Deg!
Hati Dev mencelos seketika mendengar pengakuan Kelvin. Jantungnya terpacu kencang. Mungkinkah yang dicari pria ini adalah dia?
“Dokter? Memangnya.. kamu kerja dimana?” tanya Dev, berusaha setenang mungkin.
“Rumah Sakit Amarta.”
Raut wajah Dev yang ceria lenyap seketika. Air mukanya kembali murung. Kehadiran teman baru itu kini terasa seperti musuh baru. Musuh yang selalu ia pandang sinis ketika sedang bertanding di sirkuit. Musuh yang selalu ia salip motor-motor mereka dengan ambisinya untuk menang.
Tiba-tiba, telepon Kelvin berdering, memecah jeda yang terasa ganjil diantara mereka.
“Bentar, ya. Aku angkat telepon.” Kelvin menggeser diri hingga mereka berjarak tiga kursi. Dev hanya menyahutnya dengan anggukan pelan.
“Halo, Raihan.. ada apa?”
“Enggak, aku masih nggak tahu Jihan dimana.” Mendengar nama itu disebut Kelvin, hati Dev bergejolak lagi. Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Ia mematung. Seperti pengecut.
“APA?!! Oke.. oke.. aku segera ke sana.” Kelvin langsung beranjak dari kursi setelah menutup telepon. Sepertinya, ia baru saja mendengar kabar buruk dari seseorang bernama Raihan. Membuat Dev penasaran setengah mati.
“Aku harus pergi. Ibunya mantan pacarku masuk rumah sakit.” tersentak Dev oleh ucapan Kelvin. Bukan karena ibunya Jihan masuk rumah sakit. Tapi, baru saja Kelvin menunjukkan perannya, bahwa lelaki itu masih begitu penting di kehidupan Jihan. Dev merasa dipecundangi. Ia tak pernah kalah pertandingan balap motor. Namun kini, untuk kali pertama, ia kalah oleh perannya yang bukan siapa-siapanya Jihan.
“Tunggu dulu!” seru Dev pada Kelvin. Ia tahu, apa yang akan diungkapkannya itu salah. Tapi, ia pembalap sejati. Ia tak mau kalah.
“Cewek yang aku ceritakan tadi, yang menghitung kemiringan di tikungan 12.. adalah Jihan, mantan pacarmu.” Tanpa ragu, Dev memicing tajam pada Kelvin. Berharap dengan cara seperti ini, Kelvin terintimidasi.
“Apa?! Apa maksudmu?”
“Dia menang taruhan, maka dari itu, kubawa dia kabur ke rumahku agar pernikahannya dengan Amran batal.” Tanpa menunggu ekspresi Kelvin, Dev membalikkan badan. Hatinya melega. Kemenangan hari itu kini berbalik padanya. Ia berhasil membuat pria itu cemburu. Meskipun dirinya kalah peran.
***
Jihan menginjak gas mobil dalam-dalam. Mobil Dev yang ia pinjam lewat asisten rumah tangganya itu menderu membelah jalan tol yang ramai. Kecepatannya bahkan hampir menyentuh 120 km/jam. Tidak peduli bunyi klakson yang memperingatinya, tak peduli juga dengan nyawanya sendiri. Pikirannya kacau semenjak Raihan, kakaknya, meneleponnya dan mengatakan Ibu masuk rumah sakit.
“Gara-gara kau kabur, gula darah Ibu naik!” kalimat Mas Raihan terus terngiang-ngiang di telinganya. Bahkan, berbagai macam umpatan setelahnya terus menusuk-nusuk hatinya. Perih. Kakaknya bukan tipe orang yang gampang tersulut emosi. Namun, jika itu sudah menyangkut Ibu, dia mendadak berubah jadi singa.
Ponsel yang ia letakkan di jok sebelah berdering lagi. Kali ini bukan dari kakaknya, tapi dari Profesor Herlambang. Diusapnya telepon itu, sumpah serapah sang profesor membabi-buta keluar dari mulut pria renta itu,
“Dokter macam apa kamu?! Pasien yang operasi hari ini nggak bisa ditangani tujuh dokter! Gimana sumpah doktermu? Ha?!!”
“Ma-maaf, Prof.. tapi saya sudah diijinkan cuti sama Pak Jimmy,” tergagap Jihan menjawabnya.
“Cuti apanya?! Kamu cuma diijinkan cuti setengah hari! Setelah pernikahanmu kamu harus balik lagi ke rumah sakit! Bukan menghilang! Dasar nggak tanggung jawab!”
Tutt..
Telepon langsung dimatikan oleh Professor Herlambang. Bukannya melega. Dadanya makin terhimpit oleh masalah bertubi-tubi yang datang dari satu kecerobohan kecil – ikut kabur dengan Dev.
“Bodoh! Bodoh! Sejak kapan aku bodoh karena laki-laki!” dipukul-pukulnya amat keras kepalanya. Tapi, ia belum puas. Jihan berencana menjedotkan kepalanya pada kemudi mobil.
Sekian menit kemudian, ia telah sampai di Rumah Sakit Dr. Rubiah. Ia yang berencana menjedotkan kepalanya ke kemudi mobil langsung mengurungkan niat bodoh itu, begitu ingat dengan sang ibu.
“Gimana keadaan Ibu?” tanya Jihan begitu ia mendorong pintu ruang rawat inap sang Ibu. Ia merunduk sedalam-dalamnya, mengambil nafas setelah berlari menyusuri lorong rumah sakit.
“Kamu kemana aja, Nduk?” suara Ibu yang lemah semakin merobek hatinya. Ia mencoba tegar. Pelan-pelan ia mengangkat tubuhnya lagi, dan baru disadarinya, tidak hanya Mas Raihan di dalam kamar itu.
Olivia, kekasih Raihan yang sudah dipacarinya selama tujuh tahun menatapnya iba. Ia memang tidak begitu dekat dengan calon kakak ipar, tapi ia yang paling memahami perasaan Jihan.
Lalu, kesadarannya tersentak oleh sosok di samping Raihan, yang tak lain Kelvin. Dari sorot matanya, Jihan tahu, kehadirannya ingin dianggap berarti. Tapi, waktu sempit bukan untuk Kelvin.
“Jihan.. Jihan pergi ke rumah Bapak,” tak tega Jihan membohongi Ibu. Tapi mau bagaimana lagi. Jujur pun tak mungkin.
“Buat apa? Bapakmu itu bukan lagi wali nikah sahmu,” balas Raihan ketus. Mata yang biasanya teduh kini menatapnya sinis. Bahkan, Jihan bisa merasakan letupan emosi pada tatapan itu.
“Tapi, darahnya mengalir di nadiku.”
“Jihan! Cukup!” tersentak Jihan mengetahui bahwa sang ibu selalu membela kakak sulungnya.
“Raihan, Olive, Kelvin, kalian keluar dulu. Ibu mau bicara sama Jihan,” pinta Ibu. Ada paksaan ketegasan pada suaranya, yang semakin lemah dan rapuh.
Tinggal mereka berdua. Ibu dan anak yang seumur hidup lebih sering memperdebatkan sudut pandang itu saling bertatap muka. Ibunya memang seperti orang tua pada umumnya. Kolot. Sementara itu, Jihan dibesarkan oleh setumpuk buku-buku karangan penulis Barat. Jadi tidak heran, kalau Jihan lebih mengedepankan kebebasan berpendapat dan berpikir dengan berbagai perspektif yang berbeda. Bagi ibu, menikah itu suatu keharusan. Bagi Jihan, menikah atau tidak menikah tidak masalah. Tidak boleh ada paksaan ataupun intervesi dari orang lain, sekalipun itu orangtua.
Pelan-pelan Jihan duduk di samping ranjang Ibu. Ia tidak tahu harus mengawali pembicaraan darimana. Ia tahu, kalau membicarakan pernikahan itu, pada akhirnya mereka akan saling berdebat lagi. Ini bukan waktunya untuk berdebat. Ini waktunya Jihan menurunkan egonya.
“M-maafkan Jihan, Bu. Jihan sebenarnya nggak ke rumah Bapak. Jihan sebenarnya..” ada getar kesedihan saat ia mengucap kalimat itu.
“Iya.. ibu tahu, Nak,” Tangan renta ibu mengusap pelan kepala Jihan.
“Kemarin, seharian ibu memikiran isi kepalamu ini.” ucap Ibu sambil menunjuk lemah kepala Jihan.
“Ibu memang ndak sepintar kamu, tapi, Ibu sekarang mengerti mengapa kamu ndak mau menikah,” Jihan tertegun sejenak. Mungkinkah ibunya berubah pikiran?
“Kamu selama ini bersikeras meyakinkan Ibu bahwa menikah itu bukan tujuan hidup. Kamu benar, Nduk. Itu memang bukan tujuan hidup. Ada hal lain yang lebih berharga dari sekedar menikah,” Jihan semakin melongo, bibirnya tercekat, tidak mampu meminta Ibu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Kesehatan. Selama ini Ibu hanya fokus bagaimana biar anak-anak Ibu mentas. Ibu malah ndak mempedulikan kesehatan Ibu sendiri. Jadinya yaa begini.. tiap hari ngerepotin kamu dan Raihan.” Jihan merapatkan bibirnya rapat-rapat. Menahan air mata yang sudah tergenang di pelupuk mata.
“Maafkan Ibu ya, nak.”
Kata maaf itu langsung meloloskan segala emosi yang ia tekan. Direngkuhnya tubuh Ibu dan ia menangis sejadi-jadinya. Rantai yang mengikat kuat segala keputusannya kini terlepas sudah. Hatinya benar-benar melega, seperti burung yang lama disangkar lalu dibebaskan begitu saja.
“Ibu ndak akan maksa kamu lagi menikah dengan Amran. Akan sulit hidupmu nanti menikahi orang yang ndak kamu kenal betul sifatnya. Jadi, menikahlah dengan orang yang kamu cintai. Menikahlah ketika kamu siap.”
Tangis Jihan semakin menjadi-jadi. Dipeluknya sang Ibu kian erat. Ia benar-benar tak ingin berpisah dengan Ibu dengan cara semengharukan ini. Ia tak siap kehilangan Ibu dengan cara mendadak seperti ini.
Tiba-tiba rasa perih yang hebat meruap di d**a, kala ia tak lagi merasakan hembusan nafas Ibu.