“Jaman sekarang masih ada ya orangtua yang suka jodoh-jodohin anaknya sendiri? Kayak jaman Siti Nurbaya aja,” ledek Mariska, sahabat dekat Jihan yang belum menikah.
“Tau gitu tawaran kerja di rumah sakit California aku ambil. Biar sekalian nggak usah balik ke Indonesia,” Jihan mengungkapkan penyesalannya.
“Lah? Emangnya Pak Jimmy nggak bakalan jemput kamu ke Amerika? Orang tadi aja datengin tempat kerjamu karena kamu menunda-nunda pernikahan sama anaknya, kok. Orang kayak Pak Jimmy bakalan ngelakuin segala hal biar tujuannya tercapai, Han. Untung tadi siang kamu udah selesai operasi. Coba Pak Jimmy datengnya pas kamu masih operasi, bisa-bisa kamu salah ambil gunting!” Mariska semakin terkekeh meledek Jihan.
Sementara itu, Jihan tidak menanggapinya. Ia memilih menyandarkan kepalanya di pintu mobil seraya memandangi kelap-kelip lampu kota.
“Mau kemana kita?” tanya Jihan menyadari Mariska membelokkan setirnya ke arah yang tidak seharusnya.
“Nonton balap motor, mumpung ada sirkuit baru di kota ini. Sekalian biar kamu terhibur.”
Bukannya terhibur, kepala Jihan semakin pusing begitu memasuki arena sirkuit. Ini kali pertama ia menonton balap motor langsung. Ia tak pernah suka melihat olahraga adu mesin. Ia lebih suka olahraga yang sunyi seperti catur atau panahan.
Mariska mengajaknya duduk di tribun paling depan. Sahabatnya itu anak pejabat daerah. Semua fasilitas VIP didapatnya dengan mudah. Meskipun begitu, Mariska tidak seperti anak orang kaya pada umumnya. Pakaian dan tasnya tidak ada yang bermerk. Pakaian secondhand pun ia beli asalkan nyaman. Mariska juga memilih menggunakan uangnya untuk belajar dan belajar, agar bisa menjadi designer terkenal.
“Ehh, Han.. Han.. liat tuh pembalap nomor 10. Namanya Dev Prakasa. Ganteng banget, kan?” Mariska menunjuk ke arah seorang pria berpakaian warna putih dan merah di ujung tribun. Pria itu melambai-lambai ke arah para gadis yang berteriak histeris padanya. Seolah-olah pria itu bintang utama di sirkuit ini.
“Ganteng, sih.. tapi kayaknya playboy.”
“Emang.. sering gonta-ganti cewek. Mantannya model dan artis-artis, gila nggak?” Jihan tersenyum nyengir mendengarnya. Sepertinya, tidak ada pria yang ‘benar’ di dunia ini. Satu-satunya pria benar yang pernah ia kenal hanyalah Kelvin.
“Eh, tunggu dulu.. kayaknya ada yang salah,” Jihan mulai menyadari ada sesuatu yang ganjil saat melihat arena sirkuit.
Buru-buru Jihan berdiri, lalu mendekati Dev yang masih melambai-lambai ke arah gadis di tribun paling ujung.
“Ehh, mau kemana?” tanya Mariska terheran-heran.
“Batalin pertandingan.”
“Hah?! Kamu gila, ya?” Mariska melongo pada Jihan yang tak mempedulikannya.
Begitu sampai sudut tribun, Jihan berteriak memanggil nama pembalap tampan itu.
“Dev!” Pria itu langsung menoleh ke arah Jihan. Semua gadis yang mendengar teriakan Jihan menatapnya sinis dan penuh kecemburuan. Tapi Jihan tak bergeming.
“Batalkan pertandingan ini! Sekarang juga!” suara Jihan bergetar.
“Hah?! Apa maksudmu? Emangnya kamu siapa?” tanya Dev, diiringi dengan senyum meremehkan. Jihan tak langsung menjawab, ia naik ke atas pagar pembatas untuk mendekati Dev. Membuat semua penonton terheran-heran oleh aksi nekat Jihan.
“Di tikungan 12 sudut kemiringannya melenceng jauh. Seharusnya kemiringannya cukup 7 derajat, tapi itu kemiringannya 9 derajat. Dan bisa dipastikan semua pembalap bakal jatuh di sana,” Jihan menghela nafas lega setelah mengutarakan kekhawatirannya. Sementara itu Dev hanya mengernyit heran. Alis tebalnya bertaut sempurna, persis seperti struktur wajahnya yang tiada cela.
“Darimana kamu tahu?”
“Aku menghitungnya.”
“Cuma ngeliat kamu bisa menghitung sudut kemiringannya?” Jihan manggut-manggut mantap. Membuat Dev semakin menautkan alisnya. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita cantik yang jenius. Tapi tentu saja, ia pembalap berpengalaman. Ia lebih tahu medan perangnya.
“Aku juara balap MotoGP selama tiga tahun berturut-turut, Darling, aku tahu medan perangku.” ucap Dev, tatapannya melekat pada Jihan, seolah memang sengaja menggoda dengan ketampanannya.
“Aku juara olimpiade matematika sewaktu SMA, Dev.. oh ya, aku juga lulusan Harvard Medical School, jadi apa hitunganku masih kamu ragukan?” Jihan menyilangkan tangannya, menantang pria sombong di hadapannya. Dan benar saja, Dev membelalak. Bulu kuduknya meremang manakala menyadari dia bukan wanita sembarangan.
“Oke kalo kamu tetep keras kepala, gimana kalo kita taruhan?” Dev semakin menantang.
“Why not?” jawab Jihan tak gentar sama sekali.
“Kalo semua pembalap jatuh di tikungan 12, maka akan ku turuti semua permintaanmu, tapi.. kalo nggak ada satupun dari kita yang terjatuh, kamu harus turuti permintaanku..”
“Apa permintaanmu?” tanya Jihan
“Tidur denganku..” Dev tersenyum menang, meskipun ia belum memenangkan pertandingan. Segera ia berlalu dari hadapan Jihan. Sementara itu, Jihan menatapnya risih. Intuisinya benar, lelaki itu memang playboy cap kadal. Suka memanfaatkan wanita dengan kesempatan. Tapi Jihan tak takut dengan taruhan itu. Ia yakin sekali akan menang taruhan.
Bergegas ia kembali ke tempat duduk semula. Pertandingan pun segera dimulai.
“Kamu ngapain sih tadi deketin Dev? Jangan-jangan kamu kepincut ya sama dia?” tanya Mariska dengan wajah memburu.
“Menantangnya.”
Tanpa menjelaskan apa yang dimaksud menantang, Jihan fokus memandang Dev dari kejauhan. Sebelum mengenakan helm, Dev menatap balik dengan senyum meremehkan.
Pertandingan pun dimulai. Suara belasan mesin motor balap membisingkan telinga orang-orang. Begitu wasit mengangkat bendera, semua pembalap menarik gasnya dalam-dalam. Mereka adu kecepatan seperti singa kelaparan. Namun, ada pemandangan yang lain dari biasanya. Dev yang biasanya ada di posisi satu atau dua malah tertinggal jauh di posisi 7. Entah apa yang membuat lelaki itu ketinggalan jauh, yang jelas, semua penonton terheran-heran.
Tikungan sepuluh sudah dilewati, namun Dev masih berada di posisi tertinggal jauh. Saat mereka hampir melewati tikungan dua belas, suara motor menggeber-geber semakin tak terkendali. Membuat jantung Jihan berdebar tak karuan. Dirapatkannya kedua telapak tangannya menutupi wajah sembari memejam erat-erat. Tidak berani menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.
Dan benar saja. Dalam hitungan detik semua pembalap di posisi terdepan jatuh di tikungan 12. Mereka semua terpental dari motor. Sementara itu, pembalap yang berada di posisi tengah mengerem kencang-kencang. Membuat suara decitan ban dengan aspal yang sungguh memekakkan telinga. Dev yang masih tertinggal jauh mengerem motornya sekuat tenaga. Begitu motor terhenti, pria itu melongo. Tak percaya semua rekan pembalapnya terkapar tak berdaya. Terlebih lagi, ia tak percaya kalah taruhan dengan wanita asing yang memperingatkannya.