Belajarlah untuk mendengarkan penjelasan orang lain. Agar kamu tidak menyakiti dirimu sendiri dengan semua asumsi burukmu. Yuliana_Yustian.
Menjadi seorang perempuan yang cantik dan memiliki tubuh yang molek adalah impian setiap kaum hawa. Tetapi, itu tidak menjadi landasan bahwa kita akan benar-benar mendapatkan kebahagiaan.
Ayesha Maharani, sejak kecil dia selalu menjadi mojang Bandung. Dari sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dia mengikuti kontes mojang jajaka dan dia selalu menjadi pemenang di setiap kontes kecantikan. Dari sanalah dia bercita-cita menjadi seorang model. Tetapi, hal itu tidaklah mudah. Lahir dari keluarga yang terpandang dan memiliki ayah dan saudara yang berprofesi sebagai pendidik. Membuat dia kesulitan mencapai mimpinya.
Hanya ada satu pria yang selalu mendukung mimpinya. Yaitu, Roy Atmadja. Sejak duduk di kelas satu SMA mereka menjalin hubungan sampai sekarang. Roy adalah seorang ketua OSIS yang banyak dikagumi kaum hawa. Dia tampan, baik dan begitu ramah hingga sekarang. Saat mereka menjadi seorang mahasiswa pun pesonanya tidak pernah pudar.
Selain Roy dia juga memiliki sahabat yang membantu meluncurkan mimpinya. Teman baik sejak duduk di bangku SMP yang bernama Katarina. Dia yang akan membantu mencari alasan agar bisa lepas dari pengawasan Rudi.
Sejak dari pertama terjun ke dunia modeling Rudi menentang keinginan Ayesha. Hingga pada akhirnya, dia menyetujui dan memberikan kelonggaran asalkan dia mau menjadi Asdos seorang dosen muda yang tampan dan hari ini Ayesha kembali berdebat.
Membenamkan wajah di balik bantal yang empuk dengan terus menangis. Menumpahkan kekecewaan pada kepada orang tua yang tidak pernah mendukung mimpinya.
"Apa salahnya menjadi model? Apa hebatnya menjadi dosen? Bukankah setiap orang memiliki hak? Tidak ada yang berhak mencabut hak manusia bukan?" Ayesha terus menggerutu dengan keegoisannya. Begitulah Ayesha selalu menyimpulkan sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain.
"Aku benci Abi! Aku benci! Huu … huu …," tangisnya semakin lirih terdengar.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu cukup nyaring terdengar. Tetapi tidak membuat Ayesha beranjak. Dia masih tengkurap menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang sudah basah dengan air mata.
Nada suara yang sama kembali terdengar. Membuat Ayesha geram dan marah.
"Aku tidak mau berbicara, tidak mau makan, aku akan pergi dari rumah ini jika kalian terus melarangku!" teriak Ayesha di dalam kamarnya.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan duduk di tepi ranjang. Menghadapi Ayesha tidaklah mudah. Sikapnya sangat keras kepala dan sulit menerima masukan dari orang lain.
"Aku tidak melarangmu untuk pergi. Silahkan saja. Lagi pula, aku masih memiliki anak satu lagi." Rani berbicara dengan nada yang tenang. Hanya wanita ini yang bisa menangani sikap Ayesha. Ia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang Ayesha.
"Ya, kalian memang tidak pernah menyayangi aku!" sela Ayesha dengan tetap menangis.
"Meski kami menyayangi kamu dan mengorbankan semua milik kami untukmu. Kamu tidak akan menghargainya, Aya. Bukankah kau sudah hebat dan kami hanya orang yang tidak berguna bagimu? Jadi bunuh saja Abi dan Umi agar kamu bisa menjadi model go internasional," sindirnya dengan nada sinis.
Mendengar kata-kata Rani membuat Ayesha terdiam dan semakin mengeraskan tangkisan. Ayesha memang keras kepala tapi di juga orang yang mudah tersentuh hatinya.
"Bukan begitu, umi," lirihnya dengan mengangkat wajahnya yang bersembunyi di balik bantal dan beranjak duduk.
"Bukankah kau selalu bilang. "Di dunia yang egois hanya orang paling egoislah yang menang." Rani berkata dengan memeragakan gaya angkuh Ayesha dengan mengibaskan rambut yang disanggul rapi sehingga membuat Ayesha menarik sudut bibir membentuk senyum tipis.
"Umi, ih …," rengeknya dengan memukul tangan Rani pelan.
"Bagaimana rasanya menjadi model go internasional?" godanya dengan menyilangkan kaki dan bersila di atas kasur anaknya.
"Aku belum menjadi model go internasional," kilah Ayesha.
"Oh, belum jadi. Kirain sudah. Ko sudah ribut-ribut, sih?" cibir Rani dengan melirik sinis.
"Umi," rengek Ayesha.
"Iya?"
"Bantu, Aya," ucapnya dengan menggoyang tangan Rani.
"Maaf , Aya. Umi sudah tua tidak bisa menggantikan kamu menjadi model. Yah, memang umi masih sangat cantik," ujarnya dengan merapikan sanggulnya yang sama sekali tidak berantakan.
"Ih, bukan itu," rengek Ayesha.
"Apaan sih!" Rani menopang kedua tangan meletakan di dagu dan mendekatkan wajah pada Ayesha.
"Bantu bicara sama Abi, yah?" Ayesha menyandarkan kepalanya di bahu Rani. Sejak dulu Rani memposisikan dirinya sebagai ibu dan juga teman agar anaknya lebih nyaman dan terbuka.
"Sudah."
"Terus, apa kata Abi?" tanya Ayesha antusias dan memiringkan kepala menatap lekat wajah Rani.
"Boleh, asal kau sudah menikah dengan Roy," sahut Rani singkat padat dan jelas.
"Umi, mah. Aya kan belum ingin menikah!" tolaknya dengan merengek.
"Ay, seorang ayah tidak akan pernah tenang anak gadisnya berada jauh dari pantauannya. Jadi, buatlah ayahmu tenang di usia yang sudah rentan. Ay, dengarkan penjelasan orang lain sebelum kamu pergi karena berbeda pendapat. Berhentilah, menjadi egois. Karena ini bukan dunia egois, Aya," tutur Rani memberi wejangan pada anaknya dan mengelus rambut panjang putri sulung.
"Baiklah, Aya, setuju," ucapnya pasrah.
"Oke? Kita sepakat, yah!" Rani mengulurkan tangan hal itu membuat Ayesha terkekeh. Ibunya selalu bisa membuat suasana hati orang lain menjadi lebih baik.
"Deal," ucap Ayesha dengan menyambut uluran tangan Rani. Sehingga mereka bersalaman.
"Katakan pada Roy agar dia datang bersama orang tuanya Minggu depan," ucap Rani.
"Roy, pasti senang. Sudah setahun yang lalu dia ingin melamar Aya, umi," ucap Ayesha dengan menunduk malu-malu.
"Siapa yang tidak mau dengan anak umi yang camblohay ini," balas Rani dan menjawil kedua pipi anaknya yang sedang bersemu merah.
"Apa itu camblohay, umi?" Ayesha menautkan kedua alisnya yang tebal.
"Masa nggak tahu, sih. Kamu kalah gaul sama umi," cibirnya.
"Apaan sih?" rengek Ayesha penasaran.
"Cantik dan bohay, haha," balasnya dengan tertawa.
"Umi bisa ajh!" desis Ayesha.
"Bisa jadi, jadi apa, plok plok plok," balas Rani dengan tertawa.
" Itu pak Tarno, umi! Aya, sayaaang umi," ucapnya memeluk Rani dengan manja.
"Umi juga sayang kamu, nak. Jadi dengarkan umi. Ingat, Aya. Kita ini darah Sunda. Jangan serahkan mahkotamu sebelum kau benar-benar halal. Bertunangan bukan berarti dia berhak setengah tubuhmu. Pria yang baik tidak akan menyentuh calon istrinya. Karena, mereka akan sangat menjaga kehormatan calon istri. Lebih baik kau putuskan ia jika meminta hal itu. Pria yang berani menyentuh perempuan sebelum menikah. Tidak menutup kemungkinan akan menyentuh wanita lain saat kau menjadi istrinya," jelas Rani dengan mengusap pucuk kepala Ayesha yang sedang memeluk tubuhnya.
"Ayesha, akan jaga kehormatan seperti Aya menjaga nama baik keluarga ini," balas Ayesha dengan melepas pelukan dan menatap lekat wajah ibunya yang sudah banyak memiliki garis halus di balik wajahnya yang masih terlihat cantik.
"Anak pintar, sekarang jadi kaburnya?" goda Rani dengan mencubit pelan hidung mancung putrinya.
"Iih, umi," rengek Ayesha.
"Sekarang minta maaf ke Abimu, nak," titah Rani.
"Tapi, umi, Abi masih marah sama Aya."
"Tidak ada orang tua yang benar-benar marah, Aya. Ayo, umi antar. Pasti kamu malu, kan? Hayo ngaku!" goda Rani.
"Umi, ih!" sungut Ayesha.
Ayesha berjalan di balik tubuh Rani. Rudi adalah ayah yang tegas dan berwibawa. Berbeda dengan Rani yang lebih santai menghadapi kedua anaknya. Berjalan menuju ruang keluarga menghampiri Rudi. Semenjak menjadi model Ayesha sering bertengkar dengan Rudi. Padahal dulu, mereka cukup dekat. Cita-cita Ayesha seperti membuat jarak diantara mereka semakin jauh. Meski begitu Ayesha tidak peduli. Menjadi model go internasional adalah pilihan hidupnya dan tidak bisa diganti dengan apapun.
"Abi?" panggil Ayesha lirih dan masih berdiri dengan jarak satu meter dari Rudi.
"Duduklah," titahnya. Ayesha duduk dengan jarak cukup jauh dari Rudi. Suasana menjadi tegang dan terasa mencekam bagi Ayesha.
"Maaf, Abi. Tadi, Aya telah bicara dengan nada tinggi," sesalnya dengan menunduk.
"Ya."
"Abi?"
"Hemmm." Hanya gumaman yang terdengar.
"Terimakasih, sudah mengijinkan, Aya," ucapnya tulus.
"Tidak juga," sahutnya acuh.
"Ngeteh dulu, biar suasana hati jadi lebih baik. Kata iklan sih, katanya habis ngeteh bicara jadi lebih mudah," sela Rani menyimpan tiga cangkir teh dengan terkekeh.
"Umi." Rudi melirik sinis.
"Umi hanya sedang belajar iklan, Abi. Kali ajah bisa go internasional," godanya dengan melirik Ayesha dan kembali ke dapur.
"Ayesha, tidak semua yang kau inginkan bisa didapatkan. Berhentilah, bersikap egois. Ambisimu mungkin akan merusak hidupmu kelak. Jika tidak bisa menjadi kenyataan maka tugas manusia hanya bisa berlapang d**a," ujar Rudi tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
"Tapi Abi. Bukankah jika kita memiliki mimpi harus diraih sampai dapat? Dan, aku ingin menjadi model yang bersinar. Jadi, Aya tidak akan menyerah, " sahut Ayesha dengan semangat yang membara.
Rudi hanya menghembuskan nafas panjang menghela nafas berat. Mencoba memahami jiwa muda anaknya.
"Itu bagus, Aya. Memang, kita harus mengejar mimpi kita dan bekerja keras untuk mendapatkan itu. Tapi, bukan berarti kau menjadi orang yang Ambisius. Hidup bukan hanya mengejar mimpi Aya. Tapi coba kau pikirkan orang didekatmu." Rudi mencoba berbicara dengan tenang. Semakin dia keras dan menentang Ayesha akan semakin memberontak.
"Maksudnya, Abi?"
"Apa kamu memiliki waktu untuk keluarga dan kekasihmu, Roy? Abi rasa kau terlalu Ambisi hingga kau tidak memiliki waktu untuk orang lain, Ayesha," ujar Rudi dengan menatap lekat wajah anaknya yang terdiam.
Bersambung