Gracia ternganga di tempat. Tidakkah telinganya salah dengar? Edward menawarkan diri untuk tidur di sampingnya? Pria ini serius?
Tak!
"Auw," pekik Gracia ketika tangan Edward menjitak dahinya dengan cukup keras.
Gadis itu asyik mengusap kening ketika Edward menatapnya setajam elang. Edward sangat kesal karena Gracia tidak kunjung menjawab. Malah memberinya tatapan kosong yang lumayan memabukkan.
Bersedekap sambil memicingkan mata. "Jadi, kau mau aku tidur di sini?" tanya Edward.
Gracia menggeleng cepat. "Tidak, Tuan! Saya lebih memilih jas Anda."
Edward seharusnya senang. Namun entah kenapa, dia merasa kalau dirinya tidak lebih berharga dari sebuah jas hitam.
Giginya gemeretuk menahan amarah. Namun dia masih mencoba menahan diri untuk tidak menyakiti Gracia. Akan mengerikan jika Bunda Ratu melongok ke dalam kamar ketika dia menampar Gracia.
Bicara tentang Bunda Ratu, Edward jadi teringat sesuatu. Dia melemparkan jas pada Gracia, lalu melongok ke luar melalui sedikit celah di tirai jendela.
Memusatkan fokus pada tempat di mana tadi Bunda Ratu berada. Lalu, Edward dapat melihat dengan jelas. Ratu Lusiana sedang menuju kemari.
"Sial!" umpatnya pelan sambil berlari.
Gracia yang sedang melipat jas itu pun mengernyit heran. Untuk apa pangeran satu ini kembali? Apa ada sesuatu yang akan terjadi?
"Geser, Gra!" perintah Pangeran Edward.
Gadis itu menurut. Dia bergeser ke kiri. Memberi ruang pada Edward yang dia pikir ingin duduk santai.
Namun perkiraan maid itu salah total. Edward malah berbaring di sampingnya. Tak ayal, Gracia langsung duduk. Tidak ingin tidur berdua bersama Edward.
Edward jadi kesal. Tangannya pun langsung beraksi. Menarik Gracia dalam dekapannya.
"Lepaskan saya, Tuan!" pinta gadis berambut jingga tersebut.
"Diam, Gra! Atau aku akan membuatmu menjadi makanan ringan bagi harimau yang ada di kebun binatang kerajaan!" ancam Edward.
Gracia membulatkan mata ketika mendengar nama hewan satu itu. Sejurus kemudian, tengkuknya meremang. Tanpa ada aba-aba, Gracia balas melingkarkan tangan di tubuh Edward.
Lelaki itu memutar bola matanya ke atas. Dia lalu berbisik, "Tutup matamu, Gra! Ibunda kemari."
Gadis dalam dekapannya itu langsung menatap heran. Edward jadi kesal. Dengan cepat, tangan kanannya menutupkan mata Gracia.
Maid kastil tersebut langsung tidak berani untuk mengubah posisi. Diam di tempat seperti patung. Lucu sekali.
Edward menampilkan senyum tipis. Kemudian turut memejamkan mata. Ingin bertingkah seolah sedang melakukan hal yang romantis bersama Gracia. Padahal sedari tadi, mereka cek cok terus menerus.
Tak lama setelahnya, kamar pintu diketuk perlahan. Edward dan Gracia sama-sama diam. Tidak berani untuk bergerak, apalagi menyahut.
"Apa mereka tidur?" gumam Ratu Lusiana.
Linden yang berada di sampingnya langsung membuka pintu. Karena tidak terkunci, dia bisa melihat apa yang tengah dilakukan oleh kakaknya.
Mengusap muka dengan kasar. "Niat sekali untuk menipu Bunda," bisik Linden di dalam hati.
Sejak lama, dia mengetahui perseteruan antara Gracia dan Edward. Akan sangat tidak masuk akal bila adiknya itu tiba-tiba berubah romantis seperti ini.
Sementara itu, Lusiana mendekat. Dia berjingkat pelan, mengintip wajah mereka. Gracia terlihat sangat natural, sementara Edward menyembunyikan kekakuannya dengan cara memikirkan Lacey.
Hati lelaki itu jadi tenang. Degup jantungnya pun mulai beraturan. Tidak berantakan seperti tadi.
"Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanya Ratu Lusiana di dalam hati.
Dari ambang pintu, Linden bersedekap. Menduga bahwa ibunya tengah membatin tentang kelakuan Edward. Benar saja, perempuan itu tengah mengamati Edward dan Gracia lekat-lekat. Seolah tak ada hal bagus lain untuk dipandang.
Memutar bola matanya ke atas. Linden kemudian melirik arloji yang melingkar sempurna di pergelangan tangan atletisnya. Jika begini terus, mereka bisa terlambat. Linden tidak suka mengulur-ulur waktu.
Terpaksa, dia ikut masuk. Membuat Lusiana menoleh dan melihat putra keduanya yang tengah khawatir.
"Maaf, Bunda. Hraleil dan Louisse pasti sudah menunggu," interupsi Linden.
Ratu Lusiana mengangguk. Tanpa berbicara sepatah kata pun lagi, keduanya meninggalkan ruangan dengan sangat hati-hati. Saat akan menutup pintu, Lusiana menyempatkan diri untuk mematikan lampu.
Begitu suasana berubah gelap, Gracia baru berani untuk membuka mata. Didorongnya Edward perlahan sambil berkata, "Tuan, Bunda Ratu sudah pergi. Anda bisa menyelinap keluar sekarang."
Satu
Dua
Tiga
Hening, tidak ada sahutan. Jantung Gracia mulai berpesta. "Jangan-jangan, Tuan ketiduran," batinnya risau.
Tangan kecilnya pun dia gerakkan untuk mengguncang-guncangkan tubuh Edward. Namun karena tenaganya kalah, lelaki itu sama sekali tidak terusik.
"Aih, konyol sekali. Pasti besok aku yang kena marah karena tidak membangunkan Tuan. Padahal dia sendiri yang tertidur di sini," gerutu Gracia.
Gadis itu beringsut mundur. Menjauhkan diri dari putra ketiga Ratu Lusiana. Kemudian duduk di tepian ranjang sambil mengacak rambutnya.
Gracia cukup pusing dengan tingkah Edward. Sudah berpura-pura romantis, eh, malah ketiduran. Gracia berani bertaruh kalau besok, pagi harinya akan kacau gara-gara calon suaminya ini.
"Aku tidur di mana, nih?" gumamnya pelan sembari bangkit. Mengambil satu bantal dan selimut yang masih tergeletak di samping ranjang.
Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan alternatif tidur oleh Gracia. Hanya saja, dia bingung harus di mana. Seperti disuruh memilih antara beberapa pilihan yang akan menentukan nasibnya ke depan.
Menggaruk kepalanya perlahan. Mendengar dengkuran halus dari Edward yang lumayan mengusik indra pendengarannya.
Gracia menghentikan langkah. Dia membatalkan rencana untuk tidur di sofa. Pasti dia tetap dapat mendengar dengkuran Edward. Itu akan membuatnya sulit tidur.
"Sofa enggak bisa, di dapur enggak ada tempat. Sofa dekat cermin, sama aja dengar suaranya Tuan. Masa harus tidur di bathup," celotehnya sendirian.
Mengembuskan napas dengan kencang. Dia sangat sebal dengan apa yang telah dilakukan oleh Edward. Meski tidak sengaja, lelaki itu tetap telah merugikan dirinya. Dasar pria menyebalkan!
"Eh, bentar. Aku sama dia enggak bakal tidur satu kamar, 'kan? Bagus, tuh. Lumayan, telingaku enggak akan keganggu," monolog Gracia sembari menyinggungkan senyum.
Raut wajah yang semula kesal itu pun berubah cerah. Dengan cepat, Gracia berjalan menuju kamar mandi. Sebelum melangkah ke dalam bathub, dia menyentuhkan tangannya ke sana terlebih dahulu.
"Brr," ucap Gracia ketika merasakan ada air di dalam bak mandi.
Gadis itu menggerutu di dalam keremangan. Lupa kalau tadi sore, dia mengisinya hingga penuh. Karena sudah begini, dia tidak punya pilihan lain.
Gracia kembali ke sofa. Ketika bantalnya baru saja mendarat, dia dikejutkan dengan suara langkah kaki.
"Nggak mungkin kalau itu penjaga istana," batinnya panik.
Maid cantik tersebut bergegas mengambil bantalnya lagi. Lalu membaringkan diri di samping Pangeran Edward. Tak lupa untuk melingkarkan tangan kekar itu di punggung.
Mata Gracia terpejam sempurna. Ada pun jantungnya berdegup tidak karuan. Dia takut kalau ternyata Ratu Lusiana kembali untuk mengecek.
"Ah, semuanya gara-gara pria menyebalkan ini!" omel Gracia di dalam hati.
Pintu kembali dibuka. Cukup lama Gracia menunggu untuk ditutup kembali. Namun, keinginannya tak kunjung terkabul. Tanpa sadar, Gracia jatuh tertidur.