Perkara Jas

1043 Kata
"Jangan terlalu percaya diri, Gracia! Aku tidak se-gabut itu untuk cemburu padamu! Aku hanya mau mengingatkan. Seorang istri pangeran tidak boleh menjalin hubungan gelap dengan laki-laki lain," semprot Edward, kemarahan lelaki itu menggelegak begitu saja. Enak saja Gracia menganggap dirinya cemburu. Itu sangat membuang waktu. Lebih baik, digunakan untuk bermesraan dengan Lacey. Gracia mengangkat sebelah bibirnya. "Baiklah, Tuan. Saya anggap itu sebagai peringatan dari Anda untuk tidak menjalin hubungan dengan laki-laki mana pun." "Bagus," komentar Edward. Lelaki itu kemudian duduk di atas tembok pembatas. Membuat alis Gracia naik sebelah. Apa yang tengah dilakukan oleh Edward? Melirik ke kiri dan kanan. Suasana sepi, seperti biasa. Sebab ruangan Gracia terletak di tengah asrama pelayan yang kanan kirinya tidak dihuni. Seperti berdiam di antara dua rumah kosong. "Anda sedang menunggu Nona Lacey, Tuan?" tanya Gracia, memberanikan diri. Akan aneh kalau Edward bertahan di sini tanpa memiliki tujuan. Mana mungkin lelaki itu duduk hanya untuk menunggunya tidur. Edward bukan pria yang akan bersikap romantis padanya. Memutar bola mata ke atas. Lalu menarik tangan Gracia. Membuat maid cantik tersebut terjatuh dalam dekapannya. Hangat. Itulah yang pertama kali dirasakan oleh Gracia. Mungkin efek dari energi panas yang dihasilkan oleh tubuh kekar Edward yang memerangkap dirinya dalam pelukan menggunakan dua tangan berotot. "A-apa ada masalah, Tuan?" Gracia tidak semudah itu untuk dikelabui. Mana mungkin Edward yang membencinya setengah mati ini, tiba-tiba menempel seperti cicak di dinding. Pasti ada motif di balik tindakannya ini. "Matamu tajam juga," puji Edward. Mungkin, ini pertama kalinya lelaki itu memberikan sanjungan terhadap Gracia. Di hari biasa, Edward pasti mencaci maki. Minimal menatapnya penuh kebencian. "Ada Bunda Ratu," bisik Edward, begitu lembut terdengar di telinga Gracia. Sejenak, gadis itu terbuai oleh pesona Edward. Siapa yang bisa menahan bisikan bernada mesra dari calon suaminya? Rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Tanpa sadar, kedua tangan Gracia melingkar di punggung Edward. Gadis itu tidak memeluk dengan erat. Sekadar menaruh tangannya di sana. "Jangan macam-macam," ucap Edward, memperingatkan. Dia tidak suka kalau Gracia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Gadis itu menggelengkan kepala. "Saya tidak berani, Tuan." "Lalu, ada apa dengan tanganmu itu? Cepat singkirkan dari sana! Atau kau mau aku membuat kedua tanganmu tidak bisa digerakkan lagi?" ancam Edward yang merasa tidak nyaman ketika punggungnya "ketempelan" tangan Gracia. Gracia jadi cemberut. Baru saja dia senang karena akhirnya dapat memeluk punggung seorang pria, kini harus melepaskan dalam hitungan menit. "Bukankah Anda yang meminta saya untuk bertingkah seperti pasangan yang dimabuk cinta ketika ada Bunda Ratu atau Baginda Raja?" Maid itu menatap dalam pada manik Edward. Membuat pangeran tersebut mengembuskan napas dengan keras. "Terserah kau saja," balasnya ketus. Namun yang aneh, Edward makin mengeratkan pelukan. Gracia jadi semakin sulit untuk bernapas. Dia juga grogi karena asetnya menempel sempurna di d**a bidang milik Edward. Bertanya pelan, "Anda modus, Tuan?" "Jangan membuatku marah, Gra!" Edward memperingatkan sambil memperkecil diameter lingkar dekapan tangannya. Dengan kata lain, lelaki itu semakin mengeratkan pelukan. Gracia makin sesak napas. Sudah begitu, Edward seenaknya menempelkan dagu di bahunya. Wajah Gracia semakin memerah. Tangannya yang ada di punggung itu akhirnya mengepal sempurna. Menarik jas kaku yang dikenakan oleh Edward. "Saya ... saya tidak bisa bernapas, Tuan," beritahu Gracia susah payah. Edward membalas ketus, "Bukan urusanku!" "Tidak bisakah Anda mengakhiri semua ini? Atau sedikit melonggarkan pelukan?" tawarnya penuh harap. Lelaki di hadapannya jadi sebal. Dia akhirnya memilih opsi terakhir. Melonggarkan dekapan supaya Gracia dapat menghirup banyak oksigen. Mata Edward lantas mengarah pada di mana bundanya mengawasi. Beliau masih di sana. Entah apa yang tengah dilakukan. "Bisa pegal, lama-lama," gerutu Edward di dalam hati. Sementara itu, Gracia mulai mengantuk. Dia menguap kecil, tak lupa untuk menggosok mata. Menyadari tangan pelayannya tak lagi melingkar di punggung, Edward mengalihkan pandangan pada Gracia. Mendapati gadis itu tengah menahan kantuk. "Maaf, Tuan. Ini jam tidur saya," beritahu Gracia. Edward tidak mau menerima alasan Gracia. "Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus tetap terjaga! Titik, tanpa koma." "Tapi Tuan, saya ... ngantuk," ucapnya lagi. Sambil melingkarkan tangan, Gracia menggesekkan wajahnya di d**a bidang Edward. Memberikan gelitik pada lelaki tampan tersebut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Edward panik. Gracia tidak menjawab pertanyaan dari calon suaminya. Dia malah mengeratkan pelukan. Sejurus kemudian, terdengar dengkuran halus di telinga Edward. "Kau ... sial!" gerutu pangeran kedua Kerajaan Islovaxia. Edward tidak habis pikir. Bagaimana bisa Gracia tidur dengan tenangnya? Padahal dia ada dalam pelukan seorang pria. Mengguncang-guncangkan tubuh Gracia, tapi tidak ada respon berarti. Malah punggung gadis itu seolah tertarik oleh gravitasi. Edward buru-buru menangkapnya sebelum melengkung sempurna. "Dasar," omelnya lagi. Karena sudah seperti ini, Edward tidak punya pilihan lain. Dia langsung menggendong Gracia ke dalam kamar. Kesan pertama baginya adalah rapi. Gracia sangat piawai dalam menyusun barang-barangnya. Tidak ada sesuatu yang berserakan. "Kau sangat cocok menjadi pembersih kastil," gumam Edward sambil mencoba membaringkan Gracia. Ketika lutut lelaki itu menekan kasur, segera saja dia terjatuh karena terlalu empuk. Mendarat empuk di atas Gracia. Akibat guncangan keras tersebut, Gracia membuka mata. Meski samar, dia bisa melihat ada laki-laki yang berada di atasnya. Mana jaraknya sangat dekat. "Aaa!" jeritnya kencang. Edward makin panik. Lengan kirinya pun langsung dipalangkan ke bibir Gracia. Membungkam gadis itu supaya tidak berteriak lagi. "Ini aku," beritahu Edward. Degup jantung gadis itu berangsur normal. Gracia tak lagi sepanik tadi. Sebab dia tahu kalau Edward tidak akan macam-macam. "Apa yang Anda lakukan, Tuan?" tanyanya heran. Edward berdecak sebal. Lelaki itu lantas mengomel, "Salahmu karena tidur di pelukanku. Aku harus repot-repot menyeretmu kemari!" Pipi Gracia langsung merona. "Sa-saya tidur? Saya tidak ngiler, 'kan, Tuan?" tanyanya memastikan. Sungguh, Edward ingin mencekik leher Gracia sekarang juga. Tapi takut kalau diketahui oleh Ratu Lusiana. Mengangkat lengan kirinya. "Nih, hasil karyamu." Jantung Gracia hampir copot karenanya. Dia refleks menutup bibir dengan sebelah tangan. Sangat malu dengan apa yang telah dia torehkan di lengan jas Edward. "Aku mau kau mencucinya sampai bersih. Jas ini harus sampai di kamarku sebelum pukul enam pagi!" Gracia tersentak. Bukan hanya karena deadline yang terlalu mepet, tapi juga tingkah Edward yang membuatnya jantungan. Sebab sekarang, lelaki itu melepaskan jas miliknya. "Oh, kau mau memakainya?" goda Edward sembari menyodorkan jas. Gadis di hadapannya menggelengkan kepala. Edward makin tertarik. "Hukumanmu adalah memakai jas ini hingga pagi. Supaya Bunda Ratu kira, aku peduli padamu." "Tapi, Tuan ..., " "Pilih jasku atau aku yang tidur di sampingmu malam ini, Gracia Arshington?" tawar Edward dengan mata setajam elang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN