BAB 12 - SENSASI

994 Kata
“A-aku..” Dev garuk-garuk kepala. Bingung mencari alasan tepat. “Ini aku mau pergi.” Bergegas Dev beranjak dari ranjang. Namun, langkahnya terhenti, jantungnya berdesir nyaman oleh genggaman tangan Jihan yang menahannya pergi. Dev membalikkan badan, tak siap jika Jihan menciumnya. “Makasih ya udah menyelamatkan aku,” Dev lagi-lagi merunduk kecewa. Ia terlalu memasang ekspektasi tinggi pada wanita ini. Padahal, jelas-jelas ia tahu Jihan adalah wanita langka. Tak akan semudah itu mencium pria yang hanya modal tampang saja. “Nggak masalah, memang seharusnya aku menepati janji karena sudah kalah taruhan.” balas Dev dengan nada dibuat sesantai mungkin. Sementara itu, Jihan melepas tawanya sebentar. Tawa yang melumpuhkan logika Dev. Hingga ia lupa tujuannya untuk segera pergi. “Makan malam udah siap di bawah. Ada jamur truffle panggang juga. Aku yakin kamu pasti ketagihan. Iya kan?” Dev meledek. Bukan untuk mengakrabkan diri tapi untuk melihat tawa itu lagi. “Ya..” Jihan tertawa kecil. “Ahh.. itu dia!” Dev berteriak dalam hati. Namun, senyum itu berangsur-angsur pudar, menggelapkan seisi ruangan, dan juga hati Dev. “Tapi aku lagi nggak selera makan. Ibuku meninggal dunia. Aku kehilangan pekerjaan. Aku masih butuh waktu untuk mencerna semua ini. Makasih tawarannya.” Dev berpamitan pergi. Begitu menutup pintu kamar, disandarkan bahunya pada daun pintu. ia menghela nafas dalam-dalam. Ia ingin perpisahan sementara tadi meninggalkan kesan yang berarti. Setidaknya, tawa itu tetap awet begitu ia pergi. Namun, nyatanya tidak. Sepertinya, ia dipertemukan dengan Jihan di waktu yang salah. Atau mungkinkah, memang perasaan ini yang salah? Ia tidak tahu. Yang jelas, kecamuk yang lama tak ia rasakan itu ingin ia sematkan pada Jihan. Segera. *** Erika mengetuk-ngetuk sepuntung rokoknya di asbak. Sudah sejam lamanya ia mendengar cerita Amran yang menggebu-gebu, tentang kejadian tadi pagi yang sempat diviralkan di media sosial. “Aneh, kan? Kenapa tiba-tiba Jihan kabur lagi? Emang aneh itu cewek! Emang apa salahku sampe-sampe dia nggak mau nikah sama aku?!” timpal Amran pongah. Dan seperti gesturnya, kedua lengannya bersandar pada sofa kafe yang melebar. Satu kaki menopang pada kaki lainnya yang terangkat. Ia sungguh merasa jadi laki-laki paling sempurna. “Bukan Jihan yang aneh. Tapi papamu.” Sahut Erika santai. “Maksudmu?” “Papamu terlalu berambisi menikahkan kamu dengan Jihan, hanya bermodalkan Jihan sudah disekolahkan dari SD sampai SMA. Kalau alasannya cuma itu, akupun ogah nikah sama kamu,” tersindir Amran oleh kata-kata Erika. Diturunkan satu kakinya, sebab Erika telah melukai harga dirinya. “Besok aku diundang jadi salah satu model Mariska Hasibuan, you know her?” Amran menggeleng-gelengkan kepalanya. “Teman SMA-ku. Sahabatnya Jihan. Mungkin bisa dimulai dengan mendekati sahabatnya dulu. Barangkali ada informasi kecil yang terlewatkan, yang bisa jadi petunjuk kemana Jihan pergi. You know, I’m a lawyer. Aku nggak pernah melewatkan informasi sekecil apapun itu.” Erika menautkan jempol dan telunjuknya, memberi gestur bahwa sesuatu yang kecil bisa menjadi penting. Ia tak ingin lama-lama berada di kafe bersama Amran. Bukan karena bosan. Tapi pembicaraan mereka tak pernah selevel, tak pernah nyambung. Ketika Erika membicarakan hal ilmiah, Amran malah menggiringnya dengan pendapat subyektif. Sungguh ia muak jika sudah berdebat dengan laki-laki bodoh seperti Amran. Hanya karena tubuh kekarnya, dan kebutukan akan sensasi seks yang berbeda yang membuatnya bertahan dengan Amran. Selain itu, tidak ada sama sekali. “Sampai ketemu besok.” Erika menyambar tas Hermesnya, lalu berjalan berlenggak-lenggok ke pintu keluar. Semua lelaki yang berada di kafe itu meliriknya sebentar. Mencuri-curi pandang pada Erika, padahal jelas-jelas mereka sedang berkencan dengan pasangan. Tapi, sosok sesempurna Erika pantang untuk dilewatkan perhatiannya. Dan itulah yang membuat Erika menyukai dirinya sendiri – mampu jadi pusat perhatian tanpa harus mengubah jati diri. *** Matahari pagi menyongsong harapan baru. Sinar kekuningannya malu-malu menyentuh wajah Jihan melalui kaca jendela. Wanita itu enggan beranjak dari tempat tidur. Matanya mengernyip-ngernyip sepanjang malam. Jelas ia tidak bisa tidur, memikirkan nasibnya yang tak tentu. Masa depannya berbalik 180 derajat hanya karena menghindari pernikahannya dengan Amran. Andai saja Amran bukan anak dari Jimmy Amarta, Andai saja dulu ia mengambil pekerjaan di rumah sakit California, Andai saja ia bisa lebih tegas dengan diri sendiri, maka hal ini tidak akan terjadi. Dan, semua kemalangan ini terlengkapi oleh tiadanya sang ibu. Menetes air matanya kala mengingat ucapan Ibu. Teriris perih hatinya saat menyadari, dirinya tak pernah punya waktu luang untuk berbicara dari hati ke hati dengan Ibu. Dan yang lebih menyakitkan adalah, ia membiarkan ibunya berpikir keras untuk memahami dirinya. Jihan menghembuskan nafas dalam-dalam. Diseka kedua pipinya yang telah basah sambil beranjak dari ranjang. Ia tak mau terlarut-larut dalam kesedihan. Air mata tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Tak akan. Segera ia turun ke lantai bawah. Ia sudah tak bisa menahan lapar meskipun masih pukul tujuh. Begitu ia menyentuh tangga terakhir, dilihatnya Dev berjalan santai memasuki rumah. Tangan kanannya memegangi sekuntum bunga krisan, yang entah mau dipasang kemana. Tapi, dari cara genggamnya, bunga itu punya tempat yang spesial. “Pagi..” sambutan Jihan mengagetkan Dev. Tubuh Dev yang tadinya santai berubah kikuk. Persis seperti saat Jihan berpapasan dengan professor Herlambang, atau dokter Wahyu. “Pagi juga.. aku kira kamu belum bangun,” balas Dev. Disembunyikannya bunga krisan itu di punggungnya. Ia merasa aneh, mengapa malah jadi kikuk begini. Rencananya, bunga itu ia berikan untuk Jihan. Mungkin, bunga itu mampu mencuri senyum Jihan yang membuatnya lumpuh total. Tapi, ahh.. mengapa tiba-tiba mengurungkan niat? Mengapa sesulit ini? “M-mari makan. Sarapan udah siap,” terbata Dev berkata. Entah mengapa, sulit sekali melepas rasa canggung ini. Mereka berdua pun sudah duduk di meja makan, berhadap-hadapan. Seperti hari lusa, Jihan menyantap jamur truffle panggang amat lahap. Mereka tak saling bicara, meskipun ada jeda yang panjang ketika mereka meneguk air putih atau menyendok sayur dan lauk pauk lagi. Tapi tetap saja, tak ada kata yang meluncur dari mulut mereka. Dev bimbang, antara membiarkan situasi ini canggung, atau mengeruk semua hal tentang wanita ini. Dulu, mantan-mantan pacarnya dengan sukarela menceritakan diri mereka masing-masing. Tak perlu Dev mengulik lagi, mereka sudah memasrahkan segala rahasia dan kepribadian pada Dev. Tapi, kali ini..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN