Rembulan menyinari bumi dengan cahaya yang samar. Bintang menghiasi langit yang gelap. Malam ini akan menjadi saksi acara penyatuan cinta mereka. Selama delapan tahun berpacaran. Akhirnya, hari ini Ayesha akan bertunangan. Gadis cantik berwajah indo ini mengenakan kebaya berwarna putih dengan taburan Swarovski menghiasi bajunya. Kain batik berwarna coklat dengan corak bunga berwarna merah membalut kakinya yang jenjang. Rambut Ayesha disanggul rapi dengan sebagian rambut pirangnya di gerai dan di buat Curly di bawah.
Saat ini Ayesha duduk di depan meja rias menghadap kaca besar. Ditemani sahabatnya Katarina. Ia berdiri tepat di belakang Ayesha. Katarina memegang pundak Ayesha dengan kedua tangannya. Membungkukkan setengah badan hingga wajah mereka sejajar. Katarina menatap lekat wajah Ayesha dibalik cermin dengan senyuman yang membingkai wajahnya. Sekilas pemandangan ini sangat manis. Katarina menyuguhkan pada Ayesha pertemanan yang indah, kekal dan abadi. Tapi, siapa sangka. Dalam diam, katarina telah menusuk Ayesha dari belakang.
Katarina membalikkan tubuh Ayesha. Ia bersimpuh dengan memegang kedua tangan Ayesha. Ia meremas tangan Ayesha seakan memberikan energi yang kuat.
"Aku deg-degan," ucap Ayesha dengan dengan meremas kuat tangan Katarina.
"Itu wajar. Namanya juga akan bertunangan," serunya bijak.
"Kau begitu sangat cantik, Aya," puji gadis berkulit sawo matang yang sejak siang sudah berada di rumah sahabatnya.
"Kau juga sangat manis dengan kebaya hijau ini." Ayesha membalas memuji Katarina. Padahal, dandanan katarina seperti wanita berusia empat puluh tahun. Rambutnya disanggul. Kebaya yang dikenakan berwarna hijau, belum lagi make upnya yang begitu mencolok. Tapi, Dimata Ayesha sahabatnya ini selalu terlihat cantik.
"Iya, aku memang lebih cantik darimu. Hanya saja, aku kalah putih," ujarnya penuh percaya diri. Ayesha terkekeh. Ia hanya menganggap Katerina hanya sedang mengajak ia berbasa-basi. Untuk mengurangi gugupnya. Tapi berbeda dengan Katarina.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau selalu bertingkah lucu."
"Lucu? Apa kau pikir aku lucu, jika aku berkata aku lebih cantik darimu?" semburnya.
"Eh? Maaf. Bukan itu maksudku, memang benar. Kau sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari aku," kata Ayesha pasrah. Padahal entah dari mana letak cantiknya. Jelas Katarina tidak ada apa-apa di banding Ayesha. Ayesha berkulit putih, sedang katarina berkulit sawo matang. Hidung Ayesha mancung dan bermata biru, sedang Katarina berhidung mancung tapi ke dalam, bibirnya tebal sedang Ayesha memiliki bibir yang tipis. Mungkin satu kelebihan Katarina dadanya yang lebih besar dari ayesha. Ayesha mencoba mencari topik lain. Entah kenapa Katarina akhir-akhir ini sedikit berbeda.
"Terimakasih, sudah membantu mempersiapkan acara pertunanganku," ucap Ayesha tulus dengan mengusap punggung tangan Katarina.
"Aku ikut senang jika kau bahagia," singkatnya.
"Oh, iya. Selama ini kau tidak pernah mengenalkan pria yang sering kau ceritakan . Kenapa tidak kau ajak menghadiri acaraku?" tanya Ayesha.
"Ah, itu. Dia sibuk."
"Aku harus tahu nanti. Pasti sangat tampan. Hingga kau sering membicarakannya," goda Ayesha.
"Miriplahlah dengan Roy," sahutnya.
"Wah, benarkah?" tanyanya dengan tatapan berbinar tanpa ada rasa curiga.
"Iya, mirip banget malah." Ayesha semakin terlihat takjub. "Oh, iya. Ay, aku mau tanya."
"Iya?"
"Jika aku mencintai pria. Tapi, pria itu mencintai orang lain. Apa aku harus berjuang mendapatkannya?" tanya Katrina. Ayesha memicingkan matanya menatap lekat wajah Katarina. Tapi, ia memang tidak melihat bada kebohongan di sana.
"Jika kau yakin dengan pria itu. Berjuanglah untuk mendapatkannya," balas Ayesha dengan menepuk pundak Katarina. "aku doakan kau bisa bahagia dengan pria itu," kata Ayesha tulus.
"Jadi kau ingin aku bahagia?" tanya Katarina.
"Tentu saja!"
"Jika begitu. Aku akan pastikan mendapatkan pria itu bagaimanapun caranya. Termasuk dengan cara kotor!"
"Eh?" Ayesha melepaskan pegangan tangannya di tangan Katarina.
"Maksudnya?"
"Kau bilang, kan …."
Tok
Tok
Obrolan mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu.
"Ay, Roy dan kedua orangtuanya sudah datang," ucap Rani dengan berjalan mendekati anaknya. Katarina beranjak. Rani mendekat dan mengelus pucuk kepala anaknya. Tidak segan, Ayesha berdiri dan memeluk ibunya.
"Doakan aya. Agar semua lancar sampai hari pernikahan," ucapnya dengan menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher ibunya. Ayesha sedikit menekuk lututnya agar sejajar dengan ibunya.
"Pasti, sayang. Doa umi adalah doa yang terbaik untukmu, nak," ucapnya dengan mencium kening Ayesha. Kemudian ia mengusap matanya yang berair.
"Umi, Ayesha gugup," katanya dengan menyandarkan kepalanya di pundak Rani.
"Ih, mau nikah masih saja manja." Rani mencubit hidung mencung Ayesha.
"Aya, sayang umi. Sayang Abi," katanya dengan kembali memeluk Rani.
"Jaga diri baik-baik, nak. Ingat pesan umi, oke?!" katanya dengan mengangkat kelingkingnya ke udara.
"Aya janji," ucapnya dengan melingkarkan kelingking mereka. Tanpa mereka sadari. Katarina menatap dengan tatapan penuh kebencian. Ini yang menjadikan Katarina semakin tidak suka dengan Ayesha. Memiliki keluarga yang baik, terhormat, dan begitu menyayangi Ayesha. Berbeda dengan kehidupannya.
"Ayo, tidak enak ditungguin mereka!" ajak Rani pada Ayesha dan Katarina yang berdiri mematung.
Di ruang tengah, Roy dan keluarganya duduk bersila, berbincang hangat dengan keluarga dari pihak Ayesha. Mereka duduk melingkar di atas permadani berwarna merah maroon dengan sajian kue tradisional melengkapi mereka. Pertunangan ini tidak meriah, tidak ada MC atau dekorasi yang mewah. Darmawan menyukai kesederhanaan dan acara kekeluargaan. Roy yang sedang membuka daun yang membalut kue Bugis, kue yang terbuat dari tepung ketan dan isian unti yang terbuat dari paduan kelapa parut dan gula ini pun terabaikan begitu saja. Tangannya seakan berhenti bergerak. Ketika ia melihat, Ayesha berjalan beriringan dengan Rani dan Katarina. Ia berada di antara Katarina dan ibunya. Saat Ayesha memasuki ruang tengah. Semua mata tertuju padanya.
Pandangan Roy terpaku pada gadis berkebaya putih yang begitu sangat cantik. Melihat itu, katarina melirik dengan tatapan tidak suka. Bibirnya yang merah maju ke depan. Tapi, tidak ada yang sadar dengan perubahan ekspresi Katarina kecuali ibunya Euis. Semua orang seakan tersihir dengan kecantikan Ayesha.
"Subhanallah, bibit pak Rudi sungguh unggul," puji Rama pada Rudi yang sedang duduk bersila menatap putrinya.
"Aya memang berbeda. Ia sangat istimewa," balasnya tanpa mengalihkan pandangan menatap putrinya. Jika yang lain melihat dengan tatapan kagum. Tapi, Rudi seakan tidak rela melepas putri kesayangannya. Entah kenapa, hatinya begitu terasa berat seakan ada sesuatu yang tidak baik. Hingga ia berdoa dalam hati pada sang Widi.
"Berikan kebahagiaan untuk putriku, Ya Rabb. Berikan yang terbaik untuk titipanmu. Karena kutahu Engkau lebih menyayanginya melebihi aku. Aamiin ya rabbal alamin," pintanya di dalam hati. Tanpa Rudi ketahui, mungkin saja doa itu membuka tabir takdir baru bagi Ayesha.
"Jangan terus dilihat. Sabar nanti juga bisa setiap waktu bersama," goda Rama dengan mengikut tangan Roy. Hingga kue Bugis itu mental dan mengenai tangan Hana. Hana menoleh dengan menggelengkan kepala, dan menyimpan kue berwarna hijau itu ke piring di hadapannya. Pria berwajah oriental ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menahan malu.
"Duduk sini, nak," kata Hana dengan menepuk permadani di sebelahnya. Ayesha mengangguk dan menarik tangan Rani agar ikut duduk. Sedang Katarina duduk di dekat Euis.
Seorang ustad memulai acara dengan doa dan bersholawat. Kedua pasangan yang akan menuju ke jenjang lebih serius ini kini duduk saling berhadapan dengan jantung mereka yang berpacu lebih cepat. Hana memberikan kotak beludru berwarna merah pada Roy. Pria yang sedari tadi terlihat bahagia ini pun memasangkan cincin berlian di tangan Ayesha. Begitupun dengan Ayesha. Acara tukar cincin telah selesai. Althaf mengabadikan momen bahagia kakaknya dengan kamera digital miliknya. Mereka berdua tersenyum dan merapatkan tangan mereka yang sudah tersemat cincin ke hadapan kamera.
Sebelum acara diakhiri. Pak ustadz, memberikan wejangan kepada Roy yang telah mengkhitbah Ayesha. Wejangan yang sama seperti yang dikatakan Rani. Bahwa ia tidak berhak menyentuh sebelum menikah. Roy dan Ayesha mengangguk mengerti. Acara berakhir dengan ditutup do'a.
Dua keluarga yang sudah akan menjalin tali kekeluargaan lebih erat pun saling bertukar suara sambil menikmati hidangan tradisional yang seadanya. Rama tertawa bahagia, begitupun dengan Rudi. Ia beberapa kali tersenyum tipis saat Rama mengajaknya bercanda. Sedang Roy dan Ayesha beberapa kali saling mencuri pandang. Dan, hal itu membuat Katarina geram. Ia meremas gaun kebayanya dengan manatap tidak suka ke arah Ayesha dan Roy.
Sebenarnya Hana ingin acara pertunangan yang mewah dan elegan. Tapi, ia menghargai etiket keluarga Darmawan yang tidak menyukai hal-hal yang berlebihan. Tidak masalah bagi mereka, jika harus mengikuti tradisi keluarga Darmawan. Karena bisa memiliki menantu seperti Ayesha sudah menjadi keberuntungan. Siapa yang tidak kenal gadis cantik ini. Gadis yang tidak memiliki cacat di masyarakat dan dari keluarga yang terhormat.
Beberapa kali Ayesha membenarkan cincinnya yang hampir jatuh saat bergerak. Hal itu tidak luput dari pandangan Hana.
"Aya, kenapa sayang?" tanya Hana dengan meraih tangan Ayesha. Saat ini Ayesha duduk di antara Hana dan Rani.
"Tidak, hanya saja cincinya sedikit longgar," katanya tidak enak hati. Hana melirik sinis ke arah Katarina.
"Oh, mungkin kau sedikit kurus sekarang," sela Katarina.
"Mungkin," ucapnya dengan tersenyum canggung. Sebenarnya tidak begitu. Ayesha hanya menghargai argumen Katarina. Padahal, sebenarnya ia tidak pernah turun berat badan atau naik. Ia selalu menjaga berat badannya agar tetap ideal.
"Bunda akan menggantinya dengan yang baru," ujar Hana. Ayesha menggeleng dengan tersenyum sopan.
"Tidak perlu bunda. Nanti Aya pakaikan sesuatu untuk mengganjalnya."
"Oh, kau begitu sopan dan pengertian. Jadi tidak sabar ingin memiliki anak perempuan secantik kamu," pujinya dengan mengelus pipi Ayesha. Rani hanya tersenyum. Ia cukup bersyukur anaknya akan memiliki mertua yang begitu baik.
Perbincangan basa-basi pun sudah mulai mengarah pada hal yang lebih serius.
"Jadi kapan pernikahan kedua anak kita akan di laksanakan, pak Rudi?" tanya Rama.
Katarina sudah mulai muak dengan acara membosankan ini. Hingga ia beranjak dari duduknya.
"Maaf, ay. Aku pulang duluan, yah. Aku capek, banget," selanya yang adalah dusta. Ayesha mengangguk. Lalu ke membungkukkan kepala meminta ijin untuk mengantar katarina ke depan. Dengan langkah yang membungkuk dan mengucapkan permisi dengan sopan Ayesha melewati lingkaran keluarga. Berbeda dengan katarina yang berjalan acuh tak acuh tanpa memberi hormat. Euis membungkuk hormat. Ia juga meminta izin untuk pulang.
Baru dua langkah menjauh Katarina teringat sesuatu. Hingga ia pun berbalik. Katarina kembali duduk dan membuat Ayesha mengerutkan keningnya merasa heran.
"Oh, iya. Lupa. Pak Rudi," panggil Katarina.
"Ya?" tanyanya dengan menoleh ke arah Katarina.
"Minggu depan. Roy ulang tahun. Dan, kami ingin merayakan di villa milik pak Atmadja. Tapi, aku juga ikut. Bukan hanya Roy dan Aya saja. Apa diijinkan?" tanyanya tanpa basa-basi. Semua orang saling memandang. Termasuk Ayesha. Ia menundukkan kepala. Karena sadar ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Tapi katarina masa bodo dengan pandangan orang padanya.
"Katarina ayo, pulang!" ajak Euis yang wajahnya sudah memerah menahan malu karena perbuatan Katarina.
"Diam, Mak. Belum dijawab!" banyaknya. Semua orang menggelengkan kepala atas sikap Katarina pada ibunya.
"Katarina!" Euis meninggikan suaranya agar anaknya segera pulang.
"Aku rasa kita masih memiliki banyak waktu untuk membicarakan hal lain," jawab Rudi.
"Jadi gimana, pak? Boleh?" desak Katarina. Ia tidak mengerti arti jawaban Rudi. Rudi menatap ke arah Ayesha. Dan, putrinya pun mengangguk mengerti.
"Katarina ada yang ingin aku bicarakan. Tapi, ini rahasia," kata Ayesha dengan berbisik. "ayo kita bicara di luar," ajaknya.
"Tapi, abimu …."
"Nanti aku yang akan tanyakan, oke!" katanya dengan menarik tangan katarina.
"Ah, baiklah. Aku juga sudah lelah." Katarina beranjak dan berjalan keluar. Ayesha menggandeng tangan Katarina dengan membungkuk hormat dan mengucapkan maaf dan permisi. Hana semakin bisa menilai betapa luhurnya Budi pekerti Ayesha.
"Katakan rahasia apa?" tanya Katarina saat mereka sudah berdiri di teras depan.
Ayesha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Euis paham. Ia menarik tangan Katarina.
"Emak sakit kepala ayo kita pulang!" ajak Euis.
"Sebentar!" bentaknya dengan memelototkan mata ke arah Euis. Ayesha rahasia apa?" desak Katarina.
"Aduuhh," rengek Euis memegangi kepalanya.
"Sepertinya emakmu sakit. Antarkan saja dulu, na," pinta Ayesha.
"Huh, dasar. Nini-nini! Mengganggu, saja!" gerutunya dengan berjalan mendahului.
Bersambung ….
Jangan lupa, tekan Love. Terimakasih.