Bab 13. Undangan Makan Malam

1287 Kata

"Pa?" "Ya, Ma?" "Damar ... mau menikah." Apa yang istrinya sampaikan, berhasil menarik atensi pria paruh baya yang sebelumnya menjatuhkan fokus pada layar televisi di depannya. "Menikah?" beo Surya, sembari menoleh pada sang istri yang duduk di sampingnya. Pria paruh baya itu mengejap, dan mencoba memastikan kebenaran yang baru saja Sintia sampaikan. "Benarkah? Bagus dong kalau memang Damar akhirnya mau menikah. Bukankah hal itu yang sedari dulu Mama tunggu?" "Yaiya sih, tapi ... tidak seperti ini." Dengan helaan napas berat, Sintia tampak tak bersemangat. Sikapnya itu tentu saja memantik kecurigaan sang suami yang merasa janggal. Karena seharusnya, Sintia membahas tentang calon istri Damar dengan wajah sumringah dan menggebu-gebu. Resah yang membayang di wajah sang istri membuat Sur

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN