Di dalam mobil Alphard hitam, Jimmy sibuk menelepon orang-orang kepercayaannya. Suaranya terkadang memelan, terkadang mengeras. Tergantung pada siapa ia berbicara. Jika dengan para ajudannya, semua makhluk kebun binatang keluar. Lain halnya jika sedang berbicara dengan para inspektur polisi kenalannya.
“Tapi bener ya, Pak? Semua sisi pemakaman sudah dijaga ketat? Saya masih takut bocah itu melarikan diri lagi,” tanya Jimmy. Hatinya belum yakin jika masih ada celah di pemakaman itu.
“Oh.. aman ya, Pak? Oke, oke, Pak. Makasih lho udah prioritaskan keperluan saya. Besok kita party-party kalo ini berhasil.”
Tutt.. telepon dimatikan. Namun, Jimmy masih mengusap-usap ponselnya. Kali ini, diteleponnya Amran – satu-satunya orang yang menjadi bagian penting dari rencananya.
“Halo, Amran, segera ke TPU Bantar Wesang. Jam 10 kamu harus sampai sana!” suaranya mengeras, meninggalkan rasa yang tak enak yang terus membekas.
“Udah nggak usah banyak tanya! Hari ini kamu harus nikah sama Jihan!”
Tutt..
Sejam yang lalu, ia mendapati kabar bahwa Ibunya Jihan meninggal. Bagi orang lain itu kabar buruk. Tapi tidak bagi Jimmy. Ini kesempatan. Duka Jihan hari ini akan memberinya peluang menjadi juru selamat. Seorang sultan Amarta menikahkan anaknya dengan gadis yatim piatu, agar gadis itu mendapatkan keluarga baru. Dan semua rencana itu tak lengkap jika ia tak mendatangkan wartawan ke pemakaman. Semua orang harus menyaksikan pernikahan mendadak ini tepat setelah ibunya Jihan dimakamkan. Semua orang harus bersimpati pada Jihan, dan memuji-muji kebaikan seorang Jimmy Amarta.
***
Kerumunan orang-orang berpakaian hitam menaburkan bunga ke sebuah pemakaman baru. Nisan bertuliskan Asih Prawijaya telah tertancap. Taburan bunga mawar dan melati hampir menutupi kerukan tanah yang berwarna kecoklatan. Jihan dan Raihan masih terponggok di samping makam sang Ibu. Mereka menabur bunga dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya memegangi tisu yang basah oleh air mata.
Hidung Jihan memerah, matanya bengkak, karena semalaman tak berhenti menangis. Menyesal sekali dirinya, mengapa Ibu harus pergi dengan cara seperti ini.
“Setidaknya Ibu meninggal dengan tenang. Ibu nggak lagi kepikiran perjodohanmu dengan Amran,” kata Raihan sengau. Dilapnya air hidung yang tak berhenti keluar. Ia pun menyesal karena terlalu sibuk dengan bisnisnya sendiri. Sering abai jika Ibu sedang curhat tentang Jihan. Kini, sepeninggalnya Ibu, ia tahu, apa yang menjadi kekhawatiran Ibu selama ini hanya satu – pendamping hidup mereka berdua.
Tiba-tiba, di tengah dukanya yang belum tuntas, Kelvin menarik pelan lengan Jihan,
“Jihan.. bangun.. ada yang mau bertemu denganmu.”
“Siapa?” Begitu Jihan mendongak, hatinya langsung terbentur ke dasar jurang paling dalam.
“Bapak?” suara Jihan begitu parau. Raihan yang mendengarnya langsung mendongak dan berdiri. Mata bengkaknya menatap bapaknya penuh benci. Bertahun-tahun sang bapak tidak pernah menemui Ibu dan anak-anaknya. Dan sekali bertemu, bapak datang di acara pemakaman Ibu. Sungguh miris.
“Nggak guna Bapak ada di sini!” bentak Raihan.
“Bapak cuma sebentar di sini. Bapak mau.. mau ngomong sama Jihan,” Jihan mengernyit. Pelan-pelan ia berdiri tepat di hadapan Bapak. Pipi tirus bapak masih sama. Hanya kerutan-kerutannya semakin dalam. Terakhir kali Jihan bertemu dengannya yaitu saat ia berumur 10 tahun, saat Bapak datang ke rumah, bersalam-salaman, makan opor sebentar, lalu pergi begitu saja.
“Ibumu sudah ndak maksa kamu lagi menikah dengan Amran, kan?” tanya Bapak, sesaat setelah mereka menepi, menjauh dari kerumunan orang-orang.
“Darimana Bapak tahu?”
“Itu ndak penting, Nduk. Yang penting sekarang, Bapak mau menjelaskan apa yang nggak kamu ketahui. Jadi, Perjodohanmu dengan Amran ada sangkut pautnya dengan Bapak meninggalkan Ibu selama bertahun-tahun,” Jihan menegang. Firasatnya benar. Orangtuanya pasti menyimpan rahasia yang tak pernah diungkapkan dengan keluarga Amarta.
“Apa hubungannya, Pak?”
“Bapak ndak bisa mengatakannya sekarang. Bapak cuma bisa bilang mereka bukan orang baik-baik. Demi Tuhan, mereka semua itu.. Iblis!” hati Jihan tertohok mendengar pengakuan Bapak.
“Iblis? Maksud Bapak?”
“Ayo, Nduk. Pergi sama Bapak sekarang juga. Sebelum si Jimmy itu-“ tiba-tiba saja, Bapak mematung. Kedua matanya melotot pada sosok di belakang Jihan.
“Halo, Pak Arif.. Apa kabar? Lama nggak ketemu sampeyan..” suara Jimmy membuat Jihan tersentak kaget. Ia menoleh sebentar, mendapati wajah Jimmy berseri, sementara wajah Bapak pucat pasi.
“Maaf, saya terburu-buru. Permisi. Ayo Jihan, kita harus pergi dari sini.” tangan Bapak yang hendak menggandeng Jihan langsung ditepis keras oleh Jimmy. Jihan membelalak. Tak menyangka Jimmy bisa sekasar itu.
“Loh? Mau kemana? Mumpung Pak Arif di sini, kita langsungkan pernikahan anak-anak kita di sini, bagaimana? Mumpung masih di pemakaman. Biar Bu Asih bisa tersenyum lega di surga.”
“Menikah? Saya baru kehilangan ibu saya, Pak,” balas Jihan dengan emosi yang tertahan.
“Iya, saya tahu, Nak,” kata Jimmy lembut. “Saya mengusulkan pernikahan di sini karena Bu Asih. Bukan karena siapa-siapa. Kalau ibumu menyaksikan langsung kan bisa tenang, saya juga senang,” Jihan mengernyit oleh ucapan Jimmy.
Dia berbohong. Ya. Sangat jelas pernikahan ini bukan untuk menyenangkan orang yang sudah di surga. Dalam sekelumit tebakannya, mata Jihan menangkap beberapa polisi berseragam hitam, membawa selaras panjang dan mengenakan helm hitam, sedang berjaga-jaga di semua sudut pemakaman. Juga para wartawan yang sedang merekam dirinya. Dan baru disadarinya, ia sedang menjadi pusat perhatian mereka!
“Nduk, ayo cepat ikut Bapak,” bisik Bapak ketika Jimmy sedang berbicara dengan ajudannya di belakang.
“Mana bisa, Pak? Ada polisi.”
“Dalam hitungan ketiga, kita lari! Satu, dua, ti..” mendadak jantung Jihan berdebar kencang.
“Ga! Larii!!!” Bapak dan Jihan memacu kaki mereka menuju pintu keluar.
“Tangkap mereka!!” teriakan melengking Jimmy langsung menggerakkan polisi-polisi berseragam hitam memburu mereka berdua.
Semua orang di pemakaman itu kebingungan. Olive menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jawaban atas kekacauan yang terjadi secara mendadak. Sementara Raihan dan Kelvin segera berlari sekencang-kencangnya menolong mereka berdua.
Bapak dan Jihan hampir sampai pintu keluar. Namun, langkah renta Bapak dan langkah kaki Jihan tak dapat mengimbangi serbuan polisi yang mengerumininya. Jihan memejamkan matanya karena hampir tertangkap. Namun, dalam kegelapan, ia malah mendengar suara orang-orang dipukul, terjatuh tersungkur dan berteriak kesakitan.
Ia beranikan diri membuka mata. Di depannya, Raihan mati-matian melindungi ia dan Bapak dengan menahan polisi mendekatinya. Di belakangnya ada Kelvin, yang melakukan hal yang sama. Namun, yang membuatnya terkejut adalah belasan polisi terkapar tak sadarkan diri. Seperti dipukul habis-habisan. Jihan yang masih mencari jawaban, tiba-tiba dikejutkan oleh genggaman erat seorang laki-laki bertubuh kekar, berpakaian serba hitam, dan juga helm hitam.