Istal

1050 Kata
Udara terasa begitu panas. Membuat Gracia mengelap keringatnya meski hari masih pagi. Sudah begitu, aktivitasnya hari ini cukup berat. "Akan enak kalau ada kipas raksasa," gumamnya sambil terus menyapu. Ada begitu banyak debu yang minta diperhatikan. Belum lagi setelah ini, dia harus membuang kotoran kuda. Pekerjaan seolah tidak ada habisnya. Gracia hanya bisa bersabar. Setelah menikahi Edward, dia tidak akan lagi bersentuhan dengan yang namanya kotoran kuda. Sebab jujur saja, meski Gracia telah menangani hal ini bertahun-tahun, dia tetap tidak menyukai kotoran kuda. "Paling mentok, aku disuruh masak atau bersih-bersih kastil. Harusnya enggak separah ini," celotehnya lagi. Tak lama setelah itu, dia mendengar suara derap kuda yang mendekat. Gracia tidak menoleh. Perempuan cantik itu hanya menyingkirkan diri ke pinggir. "Kebagian tugas, Gra?" Pertanyaan lembut itu membuat Gracia menoleh. Menemukan Pangeran Keith yang terlihat mempesona di atas kuda kesayangannya. Dia sepertinya sudah selesai mengitari area istana. Menjawab cepat, "Iya, Tuan." "Sudah selesai urusanmu dengan adikku?" selidiknya lagi. Mendengar hal itu, memerahlah pipi Gracia. Sebab dia jadi teringat akan keusilan Edward. Menariknya kembali ke dalam pelukan hanya demi membuat Keith berputar balik. Melihat semburat merah di pipi, Keith tidak memiliki alasan untuk mendesak Gracia lebih jauh. Dia tahu kalau urusan maid itu dengan Edward telah selesai. Entah diperpanjang atau tidak, Keith tak peduli sama sekali. "Apa kegiatanmu hari ini setelah membersihkan istal?" tanyanya sambil mengedar pandang. Di dalam sini, tidak hanya ada Gracia. Terdapat beberapa maid lain yang kebagian tugas mengurus istal. Dijadwalkan setiap dua minggu sekali. Gracia berpikir sebentar. "Tidak ada, Tuan. Sebab saya diminta untuk pergi menemui Madmoiselle Louisse." "Untuk membicarakan baju pernikahan?" tebak Keith. Lelaki itu turun dari kuda kesayangannya. Namun pandangan Keith tidak lepas dari wajah cantik Gracia. Seolah menjadi candu bagi lelaki jomblo seperti dirinya. Dia ingin menikmatinya sebelum Edward resmi memiliki Gracia. Bagaimana pun, Keith sadar diri. Dia hanya pangeran dari istri kedua Raja Frederick. Harus menjaga perilaku supaya tidak kena tendang dari istana. Bercanda, Frederick Arshington tidak sekejam itu dalam menjatuhkan hukuman. Kecuali kalau putranya benar-benar keterlaluan. Maka hukuman pengasingan bisa melayang, mendarat sempurna di meja hijau. "Sepertinya bukan, Tuan," balas Gracia sambil mengingat-ingat. Keith menaikkan sebelah alis sambil mengelus surai kuda kesayangannya. Menanti jawaban apa yang akan meluncur dari bibir ranum Gracia. "Tentang ulang tahun Pangeran Linden, Tuan. Kami akan mengungkapkan rencana pernikahan di malam ulang tahun beliau," jelas Gracia. Pangeran Keith mengangguk paham. Dia lantas menuntun kudanya menuju ke dalam kandang. Ada pun Gracia kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Rasanya tidak enak ketika dia malah mengobrol selagi maid lain bekerja. *** Selesai dengan pekerjaannya, Gracia keluar dari istal. Bermaksud untuk membersihkan diri untuk kedua kalinya hari ini. Setiap kali mendapat jatah membersihkan kandang kuda dan kotorannya, Gracia mandi lagi. Terasa ada yang kotor kalau tidak mandi lagi. Itu mungkin cuma perasaannya saja, tapi sangat menggangu aktivitasnya jika tidak dilakukan. "Sudah selesai, Gra?" Gracia tersentak. Dia kemudian menaikkan pandangan. Menemukan Pangeran Keith yang menunggunya sambil bersedekap di depan dinding istal. "Su-sudah, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan. Pangeran Keith tersenyum, lalu menggelengkan kepala. Pertanda tidak ada hal yang ingin dia minta dari Gracia. Maid tersebut terlihat kebingungan. Keith jadi gemas. Tangannya pun terulur. Mengacak-acak rambut Gracia dengan gemasnya. "Ja-jangan, Tuan," protesnya lirih sambil menunduk. "Kenapa?" tanya Keith sembari menghentikan aktivitasnya. Semula, Gracia ragu untuk menjawab. Namun akhirnya dia angkat bicara, "Saya bisa kena marah Tuan Edward." Wajah Keith berubah serius. Sekarang dia tahu mengapa adiknya itu ada di kamar Gracia pada pagi hari. Pasti dia di sana untuk menghukum Gracia. "Aku tidak peduli. Toh Edward tidak menyukaimu," balas Keith, menyatakan ketidaksetujuannya. Kepala Gracia pusing tujuh keliling. Mengapa dua pangeran itu sangat keras kepala? Mungkinkah itu turunan dari Raja Frederick? Pasti begitu. Sebab menurut Ratu Lusiana, Raja Frederick adalah pribadi yang keras kepala dan tidak mau mengalah terhadap orang lain. Tapi parahnya, kenapa sifatnya itu malah menurun pada Edward dan Keith? Kan Gracia jadi pusing menangani kedua putra Frederick. "Terserah Anda, Tuan. Permisi," balas Gracia sembari melangkah pergi. Keith berlari kecil untuk menyusul. Keith lalu mensejajarkan langkah, membuat Gracia otomatis memelankan laju jalannya. Gracia tidak ingin berjalan di depan seorang pangeran. Itu hal dasar yang diajarkan untuk maid istana. "Kenapa kau cosplay jadi siput begitu? Tak apa, jalan saja di sampingku," ujar Keith yang tidak mau Gracia berjalan di belakangnya. Gadis itu menggelengkan kepala. "Nanti saya bisa kena hukum Madame Varlesse." Keith tertawa. "Tidak akan ada yang berani menghukummu. Atau, perlu kubicarakan langsung dengan Madame Varlesse?" tawarnya kemudian. Gracia langsung menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Apa Pangeran Keith sungguh ingin dirinya berada dalam masalah lagi? Bagaimana kalau berita ini sampai ke telinga Pangeran Edward? Pasti urusannya berbuntut panjang. "Aku memaksa, Gra," ujar Keith lagi. Supaya gadis itu tidak lari, dia memutuskan untuk menggandeng tangan Gracia. Maid tersebut berusaha menolak, akan tetapi Keith tetap pada pendiriannya. Dia ingin Gracia berjalan di sampingnya. "Hei, murahan!" seru seseorang dari depan sana. Baik Keith mau pun Gracia tersentak. Keduanya sama-sama memusatkan fokus pada perempuan yang berteriak dari kejauhan. Dilihat dari mana pun, itu pasti Lacey. Genggaman tangan Keith pun semakin kencang. Ingin rasanya dia meninju Lacey. Sayangnya, Lacey seorang perempuan. Keith tidak ingin menyakiti seorang wanita pun secara fisik. "Abaikan saja, Gra," saran Keith sembari menarik tangan Gracia untuk pergi. Keduanya menghindari Lacey. Menemui perempuan itu sama saja dengan mencari masalah. Keith tidak suka kalau Gracia terlihat dalam perseteruan. Maka dia memilih untuk membimbing gadis itu untuk menjaga jarak dari Lacey. "Um, bisa Anda melepaskan tangan saya? Nona Lacey benar. Saya seharusnya tidak bergandengan tangan dengan Anda, Tuan." Gracia khawatir kalau Lacey mengadu pada Edward. Yang akan terjadi selanjutnya pun bisa ditebak, yaitu dia akan dihukum. Entah apa lagi yang akan dia lakukan. Keith menghela napas. Diakuinya, perkataan Gracia benar adanya. Tapi dia enggan untuk melepaskan tautan tangan ini. "Berjanjilah kalau kau akan selalu berjalan di sampingku, Gra," pintanya sambil terus melangkah. Gracia tersentak. "Tapi, Tuan. Saya hanya maid biasa." "Sebentar lagi, kau akan menjadi adik iparku. Status maid tidak berlaku lagi untukmu," balasnya sambil terus mempererat genggaman. Perempuan berambut jingga sebenarnya kesakitan, tapi dia tidak berani protes. Dia hanya bisa menahan di dalam hati sambil merapalkan doa. Berharap supaya Keith mau melepaskan genggaman tangan mereka. "Kalau begitu, saya bisa berjalan di samping Anda setelah pernikahan terselenggara," ujar Gracia. Keith berhenti melangkah. Dia menatap dalam pada Gracia. Lalu bertanya, "Apa kau begitu ingin menikah dengan Edward, Gra?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN