Anna tersenyum lebar saat melangkahkan kakinya menuju mobil mewah milik Samuel. Emily tentu tidak ikut, mereka berpisah di lokasi.
Jantung Anna berdegup dengan kencang sekarang. Ini kali pertama Anna akan menaiki mobil pribadi Samuel. Ivan yang menunggu di samping pintu mobil ikut tersenyum melihat istri atasannya terlihat bahagia.
Terkadang Ivan merasa kasihan dengan Anna yang selalu diacuhkan dan dikasari Samuel. Tapi, apa boleh buat. Ia adalah seorang asisten, ia hanya bisa mendoakan semoga kebahagiaan selalu menyelimuti tuan dan nyonyanya itu.
Ivan lantas membukakan pintu untuk Anna.
“Terima kasih, Ivan,” ucap Anna dengan senyuman.
“Sama-sama, Nyonya,” jawab Ivan kemudian menutup pintu kembali dan berjalan menuju pintu kemudi.
Sepanjang jalan diisi dengan kesunyian. Samuel sama sekali tidak berbicara apa pun bahkan tidak meliriknya sekali pun. Ia sibuk dengan tablet di tangannya, mengecek beberapa email yang masuk.
Anna berulang kali melirik pria berstatus suaminya itu. Tersenyum simpul, menatap Samuel dari samping. Suaminya semakin terlihat tampan jika diam dan tidak bermulut pedas seperti biasanya.
Dengan setelan jas abu dan kemeja birunya, Samuel terlihat dua kali lipat lebih menawan. Parfum aroma woody musk khas Samuel menyeruak di pencium Anna sedari ia masuk ke dalam mobil itu. Membuatnya tenang dan nyaman.
30 menit kemudian mereka telah sampai di rumah utama keluarga Aston. Para pelayan segera membukakan pintu untuk tuan dan nyonya mudanya, menundukkan kepala dan memberi salam.
Dari pintu utama senyuman hangat Dayana menyambut anak dan menantunya.
“Selamat datang, Sayang. Baru dua hari, tapi Mommy sudah merindukanmu,” sambut Dayana sambil memeluk Anna dengan hangat.
Anna tersenyum dan membalas pelukan Dayana. “Aku juga merindukanmu, Mom.”
Samuel yang melihat keakraban itu memutar bola matanya dan mendengus kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki rumah.
Dayana menghela napasnya panjang melihat Samuel yang sudah masuk lebih dulu. “Anak itu … bahkan tidak memelukku dulu huh … Ayo Anna, kita masuk,” ucap Dayana pada Anna yang menganggukkan kepala.
***
“Anna, kau sudah kenal dengan Stefan, bukan? Dia baru saja datang semalam. Stefan tidak datang saat pernikahan kalian karena jadwalnya sedang padat,” tutur Dayana.
Saat ini keluarga Aston sedang berkumpul di meja makan. Mereka akan makan malam bersama merayakan anniversary dan peluncuran produk iLite lebih dulu, sedangkan pesta untuk umum akan dilakukan minggu depan.
“Jelas saja sudah, Mom. Kita pernah beberapa kali menjadi partner kerja. Ya kan, Kakak ipar?” sahut Stefan sambil menatap Anna yang duduk di seberangnya dengan lekat.
Stefan sangat berbeda dengan Samuel, dia tidak tertarik pada bisnis dan lebih menyukai dunia modelling. Sudah dua tahun Stefan bahkan tinggal di Paris untuk fokus di bidang yang ia cintai. Lingkup dunia modelling yang tidak terlalu besar di negara mereka, membuat ia mengenal Anna sejak awal meniti karir.
“Ah, i-iya Mom. Kami sudah saling mengenal,” jawab Anna gugup karena melihat tatapan Stefan.
Jelas saja Anna sangat mengenal Stefan, si pria flamboyan dan player. Bahkan Anna sudah tiga kali di ajak berkencan olehnya. Tapi, Stefan jelas tidak termasuk tipe pria idamannya. Pria itu berbeda 180 derajat dari sang kakak. Samuel adalah pria yang dingin, sedangkan Stefan terlampau hangat hingga menjadi pemain banyak wanita.
Samuel yang duduk di sebelah Anna mengerutkan keningnya melihat sang adik. ‘Apa-apaan bocah nakal itu,’ gumam Samuel dalam hati.
“Jadi, hanya aku di sini yang tidak tahu Anna seorang model?” Tiba-tiba Samuel berucap dengan nada dingin.
“Ada apa dengan nadamu? Ini meja makan. Bicaralah yang baik, Sam,” tegur William Aston, sang ayah.
Samuel menghela napas kasar. “Kenapa kalian tidak ada yang memberitahuku pekerjaan Anna sebelumnya?”
“Lihat siapa yang bicara. Kau kan suaminya, kau selalu bersamanya. Daddy kira kalian telah saling mengenal."
“Tapi, Anna tidak mengatakan padaku bahwa dia adalah model di Glory Entertainment, bahkan aku terkejut saat dia menjadi BA iLite. Aku suaminya, tapi aku yang tidak tahu apa-apa di sini.”
“Maafkan aku, Sam. Aku memang sudah beberapa bulan tidak melanjutkan kontrak dan vakum dari dunia modelling, tapi seperti yang kau tahu … tawaran itu dan semuanya serba mendadak,” sahut Anna meminta maaf pada Samuel.
“Itu salahmu jika kurang berkomunikasi dengan Anna. Dia wanita terbaik yang ku berikan untukmu, harusnya kau bersyukur. Bahkan dia bisa membantu masalahmu. Bukan seperti wanita yang dulu kau kencani itu. Selalu merepotkan dan hanya bisa menjadi benalu,” sindir William.
Samuel mengatupkan rahangnya kuat. Sang ayah bahkan masih saja menyindir dan menjelek-jelekan Zoya, meski dia sudah menuruti keinginan William untuk menikah dengan Anna.
Suasana di meja makan mendadak menjadi tegang. Dayana pun segera mengalihkan pembicaraan. “Astaga, sudahlah. Apa yang kalian bicarakan di meja makan? Kita jarang berkumpul lengkap seperti ini, jangan merusak suasana.”
Dayana dengan lembut kembali mencairkan ketegangan kemudian ia menatap Anna.
“Anna, besok siang datanglah ke Dayanash untuk fitting bersama Samuel. Mom sudah menyuruh desainer untuk membuatkan beberapa dress spesial untukmu, kau bisa pilih salah satu untuk kau pakai di acara nanti.”
“Tidak bisa, Mom. Besok aku sibuk, ada rapat penting.” Samuel dengan cepat menolak. Dia sedang tidak mood untuk bersandiwara menjadi suami yang siaga pada istrinya sekarang. Suasana hati Samuel benar-benar rusak karena sindiran pedas ayahnya.
Sementara William dibuat geram dengan tingkah anaknya yang gila kerja, ingin kembali berbicara. Namun, Dayana segera membelai tangan sang suami untuk meredakan emosinya.
"Baiklah, malam juga tidak apa. Mom akan bilang mereka untuk menunggu kalian datang."
Samuel hanya mengangguk. Dia tak bisa berkelit lagi.
"Mom, maaf ... biar aku pergi sendiri besok siang. Aku ada acara reuni kampus di malam harinya. Aku sudah lama tidak bertemu teman-teman." Anna menatap ibu mertuanya dengan senyuman manis.
"Biar aku saja yang mengantar Kakak ipar, Mom.” Stefan tiba-tiba menyahut dan menawarkan diri, sontak semua orang di meja makan mengalihkan perhatian mereka pada si bungsu.
Samuel mengerutkan keningnya, entah mengapa ia tidak suka dengan penawaran Stefan.. Namun, suara baritone William dan tatapan tajamnya membuat ia diam tak berkutik.
“Biarkan Stefan mengantar Anna besok siang dan kau … temani Istrimu di reuninya nanti.”
***
“Sepertinya pernikahanmu dengan Anna tidak berjalan sebaik yang aku dengar. Apa kau masih mencintai Zoya?”
Samuel yang tengah menyendiri di halaman belakang rumah sambil menghisap rokoknya tersentak ketika mendengar suara sang adik.
“Aku tahu kau diam-diam masih berhubungan dengan wanita itu, kan?”
Samuel berbalik. Ia kembali menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya tepat di hadapan Stefan kemudian berkata, “Bukan urusanmu.”
Stefan menaikkan sebelah alisnya menatap ekspresi kesal sang kakak. “Chill bro … aku tidak akan menghalangimu. Bagus jika kau masih berhubungan dengannya, aku jadi punya kesempatan.”
Samuel membuang puntung rokok dan menginjaknya. Sorot mata tajamnya menatap pria yang lebih muda 3 tahun darinya itu.
“Apa maksudmu?”
“Jika kau tidak mencintai Anna, lepaskan dia … wanita itu terlalu sempurna untuk kau yang kaku dan dingin. Tidak cocok, dia lebih cocok denganku.” Stefan berkata dengan percaya diri.
Samuel menyeringai menatap tak percaya pada sang adik, ternyata ini maksud dari setiap sikap aneh Stefan di meja makan tadi? Adiknya itu menyukai Anna?
“Lalu kau ingin mengambilnya dariku? Ambillah … kalau bisa.”
Stefan tertawa mendengar jawaban Samuel. “Ingat kau tidak bisa menarik ucapanmu lagi, Kak.”
Tak lama sudut mata Samuel menyadari sosok Anna berdiri tidak jauh dari tempatnya dan Stefan, mungkin wanita itu mendengar semua perbincangan mereka. Ia bisa melihat sorot mata Anna yang menyiratkan kekecewaan yang dalam.
Namun, Samuel kembali menyiram luka wanita itu dengan garam ketika ia dengan santainya berkata, “Ambil saja, aku tidak pernah menginginkannya.”
Dan setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, ia melihat punggung wanita yang ia nikahi lima bulan lalu itu pergi dengan deraian air mata.