Gracia menaikkan pandangannya. Menatap pada wajah Pangeran Keith yang tampak sangat serius.
"Bukan begitu, Tuan," ujarnya kebingungan.
"Lalu?" kejar Pangeran Keith.
Gracia tergagap. Otaknya berpikir keras untuk mencari jawaban yang sesuai atas pernyataannya barusan. Dia tidak ingin mengakui bahwa dirinya sedikit tertarik dengan pesona Pangeran Edward.
Melihat gelagat aneh yang diberikan oleh maid cantik tersebut, Keith menunggunya hingga angkat bicara. Sekilas, dia menyimpulkan bahwa Gracia menyukai atau mulai menyukai Pangeran Edward. Tapi kebenarannya baru akan dia ketahui nanti.
"Saya hanya berusaha mengambil keputusan yang paling baik," ujarnya kemudian.
Keith menghela napas. Memang benar kalau perkataan Gracia tadi adalah opsi terbaik. Tapi bisa juga karena dia ingin lekas menikah dengan Pangeran Edward.
"Kalau setelah menikah kau malah menghindariku, aku tidak akan tinggal diam, Gra. Ingat itu!" ancam Pangeran Keith seraya melepaskan genggaman tangan mereka.
Gracia mengangguk patuh. Sebab dia juga tidak punya niatan untuk memutuskan hubungan dengan Pangeran Keith. Hanya dia lelaki bangsawan yang cukup dekat dengan dirinya. Gracia tidak ingin kehilangan Keith begitu saja.
Keith sedikit lega melihat Gracia menyanggupi permintaannya. Dia lalu kembali berjalan. Gracia pun mengikuti, tanpa tahu kalau sedari tadi Lacey menguping dari balik pohon.
"Awas saja kalau kau berencana mengambil Edward dariku! Tidak akan kumaafkan!" jerit Lacey di dalam hatinya.
Tangan perempuan itu terkepal sempurna di sebatang pohon. Ada pun matanya menatap tajam pada punggung Pangeran Keith dan Gracia.
***
Usai menunggui Gracia masuk ke ruangan untuk mandi, Keith mengantar Gracia hingga depan pintu ruangan kerja Louisse. Di sana dia berkata, "Mintalah gaun yang paling bagus. Aku yakin itu akan cocok denganmu."
Gracia terdiam di tempat. Bukan karena perintah dari Pangeran Keith yang terlalu tiba-tiba atau lelaki itu kembali mengacak rambutnya. Akan tetapi, ada Pangeran Edward yang mengawasi dengan mata setajam elang dari balik pilar.
"Aku pergi," pamit Keith.
Gadis itu tidak bisa melepaskan pandangan dari putra pertama Selir Mary. Punggungnya bergoyang tanpa henti. Seirama dengan langkahnya yang tidak kunjung berakhir.
Keith melewati pilar itu tanpa menengok ke kanan dan ke kiri. Dia tidak tahu kalau adiknya tengah bersembunyi di sana. Menunggu momentum yang tepat untuk keluar dari persembunyian.
Gracia melupakan tentang Edward. Jadi dia tetap ada di tempat sambil menatap pada Keith. Tahu-tahu, dahinya dijitak dengan kencang.
"Auw!" Gracia memekik akibat ulah Pangeran Edward.
Calon suaminya tersenyum sinis. Dia lalu berkata, "Masih mau berkelit kalau kau tidak punya hubungan apa-apa dengan Keith?"
Nada bicara Edward terlihat marah. Wajar saja, lelaki itu sangat kesal saat peringatan yang dia berikan ternyata tidak digubris oleh Gracia. Ibaratnya masuk lewat telinga kanan, langsung keluar melalui telinga kiri. Tidakkah itu keterlaluan.
Gracia hanya bisa menunduk. Edward jadi kesal. Dia pun menarik tangan Gracia untuk memasuki ruangan.
Maid tersebut tidak bisa menolak. Dia hanya bisa pasrah, mengikuti kemauan Edward yang kadang aneh-aneh.
"Oh, kau datang juga," sambut Louisse.
Senyum perempuan itu pudar ketika melihat raut wajah Edward yang kurang bersahabat. Tapi tangannya masih menggandeng Gracia. Apa yang tengah terjadi di sini?
Louisse menambahkan, "Selamat datang, Tuan Edward. Ada yang bisa saya bantu?"
"Berikan gaun pesta yang bagus untuk Gracia! Aku tidak ingin mempermalukan nama keluarga Arshington di pesta ulang tahun Kak Linden," perintahnya.
Edward melepas genggaman tangan. Dia sekarang bersedekap. Sementara Gracia menatap canggung pada Louisse, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Louisse menjawab, "Tentu, Tuan. Saya pasti akan memberikan gaun terbaik untuk Nona Gracia."
"Tidak perlu yang terbaik. Aku hanya ingin yang bagus," sahut Edward penuh penekanan.
Desainer istana itu pun menganggukkan kepala. "Oh baik, Tuan Edward. Silakan duduk dulu. Anda tentu tidak ingin pegal karena terlalu lama berdiri."
Edward tidak menyahut. Lelaki itu langsung duduk di sofa. Namun matanya terus mengawasi Gracia. Membuat perempuan tersebut langsung memandang Louisse. Tidak ingin berlama-lama melihat tatapan Edward yang dinilainya mengerikan.
"Kemari, Nona," pinta Louisse sembari mengayunkan sebelah tangannya.
Gracia menurut. Dia kemudian mendekat. Pandangannya kemudian tertuju pada aneka kain yang berjajar di samping Louisse.
Perlahan, gadis itu menyentuh kainnya satu per satu. Mulai dari yang mengkilap, kasar, lembut, hingga yang agak kasar. Semua terlihat bagus bagi Gracia. Dia tidak bisa memilihnya.
"Aku ikut pilihanmu saja, Madmoiselle," ujar Gracia yang bingung dengan bahan apa yang mau dia pilih.
Louisse mengangguk paham. Dia lalu menanyakan model pakaian impian Gracia. Akan dia revisi sedikit jika tidak sesuai dengan konsep.
Kali ini, Gracia menjawab dengan lancar. Sebab sejak dulu, dia memiliki kriteria gaun impian. Namun siapa sangka, angan-angannya itu akan terwujud beberapa minggu lagi. Dan yang paling hebat menurut Gracia, gaunnya dirancang langsung oleh Madmoiselle Louisse, seorang desainer kenamaan istana yang sudah lama menjadi idol di mata Gracia.
Cekatan sekali Luoisse menggambar desain gaun impian Gracia. Gracia hanya bisa menatap Louisse dengan tatapan kagum. Matanya bahkan sampai hampir menggelinding.
Di sisi lain, Edward kesal karena Gracia asyik memperhatikan Louisse. Dia lalu mendekat. Mencari tahu apa yang membuat mata calon istrinya berbinar senang.
"Louisse, tidakkah bagian ini terlalu rendah? Tidak bisakah kau menaikkannya sedikit lagi?" tanya Edward kemudian.
Baik Louisse mau pun Gracia tersentak. Keduanya sama sekali tidak menyadari kehadiran Edward. Tahu-tahu, lelaki itu sudah ada di dekat mereka dan memberi komentar.
"Benarkah? Saya pikir, itu tidak terlalu rendah," balas Louisse seraya melihat pada desain di bagian belahan d**a.
Edward menatapnya tajam. Gracia pun menyenggol kaki Louisse. Memberi kode pada desainer tersebut untuk menuruti keinginan Edward. Kalau tidak, pasti akan ada sesuatu yang terjadi.
Louisse tergagap, "Ta-tapi kalau Tuan ingin bagian itu dinaikkan, maka akan saya naikkan."
"Jangan lupa buang renda yang tidak perlu di sekitar sana dan gaun. Sisakan hanya di bagian lengan. Ini pesta ulang tahun Kak Linden, bukan untuk parade," tambah Edward.
Tangan lelaki itu menunjuk pada aneka renda yang menurutnya berlebihan. Gracia jadi kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain mengiyakan permintaan calon suaminya.
"Tuan Edward benar, Madmoiselle Louisse. Aku mengharapkan terlalu banyak renda. Anda bisa menghapusnya," ujar Gracia, mengalah.
Louisse mengangguk, dia lalu menambahkan catatan kecil untuk meniadakan renda di bagian belahan d**a dan rok gaun. Perempuan itu sebenarnya bisa saja menggambar yang baru. Hanya saja, dia takut ada permintaan lain dari Edward, jadi dia harus mengulang menggambar desainnya sebanyak seratus kali.
"Gadis baik," gumam Edward di dalam hati sambil melihat ke arah Gracia. Maid itu menampilkan kekecewaan di wajahnya, tapi lebih memilih untuk mengubah desain, sesuai keinginan Pangeran Edward.
Saat asyik mengamati wajah Gracia, tiba-tiba perempuan itu menoleh. Namun Edward tidak sadar. Menganggap itu hanya sebuah ilusi.
"Apa ada sesuatu di wajah saya, Tuan?" tanyanya kebingungan.