“Jadi.. ayahnya Jihan nggak setuju dengan perjodohan Jihan dengan Amran?” Helena memastikan sekali lagi, di tengah-tengah mereka menyantap makan malam.
“Ya. Sulit dimengerti, Ma, kenapa ayahnya melarang sementara almarhum ibunya bersikeras Jihan menikah dengan Amran,” balas Kelvin, sambil menaruh sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik. Rendang buatan Ibu telah disantapnya hingga ludes tak tersisa.
“Something wrong with them..” timpal sang ayah, “Berita tadi pagi sempat viral sebelum di take down. Jelas itu, kalau nggak menjaga reputasi, ya jaga rahasia,” ayahnya menyandarkan bahu di sandaran kursi.
“Come on, Pah! Kelvin nggak pengen kita terus-terusan ngomongin itu. Dengerin dulu tujuan Kelvin ke sini,” Helena menasihati suaminya.
“Alright, Kelvin.. apa keperluanmu ke sini?” tanya ayah, sembari mendorong tubuhnya mendekati sang anak.
“Saya, saya butuh modal besar untuk buka rumah sakit umum sendiri, Pah.”
“Really? Emangnya gaji di Rumah Sakit Amarta kurang?”
“Saya mengundurkan diri dari rumah sakit itu,” kedua mata Helena membulat sempurna, dan kembali meredup dalam sekian detik. Ia wanita elegan. Tidak menampakkan ekspresinya dengan berlebihan. Termasuk di depan anaknya.
“Why?” tanya Helena dengan keterkejutan yang ditekan.
“Tadi saya ketemu sama Pak Arif, beliau bilang keluarga Amarta itu bukan orang baik-baik, jadi.. saya memutuskan mengundurkan diri. Saya nggak mau keluarga Amarta mencurigai saya, memfitnah saya dan.. pokoknya saya nggak mau terjerat tipu daya mereka karena Jihan menghilang,” Kelvin menghela nafas dalam-dalam.
“He’s right, Son. Jimmy Amarta memang bukan pebisnis sejati, dia itu..” kalimat ayah tertahan oleh gelengan kepala Helena.
“Papa, No!”
“Mantan bandar narkoba.”
“Alright. Papa udah ngelanggar aturan sendiri untuk tidak membicarakan hal negatif saat makan malam,” Helena melempar serbet begitu saja, lalu menyilangkan tangan pada ayah dan Kelvin.
“I’m sorry, Honey.. Papa cuma mau mengungkapkan apa yang-“
“But, still.. it’s negative.”
“Bolehkah saya melanjutkan keperluan saya ke sini?!” seru Kelvin kesal. Seketika kedua orang tuanya bungkam.
Ini yang tidak disukai Kelvin dari orangtuanya. Mereka lebih banyak berdebat daripada meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya. Memang, Ia bangga dibesarkan orangtua keren seperti mereka. Ayahnya direktur utama perusahaan BUMN, sementara Helena direktur perusahaan multinasional. Mereka berdua juga lulusan master di universitas top luar negeri. Ambisi mereka seimbang, pikiran kritis mereka pun juga seimbang. Dan itu yang membuat mereka saling memperdebatkan hal-hal kecil.
Kalau sudah begitu, pelarian Kelvin hanya pada game online, atau berkeluh kesah dengan Jihan. Hanya wanita itu yang mau mendengarkannya.
“Pah, Mah, saya butuh dana at least 80 miliar untuk buka rumah sakit itu. Saya akan bayar langsung hutang itu kalau sudah dapat untung, paling lambat tiga bulan langsung saya lunasi. Permisi.”
***
Situasi di dalam keluarga Amarta masih memanas, gara-gara Jihan kabur lagi. Dan ini kesempatan bagus untuk Irene kabur ke pantai sendirian. Dua anak kembarnya, Chia dan Chaca ia titipkan pada Bik Yul, beserta surat wasiatnya.
Ya. Hari ini juga Irene berencana mengakhiri hidupnya, dengan menenggelamkan diri ke pantai. Kata orang-orang, tenggelam adalah cara mati yang paling tidak sakit. Untuk itulah, ia tak lagi kebingungan, antara memilih menembakkan pistol ke mulutnya atau membiarkan dirinya kehilangan nafas di dalam air.
Ia sebenarnya tak tega meninggalkan Chia dan Chaca hidup sendirian di dunia. Tapi ia sudah putus asa. Tak ada yang peduli dengannya. Sikap ibunya tak pernah berubah. Sementara Thariq, lebih memilih menghabiskan waktu dengan ibunya. Entah itu murni keinginan sendiri atau ibunya, yang jelas, hatinya sudah terluka terlalu dalam dengan pengkhianatan ini.
Pelan-pelan ia berjalan ke tengah laut. Untungnya, tak ada orang di sana. Hanya ada kapal nelayan yang menepi di pinggir pantai. Tanpa pemiliknya. Dipejamkan kedua matanya, ketika air laut hampir menyentuh pundaknya, ia siap menghadap Tuhan.
Namun, tiba-tiba saja,
“Hey!! Apa yang kamu lakukan?!” suara seorang laki-laki berteriak kepadanya.
Kepalanya yang sudah tenggelam mendengarkan kecipak air yang semakin mendekat. Dan begitu mendekat, ia merasakan tangan seseorang mengangkat tubuhnya kembali ke udara.
“Lepaskan aku!” teriak Irene. Tubuhnya menggeliang keras, meminta untuk dilepaskan.
“Hey!! Jangan bunuh diri di sini! Nanti siapa yang ngerawat anakmu?!!”
Seketika Irene berhenti bergerak. Kedua matanya melongo. Ia tidak kenal siapa lelaki itu tapi mengapa dia bisa tahu dirinya sudah punya anak? Lelaki itu masih merangkulnya. Erat. Meskipun raut wajahnya yang murung perlahan memudar, namun masih ada seberkas kekhawatiran di wajah lelaki itu, kalau-kalau ia ingin menenggelamkan diri lagi.
“K-kamu siapa?” tanya Irene, ia lepaskan dirinya dari sangkar pelukan itu.
“Dirga..”
Dirga. Namanya terdengar seperti kesatria. Tatap matanya tajam, namun ada ratusan pepohonan rindang yang basah di dalamnya. Teduh dan syahdu. Bahunya kekar dan terlihat keras. Persis seperti baju zirah meskipun lelaki itu tak mengenakannya. Bibirnya sedikit kelam namun menenangkan. Cukup sempurna untuk melengkapi struktur wajahnya yang tampan. Terbesit sebuah cerita yang pernah didongengkan Bik Yul saat kecil. Suatu saat, akan ada lelaki bernama kesatria yang akan menyelamatkan dirinya dari kamar kecilnya, yang akan merentangkan tangan untuknya, dan berlari bersama, menikmati luasnya dunia.
Irene menelan ludah sejenak. Inikah kesatria yang akan menyelamatkan hidupnya?
***
Dev sedikit kecewa ketika motornya memasuki halaman rumah. Rangkulan Jihan yang semakin erat sebentar lagi berakhir. Rasanya ingin menghentikan waktu yang bergulir. Tapi, begitu ia melihat wajah Jihan yang bersandar di pundaknya, dengan mata memejam dan nafas yang teratur, hatinya tersentuh. Wajah ini butuh istirahat.
Begitu ia mematikan mesin, dengan hati-hati Dev turun dari motornya. Kedua tangannya menyangga tubuh Jihan.
“Hati-hati Dev, jangan sampai dia terbangun. Pokoknya nggak boleh!” gumamnya dalam hati. Dan begitu ia berhasil turun dari motor tanpa membuat Jihan terbangun, digendongnya wanita itu ke dalam rumah.
“Ahhh.. akhirnya..” naluri lelakinya membuncah ketika melihat wajah Jihan berada di dekapannya.
“Mas Dev, saya saja yang mengurus Mbak Jihan..” seru Iwan menawari bantuan.
“Sssttt, jangan berisik, nanti dia bangun,” balas Dev amat lirih. Saking lirihnya, Iwan hampir tak bisa mendengar. Hanya menebak-nebak apa kata sang bos melalui gestur telunjuknya yang melekat pada hidung.
Begitu sampai kamar, dibaringkan Jihan dengan hati-hati. Dilepasnya flat shoes yang masih menempel di kaki, dan juga dilepasnya selendang hitam yang melingkar di leher.
Dev enggan pergi. Rasa candu itu terus menggerogoti logika, kala tatapannya melekat pada Jihan. Wajahnya cantik, terlalu cantik untuk menjadi seorang dokter ataupun lulusan Harvard. Rasanya mustahil menemukan wanita langka seperti Jihan. Perpaduan wajah dan kepintarannya tak pernah ia temui sebelum-sebelumnya pada wanita manapun. Kebanyakan wanita yang telah dikenalnya, menyadari betul kekuatan fisik mereka. Dan mereka manfaatkan kekuatan itu untuk melenggang menjadi model, selebgram, selebriti dengan mudahnya. Sangat mudah hingga Dev merasa dunia ini tak adil. Pundi-pundi kekayaan bisa mereka dapatkan hanya bermodalkan wajah cantik. Sungguh sangat tak adil bagi wajah yang kurang beruntung.
Tapi, wanita ini, dia berbeda. Entah sadar atau tidak dengan keuntungan fisiknya, yang jelas Dev begitu terkesan oleh cara Jihan mengambil jalan lain untuk bertahan hidup.
Tiba-tiba saja, di tengah kekagumannya, Jihan menggeliat. Membuat Dev gelagapan. Ia kebingungan mau kabur atau tetap tinggal. Kalau tetap tinggal pasti wanita ini akan berpikir yang tidak-tidak, kalau kabur? Terlambat ia mengambil keputusan. Kedua mata Jihan sudah membuka sempurna. Tatapan heran dan curiga ia tujukan pada lelaki itu,
“Kenapa kamu di sini?”