Pagi yang Kacau

1040 Kata
"Apa yang kau lakukan di sini, Gracia Arshington?!" Suara bariton milik Edward menggelegar. Menyebar ke seluruh penjuru ruangan hingga membuat debu-debu halus serempak merontokkan diri dari dinding. Membiarkan suara Edward menyentuh permukaan tembok yang rata dan halus. Gracia mengucek mata dengan malas. Tangannya langsung meraba-raba keadaan sekitar. Namun seperti ada yang aneh. Tangan kirinya itu seperti sedang memeluk sesuatu. Ada pun aset bagian depannya terasa sakit karena menyentuh sesuatu yang keras. Membuat Gracia penasaran dan membuka matanya perlahan. Samar, netra jingga gadis itu melihat ada kemeja yang ada tepat di bawahnya. Tapi kalau hanya kemeja, pasti asetnya tidak akan sakit. Gracia menaikkan pandangan. Napasnya tercekat ketika melihat wajah Edward yang segarang macan. Dia terlihat seperti eksekutor yang siap melancarkan hukuman mati pada terpidana. "Aaa!" jeritnya kaget sembari terlonjak. Maid tersebut duduk di atas peraduan sembari menyilangkan tangan di depan dadanya. Dia sungguh malu karena berada di atas Edward. Ini masih pagi, tapi sudah ada masalah yang datang menghampiri. Nanti siang, entah apa lagi. Gracia tidak sanggup membayangkan semua itu. Brakk! "Kau baik-baik saja?" Atensi Gracia dan Edward langsung teralihkan pada pintu kamar yang dibuka secara kencang. Bahkan, lebih terlihat seperti didobrak. Pelakunya adalah Pangeran Keith. Kebetulan lelaki itu hendak pergi ke istal kuda. Satu-satunya jalan adalah melewati asrama pelayan. Ketika berjalan dengan tenang sambil bersiul, dia mendengar jeritan yang cukup kencang dari kamar Gracia. Tanpa pikir panjang, lelaki itu membuka pintunya dengan kencang. Bukannya meredakan keterkejutan Gracia, Keith malah dihadiahi sebuah kejutan yang cukup membuat jantungnya jedag-jedug tidak karuan. Tangannya menggenggam kenop pintu dengan erat, sementara matanya melihat Edward yang berbaring dengan tenang di atas peraduan. Ada pun Gracia berada tak jauh dari adiknya itu. Melihat tangan yang disilangkan, pikiran Keith berkelana ke mana-mana. Makanya sekarang, mereka bertiga saling memandang dengan mata yang membelalak sempurna. Edward menyeringai. Dia lalu menarik tangan Gracia. Membuat gadis itu kembali memekik dan terjatuh ke atas tubuh calon suaminya. Keith menggeretukkan gigi. Sangat kesal dengan peristiwa yang ada di hadapan matanya. Daripada makan hati di sini secara terus-menerus, Keith memilih untuk pergi. Membanting pintu dengan keras. Menimbulkan bunyi debam yang membuat Gracia berjengit. Bahunya bahkan sampai hampir mencapai telinga. Namun mata perempuan itu tidak lepas dari Keith. Terus menatap kepergian lelaki tampan tersebut. Melihat itu, Edward jadi kesal. Tangannya mencengkram lengan Gracia dengan erat. Bahkan, sampai membuatnya memekik kesakitan. "Sa-sakit, Tuan," ucap gadis itu sambil berusaha menjauhkan tangan kekar Edward. Pangeran ketiga memutar bola matanya ke atas. Dia lantas mengempaskan Gracia ke samping. Tubuhnya pun kembali terjatuh ke atas kasur. Berkata garang, "Ini masih pagi dan kau sudah membuatku marah? Dasar pelayan rendahan!" "Maaf, Tuan," sesalnya sambil mengusap-usap lengan yang sakit akibat cengkeraman Edward. Lelaki di sampingnya kemudian duduk. Pandangannya terfokus pada sebuah titik di ujung ranjang. Membuat kekesalannya semakin memuncak. "Gra!" sentak Edward lagi. Gadis berambut jingga refleks menutup kedua telinga. Edward sungguh mengerikan saat masuk mode elang pemburu. Sorot mata tajamnya itu sukses menghancurkan pertahanan yang telah dia buat. Edward menarik Gracia hingga duduk berhadapan dengan dirinya. Sekarang, gadis itu tidak berani mendongak. Hanya menunduk, menatap penuh ketakutan pada seprai warna putih. "Tadi malam, aku baru saja memberimu perintah, dan kau melupakannya begitu saja? Kau keterlaluan, Gra!" sentak Edward lagi. Gracia kebingungan. Perintah mana lagi yang dimaksud oleh Edward? Jujur, otaknya sulit untuk menggali informasi karena dia baru saja bangun. Sudah begitu, ada sederet peristiwa mengejutkan. Otaknya jadi tambah macet. "Kau lupa?" Suara Edward meninggi. Bahkan mungkin, nyaris sama dengan tadi yang pertama didengar oleh Gracia hingga terbangun dari tidur lelapnya. "Maaf, Tuan. Saya tidak ingat," jawabnya jujur sambil terus menunduk. Tidak punya keberanian untuk mengangkat wajah. Edward mendengus kesal. Dia sudah menduganya sejak tadi. Bahkan, Gracia melupakan dua hal sekaligus. Haruskah dia mengulangi apa yang telah dia katakan tadi malam? Baiklah, kalau ini yang Gracia mau. Edward akan menjelaskan lagi. Tapi, sebaiknya mulai dari mana? "Bukankah kau janji akan mencuci jas milikku, Gra? Kenapa masih terlipat dengan rapi di sana?" Pandangan Edward berubah lebih tajam. Gracia mereguk saliva. Kepalanya menoleh pada jas yang ada di sudut ruangan. Sesat setelahnya, dia baru berani memandang Pangeran Edward lagi. Gracia mengatur napas, sementara lelaki itu tidak sabar untuk mendengar alibi yang akan dilontarkan oleh Gracia. "Su-sudah saya cuci, Tuan," balasnya takut-takut. Edward menatapnya tidak percaya. Lelaki itu lalu mencondongkan tubuh ke depan. Gracia berinisiatif untuk mundur, namun Edward menahan. Napas Gracia serasa terhenti ketika Edward begitu dekat dengannya. Namun dia bersyukur karena lelaki itu tidak berbuat macam-macam. Hanya mengambil jas yang terlipat rapi di sudut peraduan. Jantung Gracia berdegup dengan kencang ketika Edward mulai membentangkan jas hitamnya yang kaku. Mata lelaki itu kemudian memindai seluruh bagian dari jas. Melihat tidak ada noda yang tersisa. Noda yang Edward maksud adalah air liur milik maid menyebalkan satu ini. Namun dia tidak melihat ada apa pun di sana. Sudah bersih dan secara samar, terhirup aroma lavender. Untuk memastikan, lelaki itu mendekatkan hidung. Mengendus jas miliknya di hadapan Gracia. Membuat pipi perempuan tersebut mulai bersemu merah. Gracia membayangkan kalau Edward tengah mengendus dirinya. "Kenapa kau tidur di sampingku?" tanya Edward kemudian. Gracia langsung tersadar dari lamunannya. Dia kemudian menjawab, "Saya berencana tidur di sofa setelah meletakkan jas. Tapi Anda menarik saya, Tuan." Edward tersentak. Matanya sampai melotot, seperti orang yang sedang tersedak saat makan. "Ada lagi yang ingin Anda tanyakan, Tuan? Saya harus bersiap-siap untuk membersihkan istal kuda," tanya Gracia, hendak pamit undur diri. Lelaki di hadapannya diam membisu. Gracia menganggap kalau Edward sedang berpikir. Makanya dia menunggu dengan manis. Mengamati wajah tampan milik calon suaminya. Dia terlihat sangat menawan saat diam seperti ini. "Ck! Apa yang kau lakukan?" sentak Edward, membuat Gracia terlonjak. "Em, ma-maaf, Tuan. Saya hanya menunggu apakah ada lagi yang ingin Anda sampaikan atau tanyakan," jawabnya gugup. Gracia jadi berpikir. Apakah keputusannya salah untuk menunggu jawaban dari Edward? "Cepat pergi dari hadapanku! Aku muak melihatmu terus-terusan, Gra!" perintah Edward tanpa memikirkan perasaan Gracia sedikit pun. Gadis bersurai jingga agak terkejut. Namun dia berusaha untuk menguasai diri dan langsung turun. Menjauh dari sumber masalah yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai suaminya. Segera saja, dia membuka pintu almari. Mengambil beberapa pakaian sebelum menyambar handuknya dan pergi ke kamar mandi. Edward melotot saat matanya disuguhi oleh barang khas wanita yang bentuknya seperti kacamata. Dia berteriak kencang, "Tutup lemarimu, Gracia Arshington! Atau aku akan mencekikmu saat ini juga!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN