Deg!
Buru-buru Dev merunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang merah padam, dan juga senyum malu-malunya.
“Wah, setelah mengencani sekian ratus gadis cantik, akhirnya anakku satu-satunya ini bisa jatuh cinta juga, Haahahaha..” ejekan Jati membuat Dev semakin merasa dilucuti begitu saja.
“Enggak, enggak.. dia itu wanita keras kepala dan-“
“Alah banyak alesan kamu, Le. Kamu pernah bilang sama bapak, kamu gampang kepincut cewek pinter, kan? Inget nggak itu.. siapa namanya? Aduhh lupa..” Jati garuk-garuk kepala
“Qony..”
“Iya, Qony! Ketua Osis di SMA-mu itu. Wajahnya biasa banget tapi kamu tergila-gila sama dia karena ranking satu terus. Inget banget Bapak waktu kamu pulang sekolah nangis sesenggukan karena ditolak Qony. Hahahahahaha..” Jati semakin tertawa terbahak-bahak.
“Pak, sudah Pak..”
“Eh, sebentar, sebentar, Bapak belum selesai.. Qony saja yang ranking pertama di SMA Kabupaten bisa bikin kamu klepek-klepek, apalagi lulusan Harvard. Dokter lagi. Hahaha, bener apa bener?” tawa Jati belum juga berhenti. Diletakkan sekotak sushi yang ludes tak tersisa. Jati memang sudah berusia lebih dari 50 tahun, tapi energinya masih utuh untuk tertawa dan mengenang.
Sementara itu, Dev menghela nafas dalam-dalam. Perkataan bapak sambungnya benar apa adanya. Bahkan terlalu realistis. Namun, ia masih belum bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa ia (mungkin) jatuh cinta.
“Pak, dia memang pintar, tapi..” ragu-ragu Dev menjawab.
“Dia calon istri Amran Amarta.”
Jati melongo tak percaya. Mata abu-abunya mengembun tak terencana. Jelas sekali, ia bisa menangkap sinyal bahaya jika itu sudah menyangkut keluarga Amarta.
***
Irene selalu benci dengan yang namanya pertemuan keluarga. Ia tidak suka dikelilingi keluarganya sendiri. Dadanya sesak saat mendengar ayahnya berbicara, meskipun yang dibicarakan hal-hal yang biasa. Tubuhnya menegang saat ibunya menyela omongannya. Bahkan, ketika mereka diam saja, Irene merasa tubuhnya kaku dan membeku. Tidak nyaman.
Namun, satu hal pasti yang membuat dirinya enggan datang di acara keluarga adalah Thariq. Suaminya itu curi-curi kesempatan agar bisa berduaan dengan Rosma, ibu kandungnya sendiri!
Dua tahun yang lalu, sepulang dari Turki, firasatnya sudah tak enak saat memasuki rumah. Mobil Thariq terparkir di halaman, tapi suaminya itu tak menyambutnya sama sekali. Begitu ia hendak masuk kamarnya, ia mendengar suara engahan Thariq dengan seorang wanita di kamarnya sendiri. Tubuhnya langsung bergetar hebat, namun ia tekan sekuat tenaga. Ia ingin tahu siapa wanita yang bersama suaminya. Tapi ia tidak punya cukup nyali melabrak suaminya sendiri. Jadi, ditunggunya selama sejam sambil menahan tangis dan sesak yang hampir membunuhnya. Dan begitu pintu kamar itu terbuka, seketika dunianya berhenti. Wanita itu, tak lain adalah ibunya sendiri.
Sejak saat itu. ia menjauh dari Rosma, jarang datang ke acara keluarga. Absennya tidak begitu berdampak pada keluarga besar Amarta. Wajar saja, Irene adalah anak paling tidak diharapkan kehadirannya oleh Rosma. Puluhan kali Rosma mencoba menggugurkan Irene, tapi tidak pernah berhasil. Dan ketika Irene lahir, ia tidak pernah disusui, tidak pernah ditimang apalagi dipeluk saat tidur. Sepenuhnya Irene dirawat oleh Bik Yul.
“Kok lama banget, Mas?” tanya Irene begitu Thariq memasuki mobil.
“Anu, tadi Mama mau nitip tempura langganan kita yang di Jalan Halim itu.”
“Loh? Bik Ani kan udah tahu tempatnya, kenapa masih minta tolong sama Mas?” dalam bara api cemburu yang melumat dadanya, Irene pura-pura memasang wajah bego.
“Udahh, Sayang.. nggak apa-apa, barangkali Mama pengen menantunya yang beliin. Namanya juga orangtua.” Balas Thariq, diusap-usapnya kepala sang istri. Irene ingin menangkis tangan itu tapi ditahannya sekuat tenaga. Ia harus lebih bersabar. Ia tak punya siapa-siapa, dan juga tak punya apa-apa.
“Terus kamu juga yang nganter ke sini besok?”
“Iya dong..” teriris perih hati Irene mendengar Thariq menjawabnya dengan nada santai. Andai saja lelaki itu tahu istrinya mati-matian menahan amarah karena tahu ia telah dipermainkan.
“Oh ya, setelah nganter tempura ke rumah Mama, aku ada janji sama klienku di kafe sekitaran sini. Agak lama, mungkin empat jam. Soalnya dia klien paling detail oriented dan teliti. Jadi, nggak usah telpon-telpon ya, Sayang.. aku pasti pulang ontime, kok.” tersayat lagi hati Irene. Sampai-sampai memantik air mata yang tergenang begitu saja.
Begitu mobil keluar dari kediaman Amarta, Irene menghela nafas dalam-dalam, sembari mengawang-ngawang pada keputusan-keputusan masa lalu yang disesalinya,
“Andai saja dulu aku memutuskan bekerja sebelum menikah, andai saja aku punya uang… Ahh.. aku pengen banget punya penghasilan sendiri, biar bisa cerai dari Thariq!”
Irene menghela nafas lagi. Miris sekali hidupnya. Ia memang anak Sultan Amarta. Tapi tak sepeserpun Jimmy memberikan warisan padanya. Alasannya hanya satu – ia adalah anak yang tidak diinginkan.
***
Seperti orang tanpa tujuan, Amran berkeliling kota mencari Jihan. Ratusan kali ia menelepon nomor wanita itu, tapi tak diangkat sama sekali. Sejam yang lalu, ia mendatangi rumah ibunya Jihan, tapi tak ada seorangpun di sana. Ia bingung harus kemana lagi. Mengapa harus Jihan? Mengapa ayahnya begitu ingin menantu kampungan seperti dia?
“Halo, Erika.. kamu dimana?” Amran buru-buru bertanya, ketika teleponnya baru diangkat Erika.
“I told you million times I’m busy!”
“I know, I know.. sorry, tapi ini penting, Jihan menghilang. Kira-kira aku harus mencari dia kemana?”’ Amran selalu minta saran pada Erika jika punya masalah. Intuisinya tinggi. Selalu punya solusi dan langkahnya tak pernah meleset.
“Well..” Erika tertawa terkekeh. Amran tahu pujaan hatinya itu sedang meremehkannya.
“Nggak usah kamu cari. Dia pasti kembali.”
Tutt..
Telepon dimatikan begitu saja. Ahh.. jika saja ia punya keberanian untuk melawan sang ayah, pasti dibawanya kabur wanita yang membuatnya tergila-gila itu. Erika memang wanita sinis. Bahkan ia lebih dominan dari Amran. Tapi itu tak masalah baginya. Sesinis apapun, sedominan apapun, hanya Erika yang mampu meluluhkan hatinya. Sayangnya, wanita itu tak ingin menikah dengannya atau dengan lelaki manapun di dunia ini. Dia wanita yang memutuskan untuk hidup independen.
***
Sejam lebih lamanya, Dev menceritakan niatnya membawa kabur Jihan pada Jati. Ada kegugupan yang ia tahan sekuat tenaga saat menyebut nama wanita itu. Jati menyadarinya. Ia tahu, pria adalah makhluk paling bodoh saat menyembunyikan perasaan. Namun, di lain sisi, Jati juga menangkap selendang api dendam kala Dev menyebut nama Amarta.
“Jangan libatkan wanita itu dalam rencana balas dendammu,” saran Jati begitu Dev selesai bercerita.
“Enggak, Enggak sama sekali, Pak.”
“Atau mungkin, Tuhan mempertemukanmu dengannya biar kamu membatalkan rencanamu itu. Biar kamu.. bisa menerima masa lalumu.”
Dev menghela nafas dalam-dalam. Berulang kali Jati memberi saran yang sama, berulang kali pula ia menolaknya. Rasanya begitu sulit memadamkan api dendam yang terlanjur melahap jiwanya. Bahkan, semakin ia beranjak dewasa, api itu semakin berlipat ganda. Berkobar-kobar ganas. Hidupnya tidak akan tenang sebelum berhasil membuat Jimmy Amarta dan keluarganya jatuh miskin.