Bab 34

1568 Kata
Bang rival pun menuruni tangga habis dia keluar dari kamarnya Kayla dirinya akan menunggu Kayla dibawa untuk mereka pergi ke Indomaret, sebenarnya mereka bisa aja langsung pergi ke Indomaret bareng tapi dikarenakan Kayla harus ganti baju dan siap-siap alhasil membuat bang rival harus menunggunya dan bang rival harus sabar menunggu Kayla karena itu pasti akan memakan waktu cukup lama. "Gimana bang? Apa abang udah minta maaf sama adek?" Tanya bunda ketika melihat bang rival turun dari tangga. "Udah kok bun! Tadi abang udah minta maaf sama adik, ya walaupun awalnya adek nggak mau mau mau maafkan abang tapi setelah abang bujuk akhirnya dia mau memaafkan Abang," balas bang rifal lalu menghampiri bunda yang tengah duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi. "Habisnya apa sih suka jahil sama adik kan adik jadi marah sama Abang harusnya Abang itu nggak jahilin adek kan Abang udah besar bisa membedakan yang baik dan yang buruk," tutur Mama Ella. "Tapi bun Abang itu merasa sepi aja kalau semisal sehari nggak gangguin adik kayak ada yang kurang habisnya dia itu gimana gitu kan lagi digangguin Abang kan suka tertawa melihat adik marah-marah kayak gitu tapi tadi kan aku nggak tahu kalau semisal dia memang lagi nggak mood dan ternyata dia marah beneran sama Abang," seru bang rival lalu duduk disamping bundanya. "Ih apa nggak boleh gitu dong nanti kalau ayah tahu kelakuan Abang yang sering jahilin adek bunda rasa pasti Abang juga kan dimarahin sama ayah kan ayah pernah bilang sama Abang kalau abang itu harus bisa menjaga adiknya bukan malah bikin kesal kayak tadi," jelas bunda sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang satu ini. "Abang rasa dulu pasti ayah juga sering melakukan hal itu sama adik perempuannya kok bun, dan kayaknya waktu itu ayah juga pernah cerita soal itu kalau dulu ayah sering dimarahin sama kakek karena sering gangguin adik nya sampai-sampai ayah sering disuruh tidur di luar karena gangguin adiknya terus," ucapkan Reva yang masih tidak mau disalahkan karena menurut dia apa yang dia lakukan itu hal yang wajar antara Abang ke adiknya. "Emangnya kamu mau disuruh tidur di luar sama ayah enggak kan? Bunda rasa itu merupakan perbuatan yang tak patut dicontoh biarkan itu menjadi masa lalu ayah yang nggak harus kamu ulang kembali ya walaupun ayah dulu memang saya yang jahilin adiknya tapi seharusnya kamu bisa mengambil sisi positifnya dari kejadian itu bukan malah menirunya kan itu bukan perbuatan yang baik harusnya kamu tidak mencontoh," jelas bunda mencoba memberi pengertian kepada putranya agar tidak mencontoh hal buruk yang pernah dialami suaminya di masa lampau. "Iya bunda Abang nggak mencontoh sikap ayah yang kayak gitu lagi dan Abang akan berusaha untuk menjadi Abang yang baik bagi adik Abang," tutur sang rival karena kalau dirinya harus berdebat dengan bundanya sama saja pasti bundanya akan kekeh dan tidak mau kalah toh dia juga nggak mau dikatakan anak durhaka yang terus membantah ucapan bundanya. "Nah gitu dong bang itu namanya baru anak bunda," ujar bunda lalu mengelus kepala bang rifal. "Oh iya bang gimana dengan kuliahnya Abang lancarkan?" Tanya bunda. "Alhamdulillah lancar kok cuman akhir-akhir ini banyak tugas aja makanya jadwal Abang sedikit padat," balas bang rifal tersenyum. "Oh gitu bang bunda cuman pesan sama bang walaupun jadwal Abang lagi pada dan tugas banyak Abang jangan pernah tinggalin salat dan jangan lupa juga abang itu makan karena kalau abang sampai telat makan bisa bisa nanti abang jadi sakit loh," tutur bunda memberi pesan kepada anaknya. "Iya bun pasti itu Abang juga insya Allah bisa membagi waktu Abang untuk makan salat dan mengerjakan tugas karena abang tahu kewajiban seorang muslim itu harus melaksanakan salat lima waktu kan dan Abang juga insya Allah makannya tepat waktu kok karena kan sehat itu mahal harganya," ujar bang Rifa. "Nah itu apa nggak tahu anak bunda ternyata udah besar udah bisa mandiri dan berfikir dewasa bunda bangga mempunyai anak seperti Abang semoga saja kalau abang bisa menjadi orang yang sukses dan meraih cita-cita Abang untuk menjadi seorang dokter," ucap bunda penuh harap. "Amin amin bos semoga saja bun, doakan Abang selalu ya Bun karena abang percaya doa orang tua itu pasti dikabulkan oleh Allah SWT terutama doa seorang ibu," seru bang rival. "Bunda akan terus mendoakan yang terbaik buat anak-anak bunda biar kelak menjadi orang yang sukses seperti ayah," balas bunda. "Makasih ya bun atas supportnya," ujar bang Deva lalu memeluk bundanya. "Sama-sama abang," balas bunda lalu membalas pelukan putranya itu. Ini merupakan momen yang langka sekali karena jarang-jarang akan bisa bermanja-manja dengan bunda karena kan semenjak Abang mempunyai adik Kayla pasti bundanya akan saling memanjakan adiknya itu dibanding dirinya dan karena abang yang sudah sibuk dengan urusannya hal itu yang juga membuat dirinya dan bundanya tidak seakrab dulu. "Ada gerangan apa kok pada peluk-peluk kayak gitu sih mana enggak ajak-ajak lagi!" Tutur Kayla tiba-tiba, bunda dan bang rifal yang tengah menikmati pelukan yang satu sama lain mendengar percakapan mereka pun mereka perlukan nya. "Apaan sih dek gangguin Abang aja lagian Abang kan lagi ingin bermanja-manja sama bunda tapi kamu main datang aja nggak asik tau," ujar bang rifal merasa kesal karena kayla mengganggu dirinya. "Kok abang malah nyalahin aku sih kan aku cuman tanya lagian kalau aku kelamaan turunnya nanti abang malah ngomel-ngomel nggak jelas," balas Kayla. "Tapi kamu datanya enggak tepat tahu Abang kan lagi ingin dimanja sama bunda emang kamu doang yang mau dimanja sama bunda mentang-mentang kamu adik Abang terus Abang harus mengalah terus sama kamu nggak bisa," ujar bang rifal. "Oh ceritanya Abang ini cemburu ya soalnya kemarin-kemarin bunda itu sering manjain aku daripada Abang!" Goda Kayla lalu Kayla mendekat kearah mereka. "Apaan gak ya mana aja jangan ngada-ngada kamu dik!" Tegas bang rifal mengelak karena dirinya malu kalau harus mengakuinya. "Oh ternyata selama ini ada yang cemburu pun kalau aku dekat sama bunda tapi orang itu sok-sokan mengelak karena enggak mau mengakui hal itu padahal udah jelas-jelas dapat dilihat dari dia bicara tadi," sindir Kayla sama bang Rifal. Dan bunda pun hanya tersenyum pasalnya dia juga nggak menyangka sekali karena ternyata anak bungsunya itu cemburu ketika dirinya lebih perhatian sama adiknya. "Jangan menyindir kayak gitu Napa dek orang abang enggak cemburu kok sama kamu jangan ngada-ngada deh," ujar bang rifal. "Iya aja deh biar Abang seneng kalau pun Abang bilang begitu percuma toh aku sama bunda juga udah tahu semuanya kok, bukan untuk hidup bunda," seru Kayla menahan tawanya karena melihat tingkah abangnya yang aneh. "Adik jangan gitu dong kasihan tuh abangnya lagian kan kalian itu anak bunda jadi buat apa kita saling cemburu sih karena kasih sayang bunda itu sama kok terhadap kalian nggak ada bedanya cuman kalau mungkin Abang sering lihat bunda manjain adik kan adik itu anak terakhir dan dia paling kecil di keluarga kita mungkin jadi dia yang sering dekat sama bunda, dulu waktu belum lahir adek Abang juga begitu kok abang itu suka manja sama bunda kalau minta sesuatu enggak diturutin pasti abang nangis jadi mau tak mau bunda harus menurutinya," jelas bunda menerangkan kepada abangnya biar setorannya itu tidak salah tangkap karena dirinya yang selalu memanjakan adiknya padahal dirinya itu tidak pernah membedakan antara bang rival sama Kayla. "Tuh dengerin apa yang dikatakan bunda jadi apa enggak boleh cemburu lagi sama adek abang dulu udah sering dimanja sama ayah dan bunda sekarang giliran adik yang dimanjain bunda sama ayah," ujar Kayla. "Padahal abang mah enggak pernah cemburu loh sama adik kamunya aja yang suka bikin berita yang nggak tahu gini Abang nggak jadi menjajakan kamu ke Indomaret," seru bang rifal. "Ih kok gitu sih bang kan Abang udah janji Dan janji itu harus ditepati enggak boleh ingkar janji dong lagian adek udah dandan kayak gini masa tiba-tiba nggak jadi nggak asik banget! Bun itu lihat abang," ucap kayla yang sedikit kesal. "Katanya tadi enggak suka mengadu, ini apa namanya?" Ujar bang rifal. "Siapa suruh bang rival membatalkan janji Abang begitu saja toh aku kan udah dandan dan siap kayak gini masa tiba-tiba nggak jadi percuma dong dari tadi aku siap-siap," tutur Kayla. "Apa nggak boleh gitu dong kalau abang udah janji harus ditepati karena janji itu sama halnya dengan utang dan harus dibayar kalau nggak Abang dosa loh," ucap bunda. "Iya bunda abang tahu kok lagian Abang bilang begitu cuman bercanda," balas bang rifal. "Ih tuh kan bikin kesel aja! Padahal baru beberapa menit yang lalu abang minta maaf loh tapi sekarang udah bikin adik kesel aja!," Tegas Kayla. "Kan cuman bercanda lagian kenapa dibawa serius sih dek," ujar bang rifal. "Udah udah jangan berantem lebih baik sekarang kalau kalian mau ke Indomaret berangkat sekarang aja karena ini udah sore nanti keburu magrib loh," jelas bunda. "Iya Bun! Ya udah lebih baik sekarang kita berangkat aja jadi nggak kalau nggak ya udah nggak papa lumayan uang abang jadi utuh dan nggak berkurang," seru bang rifal. "Ih jadilah pakai ditanya orang aku juga udah siap kayak gini masa tiba-tiba nggak jadi ya udah yuk cepetan kita pakai motor aja kalau jalan kaki males," balas Kayla. "Iya adek ku yang cerewet, ya udah Bun kalau begitu kita pamit dulu oh ya bunda mau jadi nggak nanti biar Abang yang beliin," seru bang rifal. "Bunda nggak titip apa-apa kok ya udah kalian berangkat aja hati-hati jangan kemalaman," pinta bunda. "Iya Bun, assalamualaikum," pamit bang rifal lalu bang rival dan Kayla pun beranjak dari tempat itu berjalan keluar rumah menuju garasi untuk mengambil motor karena mereka sebentar lagi mau ke Indomaret untuk menepati janji Bang rifal yang mau menjajakan Kayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN