“Ngomong-ngomong, kamu pernah punya pacar?” pertanyaan pertama Dev membuat Jihan berhenti mengunyah. Ditatapnya lelaki itu penuh keheranan, mengapa juga bertanya sesuatu yang personal? Sementara di dalam sana, Dev mati-matian mengutuk dirinya sendiri.
“Bodoh banget kau Dev!!” kutuknya dalam hati.
“Pernah. Sekali,” singkat Jihan menjawab.
“Ohh..” Dev sedikit kecewa. Tak ada yang lebih berkesan dari pacar pertama, apalagi pacar satu-satunya. Terlebih, mereka sempat sering bertemu di tempat kerja. Pasti ada alasan, mengapa Jihan dan Kelvin memilih bekerja di rumah sakit yang sama.
Tiba-tiba saja, Dev meletakkan sendoknya. Untuk waktu yang singkat, nafsu makannya hilang oleh pikiran liarnya sendiri.
“Kapan jadwalmu bertanding?” Jihan bertanya tiba-tiba.
“Ehm.. belum tahu,” tak siap Dev menjawab. Namun, pertanyaan itu sedikit mengobati rasa kecewanya. Bukan hanya dia saja yang berusaha akrab. Jihan pun punya tujuan yang sama.
“Aku kira kamu mau bertanding di sirkuit lain,” Jihan menambahkan, “Soalnya, pakaianmu lebih rapi dari biasanya. Jadi aku kira kamu bakalan bertanding atau press conference, mungkin,” Jihan mengangkat kedua bahunya, tidak yakin dengan tebakannya.
“Sebenernya aku mau berangkat kerja,” rasa canggung Dev sedikit memudar kala intensitas obrolan ini kian meningkat.
“Kerja? Memangnya kamu kerja dimana?”
“Di.. ehmm.. bengkel motor, aku manager utama,” jawab Dev berbohong.
“Manager? Woww! Manager yang merangkap jadi pembalap? Keren banget,” puji Jihan. Binar matanya menyatakan kekaguman. Membuat Dev semakin tersipu malu. Tak ada yang lebih menyenangkan dari menerima pujian wanita yang disukainya.
Namun, tiba-tiba saja, Jihan beranjak dari kursi, dan berjalan mendekati Dev. Begitu mendekat, Jihan sedikit merunduk hingga wajahnya sejajar dengan Dev. Jelas lelaki itu langsung kebingungan. Jantungnya mulai berdegup kencang. Sekuat tenaga ia tahan kegugupannya.
“K-kamu ngapain?” tanya Dev, jantungnya semakin menggedor-gedor tak karuan. Seperti genderang yang dipukul bersamaan, yang bahkan malaikat pun menutup telinga saking berisiknya.
Ia tak siap berciuman. Tapi, seratus persen ia relakan bibirnya dipagut Jihan. Perlahan-lahan Dev memejam, merasakan setiap nafas Jihan yang menyejuk dan menghangat di wajahnya. Spontan wajahnya terdorong mendekati wajah Jihan. Dan begitu mendekat, ia merasakan gerak wajah Jihan yang menjauh darinya.
“Jangan bohongin aku,” ucapan Jihan membuat Dev membuka pelan-pelan matanya.
“Apa maksudmu?” tanyanya mengernyit.
“Nggak ada manager bengkel mampu beli pomade silverblack keluaran Bellagio yang harganya ratusan juta.”
Dev membelalak tak percaya. Darimana wanita ini bisa tahu pomade langka?
“Kamu.. tahu darimana?”
“Aku kenal betul baunya, Dev. Profesorku juga punya.”
Spontan Dev terdiam dan terpaku. Ia tahu, kebohongan kali ini akan menambah daftar cap buruk tentangnya. Jihan sudah menganggapnya pria playboy. Dan sekarang, ia pasti menyematkan pria pembohong padanya. Dan Dev pun mulai menyadari, dari sematan buruk itu semua, tak akan mudah mendapatkan hati wanita ini. Tak akan.
“Maafkan aku, aku nggak bermaksud bohongin kamu. Tapi, ada satu rahasia yang nggak boleh orang tahu tentang siapa diriku. Aku punya perusahaan. Perusahaan besar yang.. kamu pasti tahu nilainya hanya dengan mengenali pomade-ku saja.” ada penyesalan yang mendalam pada raut wajah Dev. Namun, sepertinya, itu belum cukup meyakinkan Jihan.
“Aku nggak mau orang lain tahu tentang aku karena.. karena..” tercekat bibir Dev oleh rahasia paling dalamnya. Ia tak ingin Jihan tahu, namun, bagaimana cara meyakinkan wanita ini?
“Udah.. nggak perlu dilanjutin,” cegah Jihan sambil tersenyum simpul.
“Kamu nggak perlu buka rahasia sama orang yang baru kamu kenal. Lagipula, minggu depan aku berencana mau melanjutkan kuliah ke Inggris, sambil cari kerja di sana. Jadi nggak seharusnya aku tahu rahasiamu.”
Ungkapan Jihan membuat Dev tenggelam dalam kubangan kekecewaan. Untuk kali pertama, ia merasakan apa makna kecewa, setelah bertahun-tahun lamanya meledek semua orang yang pernah merasakannya. Hari ini juga, ia kena karma. Oleh rencana Jihan yang tak bersedia tinggal lebih lama.
***
Heels hitam mengkilap menapak pada konblok hotel bintang lima. Begitu kedua heels itu keluar dari mobil, seorang bellboy menyambutnya amat ramah. Erika membalas sambutan itu dengan senyuman tipis dan setengah merunduk. Ia memang wanita kelas atas. Dan ia tahu bagaimana cara orang-orang kelas atas memperlakukan orang-orang di bawahnya.
Dengan elegan, ia menjinjing tas Hermes yang baru sekali dipakainya menuju sebuah ballroom. Belum membuka pintu, Erika telah disambut Ria, asisten Mariska yang khusus men-treatment Erika selama acara fashion show berlangsung. Wajar saja, Erika adalah model kelas atas. Semua treatment untuknya harus dipersiapkan sedetil mungkin.
“Haloo Ria.. tambah glowing aja kamu..” puji Erika begitu mereka mengecup pipi satu sama lain.
“Ahh.. bisa aja Mbak Erika ini. Saya mah nggak ada apa-apanya dengan Mbak Erika yang glowing, splendid, shimmering..” mereka pun tergelak bersama.
“Mari, mari, Mbak.. ruang make-up-nya ada di sebelah kiri ballroom,” Dengan sopan, Ria mempersilahkan Erika mengikutinya.
Sambil berjalan, mereka berbincang satu sama lain, membicarakan hal remeh-temeh, mulai dari kuliner yang patut dicoba hingga gossip terkini. Erika tak segan mengakrabkan diri dengan orang yang tidak selevel dengannya. Prinsipnya hanya satu – asalkan obrolannya menyambung, mau beda level pun tak masalah. Dan itulah yang membuat Erika berbeda dengan anak orang kaya lainnya. Dia memang berambisi, hobi menantang adrenalin di atas ranjang. Namun, kalau soal berteman, ia tidak pilih-pilih.
Sekian menit kemudian, mereka telah sampai di depan pintu ruang make-up. Wajah Ria dan Erika yang berseri-seri karena keasyikan berbicara masih tersisa. Namun, begitu Ria membuka pintu ruang make-up, raut wajah mereka berubah. Semua model dan penata rias di ruang make-up itu memandang Erika dengan tatapan sinis. Entah apa yang terjadi sebelumnya, Erika tidak tahu. Tapi yang jelas, mereka sudah lama tak menyukainya.
“Oopss.. ada si mulut tajam,” ledek Cynthia, yang diiringi tawa cekikikan teman-teman lainnya.
Erika tak membalasnya. Baginya, tak penting menanggapi wanita-wanita bodoh itu. Ia tahu, mulutnya yang tak pernah di-filter pasti akan meninggalkan pandangan buruk bagi orang-orang yang tak mengerti dirinya. Hingga saat ini, di setiap acara fashion show, tak pernah sekalipun ia bergabung dengan circle mereka. Tidak seperti wanita pada umumnya, yang akan sedih dikucilkan di suatu komunitas, Erika menganggap itu tak masalah. Baginya, buang-buang waktu berada di circle palsu yang sok akrab, padahal sejatinya hanya ingin bersaing dalam segala hal.
Yang ia perlukan hanyalah pertemanan yang sama-sama menguntungkan, bukan untuk persaingan. Dan itulah alasannya menyanggupi menjadi model fashion show Mariska Hasibuan – yang tak lain untuk mencari Jihan.
“Apa kabar, Erika?” sapa Mariska tiba-tiba. “Panjang umur dia!” Gumam Erika dalam hati.
“Hey.. I’m fine.. kamu gimana? Kabarnya kamu udah lulus kuliah di Perancis?” balas Erika basa-basi.
“Yeahh.. Tapi belum seberapa, aku masih perlu mendalami ilmu lagi,” Erika manggut-manggut.
“Oh ya.. aku shock banget mendengar berita sahabatmu Jihan. Katanya dia ngebatalin pernikahan lagi dengan anak Pak Jimmy Amarta,” kata Erika sedikit lembut dan tegas.
“Yahh.. aku juga. Padahal, Jihan bukan begitu orangnya. Dia orang yang bertanggung jawab banget. Nggak pernah membuat keputusan mendadak, apalagi pernikahan ini menyangkut nama baik Pak Amarta.”
“Yeahh.. you’re right. Seharusnya dia bicara baik-baik sama mereka,” Erika berhenti sejenak, “Oh ya, ngomong-ngomong, bukannya Jihan menghilang setelah liat pertandingan di sirkuit kan, ya? Bukannya dia pergi sama kamu? Aku nonton sekilas pertandingan itu di televisi. Kamu dan Jiihan sempet tersorot kamera.”
“Ohh.. ya.. emang aku yang ajak dia ke sirkuit. Tapi, setelah peristiwa tabrakan beruntun antara pembalap itu dia langsung pergi. Aku pikir dia mau ke toilet. Ehh ternyata dia pulang duluan. Katanya sih mau ke kota sebelah, cari ayahnya,” Erika manggut-manggut pelan mendengar penjelasan Mariska. Ada detail yang menurutnya ganjal dari kronologi menghilangnya Jihan.
“Perginya setelah peristiwa tabrakan, ya? Memangnya ada apa dengan dia? Nggak mungkin kan seorang dokter fobia lihat orang terluka?” Erika tertawa sebentar. Mariska pun membalas lelucon Erika dengan cara yang sama sebelum menjawab,
“Sebelum bertanding, dia sempet ngobrol sama Dev Prakasa, aku nggak tahu apa yang mereka obrolin, tapi dari raut wajah Jihan, sepertinya dia khawatir Dev bakalan mengalami kecelakaan.”
Itu dia!