BAB 3 APA PERMINTAANMU?

1277 Kata
Sambil melepas helmnya, Dev berlari tergopoh-gopoh mengejar Jihan. Setengah jam ia mencari wanita itu yang tiba-tiba menghilang dari tribun. Ia tak bermaksud membahas taruhan. Ia hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih padanya. Karena di balik sifatnya yang angkuh dan suka pamer, Dev adalah pria rasional. Begitu Jihan memberitahukan soal kemiringan tikungan 12 yang ganjal, firasatnya jadi tak enak. Oleh karena itu, ia tidak bisa bertanding dengan maksimal. “Hey.. kenapa kamu malah ngilang?” teriak Dev sembari menyambar lengan Jihan. Begitu Jihan menoleh, ia malah mendapati wanita itu menangis sesenggukan. “Seharusnya aku bilang sama panitia, bukan pria angkuh kayak kamu!” “Hey, tenang.. semuanya baik-baik aja, kok, nggak ada yang terluka parah,” kata Dev menenangkan. Membuat tangisan Jihan tiba-tiba mereda. “Benar kah?” Dev manggut-manggut mantap. Meyakinkan Jihan yang masih tak percaya. “Aku nggak bermaksud membahas taruhan itu,. Tapi, sebagai tanda terima kasihku karena kamu udah menyelamatkan nyawaku, aku mau menuruti semua permintaanmu. Apapun itu,” ucap Dev bersungguh-sungguh. Raut mukanya tak lagi angkuh. “Semua katamu?” Jihan tersenyum nyengir. “Bisakah kamu batalin pernikahanku dengan lelaki peselingkuh?” Jihan berhenti sejenak, menilai raut wajah Dev yang keheranan. “Nggak bisa, kan?” lagi-lagi Jihan melempar senyum meremehkan. “Aku bisa bawa kabur kamu.” “Kabur katamu? Terus gimana dengan keluargaku? Pekerjaanku? Dasar cowok gilaa!” untuk pertama kalinya, Jihan mengumpat. Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih malam ini. Besok hari pernikahannya, dan sekarang ia malah bertemu dengan pria menyebalkan seperti Dev. “Terus kamu mau mengorbankan diri jadi istri laki-laki modal burung? Dasar cewek nggak waras! Ayo! Pokoknya ikut aku!” Dev sigap menyambar tangan Jihan. Tidak peduli dengan penolakan wanita itu. Yang jelas, ada sesuatu yang tiba-tiba meruap di d**a, sesuatu yang tak pernah ia rasakan pada wanita manapun begitu bertemu dengannya. *** Sayup-sayup angin dari pohon cemara menerpa wajah Jihan. Sudah sejam lamanya ia mengendarai mobil bersama pria yang baru saja dikenalnya. Entah kemana pria itu akan membawanya, yang jelas, ia tidak menyangka akan senekat ini. Sejam yang lalu pula ia menghubungi Mariska agar tak mengkhawatirkannya. Ia beralasan pergi menemui ayahnya di kota sebelah, untuk menjadi wali nikahnya. Andai Mariska tahu kemana dan bersama siapa ia sekarang, maka dipastikan sahabatnya itu akan heboh sendiri, mengira ia akan menjadi pacar Dev berikutnya, padahal pria ini… “Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Dev begitu memergoki Jihan melihatnya dari atas ke bawah. “Aku nggak percaya bakalan pergi sama pria angkuh kayak kamu.” “Angkuhku beralasan. Jangan liat dari luarnya dong.. Kita udah sampai,” Dev mematikan mesin mobilnya dan melepas seatbelt. Sementara itu, Jihan masih tercenung. Kedua matanya melongo melihat bangunan mewah bak istana eropa di hadapannya. Air mancur di tengah halaman dengan patung wanita setengah telanjang menegaskan betapa klasiknya konsep rumah ini. Begitu juga dengan deretan pohon palem yang ditanam di samping bangunan utama. Hanya dengan melihatnya saja, Jihan bisa menghitung berapa biaya yang dihabiskan untuk membangun rumah ini. “I-ini rumahmu?” tanya Jihan tergagap. Ia tak menyangka, ternyata gaji pembalap motor bisa untuk membeli rumah semewah ini. “Salah satu rumahku,” jawab Dev sambil memasukkan kedua telapak tangannya di saku celana. Jihan langsung memanyunkan bibirnya. Malas melihat pria itu semakin jumawa ketika mendapatkan validasi dari orang lain. Sekian detik kemudian, Dev mengajaknya masuk ke rumah. Interior di dalam bangunan itu tak kalah mewah. Lukisan-lukisan dari pelukis ternama terpajang di setiap sisi. Lantainya marmer dengan kualitas nomor satu. Sofa ruang tamu berlapiskan emas membuat hati Jihan semakin mengkerut. Benarkah dia seorang pembalap? Kalau iya, mengapa bisa sekaya ini? Dari ruangan tengah, dua asisten berlari kecil mendekati Dev. Begitu sampai di jarak satu meter, mereka merunduk pada Dev dan Jihan, “Selamat malam, Pak Dev, makan malam Anda sudah siap.” Ucap salah satu asisten rumah tangga amat santun. “Baik, terima kasih, Mbak Arni dan Iwan. Kalian langsung istirahat saja, ya. Ini sudah jam sebelas malam,” balas Dev juga santun. Jihan yang memperhatikannya sedikit mengernyit. Cara bicara Dev pada asisten rumah tangganya kelewat santun untuk ukuran sang bos besar. Sungguh tidak mencerminkan sikapnya yang angkuh. Begitu dua asisten rumah tangga berlalu, Dev mengajak Jihan ke ruang makan. “Orang yang lagi sedih pasti gampang laper, ayo makan. Ada jamur truffle panggang buatan Chef Johny, enak bangeett..” Jihan tak menjawabnya. Ia hanya menghela nafas panjang. Pada akhirnya, perutnya yang sedari tadi keroncongan akan terisi makanan. “Jadi.. kamu kuliah di Harvard?” tanya Dev di sela-sela mereka menyantap makan malam. “He’em..” Jihan tak leluasa menjawabnya. Mulutnya kepenuhan jamur truffle panggang terenak yang pernah ia makan. “Kalo aku jadi calon suamimu, aku nggak akan nyia-nyiain cewek pinter kayak kamu.” “Emangnya kenapa?” tanya Jihan dengan suara kumur-kumur. Makanan yang dikunyahnya belum tertelan sempurna. “Cewek cantik banyak, tapi cewek pinter, itu langka,” ada nada ketegasan saat Dev mengakhiri kalimatnya. Jihan melambatkan kunyahannya, menerka-nerka sifat pria di hadapannya. Semestinya, pria playboy hanya suka cewek goodlooking dan seksi. Ahh.. pasti dia cuma basa-basi saja. “Ngomong-ngomong kamu kerja dimana?” lanjut Dev. “Rumah Sakit Amarta, poli bedah umum.” “Ohhh..” raut wajah penasaran Dev lenyap seketika saat mendengar nama rumah sakit itu. Usaha untuk menghangatkan suasana sirna sudah. Dev dan Jihan pun telah selesai makan malam. Namun, tak ada satupun diantara mereka yang mengawali pembicaraan. “Dimana tempat tidurku?” tanya Jihan. Lalu dihabiskannya segelas air putih cepat-cepat. Ia tak ingin lama-lama di sini. Rasanya gerah melihat wajah lelaki itu. Meskipun tampan, tapi ia tak suka jenis pria tampan playboy, apalagi angkuh. “Di lantai atas. Cuma ada satu kamar bersih di sini. Jadi, khusus malam ini kita tidur sekamar.” Seketika air yang diminum Jihan muncrat, menyembur wajah Dev yang berlagak pilon. “APAAA?! Kamu bener-bener ya, niatnya mau menjebakku!” Buru-buru Jihan berdiri lalu berlalu begitu saja menuju pintu keluar. Ia tak sudi melepas keperawanannya dengan pria asing apalagi buaya seperti Dev. “Hey.. tunggu dulu! Hey siapa namamu?” buru-buru Dev mengejar Jihan. Wajahnya yang masih basah dilap secara asal. Ia pun kesal wajah tampannya disembur air oleh wanita yang baru dikenalnya. Tapi di lain sisi, ia merasa berhutang budi dengan Jihan. “Aku nggak bermaksud seperti itu. Memang kamar lainnya lagi direnovasi soalnya lama nggak kepake. Oke kalo kamu masih nggak percaya, aku tidur di sofa ruang tengah,” bujuk Dev, nafasnya terengah-engah mengejar Jihan yang sudah jauh di depannya. “Halah! Paling-paling pas aku tidur langsung menyelinap ke kamar,” “Enggak begitu, aku serius nolongin kamu karena aku tahu gimana perasaanmu. Ibuku pernah diselingkuhi ayahku.” Jihan tiba-tiba menghentikan langkahnya mendengar pengakuan Dev. Ia tercenung beberapa saat sebelum membalikkan badan. Entah benar atau tidak pengakuan itu, tapi ada luka yang terpaut pada ucapan Dev. “Kamu kasian sama aku karena diselingkuhi, sementara kamu sendiri suka gonta-ganti cewek. Sorry, enggak nalar banget alasanmu.” “Emang bener aku suka gonta-ganti cewek, tapi.. aku nggak pernah berselingkuh. Lagipula, nggak ada satupun diantara mereka yang tulus sama aku. Mereka cuma ngejar ketenaranku, kekayaanku..” Dev tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tahu, dari penjelasan itu mungkin Jihan sudah bisa menyimpulkannya. “Percayalah padaku, Cantik..” Dev memasang wajah iba. Sementara itu, Jihan menggeleng-gelengkan kepala. Baru saja pria itu memohon untuk dipercaya, namun, sifat buayanya tetap tak bisa disembunyikan. “Maaf, aku nggak bermaksud menggodamu. Dari awal kita bertemu aku nggak tahu namamu.” “Jihan.. namaku Jihan..” “Oke Jihan, ini kunci kamarmu. Kamu boleh percaya atau enggak, tapi cuma ada satu kunci di kamar itu,” Jihan tak menjawabnya. Disambarnya langsung kunci kamar itu dan tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung menyentakkan sepatunya dan berlalu dari hadapan Dev.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN