Anna menatap bayangan dirinya di cermin dengan air mata terus berlinangan di pipi. Suara air mengalir membuat isakannya tersamar. Untunglah toilet sedang sepi, hanya ada dia di sini.
“Kau harus kuat Anna ….” Kembali mantra ajaib itu terdengar dari bibir ranumnya.
Setelah menenangkan diri beberapa saat, Anna pun keluar untuk kembali ke acara. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendapati sosok familiar berdiri di samping pintu toilet, seolah sedang menunggunya keluar.
“Harry ….”
“Hai, Anna. Bagaimana kabarmu? Aku tak menyangka akan melihatmu di sini.”
“A-aku baik. Bagaimana denganmu?” Anna menjawab dengan kerisauan dalam hati, dia takut Harry mengetahui ia habis menangis dan menenangkan diri di toilet. Akan tetapi, Anna berusaha menutupi semua kesedihannya dan tersenyum sebaik mungkin.
Harry menghela napasnya pelan. “Aku baik. Aku senang kembali mendengar kau bernyanyi. Suaramu masih seindah dulu, meski itu bukan lagi untukku. Aku hanya berharap kau selalu bahagia, Anna.”
Anna menatap mata pria yang selalu memancarkan cinta untuknya. Ia telah menyakiti Harry. Tapi, pria itu mengharapkan kebahagiaan untuknya? Sungguh perasaan Anna sangat tak enak sekarang. Dan ia merasa matanya kembali berkaca-kaca.
“Entah mengapa … tapi saat ini aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Apa kau sedang ada masalah? Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita atau berbagi denganku jika kau tidak mau. Tapi, kau harus selalu ingat, aku akan selalu ada untukmu … ini ….” Harry tersenyum sambil memberikan sapu tangannya pada Anna.
Anna mengambil sapu tangan itu dan menyeka air matanya yang tak kuasa untuk kembali jatuh. “Terima kasih … aku juga berharap kebahagiaan untukmu.”
Harry mengangguk dengan senyuman yang terukir di bibirnya. “Aku akan.”
“Boleh aku memelukmu? Pelukan … sahabat?” lanjutnya.
Anna tak menjawab, ia hanya melangkah mendekat dan Harry segera membawa tubuh wanita itu kepelukannya. Wajah Anna terbenam sempurna di d**a bidang pria yang selalu ada untuknya dulu. Pelukan ini … Anna merindukannya.
“Anna!” Tiba-tiba suara dingin membuat sepasang mantan kekasih itu tersentak, dengan reflek Anna mendorong pelan tubuh Harry. Ia ketakutan ketika melihat wajah dingin dan tatapan tajam Samuel.
“Ayo pulang, Mom menunggu.” Samuel dengan segera menarik tangan kanan Anna dan mencengkram pergelangan tangannya dengan kencang. Harry tak bisa berbuat apapun. Ia mengatupkan rahangnya kuat, tatapannya pilu melihat punggung wanita yang ia cintai pergi, terlebih Samuel terlihat memperlakukan Anna dengan kasar.
***
“Sam, lepasss … sakittt ….” Anna dengan segera melepas cengkraman tangan suaminya itu. Mereka kini sudah berada di parkiran mobil.
Samuel menatap tajam Anna yang baru saja berpelukan dengan pria lain di belakangnya. Rahangnya terkatup kuat, emosinya seolah-olah akan meledak.
“Apa yang kau lakukan hah?! Kau berpelukan dengan pria lain? Kau sudah gila?!” bentaknya.
“Apa pedulimu? Kau cemburu?!”
“Kau benar-benar memancing emosiku hah?!” Samuel mencengkram rahang Anna dan mendorongnya ke pintu mobil dengan kuat.
“Dasar murahan! Kau senang sekarang? Dipeluk oleh mantan kekasihmu, kau senang hah?!”
“Sa–kit, Sam–akh–“ Kening Anna mengkerut, ia meringis kesakitan. Namun, Samuel tak bergeming. Mata yang berkaca-kaca dan bulir-bulir bening di kening wanita itu seolah tak berarti apa-apa.
Samuel tersulut emosi. Entah mengapa ia benar-benar kesal ketika melihat Anna berpelukan dengan pria lain. Terlebih setelah ia tahu jika pria itu adalah mantan kekasih istrinya.
“Masuk!” Samuel dengan segera membuka pintu mobil dan mendorong Anna dengan kasar lalu membanting pintu dengan keras. Kemudian ia berjalan mengitari mobil lalu masuk ke dalam pintu kemudi.
Samuel berada di puncak amarahnya sekarang. Pengaruh alkohol dan kemarahannya melihat Anna di pelukan Harry membuatnya semakin hilang akal. Ia dengan segera menancapkan gasnya dan keluar dari hotel itu dengan cepat. Sekilas Samuel melihat Emily yang berlari ke arah mobilnya. Namun, ia tak repot untuk menghiraukannya.
“Sam, pelan-pelan ….” Anna ketakutan setengah mati. Suaminya seperti orang kerasukan sekarang. Samuel mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Shut up!”
“Ma-maafkan aku … hentikan ….“ Anna terus berkata sambil berpegangan kuat dengan seatbelt yang telah ia pasang dengan kencang. Ia sangat ketakutan, tubuhnya bahkan gemetar hebat.
Samuel terus mengemudi dengan kesetanan hingga ia menghentikan mobilnya di pinggir sungai Aera.
Samuel memukul stir kemudinya dengan kuat dan berkali-kali mengumpat, “s**t!”
Anna mengatur napasnya, akhirnya mobil ini berhenti. Ia melirik Samuel yang juga tengah mengatur napas dan mengontrol emosinya.
Hari sudah gelap. Tapi, ini belum tengah malam. Samuel memutuskan untuk berdiam di sini meredakan emosi dan menunggu waktu orang tuanya sudah tidur, baru ia akan pulang ke rumah utama. Ia tidak mungkin pulang dengan Anna dalam keadaan seperti ini, yang ada orang tuanya akan curiga.
“Aku berusaha menahan egoku untuk datang ke reuni tidak pentingmu dan bersikap baik untuk menjaga imageku. Tapi apa? Kau malah berpelukan dengan pria lain?! Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Anna! Bagaimana jika orang lain melihat? Mau ditaruh dimana wajahku?! Kau memang tak punya otak, bodoh!” Samuel terus memaki wanita yang duduk di sampingnya itu. Ia seolah meluapkan seluruh emosinya.
Anna tidak menangis, air matanya seolah sudah habis. Sejak semalam ia terus mengeluarkan air mata itu. Kini ia hanya terdiam, pandangannya kosong, hanya deru napasnya yang terdengar cepat dan tubuhnya yang masih gemetar.
“Siapa pria itu? Jawab aku, bodoh!”
“Apa yang ingin kau dengar?”
“Kau!” Samuel semakin geram dengan jawaban Anna yang seolah menantangnya. Ia dengan segera mengangkat tangannya bersiap untuk melayangkan telapak tangan besarnya itu ke pipi mulus Anna.
“Apa? Kau ingin menamparku sekarang?” Setelah mengatakan itu Anna tertawa dengan kencang. Samuel mengerutkan keningnya melihat wanita di depannya ini yang sedari tadi ketakutan kini malah tertawa.
“Kenapa berhenti? Tampar saja. Apa yang lebih menyakitkan? Lakukan saja. Jika itu membuatmu puas!”
Samuel menurunkan tangannya dan menghembuskan napasnya kasar.
“Harry adalah sahabatku sekaligus mantan kekasihku. Dulu dia selalu ada untukku, dia selalu mendekapku kala aku sedih. Tapi, aku menyakitinya … aku meninggalkannya untukmu! Aku tidak sepertimu yang masih berhubungan dengan wanita lain setelah kita menikah. Jika aku menyakiti ego dan merusak nama baikmu, aku minta maaf. Kau benar … aku hanya wanita bodoh. Karena bisa-bisanya aku justru mencintai pria sepertimu.”
Samuel seketika tertegun mendengar ungkapan cinta yang baru saja terucap dari bibir Anna. ‘Apa? Dia jatuh cinta padaku?’
Sementara Anna sudah siap mendengar amukan Samuel kembali, karena ia tahu telah menyindir ego suaminya. Namun, Anna seketika mendongak menatap Samuel, ketika pria itu dengan suara rendahnya berkata, “Aku tidak mengizinkanmu untuk jatuh cinta padaku. Lebih baik kau buang jauh-jauh perasaanmu itu.”
“K-kenapa? Apa salah aku mencintai suamiku sendiri?”
Samuel menatap mata Anna yang juga tengah menatapnya. “Jangan membuat ini semakin sulit, Anna. Sedari awal kau tahu, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Kau juga sudah tahu jika aku memiliki kekasih. Lebih baik kau buang jauh-jauh perasaan itu, karena tidak akan terjadi apapun di antara kita kecuali perpisahan.”