BAB 10 – DISELAMATKAN DUA KALI

1095 Kata
“Aaakhhhhhh..!!” “Jangan sentuh dia!!” Kelvin mendorong d**a lelaki itu. Namun, lelaki itu malah membalasnya dengan dorongan yang lebih keras. Kelvin terhuyung. “Kelvin! Astaga.. Kelvin! kamu nggak apa-apa?!” seru Jihan khawatir. Ia hendak memegangi tubuh Kelvin. Namun apa daya, lelaki itu tak mau melepas genggamannya. “Lepaskan aku!” teriak Jihan kesal. Bukannya dilepas, tiba-tiba saja lelaki itu melepas masker yang dikenakannya. Dan seketika hati Jihan mencelos. “Dev?” Kelvin yang mendengar Jihan memanggil nama itu langsung menancapkan tatapan tajam pada Dev. “Ikut aku! Kamu nggak aman di sini. Ayo!” Jihan hanya diam saja. Ia kebingungan mencerna situasi mendadak ini. Mengapa Dev ada di sini? Mengapa semua orang mengincar dirinya? Ia tidak tahu. Intuisinya mati. “Ikut dia, Han! Cepat!” seru Bapak meyakinkan Jihan. Oleh wajah yakin Bapak, intuisinya kembali berjalan. Dengan hati yang masih meragu, Jihan memasrahkan tangan dan tubuhnya ditarik oleh Dev menjauhi kekacauan. Namun, sebelum membawa lari Jihan, Dev membalas tatapan tajam Kelvin. Kali ini ia yang menang, atas perannya menyelamatkan masa depan Jihan. Ya. Ia bukan lagi ‘bukan siapa-siapanya’ Jihan. “Kenapa kamu ada di sini?” tanya Jihan begitu mereka sampai pintu keluar. “Akan kuceritakan nanti.” Diambilnya helm yang tergantung di kaca spion, lalu disematkannya pelan-pelan helm itu di kepala Jihan. Wanita itu hanya tertegun, membisu. Seperti inikah playboy memperlakukan wanita? *** Kerumunan orang di pemakaman berhamburan keluar. Mereka mengalahkan rasa penasaran demi keselamatan diri. Kecuali keluarga Amarta. “Siapa dia? Siapa lelaki yang mukul polisi tadi?” Jimmy bertanya kepada polisi yang masih tersisa. Namun, yang didapatinya wajah bingung yang sama. “Kami selidiki segera dari plat nomornya.” sahut Pak Danu, inspektur polisi kota. “Ma-maaf, Pak. Tapi motor duccati itu tidak dipasang plat nomor.” Jawaban anak buahnya seolah menjelaskan, bahwa inspektur polisi itu tak hadir di saat situasi sedang genting-gentingnya. Secara tidak langsung, ia dipermalukan. “Tahu merk-nya, kan?! Cari nomor seri motor itu!” “B-baik, Pak.” “Maafkan kami ya, Pak Jimmy. Kami sudah memasang keamanan berlapis-lapis dan mengantisipasi kejadian seperti ini tap-“ “Sudah, sudah, Pak. Saya BOSAN mendengar alasan itu itu lagi!” tertohok Danu oleh gertakan sang sultan. “Sekarang Anda cari saja keluarganya Jihan. Mereka malah ikut-ikutan ilang!” *** “Pak, tadi Bapak kenal sama pria yang bawa Jihan?” tanya Raihan, sembari melajukan mobil amat kencang. “Ndak tahu..” “Loh? Terus kenapa Bapak nyuruh Jihan ikut pria itu?!” kesal Raihan oleh jawaban singkat Bapak. “Bapak ndak berpikir sampai situ. Bapak cuma mau Jihan ndak menikah dengan Amran. Udah itu tok!” Bapak ikut-ikutan kesal dibentak oleh anaknya sendiri. “Aduh.. bapak ini gimana, sih?! Anak sendiri dibiarkan pergi sama orang asing!” “Daripada pergi sama kita, gampang terlacak nanti! Kayak nggak tahu aja sifat si Jimmy!” “Ya tapi kan tetep aja pria itu orang asing, Pak!” “Udah, Sayang. Fokus di jalan aja..” Olive menasihati. Diusapnya bahu Raihan agar tenang. Suasana yang tadinya menegang hening sejenak. Sisa-sisa kekesalan antara Bapak dan anak masih terasa, melingkar di udara hingga menimbulkan sesak di d**a. Bahkan Olive pun merasa tak leluasa bernafas. “Dev.. pria itu Dev Prakasa,” suara Kelvin memecah keheningan. Dan seketika semua orang di mobil menoleh padanya. Diceritakanlah pertemuan singkatnya dengan Dev. Meskipun rasa cemburu meletup-letup saat Kelvin mengatakan Dev membawa Jihan kabur, tapi, itulah kenyataannya. “Wah.. bisa-bisanya Jihan terjerat sama cowok playboy macam Dev.” lagi-lagi Raihan melenguh kesal. “Sudah, lah, Le, yang penting adikmu aman.” Perih hati Kelvin saat Pak Arif menganggap Jihan aman di tangan Dev. “Loh? Aman gimana sama cowok playboy begitu? Pokoknya kita harus cari Jihan. Nggak rela adikku disembunyikan sama cowok begituan,” timpal Raihan. “Ya. Kita harus cari Jihan sesegera mungkin. Aku akan cari tahu dimana tempat tinggal laki-laki itu.” sahut Kelvin menyetujui. Nafasnya melega. Setidaknya Raihan punya pikiran yang sama dengannya. *** Matahari tak begitu terik. Awan mendung menggelayut tenang di batas pandang mata. Tidak ada tanda-tanda hujan. Seperti hari biasanya, cuaca di pesisir pantai syahdu, sendu dan menenangkan. Masih membonceng motor Dev, Jihan menghembuskan nafas lega. Ia sudah berada di jarak yang aman dari Jimmy Amarta setelah sejam lamanya berkendara. Sesekali ia memejam, merasakan desir angin sejuk yang menelusup jiwanya. Dan pada pejaman itu, Dev curi-curi pandang pada Jihan melalui kaca spion. Perasaan laki-laki itu tidak karuan. Antara senang, deg-degan, dan merasakan duka yang tersisa dari wajah Jihan. Sejam lamanya, Jihan tidak melangkah pada batas norma yang ditetapkan. Kedua tangannya tak merangkul pada pinggang Dev. Dan itu yang membuat Dev bimbang, antara menarik tangannya ke pinggangnya, atau.. Aahh.. dulu, rasanya mudah sekali menarik tangan mantan dan gebetannya untuk merangkul dirinya. Tapi, mengapa sekarang terasa sulit sekali? Ia tidak mengerti sama sekali. “Pegangan..” ucap Dev masih ragu. “Apa?” “Pe-ga-ngan..” darahnya mengalir ke wajah, memenuhi pipinya. “Nggak denger! Anginnya kenceng!” Jihan meninggikan suaranya. Dev tidak menjawab. Ia sedang menahan rasa siksa ingin dirangkul Jihan dari belakang. Semakin lama ia menunggu Jihan berinisiatif, semakin tersiksa pikirannya. Dan siksa itu berlipatganda kala Dev terus memandangi wajah polos Jihan dari kaca spion. Tanpa pikir panjang, Dev menarik tangan Jihan ke depan. Begitu dua tangannya terpaut erat di pinggang Dev. Ia menghela nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang mekar di d**a lelaki itu. Ada ratusan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Perasaan ini sungguh luar biasa. Membuatnya semua masalahnya tak berarti lagi. “Di depan sana banyak jalan berkelok-kelok. Pegangan yang erat ya..” seru Dev dengan suara meninggi. Dan sepertinya, Jihan menangkap beberapa kata yang diucapkan Dev. Benar saja. Jihan langsung mempererat pelukannya di pinggang Dev. Wanita itu sedikit canggung dengan posisi yang terlalu intim untuk dua orang yang baru kenal. Namun, ia pun ingin menyandarkan keselamatannya dengan cara seperti ini. Atau lebih tepatnya, ia ingin menyandarkan duka hari ini. *** “Turun di sini saja. Rumah orangtuaku sudah deket, kok.” pinta Kelvin begitu mobil Raihan memasuki Kawasan Elite Sumeria Residence. “Makasih ya anterannya. Pulang dulu Pak, Olive” Kata Kelvin begitu ia keluar dari mobil. “Salam buat bapak ibu di rumah, ya.” Balas Raihan hangat, sambil melambaikan tangan. Sejak Kelvin berpacaran dengan Jihan, dua laki-laki sebaya itu seolah seperti menemukan teman sefrekuensi. Mereka sama-sama suka bermain game online, suka balap motor dan membicarakan seks. Keluarga mereka berdua pun sering mengadakan pesta kecil-kecilan bersama. Biasanya, Helena, Ibu Kelvin, mengundang Jihan sekeluarga di akhir bulan, demi ‘laku’nya mendapatkan menantu mandiri seperti Jihan. Namun apa daya, perjodohan Amran dengan Jihan menggagalkan impian Helena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN