BAB 1 - MENOLAK MENIKAH
“Kerja bagus, Jihan. Untungnya kamu cepat mendeteksi pendarahan di selaput jantung pasien,” puji dokter Herlambang, sesaat setelah mereka keluar dari ruang operasi.
“Terima kasih, Prof,” balas Jihan. Ada rasa bangga yang meletup-letup saat pujian itu terlontar. Wajar saja, dokter Herlambang adalah dosennya semasa ia kuliah sarjana. Dosen yang terkenal killer dan pelit nilai itu pernah membuat Jihan hampir tidak lulus kuliah. Padahal Jihan termasuk mahasiswa yang pintar.
“Iya dong, Prof. Lulusan ahli bedah Harvard mah nggak usah diragukan lagi,” dokter Wahyu menambahkan pujiannya. Jihan makin tersipu malu. Melanjutkan kuliah S2 di Harvard sebenarnya bukan impiannya. Dia melanjutkan kuliah di luar negeri hanya untuk mengulur-ngulur waktunya menikah dengan Amran Amarta, pewaris Rumah Sakit Amarta, tempatnya bekerja saat ini.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Buru-buru Jihan menuju poli bedah untuk melayani pasien rawat jalan. Begitu sampai di sana, ia melambatkan langkahnya. Suasana di ruang tunggu poli bedah sepi. Tak ada satu pasien pun yang menunggu, juga tak ada perawat atau pun petugas administrasi yang berjaga-jaga.
“Aneh banget, kenapa nggak ada orang, ya?” gumamnya. Dahinya makin mengernyit.
Tiba-tiba saja, terdengar pintu dibuka lebar-lebar. Sigap Jihan menoleh, dan..
“Happy Birthday to you, Happy Birthday to you, Happy Birthday to dokter Jihan Pramesthi, Happy Birthday to you. Yeeeeeyyy…!!”
Rombongan para perawat dan rekan dokternya bernyanyi penuh semangat juga air muka yang hangat. Dokter Kelvin, rekan dokter sekaligus mantan pacar Jihan membawa kue ulang tahun bertangkai angka 26 tahun. Membuat Jihan semakin terharu. Apalagi, ini kue ulang tahun pertama di umurnya yang sudah tak lagi muda.
“Selamat ulang tahun, ya, Jihan,” ucap Kelvin. Malu-malu kedua matanya memberi gestur pada Jihan untuk meniup lilin.
Namun, belum sempat meniupnya, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar-lebar lagi. Spontan semua perawat, dokter, Kelvin dan Jihan merunduk memberi tanda hormat.
“Siang semuanya..” sapa Jimmy datar. Jimmy Amarta, lelaki paruh baya itu adalah pemilik tunggal Rumah Sakit Amarta. Dia orang terkaya di kota ini. Namun, kekayaannya malah membuat ia semakin angkuh dan memandang rendah orang lain.
“Siang, Pak Jimmy..” jawab mereka masih merunduk.
Di belakangnya, putra sulungnya, Amran Amarta, berjalan dengan tatapan merendahkan. Membuat hati Jihan yang semula bahagia tiba-tiba terjerembab ke dasar. Mengapa Amran di sini?
“Jihan, apa harus saya sendiri yang minta sama kamu buat nggak menunda-nunda lagi pernikahanmu dengan Amran?!” suara Jimmy kian meninggi. Membuat semua orang di ruangan itu bergidik ketakutan.
“En-ggak begitu, Pak. Saya hanya-“ Jantung Jihan makin mendebar. Ia tak menemukan alasan yang tepat untuk menjawabnya.
“Hanya apa?! Hanya perempuan biasa yang disekolahkan tinggi-tinggi sama kami?!” tertampar Jihan oleh sindiran Jimmy. Apalagi di depan banyak orang.
“Persiapkan diri! Besok hari pernikahanmu. Cutimu udah diurus sama HRD.” Jimmy langsung berlalu meninggalkan ruangan. Tanpa berpamitan, tanpa berkata sepatah kata. Semantara itu, Jihan masih terdiam terpaku. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang sudah mengambang.
“Han, jangan dipikirin apa kata Papa, yah..” Amran menepuk-nepuk bahu Jihan, lembut dan penuh perasaan. Seolah-olah mereka sudah kenal lama. Padahal, sekalipun Amran belum pernah mengajak Jihan kencan. Mereka kenal satu sama lain hanya karena perjodohan yang sudah diatur sejak mereka duduk di bangku SD.
“Apa kita harus menikah? Bukankah kamu juga nggak mau nikah sama aku, kan?” suara Jihan terbata.
Orang-orang di ruangan itu langsung menghamburkan diri, mengetahui pembicaraan mereka sudah mengarah ke hal yang personal. Kecuali Kelvin. Dokter yang parasnya lebih pantas disebut selebriti itu menatap nanar mereka berdua. Bukan tanpa alasan. Jihan memutuskan dia karena harus menikah dengan Amran. Padahal Kelvin masih cinta setengah mati dengan Jihan.
“Aku juga nggak bisa melawan restu orang tua, Han. Jalani aja dulu. Siapa tahu nanti kita saling cinta.”
Deg!
Perih menyayat hati Kelvin saat Amran mengatakan itu, sampai-sampai kue ulang tahun yang masih dipegangnya hampir jatuh. Menyadari hatinya akan semakin terluka, buru-buru Kelvin menaruh kue itu dan keluar ruangan. Jihan meliriknya dengan tatapan iba.
“Sekarang pulanglah, Han. Besok subuh aku jemput, yah,” pinta Amran sembari tersenyum tipis. Jihan tak membalasnya. Ia hanya menghela nafas berkali-kali untuk menghilangkan sesak di d**a. Pernikahan ini bukan kemauannya, juga bukan kemauan Amran. Tapi mereka harus menikah karena satu hal – Jimmy Amarta sudah menyekolahkan Jihan dan kakaknya, Raihan, sampai sarjana!
***
Sepulang kerja, buru-buru Jihan pergi ke rumah ibunya. Ia tahu, Ibu akan sekeras hati membujuknya untuk menikah dengan Amran. Suka atau tidak, ibu akan memaksanya.
“Tanpa bantuan Pak Jimmy, Ibu ndak bisa nyekolahin kamu sampe kuliah.” untuk kesekian kali Ibu mengingatkan Jihan.
Jihan hanya merunduk. Ia benar-benar lelah karena Ibu tak pernah memahaminya.
“Memangnya Amran kurang apa to, Nduk? Udah ganteng, kaya, pewaris Group Amarta. Kurang apalagi coba?”
“Jihan bukannya nggak mau nikah sama Amran. Jihan takut menikah, Bu. Bapak selingkuh, Tante Erni depresi karena Om Yudi diam-diam nikah siri. Teman-teman Jihan banyak yang janda. Terus apa arti menikah kalau nggak setia sama pasangan?”
“Tapi Amran kan ndak seperti pria-pria pada umumnya, Nduk. Dia itu pria baik-baik dan juga lugu,” Jihan tersenyum nyengir mendengarnya. Ingin sekali mengungkapkan fakta itu tapi selalu tertahan di dalam mulutnya.
Dua bulan lalu, saat Jihan hendak memberikan oleh-oleh dari Amerika ke rumah Amran, Jihan memergoki Amran tidur dengan wanita lain. Padahal saat itu Amran masih berpacaran dengan Alika. Saking penasarannya, terpaksa Jihan mengintip melalui luar jendela.
Kedua matanya langsung melotot kala melihat Amran memeluk wanita yang tak lain adalah Erika Lindsen, teman masa SMA-nya. Dulu, Jihan mengagumi Erika karena wanita itu tak hanya cantik tapi juga pintar dan ambisius. Wajar saja, sekarang Erika sukses jadi pengacara yang merangkap jadi model.
“Inget nggak, waktu Alika mergokin kita di hotel?” sayup-sayup Jihan mendengar percakapan mereka.
“He’em, emangnya kenapa?”
“Aku suka banget tauk ngeliat Si Alika bodoh itu nangis-nangis jejeritan ngeliat kita telanjang. Sensasinya itu loh.. LUARRRR BIASAAAAA…” kedua mata Jihan semakin melotot mendengarnya.
“Wow.. liar banget fetishmu, Sayang,” suara Amran membuat hati Jihan kian terkoyak.
“Pokoknya kalo kamu udah nikah sama si Jihan itu sering-sering nginep di hotel, yah.. Syukur-syukur dia mergokin kita di malam pertama. Ahhh.. pasti seru banget, tuh!”
Ingatan itu membuat Jihan tiba-tiba meneteskan air mata.
“Kamu kenapa, Nduk? Kok tiba-tiba nangis?” tanya Ibu khawatir.
“Nggak apa-apa, Bu. Jihan harus pergi sekarang. Ada urusan yang harus Jihan selesaikan sebelum cuti.”
Disalaminya tangan renta Ibu. Ia tak pernah mengira mengungkapkan watak Amran sebenarnya akan sesulit ini. Di lain sisi ia tak ingin menjatuhkan ekspektasi Ibu tentang Amran, tapi di lain sisi, ia juga tak mau mengorbankan diri menjadi istri seorang peselingkuh seperti Amran. Jihan bimbang.