Sayup-sayup sinar kekuningan menyapu setiap perabotan di ruang tengah. Termasuk wajah Dev yang masih terpekur di sofa. Untuk pertama kalinya mentari mendahuluinya sebelum pria itu melanjutkan pekerjaan. Asisten rumah tangganya ragu-ragu hendak membangunkan sang bos besar. Namun, kalau tidak dibangunkan, ia akan terlambat menghadiri rapat.
“Mas Dev, bangun, sudah jam tujuh..” Iwan menggoyang-goyang tubuh bosnya.
Pelan-pelan pria itu membuka kelopak matanya. Lalu mengernyip-ngernyip lama. Ia belum sepenuhnya sadar dengan peringatan Iwan. Namun, saat ia menyampingkan tubuhnya dan melihat jam dinding, seketika matanya membelalak tak percaya,
Hah?! Astagaaa… serius udah jam tujuh?!!” Dev langsung terperanjat dari sofa. Iwan hanya mengangguk-angguk pelan. Takut dimarahi sang bos.
“Astagaaa…celaka ini! Klienku bakal batalin proyek besar kalo aku nggak segera ke kantor.” Dev menggaruk-garuk kepalanya. Rambut yang tadinya berantakan makin awut-awutan.
Bergegas Dev berlari ke kamar atas. Karena di sanalah kemeja kerjanya tersimpan. Sementara itu, Iwan memberi gestur untuk mencegah bosnya masuk ke kamarnya.
“Anu, Mas.. di kamar itu ada…” Iwan tiba-tiba tergagap. Ia tidak tahu harus mulai darimana.
“Ada apa? Saya terburu-buru, nih. Nanti aja ngomongnya. Oh ya, siapin motor Duccati di halaman depan, lima menit lagi saya turun.”
“Mas..!” panggilan Iwan sama sekali tidak ia hiraukan. Dev lenyap begitu saja di lantai dua.
Dengan nafas tersengal, Dev meraih daun pintu kamarnya, dan begitu dibuka, Jihan menjerit sekencang-kencangnya.
“Aaaaakhhhhhhhh….!!!”
Di tengah jeritannya, Dev hanya melongo melihat Jihan bertelanjang bulat tanpa sehelai kainpun. Darahnya terpompa deras menuju ubun-ubunnya. Tentu saja, sebagai lelaki sejati, nafsunya terpancing oleh lekukan indah tubuh wanita itu. Sampai-sampai ia lupa tujuannya ke kamar hanya untuk mengambil kemeja.
“Dasar pria sialan!! Aku nyesel percaya sama kamu!” teriak Jihan sesaat setelah membalut tubuhnya dengan handuk.
“Loh? Kan udah aku kasih kunci. Kenapa nggak dikunci?” Dev berusaha setenang mungkin, meskipun ‘adiknya’ di bawah sana sudah menonjol keras.
“Nih liat!” Jihan melempar kunci kamar di hadapan Dev, “Kuncinya nggak cocok!” wajah Jihan merah padam. Hatinya benar-benar dongkol karena selalu lolos dari tipuan lelaki sialan itu.
Sementara itu Dev membungkuk, mengambil kunci berwarna keperakan yang sudah berkarat. Dahinya mengernyit sejenak, lalu sesuatu yang terlintas di pikirannya memudarkan kerutannya.
“Astaga.. maaf, ini kunci kamar rumahku yang di Kompleks Nusantara. Maaf banget ya, soalnya warnanya sama jadi aku-“
“Alesan! Pokoknya ini kali terakhir aku DITIPU sama kamu!” suara Jihan mendengking memekakkan telinga. Luapan amarah tak bisa ia kendalikan seperti biasanya. Gara-gara pria di hadapannya, mendadak ia jadi wanita bodoh – terjaring oleh ucapannya tadi malam.
“Mana mungkin pria bertampang buaya itu nggak pernah selingkuh? Cihh.. bodoh banget aku!” batinnya. Tanpa basa-basi lagi, Segera Jihan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Dev hanya termangu melihat tubuh molek Jihan berlenggak-lenggok menuju kamar mandi. Percaya tidak percaya, ia bisa menerawang tubuh itu meskipun tertutupi oleh handuk. Ini bukan pertama kalinya Dev melihat tubuh wanita tanpa busana. Ratusan wanita dengan bentuk tubuh beragam, mulai dari yang sintal sampai yang berbentuk gitar bagai model, sudah pernah ia ‘coba’. Mereka tertunduk patuh oleh badan atletis dan juga wajah tampan nan kharismatik Dev. Saking patuhnya, Dev tak bisa merasakan sensasi meledak-ledak saat melihat kemolekan tubuh mereka.
Tapi, kali ini berbeda. Baru kali ini ia merasakan sensasi ledakan di jantungnya melihat wanita setengah telanjang. Apalagi, ini hanya butuh waktu nol koma sekian detik agar ‘adiknya’ mengeras sempurna. Ini aneh. Benar-benar aneh. Mengapa wanita yang baru dikenalnya itu membuatnya merasakan hal yang begitu nyaman nan mendebarkan?
***
“Pak Dev, klien kita terkesan oleh proyek ini. Rencananya mereka akan segera menanamkan modal paling lambat akhir bulan,” Reyno, asisten pribadi sekaligus sekretaris Dev meletakkan sebendel map surat perjanjian yang sudah ditandatangani klien, dengan hati-hati.
Sementara itu, Dev tidak bergeming. Kedua matanya menembus laptop di depannya, mengawang-ngawang perasaan tadi pagi yang rasanya tak masuk akal.
“Pak?” Reyno memastikan bosnya memperhatikannya.
“Eheemm.. Pak Dev?”
“Y-yaaa.. maaf, maaf.. saya lagi.. ehhmm..” gelagapan Dev mencari alasan. Karena memang tak ada alasan yang masuk akal ketika terpergok melamun. “Oh iya, tadi kamu bilang apa?” secepat kilat Dev memasang wajah berwibawa.
“Ini, Pak. Surat perjanjian klien kita.. sudah ditanda-tangani.” singkat Reyno menjelaskan. Sama seperti bosnya, ia tidak suka membuang-buang waktu karena masih banyak pekerjaan yang menumpuk.
Tapi hari ini Dev melanggar prinsipnya sendiri. Puluhan laporan bertumpuk di hadapannya, namun tak segera ia selesaikan. Pikirannya terus berkelana pada pertemuan tidak terduga itu, dan juga wajah cantik itu. Mungkin, mantan-mantan pacarnya ada yang lebih cantik darinya, tapi tak ada satupun diantara mereka yang mengesankan seperti Jihan.
Tiba-tiba ia tersenyum sendiri. Bagaimana mungkin ada wanita yang bisa sangat akurat menghitung kemiringan sudut hanya dengan melihatnya saja? Dua jam yang lalu, sebelum menghadiri rapat, ia mengirim pesan pada Pak Jati, ayah sambung sekaligus seseorang yang mengenalkannya dengan balap motor, untuk menanyakan berapa kemiringan di tikungan 12. Dan, tidak terduga, jawabannya sama dengan Jihan.
Hatinya teremas-remas lagi mengingat itu. Dan tanpa disadarinya, ia menulis nama Jihan di buku catatannya.
“Gilaaa! Kenapa aku malah nulis namanya?! Aku bener-bener udah gilaa!” gumamnya. Dicoret segera nama itu, disobek kertasnya, diremas-remasnya kesal, lalu ia buang ke tempat sampah begitu saja. Sesegera mungkin ia mengalihkan pikirannya dengan menggeser-geser kursor laptop. Rutinitas biasanya sebelum memulai pekerjaan adalah membaca berita terkini.
Dibukanya laman koran nasional. Niatnya ingin membaca harga saham perusahaan-perusahaan saingannya, namun, kedua matanya terpaku pada berita tentang keluarga Amarta, nama keluarga yang menyulut api membara di hatinya.
Pelan-pelan, dibacanya berita itu,
“Kabar tidak menyenangkan datang dari keluarga sultan Amarta. Anak sulung Jimmy Amarta, yaitu Amran Amarta, gagal melangsungkan pernikahan di hari Selasa (18/02/2023) kemarin dikarenakan mempelai wanita menghilang secara misterius. Mempelai wanita yang diyakini sudah dijodohkan sejak mereka berdua SMP adalah salah satu dokter di Rumah Sakit Amarta. Wanita bernama Jihan Pramesthi itu tidak diketahui lagi keberadaannya setelah menonton balap motor di Sirkuit Mandalika..”
Deg!
Seketika hati Dev jatuh terperosok ke dasar jurang. Ia tidak menyangka, wanita yang dibawanya kabur semalam adalah calon menantu Jimmy Amarta, seseorang yang amat dibencinya, seseorang yang telah mengusir almarhum ibunya dari rumah, seseorang yang darahnya mengalir pada darahnya sendiri. Pria itu, tak lain adalah ayah kandungnya!