Dua hari telah berlalu. Rudi masih mendiamkan Ayesha, sejak kejadian di kampus. Sudah menjadi wataknya ia akan marah dalam diam. Dan, sudah menjadi karakter Ayesha juga yang tidak akan mudah menyerap untuk mendapatkan kata maaf dari ayahnya. Ayesha terus membuntuti langkah Rudi kemanapun pergi dan itu membuat Rani terkekeh dengan tingkah putrinya.
"Apa kau akan mengikuti abimu, jika ia ingin mengompol," goda Rani saat Ayesha membuntuti Rudi yang hendak masuk ke kamar mandi.
"Jika itu perlu," balas Ayesha dengan bersandar di tembok sisi kamar mandi. Saat ayahnya sudah memasuki kamar mandi.
"Abi, maafkan anakmu yang cantik ini. Tidakkah kau kasihan melihat wanita cantik terabaikan," cicit Ayesha dibalik pintu. Rani yang sedang mencuci piring di dapur tidak jauh dari Ayesha berdiri hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.
"Oh, ayah. Oh ayah, maafkanlah anakmu," kata Ayesha dengan mengangkat satu tangan dan mengangkat wajah ke atas tangan bergaya seperti seseorang yang sedang membaca puisi.
"Apa kau sudah tidak waras, teh? Mengangkat tangan begitu," cibir Althaf yang baru saja datang dengan masih mengenakan seragam sekolah.
"Diamlah. Demi kata maaf. Aku rela tidak waras. Oh ayah, oohh, uhuk … uhuk … sialan!" umpat Ayesha.
"Kenapa?" tanya Rani.
"Nyamuk masuk! Aduh, gimana ini, umi," ucap Ayesha panik. Bukan membantu kedua orang yang berada di dapur tertawa terbahak dengan tingkat Ayesha yang kalang kabut. Rudi pun yang berada di kamar mandi tersenyum. Lalu, Ia tertawa tanpa suara mendengar kelakuan putrinya.
"Dasar anak, ini!" umpat Rudi dibalik bilik kamar mandi dengan suara pelan tidak terdengar.
"Umi, berdosakah aku memakan binatang tidak disembelih dan tanpa mengucap bismillah?" tanya Ayesha. Rani tidak menjawab. Ia semakin tertawa melihat tingkah konyol Ayesha.
"Hey, memang kau bisa melihat leher nyamuk?" tanya Althaf.
"Mana kutahu! Tapi, kan nyamuk tidak halal! Kalau tidak sengaja, nggak apa kali yah," cicit Ayesha.
"Paling masuk neraka. Sudah tidak dapat maaf, makan-makanan tidak halal. Oh, ampuni dosa kakakku, Ya Allah," goda Althaf dengan meneguk air dingin yang baru diambil dari lemari es.
"Uhuk … uhuk …." Ayesha kembali batuk, ia merasakan gatal di tenggorokan.
Rani berjalan dengan membawa segelas air putih mendekati putrinya.
"Minumlah!" Rani menyodorkan segelas air putih pada Ayesha.
"Belum dimaafkan?" tanya Rani saat Ayesha sudah meneguk habis air dalam gelas.
"Belum. Tapi, aku akan berjuang!" katanya dengan penuh semangat.
"Dasar Tutut!" umpat Althaf yang baru saja menutup pintu lemari es. Rani kembali berjalan ke dapur menyimpan gelas. Althaf berjalan kembali menuju kamarnya.
Ceklek
Pintu kamar mandi dibuka. Ayesha kembali membuka suaranya. Kali ini ia tidak lagi membacakan puisi tidak jelas. Tapi, dengan berbicara dengan dalil.
"Dari Abi Ayub al-Anshariy, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam dimana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam."(HR. Muslim). " Usai berdalil Ayesha memiringkan wajahnya memberikan salam,
"Assalamu'alaikum, Abi," ucap Ayesha saat Rudi baru saja kelaur dari kamar mandi.
"Waalaikumsalam," balas Rudi yang berjalan acuh tak acuh menuju ruang keluarga.
"Yes, dimaafkan," sorak Ayesha kegirangan. Rani pergi dari dapur dengan menahan tawanya. Ingin sekali Rudi tertawa. Tapi, ia tahan. Rani mengimbangi langkah suaminya hingga mereka sejajar.
"Tertawalah, abi, sebelum tertawa itu dilarang," bisik Rani sebelum benar-benar berlalu mendahului suaminya. Rudi hanya membalas dengan tatapan tajam pada istrinya.
"Abi sudah memaafkan, Aya, kan," tanya Ayesha yang masih berjalan membuntuti.
"Tidak!"
"Loh, tadi, Abi sudah menjawab salam, Aya."
"Sudah menjadi kewajiban seorang muslim menjawab salam," ujarnya. "berhentilah mengikutiku!" tegas Rudi. Ayesha yang hendak berjalan di belakang Rudi pun menghembuskan nafas berat. Ia berbalik, melangkah menjauh tapi, Ia tidak masuk ke kamarnya. Melainkan ke kamar adiknya.
Ayesha masuk tanpa mengetuk pintu.
"Astaga! Teteh!" pekik Althaf yang sedang mengenakan celana panjang. "Kalau masuk ketuk pintu dulu, kek. Apa, kek!" protesnya dengan menarik resleting ke atas.
"Aku sudah biasa memandikanmu saat kau kecil. Jadi sudah tahu, jangan lebay, deh!" balasnya acuh.
"Tapi, kan aku sudah dewasa," koreksi Althaf.
"Sama ajah!" Ayesha merebahkan diri di tempat tidur adiknya. Ia melipat kedua tangan menopang kepala. Menatap langit-langit kamar. Althaf yang sudah mengenakan kaos hitam ikut duduk di tepi ranjang.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku rasa kalian sering sekali bertengkar," tanya Althaf. Ayesha menoleh ke samping menatap adiknya.
"Kau sudah pernah berciuman?"
"Uhuk … uhuk …." Althaf terbatuk. Kaget dengan pertanyaan kakaknya.
"Pertanyaan apa itu?" tanya Althaf terlihat gugup.
"Kenapa kau jadi gugup? Aneh!" desis Ayesha.
"Karena itu adalah pertanyaan retoris!" tandas Althaf.
"Jangan-jangan …," goda Ayesha dengan mengangkat jarinya di udara. Meringkuk menghadap Althaf.
"Jangan-jangan apa?!"
"Entahlah. Lagipula, mana mungkin kau berciuman!" Toh, tidak akan ada perempuan yang mau padamu. Kau, kan, menyebalkan!" hardik Ayesha.
"Kau tidak tahu saja pesonaku," balasnya dengan menyisir rambut dengan jarinya ke belakang dan mengedipkan sebelah mata.
"Sepertinya kau cacingan, " umpat Ayesha.
"Enak saja, sembarangan kalo ngomong!"
"Lah, tadi matamu begitu?"
"Itu namanya kedipan genit. His, kau, ini!" Althaf merotasikan mata.
"Itu kenyataan, kau tidak laku!"
"Sudah ah, melebar kemana-mana! Kembali ke topik. Emang, masalah apa sih, kepo aku, kak?"
"Aku ketahuan abi, saat Roy menciumku," jelas Ayesha dengan menghembuskan nafas kasar. Ayesha beranjak duduk dan memeluk lututnya. "makanya aku tanya kamu udah ciuman belum. Nih, yah. Temanku bilang ciuman wajar. Tapi, kenapa abi marah?!'
"Haha." Althaf tertawa keras.
"Kanapa malah tertawa, sih!"
"Bukan ciumannya. Tapi, tempatnya. Emang ciuman dimana sih?"
"Di kampus. Pas banyak orang," balasnya polos.
"Oh, Tuhan!" Althaf menepuk pundaknya.
"Roy yang menciumku. Bukan ciuman," koreksi Ayesha.
"Dimata Abi itu sama ajh! Beliau berpikir di tempat umum ajah kalian berani apalagi saat berdua. Dan, dengan begini kau bukan hanya mencoreng nama baik abi. Tapi, kau juga kehilangan kepercayaannya," jelas Althaf.
"Itu baru pertama. Bagaimana bisa kalian berpikir aku dan Roy aneh di belakang," pangkas Ayesha.
"Serius? Delapan tahun pacaran baru kemarin ciuman?!" Althaf membulatkan mata tidak percaya.
"Bukan ciuman. Tapi, dipaksa dicium," koreksi Ayesha.
"Orang lain tahunya ciuman. Karena bibir kalian menyatu!" tandas Althaf.
"Eh, beneran, baru kali ini?"
"Iya."
"Wah, aa Roy hebat, yah. Delapan tahun bisa tahan tidak kontak fisik," puji Althaf.
"Hebatnya?"
"Biasanya pria itu, tidak tahan. Bisa selingkuh biar bisa rasain," tutur Althaf.
"Roy, setia, lah. Orang aku cantik," soronoh Ayesha.
"Cantik tapi oon!" umpat Althaf.
"Sialan!"
"Eh, gimana rasanya? Penasaran, deh?!" goda Althaf.
"Manis, sih," jawab Ayesha.
"Buughh!"
"Sakit! Dasar, adik durhalek!" hardik Ayesha.
"Kenapa kau tidak malu-malu saat aku bertanya!"
"Yah, aku jawab. Memang manis. Salahnya dimana?" tanyanya polos.
"Astaga! Kau, ini!" Althaf memukul wajah Ayesha dengan bantal. Tidak mau kalah Aya melakukan hal yang sama. Mereka saling pukul di atas tempat tidur dengan tertawa dan saling mengumpat.
"Astaghfirullah!" jerit Rani. Ayesha dan Althaf menoleh ke ambang pintu.
"Kalian apa-apaan, sih! Kamar seperti kapal pecah!" omel Rani.
"Si teteh ini, umi. Datang-datang bikin onar!" sahut Althaf yang sedang berdiri di atas tempat tidur empuk.
"Rapihin lagi!" titah Rani.
"Aduh, Aya, lupa. Sore ini harus ke Jakarta. Ada jadwal pemotretan besok," dustanya dengan berlalu meninggalkan kamar Althaf begitu saja.
"Tateeehh! Kebiasaan, deh!" teriak Althaf.
"Rapikan, Althaf!" titah Rani pada anak bungsunya. "ngapain aja, sih. Spray sampai ke bawah. Bantal sampai pada jatuh. Kamu tuh, masa kecil kurang bahagia," omel Rani sambil merapikan kamar anaknya yang berantakan. Althaf hanya tersenyum. Ia sudah tahu, ibunya akan mengomel sambil merapikan.
"Umi, pasang spray bagaimana?" tanya Altaf dengan menyodorkan spray berwarna hitam putih berlambang Juventus. Ia baru saja mengambilnya dari lemari mengganti spray putih yang sudah tercecer di lantai.
"Kau lihat! Begini caranya, angkat sedikit kasurnya, selipkan dan …." Rani diam menyadari satu hal. Ia tahu anaknya sedang mengelabui.
"Kau rapikan sendiri! Enak saja menyuruh, umi!" umpatnya dengan melempar bantal.
"Akhirnya, umi, sadar juga," kata Ayesha yang memasukan kepalanya di kamar Altaf dan kembali berlalu.
"Anak akhir zaman!" gerutu Rani dengan berlalu.
***
Keesokan hari. Tepat pukul enam pagi saat embun masih menetes pada dedaunan. Rani masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Ayesha baru saja keluar kamar dengan mengenakan setelan olahraga berwarna abu, ia mengikat rambut pirangnya tinggi-tinggi dan hanya beberapa anak rambut yang terlepas menghiasi lehernya yang jenjang. Ayesha menghampiri Rani yang sedang memasak di dapur.
"Pagi, umi yang cerewet," sapanya dengan mencium pipi kiri Rani.
"Pagi anak umi yang banyak tingkah," balasnya dengan mengusap pucuk kepala putrinya. " mau lari pagi?" tanyanya.
"Iya, Aya pergi, yah," pamitnya dengan mencium punggung tangan uminya.
"Abi di teras. Sepertinya Abi akan lari pagi juga," tutur Rani.
"Wah, barengan, ah," ucap Aya bersemangat.
"Sana, gih!" titah Rani dengan mendorong punggung Ayesha.
Ayesha melihat ayahnya sedang duduk di teras dengan mengikat sepatu. Mengenakan setelan olahraga berwarna putih. Ayesha mengambil sepatu miliknya yang berada di rak sepatu di teras rumah. Ia duduk di samping Rudi.
"Pagi, abi," sapanya.
"Pagi," balasnya. Ayesha melihat ayahnya tidak beranjak padahal sudah selesai mengikat sepatu.
"Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama, Abi," kata Ayesha membuka percakapan. Tidak ada jawaban. Rudi menoleh ke arah Ayesha ia beranjak saat melihat anak gadisnya telah selesai mengikat sepatu kets berwarna putih.
Ayesha dan Rudi berlari di lapangan Gasibu yang berada di depan gedung sate. Kaki mereka memutari jalan beraspal berwarna biru. Ayesha dan Rudi berlari dengan beriringan beberapa kali putaran. Ia melihat ada yang berbeda, ayahnya selalu berhenti mengatur nafas dan terlihat kelelahan.
"Abi, kita istirahat, yu," ajak Ayesha. Aya duduk di tepi jalan dengan merentangkan kakinya. Begitupun dengan Rudi.
"Nah, itu ada yang jualan batagor. Abi mau?" tanya Ayesha.
Ayesha hendak berteriak memanggil penjual Batagor.
"Tidak baik meminta orang tua menghampirimu. Meski pembeli itu raja. Kau yang kesana," ujar Rudi.
"Baik, Abi. Oh, iya apa selera Abi masih sama?"
"Apa coba?" tantang Rudi.
"Batagor dengan sedikit bumbu kacang, kecapnya dibanyakin dan tidak pake saos," kata ayesha.
"Iya, kau masih ingat, ternyata," ucapnya dengan mengusap pucuk kepala anaknya. "sudah, sana! Si mamang udah nungguin!"
"Baik, Abi." Baru saja Ayesha berjalan dua langkah menjauh Rudi kembali berkata.
"Jangan pakai pare. Hidupku sudah pait," ucapnya dengan terkekeh. Ayesha membalikkan setengah badan, dengan terkekeh pelan. Kemudian ia membalas ucapan Rudi.
"Itu kata-kataku, Abi!" protes Ayesha dengan mengerucutkan bibirnya. Rudi tersenyum melihat anaknya. Hampir empat tahun ia baru memiliki waktu dengan putrinya. Padahal, saat Ayesha masih sekolah hampir setiap pagi mereka berlari pagi.
"Sebentar lagi, kau akan menjadi milik orang lain, nak. Rasanya aku belum rela melepas kau pergi. Waktu terlalu cepat berlalu. Aku masih merindukan Ayeshaku yang ceria," lirihnya dengan melepas kacamata dan mengusap matanya yang mulai menghangat. Ia menatap punggung Ayesha yang sedang memesan batagor.
Rudi kembali mengenakan kacamata saat Ayesha berjalan mendekat. Ia kembali memasang wajah datar, menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Pesanan sudah siap," kata Ayesha dengan membawa piring berisi pesanan sang ayah.
"Apa kau sudah memesan untuk umimu?" tanya Rudi sebelum menyuapkan batagor ke mulutnya. Itu sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Ia tidak akan makan sebelum memesan untuk istrinya apa yang ia makan di luar.
"Beres, Abi," jawab Ayesha dengan menjentikan tangannya.
"Ay, tumben ada waktu untuk lari pagi?" tanya Rudi yang merupakan sindiran.
"Minggu ini jadwal Aya banyak kosong, Abi," balasnya dengan menyuapkan satu sendok siomay ke mulut. Ayesha memang lebih suka siomay karena banyak ragamnya.
"Bagaimana dengan bisnis cafe milikmu?"
"Lancar. Insyaallah bulan depan buka cabang."
"Jangan terlalu menonjol. Nanti suamimu tidak suka."
"Bukankah itu bagus?"
"Tidak untuk perempuan," tegas Rudi.
"Yah, gimana dong. Aya sedang melakukan pembangunan," sesalnya.
"Yang sudah. Ya, sudah."
"Abi tidak suka?"
"Tidak juga. Soal Roy, apa kau yakin akan menikah dengannya?" tanya Rudi dengan menyimpan piring yang sudah kosong di sampingnya.
"Tunggu, Abi." Ayesha berlari menuju tukang batagor. Ia meminta air teh tawar hangat pada penjual itu.
"Maaf, Abi. Aya lupa," katanya dengan memberikan segelas teh tawar hangat. Rudi mengangguk.
"Wah, enak nih. Makan nggak ajak-ajak," kata Altaf dengan berjalan mendekat.
"Perusuh datang, Abi," balas Ayesha.
"Abi, cape tidak? Jangan terlalu lelah. Ayo kita pulang," ajak Althaf dengan menggandeng tangan Rudi.
"Jangan perlakuan Abi seperti orang sakit, deh!" protes Ayesha.
"Memang Abi …."
"Althaf!" sela Rudi. Althaf mengangguk mengerti.
"Aya anterin piring dulu, Abi. Duluan, ajah!" ujar Ayesha dengan membawa dua piring. Ia minum di bekas abinya. Setelah selesai, Ayesha pulang dengan membawa batagor untuk ibu dan adiknya.
"Apa Abi tidak yakin dengan Roy?" gumam Ayesha di sepanjang jalan. "ah, mungkin karena kemarin melihat kita berbuat tidak senonoh."
Rudi memang tegas dalam segala hal. Tapi, soal cinta ia tidak pernah memaksa Ayesha untuk mengikuti sesuai pilihannya. Apalagi, menjodohkan.
Bersambung ….