Dava bersemangat saat hendak bertemu dengan Abelard. Ia datang lebih dulu saat lelaki paruh baya itu mengirimkan alamat. Lelaki bermata elang itu lebih memilih menunggu di pelataran Kafe. Boleh saja raganya berada di sana, namun pikirannya kembali ke masa lalu saat usianya menginjak tujuh tahun, satu bulan sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. _Flashback On_ “Kakek! Aku dapat hadiah dari guruku, lihatlah!” Dava kecil berlari ke arah padang rumput yang luas saat Abelard tengah asyik bermain golf. Abelard merentangkan kedua tangannya, untuk memeluk cucu kesayangannya. Kedua tangan mungil itu, membawa kotak berukuran besar yang dibungkus kertas kado. “Wow, besar sekali. Kenapa gurumu kasih hadiah?” tanya Abelard. “Karena aku dapat juara satu. Ayo, kita buka hadiahnya.” Dava berseman

