Ya. Itulah rencana balas dendamnya sejak sang ibu meninggal dunia. Perusahaan multinasional milik Dev saat ini, yang membawahi ratusan hotel di Indonesia dan Asia, dibangun di atas api dendam yang selalu membara. Di ulang tahunnya yang ke-17, ia nekat pergi ke Perancis untuk belajar bisnis dengan legenda pebisnis hotel terkenal, Charles Arnaud. Charles mendidiknya amat keras, tapi itulah yang ia butuhkan untuk membangun bisnis dari nol - menjadi kuat dan tangguh. Dan, sekembalinya Dev ke Indonesia, hanya butuh waktu dua tahun ia bisa memiliki sebelas hotel bintang lima, di bawah naungan perusahaan induknya, yaitu Anchor Hotels.
Kini, sepuluh tahun sudah ia menjalani bisnis jaringan hotel. Ratusan hotel bintang lima sudah ia miliki. Tercapai sudah satu impiannya – menjadi lebih kaya dari Jimmy.
Namun, tidak ada seorangpun yang tahu kalau Dev adalah pemilik Anchor Hotels. Tidak ada yang tahu ada sultan lain di kota ini, yang kekayaannya melampaui Sultan Amarta. Bahkan, mantan-mantan pacarnya pun tidak ada yang tahu. Hanya para klien, karyawannya, dan orang-orang yang terikat kontrak dengannya saja yang setia menjaga rahasia Dev.
Ia tetap konsisten bersembunyi di balik perannya sebagai pembalap motor playboy nan kharismatik. Agar rencana balas dendamnya berjalan sesuai keinginannya. Hingga di titik ini, rencana yang telah tersusun rapi itu goyah oleh perasaan aneh pada wanita yang baru saja dikenalnya.
“Apa kamu tahu alasan dia nggak mau menikah dengan Amran?” tanya Jati, memecah lamunan Dev.
“Enggak, Pak. Tapi, dari berita tadi siang, mereka dijodohkan. Kayaknya dia memang nggak setuju dengan perjodohan itu.”
“Dijodohkan? Memangnya siapa orangtua Jihan?”
“Ayahnya dosen, tapi udah lama ayahnya meninggalkan Jihan dan keluarga,” ada percikan air dingin di hati kala menyebut nama itu.
“Dosen? Aku kira keluarganya juga pebisnis,” Jati memegang dagunya, dahinya mengernyit dalam, memikirkan sesuatu yang mengusik hatinya.
“Bapak mengira ada yang aneh?” pertanyaan Dev langsung disambut anggukan mantap Jati. “Ya.. aku agak curiga dengan alasan mereka dijodohkan.”
“Terus apa rencanamu selanjutnya?” Jati melipat kedua tangannya.
“Membiarkan dia pergi,” Dev merunduk dalam-dalam, takut Jati memergoki dirinya berbohong.
“Hahaha.. nggak mungkin!” dan benar saja, Jati selalu berhasil melucuti pikiran Dev, “Qony aja kamu kejar mati-matian, apalagi wanita ini. Pintar, cantik, single pula. Apa yang kurang darinya?”
“Dia calon istrinya Amran, Pak.”
“Ya, Bapak tahu. Kalau saran Bapak, kamu harus memilih salah satu. Satu saja.. dapatkan hatinya, dan batalkan rencana balas dendammu itu. Atau, biarkan dia pergi agar kamu bisa menjalankan rencana itu. Kamu tidak boleh serakah – mendapatkan Jihan sambil menjalankan balas dendammu pada Jimmy. Kalau tidak, kamu bisa kehilangan wanita yang.. mungkin akan mengubah jalan hidupmu.”
***
Hari itu Kelvin tidak berangkat kerja. Ia beralasan mengunjungi saudaranya yang menikah di luar kota. Padahal, ia sedang menghabiskan setengah hari duduk sendirian di Kafe Atomic, kafe favorit Jihan.
“Aku paling suka duduk di pojokan sini,” kata Jihan suatu hari saat mereka berkencan.
“Apa alasannya? Hm?” diusapnya lembut tangan Jihan, digenggamnya erat. Ia tak mau momen indah ini cepat berlalu.
“Lampu di sini cahayanya yang paling remang. Kalau di tempat remang-remang begini, intuisi kita sebagai makhluk hidup akan meningkat, lebih kreatif, lebih jelas imajinasi kita.”
“Ahh.. mulai berteori lagi kamu,” balas Kelvin diiringi tawa renyah. Seringkali, Kelvin dibuat gemas oleh Jihan yang suka mendalami segala hal. Seolah-olah otaknya tak pernah beristirahat memikirkan semua hal di sekitarnya. Tapi itu yang paling ia suka dari Jihan. Tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Selain itu, cahaya remang juga meningkatkan telepati kita dengan orang lain. Terutama dengan orang yang kita sayangi,” lanjut Jihan.
“Benarkah? Darimana kamu tahu? Sigmund Freud?” Jihan menggeleng-geleng cepat.
“Itu.. cuma pendapat personal aja.”
Dan itulah alasan mengapa ia menghabiskan waktu di kafe ini – mencari tahu kemana Jihan pergi, melalui telepati di bawah cahaya remang ini. Setengah hari ia berdiam di sini, terkadang ia memejamkan mata, berpikir seperti Jihan, dan pikirannya selalu tertuju pada satu tempat – Sirkuit Mandalika.
Ragu ia hendak pergi kesana. Balapan motor bukanlah olahraga kesukaan Jihan. Tapi, jika telepati itu benar adanya, tidak ada salahnya pergi ke sana.
Bergegas ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Sayup-sayup ia mendengar bisikan para wanita seksi yang duduk melingkar di sudut kafe,
“Eh, itu dokter Kelvin bukan? Dokter yang di acara Talk to Doctor?”
“Iya.. itu dokter Kelvin! Aslinya ganteng banget yah?!”
“He’em ganteng banget..”
“Boleh nggak ya minta foto?”
Kelvin segera mempercepat langkahnya, agar tak dikejar para wanita itu. Jengah ia mendapat perlakuan yang sama setiap bertemu para wanita. Mereka hanya menilai dari luarnya saja. Mereka hanya menyukai tampangnya saja. Padahal, yang ia butuhkan lebih dari itu. Dari dulu, ia mendambakan pasangan yang bisa diajak bertukar pikiran. Dan sebenarnya, ia sudah mendapatkan itu semua dari Jihan. Sayangnya, hubungan itu harus berakhir gara-gara perjodohan.
Sebelum Jihan kabur, ia tidak mengerti mengapa Jihan menolak menikah dengan Amran. Baru setelah Jihan menghilang, ia baru sadar, mantan pacarnya itu serius dengan ucapannya.
Dan sekarang, ia punya peluang. Ia ingin mendapatkan Jihan kembali. Tak akan ia membiarkan Jihan meninggalkannya. Sekeras apapun halangannya.
***
Rencana Dev yang ingin cepat-cepat pulang harus digagalkan oleh pesan dari Iwan. Asisten rumah tangganya itu bilang kalau Jihan meminjam mobilnya dan pergi sejak tadi siang. Padahal, sudah ia minta Chef Johny untuk memasak jamur truffle panggang kesukaannya, yang sekarang menjadi kesukaan Jihan juga.
“Ahh.. sialan.. aku ini kenapa, sih?!” digaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kala mengingat wajah lucu Jihan menghabiskan jamur truffle itu.
Dev memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Pasti ia akan tersiksa membayangkan wajah cantik itu. Karena detik ini juga, setiap sudut rumah itu terselip momen perkenalan indah dengan Jihan. Meskipun sempat bertengkar, tapi harus diakuinya, wanita itu seratus persen menjelma menjadi sosok spesial di hatinya.
Dan di sinilah ia, duduk di tribun paling depan di Sirkuit Mandalika. Saat ini, ia hanya ingin mengingat-ingat Jihan kala menghitung sudut kemiringan itu.
“Aku pernah menang olimpiade matematika.. aku ini lulusan..” Dev berhenti sejenak, ia terkekeh sendiri saat menirukan ucapan wanita itu. Cara meyakinkannya begitu percaya diri. Namun, cara itulah yang menjadi titik awal hatinya jungkir balik. Sampai sekarang.
“Ohh.. ada orang ternyata..” Dev dikejutkan oleh sosok laki-laki berwajah oriental yang tiba-tiba muncul dari pintu masuk menuju tribun.
“Mau latihan?” tanya Dev pada lelaki itu, berusaha seakrab mungkin.
“Enggak.. aku.. ehmm..” Dev menautkan alisnya. Sepertinya lelaki itu punya niat yang sama dengan dirinya – buang-buang waktu di tempat sepi.
“Cari angin.”
“Ohh.. sama kalo gitu. Mari.. nikmati angin bersama di sini.” Dengan senyum khasnya, Dev menawari lelaki itu duduk di sebelahnya.
“Kayaknya aku nggak asing dengan wajahmu,” tanya lelaki itu begitu duduk di sebelah Dev.
“Perkenalkan, aku Dev.” Dev menyodorkan tangannya, dan menyelipkan senyuman hangat pada lelaki itu.
“Dev? Dev Prakasa? Pemenang MotoGP tahun kemarin?” Dev manggut-manggut mantap.
“Wow.. nggak nyangka bakalan ketemu pembalap favorit semua orang di sini. Perkenalkan, aku Kelvin,” disambutnya tangan Dev penuh kegembiraan. Kelvin melega. Setidaknya, bertemu dengan pembalap terkenal bisa menyembuhkan kegalauan hari ini.
“Kapan nih tanding lagi?” tanya Kelvin mengakrabkan diri.
“Kayaknya masih lama. Soalnya arena sirkuit ini mau direnovasi.”
“Direnovasi, memangnya kenapa?”
“Tikungan 12 di sana melenceng. Itu yang menyebabkan pertandingannya gagal kemarin.”
“Oh.. iya, iya.. sempat viral tuh beritanya. Langka banget kejadian itu, semua pembalap jatuh di tikungan yang sama.”
“Ngomong-ngomong, baru pulang kerja?” Dev segera membelokkan topik. Ia tidak ingin kenalan barunya ini mengulik lebih dalam tentang dirinya.
“Ehm, harusnya begitu. Tapi, hari ini aku ambil cuti. Aku lagi mencari rekan kerjaku.” Tersipu Kelvin saat mengucap rekan kerja. Seharusnya ia mengaku saja jika sedang mencari mantan pacar. Lagipula, keakraban ini hanya sementara saja. Setelah mereka berpamitan pulang nanti, berakhir pulalah percakapan ini. Mereka kembali menjadi orang asing lagi.
“Rekan kerja? Sespesial itukah rekan kerjamu sampai-sampai harus ambil cuti?” tanya Dev meledek. Ia pria playboy. Sinyalnya gampang aktif jika mendapati orang lain memperhalus sebutan, untuk menyembunyikan status sebenarnya.
“Y-ya, rekan kerja sekaligus man.. ehm, mantan pacar.” wajah Kelvin memerah.
“Ahh.. sudah kuduga, sespesial mantan pacar ternyata,” mereka berdua pun tergelak bersama.
“Memangnya, kamu nggak punya mantan pacar yang sespesial itu juga?” tanya Kelvin, basa-basinya mungkin agak kejauhan bagi Dev. Tapi tak masalah, selama Kelvin tak menanyai jati dirinya.
“Ehm.. sayangnya nggak ada.”
“Mati satu tumbuh seribu, gitu kan?” Dev tergelak oleh pertanyaan Kelvin.
“Ya begitulah.. mereka datang dan pergi, nggak ada yang berkesan. Mantan pacarmu pasti keren banget bisa bikin kamu gagal move on.” puji Dev diiringi tawanya yang renyah.
“Ya, kamu nggak salah. Dia keren banget. Dia itu.. dokter paling berbakat yang pernah aku temui.”