Tidak Percaya Diri

1960 Kata
Universitas Negeri Bandung. Disinilah Ayesha melanjutkan pendidikan S1. Ayesha mahasiswi yang sangat dikagumi kaum Adam dan membuat iri kaum Hawa. Tapi, karena sikap Ayesha yang ramah, baik, cerdas dan tidak sombong. Sehingga banyak yang menyukainya. Meski banyak yang tahu bahwa Ayesha adalah orang yang ambisius dan egois itu tidak mengurangi kekaguman mereka pada gadis berwajah indo ini. Hari ini Ayesha mengenakan celana jeans berwarna navy, atasan berwarna putih menampakkan pundaknya yang mulus dan sepatu flat shoes berwarna senada menemani langkahnya. Tas brand Chanel berukuran besar berwarna putih yang berisi Laptop terpajang indah di bahunya. Kedua tangan Ayesha mendekap buku tebal. Ia berjalan beriringan dengan pria jangkung yang mengenakan kacamata berbingkai tipis. Karena Ayesha memiliki tinggi badan 165 cm ia cukup sepadan dengan pria tampan yang mengenakan kemeja putih ini. "Tidak terasa kau sebentar lagi akan skripsi. Dan, tidak tahu apakah aku akan mendapatkan asdos secerdas kau," katanya dengan menatap lekat Ayesha. Pandangannya penuh kekaguman. "Bilang saja sulit mendapat asdos secantik aku," goda Ayesha dengan terkekeh. "Itu benar," balasnya. "kau begitu cantik Ayesha," lirihnya dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar. "Apa? Tidak kedengaran?" tanya Ayesha dengan melipat rambutnya ke belakang telinga. "Sepertinya saat wisuda aku akan memberimu kado cotton bud," balasnya dengan terkekeh. "Bisa ajah, deh!" ucap Ayesha dengan memukul lengan pria jangkung ini. Sudah menjadi kebiasaan Ayesha suka memukul pelan lawan bicaranya. "Aku ingin mentraktirmu, Aya. Apa kau ada waktu?" tanyanya dengan menghentikan langkah. Ayesha ikut menghentikan langkah. Ia diam dan mengetuk-ngetuk jarinya di dagu. Ayesha sering melakukan hal ini saat berpikir. "Gimana yah, sepertinya jadwalku padat," sesalnya. Padahal itu hanya alasan. Ayesha tidak pernah menerima ajakan siapapun. "Ngerti deh, wanita karir," godanya dengan kembali melangkah. "Yah, karena bekerja adalah hobiku." "Baiklah, tidak apa-apa jika tidak memiliki waktu," balasnya dengan tersenyum menampakkan lesung pipi yang membuat wajahnya terlihat sangat manis. Mereka berjalan melewati koridor diselingi obrolan ringan dan tawa renyah. Dimas adalah seorang dosen muda yang menjadi idola kampus. Begitupun dengan Ayesha. Ia adalah mahasiswa paling cantik dan cerdas. Semua orang mengatakan bahwa mereka berdua sangat serasi. Tanpa diketahui ada seorang mata milik pria yang mengenakan kaos putih dan jeans hitam dengan tas hitam menyampir di bahunya. Ia berdiri di balik pohon beringin besar, menatap tajam ke arah Ayesha. Kedua tangannya mengepal. Hatinya terasa terbakar melihat Ayesha yang semakin akrab dengan Dosennya. Saat sedang dimakan api cemburu. Roy mendengar obrolan yang semakin membuatnya tersulut emosi. "Wah cocok, yah. Ayesha cantik pak Dimas tampan. Lihatlah, tinggi badan mereka juga sangat cocok," kata salah satu Mahasiswa yang sedang duduk di teras dan itu terdengar oleh Roy. "Jangan sembarangan, deh! Kau tahu, tidak? Ayesha akan bertunangan! Mereka pacaran sejak SMA, loh." "Masa, sih?" "Eh namanya Roy kalau tidak salah. Waktu jaman SMA ia populer. Tapi, sayang kurang tinggi! Hehe," ucapnya dengan terkekeh. Roy diam mendengarkan ocehan para mahasiswa yang sedang bergosip. Mereka tidak sadar ada orang yang sedang dibicarakan di belakang mereka. "Tinggi badan? Ck!" Roy bergumam dengan menarik sudut bibirnya. Ia juga merasakan sesak. Roy hendak menghampiri ketiga gadis yang berbicara seenaknya. Tapi, temannya menahan tangan Roy dengan menggelengkan kepala. "Biarkan saja, jangan diladeni. Namanya juga perempuan," katanya mencoba meredam emosi Roy dengan tangan satunya mengusap pundak Roy. Roy menepis tangan temannya yang berada di pundak dan pergelangan tangannya. Ia mengepalkan tangan. Selama ini ia sudah sering mendengar banyak yang bilang bahwa Ayesha tidak pantas dengannya. Ia terlalu pendeklah, Ayesha bodoh karena mencintainya. Bahkan ada yang bilang ia menggunakan magic untuk mendapatkan Ayesha. Roy tidaklah terlalu pendek untuk laki-laki Indonesia. Tingginya 167 centimeter. Tapi, ia akan terlihat lebih pendek ketika Ayesha mengenakan hak tinggi. Terkadang Roy harus mengenakan sepatu berhak agar terlihat sepadan dengan Ayesha. Tapi, tetap saja orang lain selalu berkata bahwa ia tidak pantas untuk Ayesha. Karena hal itu, ia selalu minder pada dirinya sendiri. Roy lebih menyukai hubungan mereka saat sekolah dulu. Ia dan Ayesha selalu dikatakan pasangan paling serasi. Tapi, sekarang. Ayesha semakin cantik dan bersinar sedang Roy sama sekali tidak menonjol. Itu hanya pikiran Roy saja. Padahal, Ayesha tidak pernah peduli apapun kekurangan Roy. Meski cantik dan terkenal Ayesha adalah orang yang sangat setia. Roy sudah tidak bisa meredam emosinya saat mendengar ocehan ketiga mahasiswa ini. Ia berjalan cepat, tangannya mengepal, melewati penggosip yang asik membicarakannya. mereka saling berbisik saat melihat Roy berjalan di hadapan mereka. "Eh itu Roy. Ia dengar, nggak, sih?" tanyanya pada teman yang berada di samping kanan. "Biarin, ajah. Kita hanya berbicara fakta. Memang kenyataannya begitu," sahut temannya acuh. "Memang yah, susah. Perempuan itu berbibir dua. Jadi selalu berbicara tidak penting. Memangnya hubungan Ayesha dan Roy mengganggu hidupmu, apa?!" Teman Roy yang tadi menahan Roy agar tidak marah. Tapi, akhirnya ia terpancing juga. "Jelas saja merugikan. Tahu diri lah, Ayesha itu terlalu cantik untuk Roy," katanya dengan berdiri menantang Doni. Roy yang masih berada di sana menoleh ke arah gadis itu dan kembali membalikan badannya dengan penuh amarah. "Apa yang membuatmu rugi, hah?! Dasar wanita tidak sehat!" hardik Doni. "Karena, ingin kujodohkan dengan kakakku. Kan, lumayan ikut pansos, punya kakak ipar model, haha," ucapnya dengan tertawa. Teman Roy hanya menggelengkan kepala dan menyimpan satu jarinya di kening. "Dasar sinting," umpatnya dengan berlalu. Langkah Roy terhenti di depan Ayesha. Gadis cantik itu dan pria jangkung di samping Ayesha menghentikan langkah. Ia menatap Ayesha dengan tatapan yang sulit diartikan Akal sehatnya sudah diselimuti amarah. saat melihat keakraban Ayesha dan Dosennya. Ucapan katarina mulai terngiang memenuhi isi kepala, ditambah lagi, ia mendengar semua ocehan teman kampusnya Yang membuatnya tidak percaya diri. Roy diam menatap lekat wajah cantik kekasihnya yang menjadi idola kampus dan idaman pria se Jawa barat. Ayesha bingung tidak biasanya Roy diam dengan pandangan yang aneh. "Roy, kau sakit?" tanya Ayesha terlihat khawatir. Tapi, tidak ada jawaban. Roy maju satu langkah, dengan cepat satu tangannya menarik tengkuk Ayesha. Roy menyentuh bibir Ayesha dengan bibirnya penuh emosi. Ia ingin membuktikan pada semua orang bahwa Ayesha adalah miliknya. Ayesha membulatkan mata tidak menyangka atas perbuatan lancang Roy. "Ayesha!" Terdengar suara bariton yang begitu tegas seakan membius semua orang untuk terdiam. Ayesha mendorong d**a Roy. Matanya memerah menahan malu, kecewa dan amarah. Ayesha sangat kecewa pada Roy yang sudah merampas ciuman pertamanya secara paksa. Apalagi di depan umum disaksikan semua orang. Dan, yang terparah di depan ayahnya. Ayesha menatap Roy dengan pandangan berkaca. "Maaf, ay," katanya lirih penuh penyesalan. Ia sadar perbuatannya tidak terpuji. "Kau kenapa, Roy? Kau tahu bukan siapa Ayesha. Ia bukan wanita seperti pada umumnya, harusnya kau …." "Diam, kau! Semua ini gara-gara kau!" teriak Roy dapa Dimas yang sedang menasehati. Roy berjalan cepat membuntuti Ayesha yang sedang mengejar langkah ayahnya. "Abi, Aya tidak …." ucapnya dengan merasakan matanya yang menghangat. Malu, takut dan kecewa menjadi satu. Rudi berjalan menjauh dengan langkah penuh wibawa. Tidak menggubris Ayesha yang terus berbicara di belakangnya. "Siang, prof," sapa beberapa Mahasiswa yang menyapa ayah Ayesha. Tidak ada yang mendapat jawaban. Biasanya meski tidak dijawab beliau akan mengangguk. Tapi, tidak untuk kali ini. Rudi Darmawan adalah dosen senior yang sudah puluhan tahun mengabdi di universitas negeri bandung. Ia tidak banyak bicara, tegas, disiplin dan sangat disegani. Ia sangat menjunjung kuat etika. Tapi kali ini Ayesha seakan mencoreng namanya dengan perbuatan yang tidak terpuji. Ayesha membuntuti langkah ayahnya dengan terus memanggil dan meminta maaf. "Abi, Aya bisa jelasin. Semua tidak seperti yang abi lihat," kata Ayesha dengan mengejar langkah ayahnya. Ia tidak peduli semua orang yang menatapnya. Rudi menghentikan langkah. Ayesha memegang tangan yang sudah memiliki garis kerutan. Rudi menepis tangan Ayesha. "Aku rasa kau sudah tahu kesalahanmu," katanya tanpa berbalik. "Demi Allah, abi, percayalah. Ayesha tidak menyangka Roy akan berbuat seperti itu," jelasnya. "Aku disini sebagai pendidik bukan ayahmu. Jadi, posisikan dirimu sesuai kapasitas yang ada. Dan, kau tahu bukan teori jari telunjuk?" tanyanya. "Maaf," lirih Ayesha. "Jangan ikuti aku!" tagasnya. "Saya permisi." Ayesha berbalik dengan langkah lesu. Ia berjalan menunduk. Benar. Ia tidak bisa menyalahkan Roy atas perbuatannya. Karena ayahnya tidak akan menerima hal itu. "Maafkan aku, Aya," kata Roy yang sedari tadi mengejar langkah Ayesha. Tidak ada Jawaban. Ayesha diam. Roy hanya menghembuskan nafas kasar. Ia tahu, jika saat marah Ayesha akan diam tanpa bicara. "Aku terbawa emosi. Mereka selalu mengatakan aku tidak pantas untukmu," jelas Roy mencoba membela diri dengan berjalan di belakang Ayesha. "Kita sudah membahas ini berulang kali. Dan, aku rasa kau tahu jawabannya, Roy," balas Ayesha tanpa berbalik menatap Roy. "Meski begitu, aku masih ragu. Nyatanya mereka benar bahwa aku tidak pantas untukmu," katanya lirih. Ayesha menghentikan langkahnya. "Satu minggu lagi kita akan bertunangan. Apa yang lebih penting? Kau mendapat pengakuan atau kau benar-benar mendapatkan hati yang sesungguhnya. Jika kau terus berjalan dengan semua asumsi orang lain. Maka kau akan hidup dalam bayangan. Satu lagi, kita bertemu saat bertunangan. Jangan hubungi aku. Aku masih kecewa," kata Ayesha dengan berjalan meninggalkan Roy. Pria berambut hitam dan berahang tegas ini diam mematung menatap punggung Ayesha yang semakin menjauh. Ia merasa sesak dan sakit didiamkan seperti ini. Tapi, ia sadar perbuatannya sangat memalukan. Saat ini Roy duduk di kantin kampus. Ia tidak masuk kelas. Merenungi semua kesalahannya. Ia mengangkat kepada dan menatap pria berambut ikal yang sedari tadi setia menemani. "Don, apa benar aku tidak pantas untuk Ayesha?" tanyanya. Pria yang merasa namanya disebut pun menggeleng lemah. "Aku sudah lelah menjelaskan ini," katanya dengan menghembuskan nafas lelah. "Disini bukan Ayesha yang salah. Benar yang dikatakan Aya. Kau hidup dalam bayangan omongan orang lain." "Tapi, dosen itu sangat tampan dan cerdas. Teman di dunia modelingnya juga pasti sangat tampan. Sedang aku? Siapa aku?" ungkapnya frustasi. "Sekarang, begitu banyak pria yang suka dan mengagumi Ayesha. Sehebat apapun mereka. Apa ada yang Ayesha lirik? Apa pernah kau mendengar ia bercerita pria lain saat bersamamu? Apa pernah Ayesha mengagumi tokoh pria?" cecar Doni. Roy menggeleng. "Aku kenal Ayesha dari SMA. Ia gadis yang setia. Meski, ia adalah orang yang ambisius. Tapi, soal cinta aku yakin Aya tidak akan main-main, Roy. Kau pria beruntung. Mereka hanya iri padamu." "Disini bukan Ayesha yang menjadi masalah. Tapi, dirimu sendiri yang tidak percaya diri. Akui saja kau minder karena Aya lebih menonjol segala-galanya dari kamu." Roy masih diam mencerna semuanya. "Katarina bilang padaku. Ayesha tidak mencintaiku. Katanya, wanita yang cinta akan berciuman. Nyatanya selama hampir delapan Tahun aku baru tadi menyentuh bibirnya dan itu jadi perkara." "Jadi kau lebih percaya ular itu dibandingkan Ayesha?" "Bukan begitu," kilahnya. "Tapi ucapanmu mengatakan demikian." "Aku hanya takut bahwa Ayesha tidak mencintaiku." "Cinta tidak bisa diukur dari ciuman. Meski kita membutuhkan hal itu. Tapi, kau berbeda. Kau menjalin hubungan dengan keluarga yang menjunjung tinggi kehormatan. Jika mereka diluar sana berkata ciuman bahkan bercinta hal yang wajar berbeda dengan Ayesha. Ingat, harga Berlian lebih mahal dan tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Dan, itu sangat langka di jaman sekarang," jelas Doni. "Kau bicara seperti orang bijak. Sedang kau setiap malam Minggu berganti pasangan," hardik Roy. "Karena belum nemu yang pas. Jika aku punya calon seperti Ayesha. Aku tidak akan pernah mau kenal wanita lain. Karena ia sudah paket lengkap." "Jangan bilang kau juga suka dengan Ayesha?!" "Manusiawi, Roy. Kalau bukan calon istri sahabat sudah kutikung," sahutnya dengan terkekeh. "Katarina bilang padaku Ayesha tidak mencintaiku. Ia hanya mencintai dirinya sendiri." "Dari tadi aku mendengar nama itu terus-menerus disebut. Aku jadi curiga." "Curiga apa? Jangan mikir aneh, deh!" kilah Roy dengan tergagap. "Jika kau terus mencurigai Ayesha. Aku malah berpikir justru kau yang ada main. Biasanya sih, begitu," tebaknya. "Mana mungkin aku memilih wanita hitam itu dibandingkan Ayesha yang sempurna," kilahnya. "Bisa saja. Jika wanita itu memberikan apa yang tidak diberikan Ayesha." "Kau menuduhku?" "Aku cukup mengenalmu, Roy. Dan, jangan sampai kau memilih perak di antara berlian yang bersinar." "Sudah, yah. Aku sarankan jauhi katarina. Aku pikir ia bukan wanita baik-baik. Aku ini suka bergonta-ganti pacar jadi aku tahu gelagat perempuan," ujarnya dengan menepuk dua kali pundak Roy dan berlalu menimbulkan Roy yang masih duduk dengan lamunannya. Bersambung ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN