“Apa kata polisi?” tanya Jimmy kepada asistennya, setelah setengah hari lamanya mereka mencari-cari keberadaan Jihan.
“Masih dalam penyelidikan, Pak. Mereka hanya bisa memastikan terakhir kali Mbak Jihan terlihat di sirkuit Mandalika,” jawab sang asisten setengah takut.
Sementara itu, Rosma, istri Jimmy, tersenyum nyengir. Sama seperti suaminya, ia suka memandang rendah orang lain. Baginya, orang yang patut menerima penghormatannya adalah orang yang lebih kaya darinya. Wanita itu adalah mantan pelac*r kelas elit. Tujuannya melacur bukan hanya untuk mencari uang, tapi juga untuk menikah dengan pria kaya. Ia dulunya gadis kampung yang tak lulus SMA dan benci terlahir miskin. Dan dengan modal nekat, ia kabur dari rumah untuk menjadi p*****r di kota.
Ia mengira jadi p*****r itu mudah. Nyatanya, banyak sekali perempuan-perempuan yang lebih cantik dan sintal darinya. Tak mau kalah dari mereka, ia mendatangi dukun sakti di kampungnya, agar para pria tunduk kepadanya.
Dan benar saja, sekembalinya ke kota, Jimmy yang saat itu sudah menikah dengan keturunan ningrat, Miranti, langsung kepincut dengan Rosma. Jimmy mengusir Miranti dan anaknya dari rumah, agar bisa menikahi Rosma.
“Sayang, bukannya kamu kasih bonus gede sama si polisi itu? Kok kerjaannya tetep nggak becus?” sindir Rosma, kedua alis hitamnya menukik tajam. Persis seperti sedang memangsa orang.
“Ya gede sih gede, tapi sirkuit baru itu kan belum dipasang cctv, itu yang mempersulit.” Balas Jimmy tegas, “Ahh, kamu ini kapan pinternya? Apa-apa diukur uang,” Menerima sindiran suaminya, hati Rosma langsung mengkerut.
“Ngapain juga sih Mas Amran harus nikah sama Jihan, Pah? Bukannya spek Mbak Alika nggak kaleng-kaleng? Dia udah tembus jadi model internasional lho..” keluh Martha, putri bungsu Jimmy.
“Iya, Papa tahu.. tapi Jihan kan juga nggak kaleng-kaleng, kan?” balas Jimmy setengah sewot.
“Halah.. cuma anak dosen gitu apa bagusnya? Ayahnya orang nggak bener lagi..” sindir Martha.
“Ssssttt.. Martha! Jaga bicaramu!” Irene, kakak tengahnya memperingatkan. Tidak seperti ayah maupun ibunya yang galak dan tegas, Irene adalah wanita lembut yang tidak tahu caranya marah, apalagi bicara tegas. Cara bicaranya santun. Ia hormat kepada siapapun. Bahkan, semua asistennya memuji kebaikan dan ketulusan dirinya.
“Amran! Kamu ngomong apa kemarin sama Jihan?” tanya Jimmy langsung melotot pada Amran.
“Eng-enggak bilang apa-apa, Pah. Amran cu-cuma..”
“Halah.. kamu sama bodohnya dengan ibumu! Pokoknya, cari Jihan segera! Kalo sore ini nggak ketemu, aku coret namamu dari daftar warisku!”
***
Beberapa teguk air putih sudah ia telan. Tapi tetap saja debar di d**a masih menggedor-gedor tak karuan. Hanya dengan berita itu Dev bisa kehilangan keseimbangan diri. Ia yang biasanya praktis waktu tiba-tiba menelantarkan laporan-laporannya hanya demi lamunan yang semakin menjadi-jadi. Apalagi jika lamunan ini berkaitan dengan Jimmy Amarta.
“Ahhh.. sialan!!”
Direbahkannya kepala pada sandaran kursinya. Sambil memandangi gedung-gedung tinggi di luar sana, tiba-tiba ingatannya meluncur kala ia berumur enam tahun. Ia ingat persis saat itu, betapa mengerikan wajah Jimmy saat mengusir ibu.
“Keluar kau dari rumah ini! Aku nggak butuh kau lagi!” kata-kata Jimmy terus terpatri di ingatannya. Menimbulkan sayatan yang amat perih, yang tak akan sembuh selamanya.
Di tengah malam yang dingin dan hujan yang begitu lebat, Dev dan ibunya menembus kerasnya air hujan yang menghujam kedua tubuh dan jiwa yang rapuh. Sang ibu tak tahu harus kemana. Mereka tidak mungkin kembali ke ayah dan ibunya Miranti, karena pernikahannya dengan Jimmy tidak mendapat restu.
Akhirnya, dengan menjual perhiasan yang masih dikenakan, Miranti berjualan nasi uduk di depan kosnya yang sempit. Sehari-hari Dev dan Ibu hanya bisa makan satu telur dibagi dua. Terkadang kalau untungnya lumayan banyak, Miranti membeli ayam goreng kesukaan Dev, dan ia hanya makan sisa-sisa tulangnya saja. Setengah tahun, Ibu terlihat tegar dan tak menangis lagi sepanjang malam meratapi nasibnya yang malang.
Namun, pagi itu, adalah pagi yang paling tidak ingin ia ingat selama hidupnya. Saat Dev kecil bangun tidur, ia mendapati tubuh Ibu tergantung di atap dapur. Wajahnya pasi, lidahnya menjulur keluar, matanya melotot seperti dicekik kuat-kuat. Dev berteriak sekencang-kencangnya hingga akhirnya…
Tak terasa, ingatan itu memantik air matanya keluar tanpa rencana. Diusapnya air mata itu sesegera mungkin. Ia sudah berjanji untuk tidak menangisi masa lalunya, apalagi nasibnya yang malang.
Disambarnya kunci motor di sudut meja. Ia tahu harus mengadu kemana jika hatinya diombang-ambing rasa dendam yang sulit ia tekan.
***
Motor duccati hitam berhenti tepat di depan bengkel motor bertuliskan Jati Motor. Bengkel itu berada jauh di keramaian. Tempatnya tersembunyi menjorok di balik ruko-ruko sepanjang jalan. Di sekeliling bengkel itu, terdapat tumpukan rongsokan besi dari kerangka-kerangka motor yang karatan. Pemilik bengkel ini bukan tukang rongsok. Bukan sama sekali. Pemilik bengkel ini adalah mekanis yang dulu pernah bekerja di perusahaan perakitan mesin di Jepang. Namanya Jati Antasih. Pria paruh baya yang tak lain adalah ayah sambung Dev.
“Wahahaha.. lama ndak kesini kamu, Le.. sibuk sama cewek apa sama balapan nih?” Jati menyambut Dev dengan pelukan hangatnya. Dan benar saja, rasa hangat itu langsung menyalur ke dalam tubuhnya yang beku oleh kenangan tadi siang.
“Sama balapan dong, Pak..” jawabnya diiringi senyum yang merekah. Tak lupa ia menyalami tangan renta Jati. Tangan yang telah mengajarinya banyak hal.
“Bapak belum makan siang, kan? Ini Dev bawain sushi kesukaan Bapak.” Lanjut Dev sambil mengangkat sebungkus sushi premium di tangannya.
“Ahhh.. kamu ini sukanya kok repot-repot, to? Bawa tubuh aja Bapak udah bersyukur, lho..” jawab Jati, tawanya begitu renyah, mata teduhnya begitu syahdu. Dan ekspresi itulah yang ia perlukan saat ini. Hangat dan menenangkan.
“Ngomong-ngomong, kenapa tadi kamu tanya sudut kemiringan tikungan 12?” tanya Jati di tengah-tengah waktu mereka menyantap sushi.
Dev berhenti sejenak mengangkat sumpitnya. Kembali lagi ingatannya pada pertemuan itu. Pertemuan yang membuatnya ingin mengulangnya kembali, namun dengan cara yang lebih berarti.
“Jadi, ada cewek yang menemuiku sebelum pertandingan dimulai. Dia mengatakan kalau sudut kemiringan tikungan 12 itu melenceng hingga 9 derajat. Dan bisa dipastikan semua pembalap akan terjatuh di sana,” ada getar tak biasa saat Dev mengucapkan kalimat itu.
“Loh? Darimana cewek itu tahu?”
“Cuma melihatnya aja, dia bisa menghitung dengan tepat.”
Tiba-tiba Jati tersedak. Buru-buru Dev mengambilkannya air minum lalu diteguknya cepat-cepat sebelum menyatakan keheranannya.
“Cuma melihat?” Dev manggut-manggut mantap.
“Wahh.. kok kedengarannya mustahil?” balas Jati masih terheran-heran.
“Dia lulusan sekolah kedokteran di Harvard,” Dev meyakinkan, namun dari keyakinan itu, ada kecanggungan yang lolos begitu saja.
“Gilaa, gila.. pasti gadis pintar, tuh!” Dev manggut-manggut, kali ini senyum tersipunya yang lolos.
“Pasti kamu langsung kepincut sama dia, tipemu, kan?”