Cinta Segitiga

2124 Kata
"Cinta yang suci akan membawamu pada kebahagiaan. Sebaliknya, cinta diiringi nafsu akan menghadirkan penyesalan. Ayesha _ Maharani. "Sepertinya hujan mulai mereda. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Umi dan Abi pasti khawatir," ujar Roy dengan menadahkan satu tangan merasakan tetesan hujan yang mengenai tangannya dan menengadahkan wajah menatap langit. "Ayo!" ajaknya ketika sudah benar-benar memastikan bahwa hujan tidak akan kembali deras. Roy Menarik tangan Ayesha yang sedang memeluk jaket yang sudah setengah basah. Ayesha hanya mengangguk patuh dan berjalan di belakang Roy. Mereka akan kembali melanjutkan perjalanan ditemani gerimis yang tidak berhenti. Ayesha duduk di atas motor dengan mendekap tubuhnya yang kedinginan. Baju yang basah dan angin yang kencang membuat Ayesha semakin menggigil menahan hawa dingin yang terus menyelinap masuk melalui serat kain dan menembus melalui pori kulitnya yang halus. Beberapa kali Roy menghentikan motornya secara mendadak. Hingga tubuh Ayesha terbanting menyentuh punggung Roy. Ayesha kembali menegakkan tubuhnya. Roy kembali melakukan hal yang sama. Kali ini ia menahan tangan Ayesha dan melingkarkan di perut. Ayesha membulatkan matanya tidak percaya. Ia hendak menjauhkan tangannya. Tapi, Roy menahannya. "Aku kedinginan, Ay," ujar Roy dengan suara bergetar menahan dingin. Ayesha merasa tidak tega saat menyentuh tangan Roy yang dingin. "Ay," panggil Roy. Ayesha tidak mendengar karena jarak wajah mereka cukup jauh. "Ay," ulang Roy. "Ya?" "Mendekatlah," pintanya. "aku ingin bicara. Kau simpan wajahmu di tengkuk leherku," pinta Roy. "Eh?" "Ayolah, Ay." Ayesha dengan ragu memeluk tubuh Roy. Melingkarkan tangannya di perut kekasihnya. Ayesha menyandarkan wajahnya di tengkuk leher Roy. Pria tampan ini memejam merasakan hembusan nafas Ayesha di lehernya dan sesuatu yang padat menyentuh punggungnya. Tangan satunya menyentuh tangan Ayesha yang berada di perutnya. Menggenggamnya dengan erat. "Ay, aku sangat mencintaimu," ucap Roy dengan menoleh ke arah wajah Ayesha. Ayesha mengerjap dua kali, menyadari bahwa wajah mereka sangat dekat. Roy, menelan salivanya susah payah. Ayesha melihat ada gairah yang cukup kuat dari tatapan Roy. "Perhatikan jalannya! Pegang koplingnya! tegur Ayesha dengan mendorong wajah Roy Agar menatap ke depan. Roy menghela nafas dan mengalihkan tangan yang tadi memegang tangan Ayesha kini mengusap rambut kekasihnya sebelum kembali memegang kopling motor. "Dasar nggak romantis!" gerutu Roy dan hanya dibalas dengan kekehan oleh Ayesha. "Sudah ah, aku pegel!" keluh Ayesha dengan kembali menegakkan tubuhnya dan melepas pelukannya. Roy hanya menggelengkan kepala pelan. Sampai di rumah Ayesha sudah disambut wajah murka ibunya. Roy mematikan motor sebelum sampai digerbang rumah kediaman Ayesha. Itu sudah menjadi kebiasaan karena tidak ingin suara motor mengganggu istirahat calon mertua. "Assalamu'alaikum," ucap Ayesha dan Roy bersamaan. "Waalaikum salam." "Jangan mentang-mentang mau kawin. Pulang seenaknya!" sembur Rani dengan memegang sapu di tangan. Ayesha dan Roy bergantian menyalami tangan ibu paruh baya yang berdiri di teras depan. "Pulanglah, Roy. Sudah malam. Tidak baik jika kalian berduaan lebih dari jam sembilan malam!" tegasnya. "Umi!" Ayesha meninggikan suara tidak terima calon suaminya di perlakukan tidak baik. "Masuklah! Ganti bajumu!" titahnya dengan mengangkat sapu yang berada di tangan. Ayesha masuk kedalam rumah dengan menahan untuk tidak menghentakan kaki sebagai protes atas sikap ibunya. "Umi, Minggu depan aku berniat akan melamar Ayesha. Maaf jika mengatakan hal ini dengan tidak sopan," sesalnya dengan membungkukan badanya sedikit. "Lain kali jangan diulangi, kan sudah dibilang jangan membawa Ayesha melewati jam sembilan malam. Hargai etiket keluarga kami!" tegasnya. "Maaf, Umi. Tadi hujan cukup lebat. Dan, kami berteduh sebentar," jelas Roy. "Ya sudah. Jangan diulangi. Umi tidak suka! Sekarang pulanglah, kau pasti kedinginan," ujarnya. "Soal lamaran kami tunggu," tambahnya. "sekarang pulanglah!" "Baik, umi. Assalamu'alaikum," kata Roy dengan mencium tangan wanita paruh baya yang akan menjadi ibu mertua beberapa bulan lagi. "Waalaikum salam." Sampai di rumah dengan pakaian yang masih basah. Roy masuk dan berteriak. Roy tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia sangat marah dengan sikap Katarina di kedai cuanki tadi sore. "Katarina!" teriak Roy. "Oh kau sudah pulang? Mau aku buatkan teh hangat, kopi atau s**u istimewa," ujarnya dengan menggigit bibir bawahnya. "sekarang keringkan rambutmu." ucapnya dengan memberikan handuk kecil. Tetapi, Roy merampas handuk itu dan melemparnya ke wajah Katarina. "Bahkan dia tidak bisa membuat kau lebih baik dan hangat, Roy," cerocos Katarina dengan mendekatkan diri mengusap wajah Roy yang basah dengan handuk. "Diam, kau! Kau harus tahu diri Katarina. Jangan melewati batasanmu!" bentak Roy dengan mendorong tubuh Katarina hingga gadis tidak tahu malu itu tersungkur di lantai. "Oh, inikah sikap aslimu? Bukankah kau selalu terlihat sempurna dimana Ayesha. Ternyata ini aslimu? Aku tidak bisa membayangkan, jika Ayesha sampai tahu sikap aslimu yang temperamental. Aku yakin, gadis secantik dan sehebat Ayesha tidak akan sudi menikah dengan pria seperti dirimu!" cemooh Katarina dengan beranjak berdiri. "Aku tidak akan pernah marah padanya. Karena aku sangat mencintai dia!" tegas Roy penuh keyakinan. "Cinta?!" Haha? Kau hanya bertepuk sebelah tangan. Jika dia mencintaimu. Dia akan meluangkan waktu untukmu!" "Diam kau!" teriak Roy tidak terima semua perkataan Katarina. "Lihat aku, lihat aku, Roy. Aku yang selalu ada untukmu. Aku yang mencintaimu dan aku akan merelakan hidupku untukmu. Dan bukankah aku rela memberikan semuanya untukmu. Apa kau yakin pada cinta Ayesha? Bahkan Ayesha hanya memanfaatkanmu!" Katarina berbicara dengan berteriak. "Turunkan nada bicaramu, Katarina! Ingat, aku ini majikanmu!" "Haha, jangan pikir aku tidak tahu." Katarina berjalan mondar mandir di hadapan Roy dengan bersedekap dan berhenti mendekatkan wajahnya pada Roy seraya berkata. " bukankah dia mau menikah denganmu hanya untuk melanjutkan S2 di Jakarta? Jelas kau hanya diperalat!" "Hentikan, ocehan bodohmu!" sentak Roy yang sudah merasa geram. "Ocehan bodoh? Sekarang aku tanya padamu apa kau pernah berciuman dengan Ayesha? Dijaman sekarang, jika saling cinta maka hal itu adalah kewajiban!" Katarina terus mempengaruhi Roy dengan asumsinya. "Itu untuk w************n!" hardik Roy. "Model? Oh apakah itu profesi yang suci?" cibir Katarina. "Setidaknya dia tidak menyerahkan bibirnya pada pria yang sedang membayangkan wanita lain!" sindir Roy dengan berlalu meninggalkan Katarina, menaiki tangga dan masuk ke kamar dengan menutup pintu dengan keras. Katarina mengikuti Roy. Ia berdiri di balik pintu kayu berwarna putih. "Perlu kau tahu, Roy. Aku sudah mengenal Ayesha sejak kecil. Ia hanya mencintai dirinya. Ia tidak pernah mencintai dirimu!" "Diam, kau!" teriak Roy. Prayyyy …. Terdengar suara dari pecahan gelas membentur lantai. "Aku pastikan. Kau akan menjadi milikku," ucap katarina dengan berlalu. Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kain kebaya jaman dulu dan kain batik yang membungkus kakinya berjalan mendekat ke arah Katarina. Mata terlihat memerah menahan amarah. Ia menyaksikan sendiri pertengahan Katarina dan Roy. "Ikut aku, Katarina!" titahnya dengan berjalan mendahului menuju dapur. Katarina dengan enggan mengikuti langkah wanita paruh baya yang rambutnya disanggul rapi. "Apa?" tanya Katarina ketus saat wanita itu menghentikan langkah saat sampai di dapur. Wanita paruh baya itu berbalik dan … Plakkk … Tangannya menampar keras pipi Katarina. Gadis berambut hitam dan berkulit sawo matang itu menatap tidak terima. "Kau seperti anak yang membuang kotoran di wajah emakmu, Katarina! Membuat malu, saja!" ucap seorang seorang wanita paruh baya yang memiliki banyak kerutan di wajah dan tampak terlihat lebih tua dari usianya. "Jangan pernah menamparku. Kau tidak berhak. Bahkan, kau bukan ibu yang baik!" pangka Katarina dengan tatapan menantang. "Anak durhaka!" hardiknya. "Apa peduliku, hah?! Apa dengan menjadi anak baik aku bisa membuat Roy mencintaiku? Tidak! Aku akan merebut ia dari tangan Ayesha. Ayesha terlalu sempurna. Dunia tidak adil, dan aku akan membuat keadilan dengan tanganku sendiri!" ucap Katarina dengan menatap penuh marah pada ibunya. "Hentikan! Kita hanya orang miskin. Dan, kau Katarina harusnya berterima kasih pada Neng Ayesha yang sudah berbaik hati membantumu selama ini!" "Cih! Berterima kasih? Dia terlalu sempurna. Lihatlah sekarang, dia menjadi asdos, model terkenal dan akan menikah dengan pria yang sangat aku cintai! Baik? Ayesha wanita ambisius dan egois. Dimana letak kebaikan seorang yang sangat egois!" jerit Katarina. "Tapi dia tidak memiliki hati busuk seperti dirimu, Katarina!" "Diam, kau! Sebenarnya siapa anakmu? Kenapa kau membela Ayesha? Kenapa? Bahkan semua orang sangat menginginkan dia. Sedang aku? Bahkan emak sendiri tidak menyayangiku! Aku muak, aku benci! Dunia tidak adil!" teriaknya dengan berlari dan terus menangis. "Katarina!" teriak seorang wanita yang sudah mengabdikan diri selama lima belas tahun di keluarga Atmadja. Katarina terus berlari dan pergi meninggalkan ibunya. "Kanapa kau jadi seperti ini, Nak? Aku hanya tidak ingin kau terus menjadi anak yang kurang ajar dan tidak tahu terimakasih. Kita berbeda dengan mereka. Neng Ayesha adalah keturunan dari keluarga ningrat. Sedang kita hanya keturunan keluarga melarat," lirihnya dengan berjalan menuju kamar yang di peruntukan untuk seorang pelayan. Tiga tahun lalu. Saat pertama Katarina tinggal dirumah ini untuk ikut membantu ibunya yang bernama Euis sebagai pelayan di rumah Atmadja. Roy sempat bersimpati pada Katarina yang belum menunjukkan sikap buruknya. Hubungan Roy dan Ayesha mulai renggang sejak memasuki bangku kuliah. Ayesha adalah gadis yang memfokuskan diri pada pendidikan dan mimpinya. Tidak heran selain cantik dan berbakat dia juga meraih IPK tertinggi dari jurusan yang diambilnya yaitu jurusan bisnis dan management. Sejak awal hidupnya sudah terprogram akan mengarah kemana. Meski ayahnya meminta Ayesha untuk menggeluti bidang kedokteran atau teknik mesin seperti ayahnya. Ayesha menolaknya dengan dalil dia memiliki prospek yang lebih cerah dengan jurusan pilihannya. Dan itu terbukti memasuki semester enam Ayesha sudah menjadi asdos. Sebenarnya bukan keinginan Ayesha tetapi itu adalah syarat mutlak dari sang ayah agar dia bisa terjun ke dunia modeling. Karena kesibukan Ayesha membuat Roy kesepian. Setiap malam Minggu dihabiskan dengan berjalan-jalan dengan Katarina. Bahkan Katarina dan Roy pernah berciuman dan hampir saja mereka lupa diri. Itu terjadi saat kedua orang tua Roy melakukan perjalanan bisnis dan ibunya Euis terpaksa harus ikut untuk membantu pekerjaan rumah. Perselingkuhan mereka awalnya berjalan manis dan indah. Tetapi, lambat laun Roy mulai jengah dengan sikap posesif Katarina. Meski sering menghabiskan waktu dengan Katarina hati Roy tetap masih sangat mencintai Ayesha. Dan, hari ini Roy sangat bahagia akan menikahi perempuan tercantik se jawa barat dan itu terbukti bahwa Ayesha juara bertahan mojang jajaka. Seorang perempuan yang menjadi idola di kampus dan suatu kebanggaan bisa memiliki wanita secantik dan secerdas Ayesha. Meski harus tahan dengan sikap keras kepala dan egois. Ucapan Katarina mengganggu keyakinan Roy pada cinta Ayesha. Dia tidak yakin wanita sesempurna Ayesha bisa mencintai dia yang menurutnya hanya pria biasa. Perlahan Roy mulai termakan ucapan Katarina. Padahal, Ayesha adalah perempuan yang setia pada satu cinta. Katarina yang mendengar Roy akan menikah tidak terima. Selama hampir tiga tahun menjadi selingkuhan Roy dia sudah merasa berada di atas awan akan memiliki pria yang adalah calon suami sahabatnya sendiri. Katarina masih merenung dibawah pohon Angsana di belakang rumah Roy. Ia berpikir untuk menyusun rencana. *** Tepat pukul sepuluh malam. Roy berjalan tergesah menuruni tangga saat ia mendengar kedua orang tuanya datang. "Papah, mamah, sudah datang?" sapa Roy yang kini berada di depan kedua orang tuanya yang hendak menaiki tangga. "Jangan dulu masuk. Roy ingin bicara," katanya dengan menarik tangan ibunya. Ayahnya yang sedang melonggarkan dasi pun ikut membuntuti langkah Roy menuju ruang keluarga. "Duduk," pintanya pada ayah dan ibunya. Mereka menuruti keinginan putra tunggalnya. "Apa, katakanlah! Papah sudah lelah." Roy menceritakan pada orang tuanya tentang rencana lamaran dan permintaan keluarga Dermawan yang meminta Roy segera menikahi Ayesha. Kedua wajah yang terlihat lelah itu terlihat senang. Tentu akan sangat membanggakan, saat mereka akan mendapatkan menantu dari keluarga yang menjunjung tinggi etika. Ditambah lagi Ayesha gadis cantik, baik dan berbakat. Terlebih, keluarga Darmawan adalah keluarga yang turun temurun berprofesi sebagai keluarga pendidik dan sudah dipastikan Ayesha bisa membawa dirinya di dunia mereka. Meski memang mereka kurang menyukai dunia modeling Ayesha. Tetapi, itu tidak jadi soal selagi Ayesha bisa menjaga nama baik keluarga. "Kita harus memberikan cincin yang mahal, pah. Sebaiknya kita besok ke Jakarta," ujar Ibu Roy yang bernama Hani. "Kita pesan saja, yang modelnya berbeda dari yang lain dan hanya Ayesha yang memiliki cincin itu," tambahnya lagi. "Kau atur saja, sayang," balasnya. "Kau tahu ukuran tangan Ayesha, Roy?" tanya Hani pada putranya. "Aku saja, Nyonya. Rasanya ukuran tangan saya dan Ayesha sama," sela Katarina yang berjalan mendekat. Roy menatap tajam perempuan yang seperti tidak tahu malu. Hani menatap anaknya dengan tatapan ragu. Juga tidak enak hati jika menolak. "Katarina!" bentak Euis yang berjalan dari dapur menuju ruang keluarga dengan membawa teh hangat di nampannya. "Punten, Nyonya." Euis membungkuk hormat, dia merasa malu dengan sikap kurang ajar anaknya. "Ayo!" Eius menarik tangan Katarina setelah menyimpan cangkir berisi teh di meja. "Lepaskan, Mak!" Katarina menepis tangan ibunya. "Euis sudah tidak apa-apa. Katarina besok ikut denganku ke Jakarta," ujarnya. "Ayo kita ke kamar, sayang," ajak ayah Roy dengan menarik tangan Hana. "Roy, juga ingin tidur," tambah Roy dengan beranjak. "Maaf yah, Euis. Tehnya tidak bisa kamu minum," sesal Hana. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga. Dengan Roy berada di belakang kedua orangtuanya. "Akan aku pastikan cincin itu benar-benar menjadi milikku," gumamnya di dalam hati saat semua orang pergi. "Katarina, berhentilah bersikap kurang ajar!" tegur Euis. "Diam, jika aku kaya. Bukankah kau akan berhenti jadi pelayan? Jadi ikuti rencanaku!" ucapnya dengan berjalan meninggalkan Euis. "Jangan bertingkah aneh, atuh!" Euis mencoba mengimbangi langkah cepat putrinya. "Cicing nini-nini, peot!" bentaknya. Bersambung …. Nb. Cicing = Diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN