Yasmin kembali menatap surat gugatan cerai miliknya. Ia pernah melakukan salat istikharah, hingga hatinya bulat untuk membuat surat itu. Namun, sejak mengetahui masalah yang dihadapi Dameer seolah meluruhkan semua niatnya. 'Aku boleh teraniaya. Tapi bukan berarti harus melakukan hal yang sama pada orang lain. Gak pantas kutinggalkan Dameer dalam keadaan rapuh, apalagi sikapnya akhir-akhir ini melunak,' batinnya. Di benaknya teringat ucapan Cici, mau di kemanakan nasib rumah tangga tanpa pemimpin yang kurang didikan agama? Tapi ia yakin, Allah selalu mempunyai cara yang terbaik untuk hambanya, tugasnya hanya menjalankan sebaik-baiknya. Yasmin kembali memasukkan surat itu di laci nakas dan menguncinya. Ia keluar kamar dan tampak Dameer duduk di sofa ruang tamu. Ia melirik jam tangannya.

