"Lah, masih aja ketawa." Gadis itu masih berusaha mengusap bibirnya dengan rata, tetapi Tama masih saja menertawakannya. Pria gagah yang duduk di depannya itu meraih sapu tangan putih dari dalam saku kemeja putihnya. Tama perlahan mulai mengusap bibir Nafisah yang sebenarnya tak ada noda apa pun. Nafisah merasa ada hal lain yang sudah terjadi di sana. Ia tak bisa menatap lama-lama wajah pria tampan itu. Pria yang sudah berhasil membuatnya jengah itu melanjutkan menikmati makanannya. "Kamu tau apa bedanya es krim sama jelato?" Tama bertanya sambil terus menyendok makanan lumer itu ke dalam mulutnya. "Tau lah. Masa seorang dokter enggak tau. Dokter nanyanya enggak tepat pada sasaran." Tama tertawa. "Ya, siapa tau kamu taunya gado-gado aja." "Enggak gitu juga kali, Dok. Kita pulang j

