Kita hanya bisa membenci atas perlakuan tidak adil orang lain pada kita. Tanpa kita bertanya apa alasan mereka. _Yuliana Yustian.
Kehidupan bukanlah sebuah jalan tol yang selalu lurus tanpa hambatan. Tetapi hidup bagaikan jalan menuju puncak gunung. Demi menikmati keindahan dan kesejukan puncak. Kita harus melewati jalan yang berliku dan beberapa jalan yang naik turun. Bahkan tidak jarang demi mencapai puncak ada yang jatuh ke jurang. Begitu pula sebuah kehidupan. Tidak selamanya berjalan mulus.
Menikmati sarapan dipagi hari dengan khidmat. Tidak ada roti ataupun selai kacang. Yang ada hanyalah nasi putih, sayur bening, dan lalapan yang tidak pernah ketinggalan menghiasi meja makan. karena, lalapan adalah khas daerah Pasundan. Keluarga ini sangat sederhana. Bukan karena berasal dari keluarga yang tidak cukup. Tetapi, pak Rudi memang mengajarkan anaknya hidup dengan kesederhanaan. Bahkan Ayesha adalah seorang asisten dosen, model dan juga pemilik cafe di ibu kota.
"Ayesha, sebentar lagi kamu skripsi. Sebaiknya melanjutkan S2 di Bandung," ujar Pak Rudi pada anak sulungnya ketika ia sudah selesai menikmati sarapan.
"Abi, karirku di dunia model sudah semakin membaik. Dan, Aya bercita-cita ingin menjadi seorang model go internasional," jelas Ayesha dengan masih duduk dengan menunduk hormat. "Aya juga harus mengurus bisnis di Jakarta," tambahnya dengan masih menunduk.
"Tidak. Abi mau kamu menjadi dosen yang hebat," ucapnya dengan nada tegas.
"Tapi, Abi .…"
"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus menjadi dosen terbaik," selanya. Sorot matanya tajam seakan mengintimidasi.
"Abi, selama ini aya selalu menurut. Dan, bukankah Abi tahu sampai saat ini, aya masih menjadi Asdos sesuai keinginan Abi. Sekarang, ijinkan anakmu ini melebarkan sayap di dunia modeling," jelas Ayesha dengan mengupas apel merah di tangan.
"Sudah cukup kamu main-main! Abi sudah mengalah dulu. Sekarang kamu yang harus menurut pada Abi! Lagipula, untuk apa kamu memiliki cita-cita yang menjual tubuhmu!" bentak Rudi dengan mendorong piring yang masih tersisa nasi yang berada di hadapannya.
"Aku bukan wanita malam Abi yang menjual tubuh. Bisakah, tidak mengatakan hal yang rendah. Model bukan menjual tubuh." Ayesha menaikan nada bicaranya satu oktaf.
"Sama saja, Aya. Bukankah kau menjual foto tubuhmu? Apa bedanya!" bentak Rudi dengan memegangi dadanya yang mulai terasa sakit.
"Minumlah, Abi." Altaf memberikan satu gelas air putih penuh khawatir dan segera diminum oleh Rudi.
"Cukup, Abi. Cukup!" Ayesha berteriak. Tidak terima ucapan orang yang sudah membesarkannya. "dunia modeling tidak seburuk yang abi pikirkan. Kami tidak menjual tubuh, Abi!" teriak Ayesha dengan menyimpan pisau di meja dengan sangat keras. Rani dan Altaf hanya bisa melanjutkan makan yang sudah terasa hambar. Mereka tidak akan ada yang berani menyela atau memisahkan kedua orang yang memiliki karakter yang sama-sama keras.
"Lancang kamu, Aya. Beraninya berteriak di depan orang tuamu. Ini yang abi takutkan pergaulan yang tidak sehat!" hardiknya dengan menatap tajam Ayesha.
"Aku akan melanjutkan pendidikan S2 di Jakarta dan tetap melanjutkan cita-citaku. Aku juga akan tetap menjadi dosen sesuai keinginan Abi dan Umi. Aku harap, bisa diberi pengertian," ujar Ayesha dengan nada melunak. Ia sadar dengan sikapnya yang tidak memiliki etika.
"Kau akan memberi pengaruh buruk pada mahasiswamu. Bagaimana bisa seorang model menjadi dosen? Itu mustahil!" Rudi sudah mulai sulit mengatur nafasnya.
"Abi itu terlalu kolot. Banyak artis yang menjadi dosen, dan juga seorang pejabat. Mereka masih bisa memberikan contoh yang baik," pangkas Ayesha.
"Buktinya kamu tidak lebih baik dari mereka. Baru bisa menjadi model sudah berani berbicara berteriak padaku. Apalagi jika go internasional apa kamu akan menginjak harga diri Abimu?" tuduh Rudi dengan nada sinis.
"Aku memang selalu salah dimata Abi. Percuma juga melakukan yang terbaik. Terserah, apa kata Abi, aku tidak peduli." Ayesha beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan meja makan.
"Ayesha!" teriak Rudi. Tetapi Ayesha tidak mengindahkan teriakan Rudi. Ayesha berlari menuju kamar dan membanting pintu kamar hingga terdengar suara keras membuat Rudi terhentak dan dengan reflek mengusap dadanya kembali.
"Astaghfirullah." Rudi beristighfar dengan sikap anaknya yang sangat keras kepala.
"Abi, sabar. Ingat dengan riwayat penyakit Abi." Rani berdiri dan mengusap pundak Rudi dengan penuh kekhawatiran.
"Abi sudah tua, umi. Abi hanya ingin Ayesha menjadi dosen. Dunia model sangat keras, Abi hanya takut ia tidak kuat. Kondisi Abi sudah sangat menurun, umi. Bagaimana jika Abi tidak bisa menjaga Aya lagi," lirihnya dengan mengusap dadanya yang semakin terasa sakit.
"Abi, jangan bicara seperti itu." Altaf memeluk tubuh Rudi. Ia nampak khawatir. Karena ia tahu bagaimana perjuangan sang ayah melawan penyakit. Sedang Ayesha tidak tahu kesehatan sang ayah semakin menurun. Ia terlalu sibuk dengan ambisinya.
"Abi baik-baik saja. Sekarang, kau pergi sekolah Altaf," titah Rudi.
"Ini hari Minggu, Abi. Tapi, jika Abi dan Umi mengijinkan Altaf akan pergi ke sekolah mengikuti ekstrakurikuler," balasnya dengan ragu.
"Pergilah, Nak. Selagi itu untuk kepentingan sekolah," ujar Rani. Altaf berpamitan meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar untuk bersiap.
"Minumlah, Abi," Rani memberikan obat pada suaminya.
"Apa Ayesha kita nikahkan saja, Umi? Rasanya mereka sudah sangat dekat," kata Rudi dengan memegang gelas dan beberapa butir obat di telapak tangan.
"Tapi, mereka baru akan skripsi, Abi. Umi takut jika dinikahkan sekarang akan mengganggu kuliah mereka," ujar Rani.
"Setidaknya bertunangan, umi. Biar Abi bisa tenang meski Ayesha kuliah di Jakarta jika dengan suaminya," jelas Rudi.
"Ya, sudah. Sebelum berbicara dengan Roy sebaiknya kita tanya Ayesha," balas Rani.
"Umi saja. Abi lelah berbicara dengan Aya," keluhnya.
"Sekarang selagi hari libur. Abi istirahat." Rani mengantar suaminya hendak ke kamar.
"Abi tidak sakit, umi! Tidak perlu diboyong begini," protesnya.
"Jangan dikamar, umi. Abi tidak tahan jika berduaan dengan umi di kamar," godanya dengan menatap lekat sang istri.
"Abi, iiih." Wajahnya bersemu merah karena godaan sang suami.
"Di ruang televisi saja, umi," pintanya.
"Apanya di ruang televisi?" tanya Rani dengan nada menggoda.
"Menggodaku?" ucapnya dengan terkekeh. "Abi bahagia memiliki umi selalu bisa merubah suasana hati jadi lebih baik," pujinya.
"Itu tugas seorang istri, Abi," sahutnya dengan tersenyum. "Sekarang duduklah, mau umi nyalakan acara favorit Abi?" tanya Rani saat mereka sudah duduk di sopa menatap televisi yang belum menyala.
"Tidak, kau temani aku saja," pintanya dengan wajah yang tampak lelah.
"Abi, bukankah aku harus berbicara dengan Ayesha? Apa Umi menundanya dan menemani Abi sekarang?" tanyanya dengan memilih acara yang biasa dilihat suaminya.
"Tidak baik menunda hal penting, pergilah untuk berbicara dengan anak kita," titahnya dengan nada lembut.
"Baik, Abi. Jika ada sesuatu panggil umi," ucapnya dengan beranjak.
"Jangan perlakukan aku seperti bayi," protes Rudi dan hanya dibalas dengan senyum yang manis dari bibir Rani.
Bersambung