Dava mempersilakan Yasmin untuk duduk di sofa. Seperti biasa, ia membuka pintu ruangannya lebar-lebar. Tak lama, seorang pelayan menyuguhkan dua mangkuk bubur, buah-buahan dan minuman. Yasmin tertegun dengan kesigapan pelayan menyuguhkan itu semua. “Aku tau kamu belum makan siang. Sambil ngobrol, sambil makan ya,” cetus Dava “Tapi ... Cici udah belikan aku bubur.” “Udah ku-chat dia agar gak usah beli. Aku bilang sudah membelikannya untukmu. Ayo, dimakan.” Walau bingung, perempuan itu mengangguk dan meraih mangkuknya. “Terima kasih Pak.” Sesaat mereka hening menikmati makanan itu, walau Yasmin hanya sedikit memakannya, lidahnya masih terasa pahit. “Yasmin. Ingat gak penawaranku waktu itu, soal jadi asisten pribadiku?” tanya Dava. Yasmin mengangguk, ia mengingat obrolannya saat mere

