"Terkadang kita tidak pernah bisa menyangka bahwa musuh terbesar kita adalah orang yang paling dekat dengan kita. Ayesha_Maharani
Ayesha kembali ke kamarnya. Ia duduk di tempat tidur dengan menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Merenungi semua perkataan sang ayah hingga ia sadar bahwa ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mulai sekarang, ia memutuskan akan banyak meluangkan waktu untuk kekasihnya. Tangannya menggapai gawai yang berada di nakas. Jarinya yang lentik bermain di layar menyusun pesan singkat untuk dikirim pada kekasihnya.
Sore ini. Ayesha dan Roy berada di taman balai kota Bandung. Taman yang menjadi kenangan cerita cinta mereka sejak jaman putih abu. Mereka duduk di kursi kayu yang panjang berwarna coklat tua di bawah pohon trembesi besar dan dikelilingi rerumputan hijau yang tertata rapi, di hadapannya di suguhi tanaman sapu tangan merah yang terlihat cantik. Ayesha menyandarkan kepalanya di pundak Roy dengan kedua tangan saling berpegangan, menikmati semilir angin yang menari memainkan rambut pirangnya dan menerpa wajah kedua insan yang saling mencintai.
Ayesha memandang lurus ke depan. Ia melihat seorang gadis kecil berlari dengan mengenakan sepatu berwarna putih. Ia tersenyum tipis di balik masker melihat ibu dari anak itu mengejar sambil berteriak, memanggil nama anaknya. Roy diam, ia sudah sangat tahu kebiasaan Ayesha. Kekasihnya ini sangat menyukai hal-hal yang unik dan bisa membuatnya tertawa. Pandangan Ayesha beralih menatap sepasang kekasih yang sedang berhadapan. Mereka bertengkar, Ayesha mengerutkan kening saat pria itu menampar gadis dihadapannya. Lalu Ayesha menghela nafas berat saat gadis itu menangis, berlari dan berteriak pada kekasihnya seraya berkata.
"Dasar kau egois!"
Deg …
Ayesha seakan tertampar hatinya. Ia tidak ingin hubungan yang dijalin cukup lama berakhir dengan pertengkaran dan berujung perpisahan. Tanpa mengalihkan pandang Ayesha membuka bibirnya.
"Roy, apa aku terlalu ambisi dan egois?" tanya Ayesha di sela keromantisan.
"Dari dulu kau begitu. Kenapa baru mempertanyakan hal ini, Aya?" tanya Roy dengan memainkan rambut halus Ayesha dengan menggulungnya dengan jari. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Roy.
"Maaf," lirihnya.
"Hey, aku tidak masalah. Asal kau bahagia," kata Roy penuh pengertian.
"Abi bilang aku bahkan tidak memiliki waktu untukmu," keluhnya mencoba mengungkapkan kegundahan yang bersarang di hati.
"Itu benar. Cobalah untuk luangkan waktu bersamaku. Yah, walau sedikit saja." Roy berkata dengan menekankan kata "sedikit".
"Tapi aku sibuk, Roy. Kau tahu itu. Aku ingin menjadi model go internasional dan aku harus bisa menggapai mimpiku. Jadi aku harus bekerja keras," ucapnya. Roy bisa merasakan ambisi yang kuat meski tanpa melihat wajah kekasihnya. Tampak dari nada suaranya yang dipenuhi semangat. Roy hanya dapat menghela nafas panjang. Tidaklah mudah mengimbangi sikap keras kepala dan ambisi kekasihnya.
"Kau bilang ada yang ingin dibicarakan. Apakah itu penting?" tanya Roy mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah, sampai lupa." Ayesha mendongak menatap Roy. "Abi meminta kita segera menikah," ucap Ayesha dengan nada yang lesu.
"Wah, itu bagus. Kapan aku harus membawa orang tuaku ke rumahmu, sayang?" tanya Roy dengan sangat antusias.
"Sepertinya kau senang?" goda Ayesha dengan memiringkan wajahnya.
"Kau tidak senang?" tanya Roy dengan mencubit hidung mancung Ayesha dengan sangat gemas. Ia membuka masker yang menutupi wajah Ayesha.
"Auuuww … sakit," rengkek Ayesha dengan mengusap hidung yang memerah.
"Dasar manja," cibir Roy. "kapan ayah meminta kita menikah?"
"Minggu ini kau ditunggu untuk acara lamaran. Dan, rencananya sepuluh hari setelah kita wisuda akan segera dilangsungkan pernikahan. Tapi, gimana pihak kamu juga, Roy," jelas Ayesha.
"Aku rasa orang tuaku akan setuju apapun yang menjadi keputusan keluargamu, mengingat kita sudah terlalu lama berhubungan. Lalu kenapa kau tampak ragu, sayang?" tanyanya pada Ayesha.
"Entahlah, eum … kalau menikah …"
"Aku tidak akan menuntut untuk segera memiliki momongan. Jadi, kamu tenang saja. Dengan begitu, bisa melanjutkan mimpimu," sela Roy yang seakan mengerti apa yang dipikirkan kekasihnya.
"Roy, jika kau bersikap seperti ini. Aku semakin cinta padamu," ucap Ayesha jujur dengan mata yang berbinar.
"Kalau cinta cium aku," pinta Roy dengan terkekeh dan memegang kedua bahu Ayesha dan mendekatkan wajahnya.
"Tidak boleh. Kata Umi, pamali!" Ayesha mendorong wajah Roy dengan satu tangannya. Bukan marah, Roy hanya tertawa karena selama hampir delapan tahun berpacaran penolakan seperti ini menjadi hal yang biasa.
"Aku heran, sayang. Bukankah kau dari dulu yang menunda pernikahan. Kenapa kau sekarang setuju?" tanya Roy mulai curiga.
"Aku ingin melanjutkan S2 di Jakarta. Dan, syaratnya harus menikah terlebih dahulu denganmu," jelas Ayesha melebarkan senyuman. Dan itu semakin terlihat menggemaskan Dimata Roy.
"Jadi jika tidak menjadi syarat. Kamu akan menolak pernikahan ini?" tanya Roy memastikan.
"Bukan menolak. Tetapi, menunda," tegas Ayesha dengan terkekeh.
"Yah, begitu intinya."
"Apa keberatan?" tanya Ayesha.
"Tidak, asal kau bahagia. Bolehkah aku bertanya, Ayesha?"
"Apa? Nggak usah serius gitu, deh!" protes Ayesha dengan menyikut tangan Roy.
"Jika kau berada di dua pilihan. Kau lebih memilih karir atau aku?" tanya Roy serius dengan menatap lekat wajah kekasihnya yang begitu sangat cantik.
"Apaan sih! Keduanya penting dan aku akan berusaha mendapatkan semuanya. Karena keduanya mimpiku. Menjadi model dan menikah dengan pria sebaik kamu adalah mimpi yang harus aku gapai," ucap Ayesha mantap.
"Itu tidak boleh. Harus pilih salah satu!" protes Roy.
"Untuk hal ini izinkan aku untuk serakah dan egois!" ucap Ayesha tanpa ingin dibantah lagi.
"Baiklah. Kau menang," ucapnya pasrah.
"Sepertinya kita sudah lama tidak makan cuanki, Roy," Ayesha berkata membuyarkan lamunan Roy. Entah apa yang berada di pikiran pria itu.
"Benar juga, cuanki langganan. Jaman kita sekolah," balas Roy dengan tersenyum mengingat kenangan mereka.
"Dulu kau selalu menabung hanya untuk membelikan aku semangkuk cuanki," goda Ayesha dengan terkekeh.
"Ish, itu dulu. Sekarang sepuluh mangkok pun aku sanggup membelikannya untukmu," ucap Roy sombong dengan menepuk dadanya.
Mereka tertawa mengingat kenangan jaman sekolah dulu. Sejak dulu Roy pria yang selalu mendukung keinginan Ayesha. Pria yang selalu berusaha keras untuk membahagiakan satu-satunya gadis yang sangat dicintainya sejak masa Sekolah Menengah Atas sampai sekarang. Tetapi Roy memiliki kekurangan dia pria yang tidak bisa bersikap tegas dan tidak tegaan. Dan, karena hal itu sering menjadi pemicu pertengkaran diantara mereka. Karena Roy tidak pernah tegas menolak para gadis yang terus mengejarnya. Hingga Ayesha harus pasang badan untuk mempertahankan hubungan mereka. Beruntung ada Katarina yang selalu membantu Ayesha untuk menyingkirkan para gadis yang tidak tahu diri. Dan, tanpa Ayesha ketahui, diam-diam sahabatnya itu juga menyukai Roy.
"Eh, bukankah itu teh Ayesha?" ucap anak remaja yang menunjuk ke arah Ayesha. Roy yang mendengar segera menaikan masker yang bersarang di dagu Ayesha hingga kembali menutupi wajah kekasihnya.
"Iya. Woy teman-teman!" teriak gadis itu. "Ada teh Ayesha model cantik itu loh. Ayo kesana!" Sekitar lima orang berjalan mendekat. Bukan hanya itu yang berada di taman itu pun menoleh ke arah ayesha dan Roy.
"Aya neng Ayesha. Ibu mau foto, aaahhh!" Seorang wanita paruh baya beranjak dari duduknya. Roy yang melihat itu seakan terancam. Ia menarik tangan Ayesha dan berlari menjauh. Roy tidak pernah suka waktu berduanya diganggu dengan permintaan tanda tangan dan foto bareng. Belum lagi ia harus menjadi fotografer dadakan.
Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya mereka sampai di kedai cuanki Serayu yang tidak jauh dari gedung sate. Mereka memilih tempat di paling pojok agar tidak terlihat banyak orang. Roy menggeser kursi plastik merah.
"Silahkan duduk tuan putri," ucapnya dengan membungkukan setengah badan. Ayesha terkekeh dengan kekonyolan sikapnya.
"Apaan, sih!" balas Ayesha dengan menepuk pundak Roy pelan.
"Tunggu yah, aku pesan dulu. Seperti biasa?" tanya Roy.
"Heem." Ayesha mengangguk.
"Tidak pake cuka, tidak pake kecap tapi daun bawangnya di banyakin, begitu, kan?"
"Benar sekali!" jawab Ayesha. Roy pergi untuk memesan. Ia berdiri mengantri bersama ibu-ibu. Sesekali ia membalikan setengah badan dan melambaikan tangan ke arah Ayesha. Gadis cantik yang memiliki wajah indo ini.
Menikmati cuanki hangat dengan ditemani obrolan kecil meski kadang Roy menggoda kekasihnya yang menjadi pusat perhatian karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Tidak disangka, seseorang yang sangat mereka kenal datang menghampiri.
"Ayesha, Roy!" panggilnya dengan berteriak dan melambaikan tangan. Berjalan menghampiri meja Ayesha dan Roy.
"Kapan pulang? IiiIh, ga bilang-bilang ada di Bandung," ucapnya yang tanpa permisi menarik kursi plastik berwarna merah dan duduk disamping Roy. Ayesha tidak pernah curiga karena hal itu sudah biasa dan Katarina adalah sahabat Ayesha dari kecil.
"Pas malam Jumat aku pulang. Kebetulan memang ada pemotretan di daerah sini. Jadi langsung saja pulang ke rumah," jelasnya dengan tersenyum ramah.
"Wah, sekarang kamu sukses. Aku mah apa atuh. Hanya begini-begini saja," balas Katarina dengan menunduk.
"Eh, mau ikut aku nggak? Nanti aku promosikan, deh," ajak Ayesha tulus.
"Eh, tidak-tidak. Kasian emak. Kan harus tetap bekerja di rumah juragan Atmadja," ucap katarina dengan melirik Roy.
Uhuk …
Uhuk …
"Sayang, kau kenapa?" tanya Ayesha yang segera memberikan minum pada Roy. "pelan-pelan kalau makan," tegur Ayesha dengan menepuk pelan pundak Roy. Setelah melihat Roy membaik dia kembali duduk di kursinya.
"Katarina, apa kau mau bakso? Cuanki disini enak loh," tawar Ayesha.
"Boleh-boleh. Aku mau banget," balasnya yang tanpa rasa malu.
"Tenang ini ditraktir oleh Roy. Iya, kan sayang?!" tanya Ayesha dengan tersenyum bangga. Tetapi, Ayesha cukup kaget dengan perubahan wajah Roy yang memucat. Sedang, Roy hanya mengangguk.
"Aku pesan dulu, yah," pamit Katarina dengan beranjak.
"Sayang apa kau sakit?" tanya Ayesha dengan berdiri mendekati Roy dan memegang kening Roy. Ia melihat wajah Roy tiba-tiba terlihat pucat.
"Tidak, sayang. Sekarang, habiskan baksomu. Bukankah sudah lama kita tidak makan berdua," sindir Roy.
"Wah sepertinya aku mengganggu kencan kalian," sesal Katarina yang hanyalah dusta. Ia kembali mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Tentu saja tidak. Kau kan, sahabatku," balas Ayesha.
"Iya, kita kan bersahabat," balasnya dengan melirik ke arah Roy.
"Sayang, aku sudah memiliki rencana untuk ulang tahunmu. Nah, selagi ada Katarina kita bisa meminta bantuan dia," ujar Ayesha.
"Tidak perlu, sayang. Jika hanya berdua di villa Abi dan umi pasti tidak akan mengijinkan," sahut Roy.
"Aku akan meminta izin pada Umi Rani. Aku juga akan ikut. Dengan begitu, rencana ini pasti berhasil" ucap Katarina penuh percaya diri.
"Wah, ide bagus. Aku sangat senang jika kau mau membantuku," ucap Ayesha tanpa curiga. Katarina kembali melirik ke arah Roy dan mengedipkan sebelah mata. Ayesha tidak menyadari kenakalan sahabatnya.
Roy mengalihkan pandangannya kembali menatap kekasihnya. "Sayang. Kita bisa mempersiapkan pesta berdua saja," pangkas Roy. Tidak setuju dengan rencana yang diajukan Ayesha.
"Maaf sayang. Waktuku tidak banyak. Tepat di hari ulang tahunmu, aku masih ada pemotretan di Bali dan diperkirakan bisa sampai di Bandung pukul 19.00 wib," sesal Ayesha dengan jadwalnya yang begitu padat bulan ini.
"Kalau begitu. Kita bisa merayakannya di lain hari," ujar Roy menyarankan.
"Tidak, tidak. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan dan merayakan ulang tahunmu, sayang," ucap Ayesha bersikukuh. Roy hanya bisa pasrah karena percuma tidak akan menang berdebat dengan kekasihnya yang sangat keras kepala.
"Baiklah. Kau harus pastikan bahwa kau tidak kelelahan, sayang," ucap Roy dengan mengelus tangan Ayesha dengan tatapan penuh cinta. Tatapan mereka beradu dengan saling melempar senyum tipis.
Braaaak
Ayesha dan Roy menoleh ke arah sumber suara dan melihat Katarina menyimpan gelas dengan keras membentur meja yang berisi es teh manis dan membuat Roy dan Ayesha melepaskan pegangan tangan.
"Maaf," ucapnya dengan tersenyum. "pedas, banget. Sampai-sampai bibirku terasa Jontor," desisnya dengan mengibaskan tangan di depan mulut.
"Minumlah!" ucap Ayesha dengan menyodorkan gelas yang berisi jus Strawberry miliknya.
"Tidak," tolaknya. "Aku minta punyamu yah, Roy. Kita kan sudah terbiasa," ucapnya dengan melirik wajah pria yang sedang menatap Ayesha.
"Eh?" Ayesha mencoba menelaah ucapan Katarina. "terbiasa?" lirihnya.
"Maksudnya, ini kan sama-sama es teh manis. Aku tidak suka jus strawberry!" jelasnya dengan menyeruput teh milik Roy. Pria itu hanya melirik sinis. Dalam diam ia mengepalkan kedua tangan di balik meja menahan amarah lalu beranjak berdiri.
"Ayo, kita pulang, sayang," ajak Roy dengan menarik tangan Ayesha.
"Bayar dulu sayang," Tegur Ayesha dengan terkekeh.
"Langsung bayar ke kasir saja." Roy menarik tangan Ayesha menjauh dari Katarina. Wanita yang masih menyeruput teh dingin itu menatap tajam dan menghentakkan kaki lalu pergi meninggalkan tempat tanpa permisi. Roy dan Ayesha kembali dari kasir dan tidak melihat Katarina.Ayesha mencari dengan ekor matanya.
"Kenapa sayang?" tanya Roy lembut.
"Aku mencari Katarina. Ia tidak ada, loh."
"Biarkan saja, ayo pulang!" ajak Roy dengan menggandeng tangan Ayesha.
"Roy mengantarkan Ayesha dengan motor Vixion melewati jalanan yang sudah mulai gelap. Rintik gerimis membuat Roy menghentikan motornya di sebuah warung tak berpenghuni di tepi jalan. Membuka jaket jeans berwarna biru navy dan memakaikan di tubuh Ayesha. Tinggallah kaos putih bergambar syaoran tokoh anime Tsubasa Reservoir chronicle yang masih setia membalut tubuh Atletisnya.
"Sepertinya baju itu kekecilan?" ucap Ayesha dengan bibir bergetar menahan hawa dingin.
"Tapi ini baju kesayangan. Pemberian orang terkasih," balasnya dengan tersenyum lebar.
"Kado ulang tahun tiga tahun lalu," tambah Ayesha dengan terkekeh.
"Iya, sebelum kau sesibuk sekarang," ucapnya dengan tersenyum pahit.
"Kau menyindirku?" Ayesha mengikut tangan Roy dengan mengerucutkan bibir yang bergetar.
"Sedikit," ucapnya dengan terkekeh dan kedua tangan bersedekap memeluk tubuhnya.
Cukup lama mereka menunggu dengan obrolan kecil. Roy sangat senang hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya.
Bersambung ….