anak. Banyak yang suka sama dia. Dan, lagi ia sedang naik daun. Eh, tahu nggak? Frans, kan dijadiin ambassador produk parfum terbaru yang mahal itu, loh," cerocosnya.
"Iya, tahu. Kan udah di gembor-gemborin," sahutnya. Tanpa mengalihkan pandang menatap ke samping.
"Nanti ada model buat cewek juga. Semoga kamu terpilih, yah. Kan, itu, parfum import juga. Nah, kalau kamu kepilih bisa dikenal dunia," cicit Cindy.
"Eh serius?" Ayesha berbalik menatap Cindy.
"Giliran kerjaan aja, antusias banget. Giliran cowok. Nggak ada yang di
denger, dasar!" cibirnya.
"Aku dah tunangan. Nggak baik bicarain cowok," sembur Ayesha dengan mengangkat jari manisnya yang sudah melingkar cincin berlian.
"Tau, deh, yang udah pacaran jaman baheula," godanya.
"Iya, delapan tahun. Hebat, kan," katanya bangga.
"Iya, tapi tidak mau ketemu kita-kita!" katanya dengan mengerucutkan bibir.
"Orangnya pemalu, Cin," bela Ayesha.
"Ya, elah. Nggak punya hidung baru malu! Sepertinya cakep banget, yah? Sampe sekelas Frans ajah nggak di lirik," cicitnya.
"Nggak juga, sih. Tapi, aku kalo udah komitmen nggak bakal bisa goyah."
"Setia banget, sih. Padahal, LDR."
"Ya, mau gimana lagi. Udah cinta, sih." Ayesha terkekeh kecil.
"Beruntung banget, sih. Punya pacar kamu. Udah cantik, sukses, setia lagi. Jarang tau, ay."
"Karena kita tidak akan pernah merasa puas jika terus mencari yang lebih," tutur Ayesha. Cindy hanya mengangguk penuh kekaguman. Hampir selama empat tahun ia bekerja dengan Ayesha. Ia tidak pernah ingin berpaling dari gadis cantik dan baik hati ini. Selain Royal juga sangat pengertian. Sangat sulit di dapat. Bintang yang tidak sombong. Tapi, yah, itu. Jika meyakini sesuatu susah untuk dibelokkan. Tepatnya keras kepala. Semua sudah tahu, jika tidak membuktikan sendiri Ayesha tidak akan percaya.
Karena perbincangan yang seru akhirnya ia sampai di rumah minimalis dua lantai. Cindy memarkirkan mobil Ayesha di garasi yang hanya cukup untuk satu mobil saja. Mereka berjalan memasuki rumah berwarna late. Masuk kedalam ruang tamu perpaduan warna latte dan sofa berwarna maroon. Terlihat sangat manis dan elegan.
Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri. Cindy tinggal di rumah ini bersama Ayesha bersama seorang asisten rumah tangga.
"Non, semur jengkol sudah siap," kata mbok Jum asisten rumah tangga Ayesha yang baru saja membukakan pintu.
"Astaga! Model terkenal makanannya semur jengkol!" cicit Cindy dengan menggelengkan kepala.
"Kamu juga doyan, kan?!" semburnya.
"Ish, kalo di viralin. Bisa rame ini," godanya dengan mencolek dagu runcing Ayesha.
"Jangan, dong." Ayesha memegang tangan Cyndi dan mengedipkan matanya.
"Cacingan yah, kedip-kedip gitu, matanya," goda Cindy.
"Enak ajah! Dah, ah. Ayo, makan. Laper nih, kan nggak bisa makan kalo di lokasi syuting," cicit Ayesha dengan mendaratkan tubuhnya di kursi berwarna coklat tua.
Mbok sumi yang masih sibuk mencuci piring hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan Ayesha dan cindy.
"Mbok sudah makan?" tanya Ayesha yang sedang menyendok nasi dan hendak disimpan ke piringnya. Wanita lanjut usia itu menggelengkan kepala.
"Sini makan bareng," ajak Ayesha.
"Tidak, non," Tolaknya.
"Ya, elah, mbok. Pake jaim segala. Biasa juga kita makan bareng," tambah Cindy dengan bibir yang sudah penuh dengan nasi.
"Mbok, sini. Biarin nyuci piringnya nanti, aja," ajak Ayesha dengan melambaikan tangan.
"Baik, non."
Wanita itu tersenyum, dan membungkuk hormat sebelum duduk. Ia hendak duduk terhalang dua kursi dengan Ayesha.
"Sini duduk dekat, Aya." Ayesha menarik tangan Mbok Jum hingga duduk bersebelahan dengan Ayesha.
Mereka makan dengan ditemani obrolan kecil. Ayesha sudah hatam dengan cerita kedua orang ini. Karena selama tiga tahun Ayesha tinggal bersama. Hanya sekali keluarganya berkunjung ke rumah ini. Karena Ayesha lebih banyak menghabiskan waktu di Bandung. Entah jika ia sudah menikah dan melanjutkan S2 di ibu kota.
Bersambung