Pagi menjelang, sang mentari enggan menampakkan sinarnya. Ia masih bersembunyi di balik awan hitam yang memenuhi cakrawala. Suasana Bandung di pagi ini sangat syahdu. Semilir angin membuat tubuh enggan beranjak dari pembaringan. Hana masih menikmati sejuknya pagi dibalik selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
"Sayang, bangun," panggil seorang pria berahang tegas dan sedikit memiliki bulu halus di dagunya. Duduk ditepi ranjang, menggoyang tubuh Hana.
"Eum …." Hana menggeliat dengan meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Bangunlah! Bukankah kau akan membeli cincin untuk Ayesha? Nanti keburu macet," ucap Rama.
"Ah, benar. Sebentar lagi kita akan memiliki menantu, pah," ucapnya antusias dengan beranjak duduk." Sang suami hanya mengangguk dengan mengelus pucuk kepala Hana.
Di tempat yang berbeda. Seorang gadis berkulit sawo matang yang memiliki tinggi badan 155cm sedang bersolek di depan kaca. Hari ini ia akan menunjukan pada dunia bahwa ia bisa lebih cantik dari Ayesha. Katarina mengenakan rok mini dan kaos you can see berwarna merah yang ketat. Hingga mencetak tubuhnya yang padat. Rambutnya yang berwarna hitam di gerai. Ia memoles bibirnya yang bervolume dengan warna merah darah. Membuat jembatan layang di alisnya dan blahson di pipi seperti habis terkena pukulan Tyson.
"Aku sangat cantik jika berdandan. Bahkan, Ayesha saja kalah," ucapnya yang berdiri memutar tubuhnya di depan kaca besar di kamar yang sempit.
"Apa itu tidak berlebihan?" sela Euis yang baru saja masuk ke kamar anaknya.
"Diam, kau hanya nini-nini. Tidak akan tahu apa-apa, urus saja dapur!" pangkasnya dengan menyambar handbag berwarna merah dan meningkatkan kamar. Ia menyenggol bahu ibunya dengan bahunya saat di ambang pintu.
"Maaf sengaja!" ucapnya dengan mengibaskan rambut panjangnya sehingga mengenai wajah Euis.
"Astaghfirullah." Euis mengusap d**a dengan sikap putrinya.
Hana berdiri mematung saat melihat penampilan Katarina. Matanya melihat dari atas ke bawah dan berhenti pada kaki katarina yang mengenakan hill berwarna merah sepuluh sentimeter.
"Penampilan macam apa ini. Sungguh memalukan," gumam Hana di dalam hati.
"Dia pasti kagum melihat penampilanku. Ia pasti berpikir aku sangat cantik melebihi Ayesha," kata Katarina dan hanya terucap di dalam hati.
Ia membusungkan dadanya berjalan tegap beriringan dengan Hana menuju garasi mobil. Kepalanya ditegakkan dengan langkah angkuh ia berdiri di depan mobil menunggu sang supir membukakan pintu. Hana menghela nafas. Padahal, Ayesha akan menolak saat sopir hendak membukakan pintu untuknya. Sedangkan Katarina berlaku sebaliknya.
Saat sudah sampai di ibukota. Hana merasa tidak nyaman dengan sikap Katarina jauh berbeda dengan ibunya Euis. Katarina terlihat sombong dan bergaya angkuh. Sesekali dia memaki pengemis yang meminta belas kasih padanya. Dandanannya sungguh berlebihan dan itu cukup membuat Hana malu saat berada di butik perhiasan langganannya.
Hana mengingat saat ia mengajak Ayesha berjalan-jalan. Gadis cantik dan berbakat itu sangat ramah dan baik hati. Penampilannya sangat sederhana dan sopan. Wajahnya yang cantik dan memiliki tubuh yang tinggi dan molek justru tidak membuat ia sombong. Karena hal itu, Hana sangat mendambakan Ayesha benar-benar menjadi menantunya.
Hana pernah dibuat takjub saat Ayesha berhenti untuk memberikan makanan pada anak jalanan. Namun, yang tidak Hana sukai dari Ayesha adalah sikap ambisius sehingga ia tidak memiliki waktu untuk orang terdekat. Dan untuk menjadi seorang istri itu tidaklah dibenarkan. Sikap keras kepala Ayesha tidak akan bisa menerima saran orang lain. Tetapi, setidaknya ia lebih baik dari Katarina. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pikir Hana.
Saat ini Hana dan Katarina memasuki Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat. Ia berjalan menuju butik perhiasan langganannya Belva Jewelry ia sudah berlangganan sejak 2013 saat pertama kali buka. Hana berjalan dengan elegan. Sedang Katarina ia berjalan penuh takjub, matanya menyusuri semua perhiasan yang terpajang indah di etalase.
Seorang wanita muda berjalan anggun menghampiri dengan mengenakan seragam biru BCA dengan rok span berwarna hitam dengan sepatu hak tinggi berwarna senada menemani langkahnya. Ia terlihat sangat cantik dan modis dengan rambut yang disanggul dan riasan tipis di wajahnya.
"Selamat siang, nyonya," sapanya ramah dengan membungkukkan kepalanya menyambut kedatangan Hana.
Hana tersenyum membalas sapaan. Sedang Katarina berlaku angkuh dan tidak menjawab sapaan wanita yang menyambutnya.
"Hana!" seorang wanita cantik datang menghampiri dengan memeluk Hana.
"Hay, Cris."
"Biar saya saja," katanya pada seorang wanita yang menyapa Hana tadi. Gadis itu membungkuk hormat sebelum berlalu.
"Mau cari apa, Han?" tanyanya dengan menggandeng tangan Hana untuk duduk di kursi yang nyaman di depan etalase yang memajang berbagai macam perhiasan yang cantik. Crime berjalan memutar dan berdiri di hadapan Hana dan Katarina yang terhalang etalase panjang.
"Aku ingin cincin koleksi terbaru yang ekslusif," katanya.
"Untuk acara apa, yah?"
" Pertunangan," balasnya.
"Roy bertunangan? Oh, astaga. Aku ikut senang," ucapnya dengan melirik ke arah Katarina dengan mengerutkan keningnya.
Katarina yang merasa diperhatikan memasang wajah percaya diri. "Dia pasti berpikir aku calon istri Roy dan pasti sedang terkagum-kagum dengan kecantikan yang kumiliki," katanya di dalam hati. Wanita paruh baya yang dipanggil Cristina itu kembali mengalihkan pandanganya pada Hana.
"Ini aku suka," sela Katarina dengan menunjuk cincin yang terpajang di etalase yang berada di hadapannya. Ia memilih banyak cincin hingga membuat Cristina kebingungan dan banyak cincin yang berjajar di atas etalase. Ingin menegurnya tapi tidak enak dengan temannya Hana yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Hana semakin tidak suka saat Katarina bergaya seolah-olah Hana akan memberikan cincin itu untuknya. Padahal, Hana tahu seperti apa selera Ayesha. Ayesha lebih suka motif yang sederhana sedang ini, bahkan terlihat berlebihan dan norak. Hana sangat tahu seperti apa selera Ayesha karena saat Ayesha masih SMA mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tentunya sebelum Ayesha sibuk dengan semua ambisinya.
"Aku yakin Ayesha akan sangat suka dengan cincin ini," ujar Katarina dengan memegang cincin yang dikelilingi berlian.
"Aku rasa Ayesha lebih menyukai satu mata berlian," sela Hana.
"Tidak, tidak. Aku sangat mengenal Ayesha gaya hidupnya glamor dan mewah," balasnya so tahu.
"Tapi, aku sering melihat ia hanya mengenakan cincin dengan satu permata saja," timpal Hana mulai geram.
"Itu karena ia tidak punya uang untuk membeli model ini," ucapnya dengan menunjuk cincin yang dipenuhi berlian berwarna merah muda.
"Apa? Dia bilang apa? Tidak punya uang? Oh, semua orang tahu siapa keluarga Darmawan dan sesukses apa Ayesha di Jakarta. Jika ia ingin ia bisa membeli lima cincin sekaligus," gumam Hana dan hanya bisa terucap di dalam hati. Ia sudah semakin tidak nyaman dengan sikap Katarina.
"Aku cocok ini!" ujar Katarina.
"Aku tidak!" tolak Hana.
"Ini bagus. Berliannya banyak dan Ayesha pasti suka," katanya mencoba meyakinkan.
Cristina hanya diam tidak mengerti arah bicara kedua orang ini. Ia ingin bertanya siapa Ayesha. Tapi, diurungkan melihat perdebatan yang sangat sengit. Bahkan Cristina baru melihat Hana terlihat kesal. Biasanya wanita ini sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya.
"Ayesha bukan orang yang materialistis yang melihat keindahan cincin dari banyaknya berlian! Yah, sudah. Aku pilih ini!" tegas Hana dengan menunjuk cincin yang hanya memiliki satu permata tapi sangat cantik.
"Ukurannya?" tanya pemilik butik.
"Tanganku." Katarina menyodorkan jari manisnya yang berwarna sawo matang.
Wanita itu tampak ragu.
"Sepertinya cincin ini kurang cocok dengan warna kulit anda, nona," katanya dengan nada lemah takut menyinggung.
"Bukan dia yang akan memakainya!" pangkas Hana. Pemilik butik itu tersenyum tipis. Karena sedari tadi ia berpikir bahwa gadis ini yang akan memakai cincin tunangan.
"Calon menantuku Ayesha Maharani," tambah Hana dengan bangga.
"Ayesha Maharani?" ulangnya. "seorang model yang sedang naik daun itu? Yang cantik? Benarkah? Wah, kau sangat beruntung, Han," cerocosnya dengan mata yang berbinar. Ia melepas tangan Katarina.
"Hana jadi Ayesha akan menikah?" tanyanya memastikan.
"Ya, dan itu dengan anakku. Kau tahu mereka sudah berpacaran sejak kelas satu SMA," jelasnya dengan mata yang berbinar.
"Ini fantastis. Pantas saja ia selalu menolak pria yang mencoba mendekati. Selain cantik dan berbakat ia juga setia. Kau beruntung, Han," cicitnya penuh kekaguman.
"Karena untuk acara pertunangan Ayesha aku akan memberi diskon."
"Aku tidak ingin memberi barang diskonan untuk menantuku!" tolaknya dengan mengibaskan tangan.
"Apa hebatnya, sih! Kenapa semua mengagumi Ayesha. Jelas-jelas masih cantik aku!" gerutu Katarina dengan menghentakkan kakinya. Tapi, ia harus bisa memasang wajah yang berbeda pada orang lain.
"Ia sebagai sahabatnya aku bangga," tambah Katerina. Padahal, setelah mengucapkan itu ia menghadapkan ke tembok dan muntah kosong dengan menjulurkan lidahnya di depan tembok membelakangi kedua orang ini.
"Wah, kenapa beda, yah?"
"Yah, karena aku lebih cantik. Ayesha hanya beruntung saja," ucapnya penuh percaya diri.
"Eh?" Cristina membulatkan mata dengan sikap penuh percaya diri gadis berkulit sawo matang ini. Tapi kemudian ia mengangguk membenarkan ucapannya meski itu adalah dusta.
"Nanti aku ingin kau mendesain yang berbeda dari yang lain untuk pernikahan anakku," katanya.
"Oke, kapan?"
"Masih belum ditentukan. Tapi, kau siapkan saja desainnya. Aku akan berdiskusi dengan calon menantuku untuk memilih model mana yang cocok," jelasnya.
"Aku akan memberikan yang terbaik. Jangan lupa undang aku, yah. Di acara pernikahan anakmu," pintanya dengan antusias.
"Itu hal mudah. Yah, sudah. Aku mau sepasang cincin tunangan yang kupilih tadi," ujar Hana.
"Apa tidak sebaiknya kita minum kopi dulu?" Hana sedikit tertarik, ia melirik ke arah Katarina. Kemudian ia menggeleng.
"Maaf, tidak untuk kali ini," sesalnya.
"Baiklah. Sebentar yah, saya menyiapkan cincinnya."
Hana bukan tidak ingin menghabiskan waktu bersama teman sekolahnya Cristina. Tapi, ia tidak ingin pergi bersama Katarina. Membayangkan saja rasanya Hana sangat enggan mengingat keangkuhan dan pakaiannya yang norak.
Selesai membayar Hana segera mengajak Katarina pulang.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya kita belanja yang lain selagi ada di tempat ini," kata Katarina dengan berjalan beriringan.
Hana diam, jika saja dengan Ayesha ia akan sangat senang menghabiskan waktu sampai malam. Tapi, ia tidak bisa membayangkan menghabiskan waktu bersama Katarina yang akan membuat ia malu dengan sikap penuh percaya diri dan bergaya seperti orang kaya baru.
"Nyonya?" panggil Katarina.
"Tidak, aku sedang tidak ingin berbelanja," sahutnya dengan terus berjalan mendahului.
Katarina memasang wajah masam. Ia menurunkan gaya Hana yang memegang handbag di pergelangan tangannya dengan berjalan anggun. Ia mencoba memperagakan cara berjalan Hana yang menyilang tapi naas. Katarina kehilangan keseimbangan hingga ia terjatuh dan hal itu menjadi pusat perhatian semua pengunjung mall.
"Astaga, lihatlah dandanannya. Seperti badut Ancol!" cibir salah seorang wanita berambut panjang, berkulit putih yang mengenakan hot pant.
"Ah sungguh memalukan! Haha," tambah temannya dengan mengejek.
"Apa kamu, hah! Kalian sirik, kan dengan kecantikanku! Dan, kalian tidak tahu saja aku sahabatnya Ayesha Maharani!" teriak Katarina dengan beranjak berdiri.
"Eh, kebanyakan halu, kau! Mana mungkin Ayesha model ternama mempunyai teman sepertimu!" cibirnya dengan mengangkat sebelah sudut bibir, dengan tersenyum meremehkan.
"Tidak percaya, awas kau!" Katarina hendak berjalan dengan menenteng sepatunya dengan berjalan terpincang karena kakinya terkilir.
"Katarina! Ayo, pulang!" ajak Hana menarik tangan Katarina dengan menahan malu. Katarina berjalan dengan tidak mengenakan alas kaki dan tangan menenteng sepatunya.
"Masuk!" bentak Hana saat sudah berada di dekat pintu mobil. Hana sudah kehilangan kesabaran dengan sikap Katarina yang tidak memiliki etika. Jika saja Ayesha tidak ada kelas mungkin ia akan sangat senang mengajak Ayesha memilih cincin tunangan. Tapi, sayang. Calon menantunya itu sangat sibuk.
Bersambung ….