“Hai An … akhirnya kau datang. Emily mengatakan kau akan datang. Aku menunggumu sedari tadi!”
Anna tersenyum pada Karin, sahabatnya selain Emily. Mereka berpelukan erat, melepas rindu setelah lama tidak bertemu.
“Aku merindukanmu, Kar.”
“Kau tahu, aku lebih merindukanmu! Aku dengar kau sudah menikah.” Karin melepas pelukan mereka dan menggoda Anna. Semenjak lulus kuliah Karin melanjutkan studinya ke luar negri jadi mereka belum pernah bertemu setelahnya.
“Harusnya aku yang mengatakan itu, kau dan Josh benar-benar menikah?” Anna tertawa melihat Karin memutar bola matanya jengah.
“Sedari tadi pertanyaan itu terus dilontarkan oleh yang lain juga, aku bosan! memangnya salah jika kami menikah?”
“Tidak salah, hanya saja tidak ada yang menyangka. Musuh bebuyutan malah dinikahi,” goda Anna terkekeh kecil.
“Itulah namanya jodoh. Omong-omong kau datang sendiri?”
Anna menengok ke belakang, tak lama sosok pria dingin dan tampan itu terlihat memasuki ballroom hotel. “Bersama suamiku.”
Mereka memang tidak pergi bersama. Samuel berangkat dari kantornya, sedangkan Anna menaiki taksi ke sini. Dan Anna sudah melihat Samuel di lobby tadi. Namun, ia tidak repot-repot untuk menyapanya.
Setelah kejadian semalam, hati Anna sangat sakit. Ia lebih pendiam, meski biasanya juga ia tidak banyak berbicara. Tapi, ia masih menyempatkan untuk menyapa atau tersenyum pada Samuel, meski tidak pernah dibalas.
Bahkan Anna tidak keluar kamar untuk membuat sarapan atau melihat Samuel pergi bekerja. Ia hanya merasa butuh waktu untuk membuat lukanya sedikit sembuh, untuk siap melihat suaminya dan mendapatkan luka baru lagi. Tapi, kini mereka terpaksa harus bertemu karena perintah William semalam.
Samuel segera menghampiri Anna yang sedang berbicara dengan sahabatnya, samar-samar ia mendengar percakapan mereka.
“Kenalkan ini Karin, sahabatku.” Anna memperkenalkan sahabatnya itu ketika Samuel sudah berada di sampingnya.
“Samuel.” Mereka saling berjabat tangan sebentar. Samuel berusaha bersikap ramah, walau bagaimanapun ia harus menjaga imagenya.
“Looking to my eyes, you will see … what you mean to me ….” Suasana hening beberapa saat, hingga suara petikkan gitar dan suara familiar terdengar, menarik atensi semua orang.
“Sepertinya Harry sudah bernyanyi, ayo kita ke sana!” ajak Karin dengan exited, hingga melupakan jika Anna membawa suaminya.
“I-iya …” Anna yang tangannya ditarik oleh Karin, tak dapat menghindar. Ia hanya pasrah saat sahabatnya itu membawanya ke arah depan panggung. Ia sempat menoleh ke belakang dan melihat Samuel mengikutinya perlahan.
“Search your heart, search your soul … and when you find me there you’ll search no more ….”
Ketika mereka sampai di sana, itu ramai dengan teman-teman mereka yang ikut bernyanyi. Namun, setelah melihat sosok Anna, mereka segera menyingkir dan memberinya ruang hingga sampai di depan panggung. Anna dan Harry memang terkenal sebagai couple goals di kampus dulu.
Suara mereka yang sama-sama merdu seringkali dijadikan pengisi acara kampus untuk bernyanyi.
“Don’t tell me it’s not worth tryin’ for … you can’t tell me it’s not worth dyin’ for … you know it’s true ….”
Netra Anna menatap lekat sosok yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah ia temui, pria yang pernah mengisi hari-harinya dulu. Harry Anderson, mantan kekasihnya.
Harry menatap mata wanita yang sangat ia rindukan. Senyuman hangat seketika terbit di bibirnya. “Everything I do … I do it for you ….”
***
“Aku penasaran bagaimana rasanya … melihat pria lain mencintai istrimu? Berjuang dan berkorban banyak … tapi yang mendapatkannya justru tidak menerimanya dengan sepenuh hati.” Emily menyilangkan tangan di d**a. Matanya sendu membayangkan kisah cinta dua sahabatnya itu.
Samuel melirik sosok Emily yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Ia menaikkan sebelah alisnya keheranan. “Apa yang kau bicarakan?” tanyanya dengan nada dingin.
“Pria itu Harry … mantan kekasih Anna,” ucap Emily.
Samuel mengerutkan keningnya. “Lalu apa hubungannya denganku?”
“Aku hanya merasa miris. Aku tahu Harry sangat mencintai Anna. Tapi, kenapa pasangan yang sangat serasi seperti mereka harus terpisah?" sarkas Emily. Wanita itu memang sangat berbeda dengan Anna, Emily sangat bar-bar dan blak-blakan. Jika ia tidak suka, maka Emily tak ragu menunjukkannya.
Samuel menatap sinis wanita berambut pendek di sampingnya yang ia tahu adalah sahabat sekaligus manajer Anna. Tapi, ia lupa nama wanita itu. memang Samuel seringkali melupakan nama orang-orang yang menurutnya tidak penting untuk diingat.
“Siapa namamu lagi?”
Wanita itu membulatkan matanya dan mendengus kesal.“Emily!” tekannya.
“Oh ya, itu. Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu dan apa tujuanmu. Tapi, yang harus kau tahu … aku tidak tertarik.” Samuel menyeringai menatap wajah emosi wanita di sampingnya, lalu menjauh dari sana.
Apa maksud wanita itu? Ingin memanasi atau menyindirnya? Memangnya dia pikir seorang Samuel Aston akan tergugah mendengarnya? Sama sekali tidak!
Samuel kemudian duduk tidak jauh dari panggung sambil meminum wine. Sejujurnya ia sangat bosan berada di sini, ingin rasanya ia pulang. Tapi, Samuel tahu ayahnya selalu memantaunya, juga sang ibu yang mengirimnya pesan untuk pulang dan menginap di rumah utama bersama Anna.
Ini yang paling ia tidak suka. Malam ini ia terpaksa harus tidur satu kamar dengan Anna lagi.
“Selanjutnya adalah penampilan spesial dari bintang kita malam ini, langsung saja kita sambut … Anna Ainsley!”
Lampu di ballroom itu pun meredup dan hanya menyisakan sebuah lampu yang bersinar di tengah-tengah panggung, menyinari sosok wanita cantik bergaun putih mengkilat, rambut panjang bergelombangnya terurai dengan indah, bibirnya tersenyum, dan matanya memancarkan aura bintang. Semua orang merasa terhipnotis seketika, pesona Anna berhasil membuat perhatian mereka hanya tertuju padanya.
Begitu pula dengan Samuel. Pria itu langsung memusatkan perhatiannya ke arah panggung ketika nama istrinya itu disebut.
“When I see stars, I think of you … and I always pray for you … and I know what my heart was made for ….”
Ketika suara merdu Anna memenuhi ballroom itu, Samuel tak tahu kenapa matanya terus menatap wanita itu.
Penampilan Anna malam ini memang sangat berbeda, sebenarnya sejak dia melihat Anna sebagai model di lokasi pemotretan, penampilan wanita itu memang sudah berbeda. Entah mengapa Anna seperti menjelma menjadi wanita baru ketika wanita itu keluar dari rumah. Modis, anggun, cantik, dan … s*ksi?
Samuel menggelengkan kepalanya. Mengapa ia jadi membayangkan dan memuji Anna? Mungkin ini pengaruh alkohol, ia jadi memikirkan yang tidak-tidak.
“To love you … forever more ….” Sorot mata Anna bertemu dengan mata tajam sang pemilik hati, seolah-olah mengatakan ‘lihatlah aku! dengarlah isi hatiku!’.
“When I feel you in my heart … then I hear your voice from your eyes … I’ll always love you … and I’m waiting for you until the end of time ….”
Samuel tidak ingin berasumsi Anna menyanyikan lagu itu untuknya tapi entah mengapa sorot mata dan suara merdu wanita itu membuat getaran aneh di hatinya saat ini.
“Here I am way to you … I hope that someday you will realize … that I can see forever in your eyes … and I’m wishing my dream will come true ….”
Anna berusaha mati-matian menahan air matanya yang akan jatuh. Lagu ini seperti mewakili perasaannya yang tidak pernah dilihat dan dihargai suaminya. Apalagi semalam ia tahu dengan jelas jika wanita yang berada di pangkuan Samuel tempo hari memang adalah kekasihnya. Dan mereka masih berhubungan di belakangnya. Hatinya terluka, tapi yang membuatnya semakin sakit … dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“I am lost without you … You are my everything … My love ….”
Setelah lagu berakhir dan lampu di panggung meredup. Anna dengan segera berlari dari panggung. Ia sudah tak sanggup menahan tangis dan tentu Anna tidak ingin siapapun melihat kesedihan itu di wajahnya.